Tiga Hari Pasca Divaksin Ketua RT Tumbang, Ini kata Kadinkes Inhil dan Pihak Keluarga - Arbindonesia
Juni 19, 2021

Tiga Hari Pasca Divaksin Ketua RT Tumbang, Ini kata Kadinkes Inhil dan Pihak Keluarga

IMG_20210619_175310

Sabri terbaring sakit dirumahnya, foto arb

Bagikan..

ARBIndonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Sabri (56 tahun) seorang Ketua RT di wilayah Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidurnya.

Hal itu ia rasakan kurang lebih 3 hari pasca mengikuti pelaksanaan vaksinasi oleh Tim Gugus Tugas Covid-19 Inhil di Gedung Engku Kelana, Jalan Baharuddin Yusuf Tembilahan pada Kamis (20/5/2021) lalu.

Meski telah mendapatkan perawatan di RSUD PH Tembilahan selama 9 hari, hingga saat ini Sabri yang kesehariannya juga sebagai tukang ojek itu belum terlihat tanda-tanda kesembuhan secara signifikan terhadap dirinya.

Mengenai hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), dr. H. Afrizal D, MM, mengatakan bahwa kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) umumnya terjadi sesaat setelah penyuntikan atau paling tidak 3 jam setelahnya.

Sementara pada kasus ketua RT tersebut, diketahui gejala sakit muncul 3 hari pasca penyuntikan vaksin Covid-19.

“Jadi, berdasarkan hal tersebut, kami selaku pihak medis menyimpulkan sakit yang diderita pasien bukan merupakan efek dari vaksinasi Covid-19,” tutur dr Afrizal melalui keterangan tertulis dari Diskominfops Inhil, Rabu (16/6/2021).

Lanjutnya, Pasien telah dirawat selama 9 hari di RSUD Puri Husada Tembilahan terhitung sejak 23 Mei lalu, didiagnosa menderita stroke karena hipertensi atau Hemiparese dextra EC stroke dan hipertensi emergency.

“Pasien mengalami lemah tangan dan kaki kanan, sering sakit kepala sebagai tanda-tanda gejala penyakit stroke,” ungkap dr Afrizal.

Mengenai hal tersebut, saat di jumpai arbindonesia.com, Saniah yang merupakan istri dari Sabri mengatakan bahwa suaminya tersebut memang memiliki riwayat tensi tinggi dan penyakit maag, akan tetapi kondisinya sebelum dilakukan suntik vaksin tidak pernah mengalami sakit yang cukup parah.

“Sebelum suntik tidak ada sakit, abang sehat-sehat saja, paling sakit kepala. Jadi kami yang awam ini menilai ya karena itu (suntik vaksin),” kata Saniah kepada arbindonesia.com, Kamis (17/6/2021).

Selain itu, Saniah juga mengatakan apakah sebelum disuntik vaksin suaminya tidak dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu, sehingga bisa lolos mengikuti vaksinasi.

“Saya gak tau bagaimana abang bisa ikut suntik vaksin sementara dia tensinya tinggi, mau ditanya soal itu ke abang kondisinya tidak bisa berbicara seperti biasa. Lagian ingatannya juga belum pulih, masih sering lupa,” tuturnya.

“Mungkin abang (suaminya) juga yang salah, yang awalnya hanya disuruh untuk mencari 5 orang, ini malah abang yang ikut langsung suntik vaksin,” tambah Saniah.

Sebelum jatuh sakit, kata Saniah, terhitung sejak awal di vaksin (Kamis 20 Mei hingga Minggu 23 Mei) suaminya memang tidak ada mengalami demam atau sakit yang lainnya. Hanya saja langsung tumbang sebanyak 2 kali pada Senin pagi (24 Mei).

“Sekitar jam 6 pagi, Abang tumbang sekali saat mau pergi mandi. Alhamdulillah setalah di istirahatkan sadar dan masih bisa bicara, Saat ditanya katanya pandangannya hitam (pitam). Sekitar pukul 09.00 abang tumbang lagi, tumbang yang kedua ini tak bisa ngapa-ngapa lagi, langsung di bawa kerumah sakit,” imbuhnya.

Dengan kondisi sekarang ini, Saniah yang kesehariannya bekerja sebagai tukang cuci hanya berharap suaminya tersebut lekas pulih seperti sedia kala.

“Belum bisa bangun, baring lah selama hampir satu bulan ni. Ingatannya juga belum pulih lagi, masih sering lupa. Tapi sekarang tangan sudah mulai bisa di gerakan, kadang juga sesekali juga adalah bersuara,” kata Saniah dengan mata yang berkaca-kaca dengan harapan suaminya lekas sembuh.

ARBAIN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *