23 April 2026

Sepenggal Kisah Sang Pejuang Kanker dengan Tatapan Kosong di Tepi Jalan

ilustrasi, meta

Bagikan..

ARB INdonesia, PEKANBARU — Di jalan Jendral Sudirman Pekanbaru, seorang wanita duduk diam di tepi trotoar. Matanya menatap lurus ke depan, seolah menembus waktu. Tak ada gerak, tak ada kata. Hanya tatapan kosong yang menyimpan ribuan cerita-tentang rasa sakit, harapan, dan perjuangan yang tak terlihat oleh lalu lalang kendaraan.

Sebut saja namanya si manis, seorang ibu rumah tangga yang kini menjalani hari-harinya sebagai pejuang kanker stadium lanjut. Tubuhnya yang dulu tegap kini tampak ringkih, namun ada sesuatu yang tak pernah padam, semangatnya untuk tetap hidup meski dunia seolah berjalan tanpa menoleh.

“Saya suka duduk di sini. Di sini saya bisa melihat orang-orang sibuk, dan itu membuat saya merasa masih ada,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan.

Ia bukan hanya berjuang melawan sel-sel ganas dalam tubuhnya, tapi juga melawan sunyi yang datang setelah berkali-kali mendapatkan perawatan medis namun belum mampu baik seperti sediakala.

Dimasa ini, ia tak hanya kehilangan waktu bercengkrama dengan keluarga, tapi ia juga banyak kehilangan tenaga dan materi demi akses rutin ke pengobatan karena jarak. Namun ia tak kehilangan satu hal, martabat.

Dari kisahnya, setiap kali ia mendapat perawatan medis, disana ia hanya bisa terbaring ber jam-jam dengan tusukan jarum infus. Lagi-lagi pada kondisi itu hanya tatapan kosong yang terpancar dan senyum kecil ketika ada tenaga medis menyapanya.

“Tatapan kosong itu bukan karena saya putus asa. Itu cara saya berdamai dengan keadaan,” katanya sambil menatap langit.

Kisah ini adalah pengingat bahwa perjuangan terbesar sering kali terjadi dalam diam. Ia bukan headline, bukan trending topic. Tapi ia adalah salah satu wajah dari ribuan pejuang kanker yang bertahan dengan sopan.

Tatapan kosong di tepi jalan itu bukan kehampaan. Ia adalah cermin dari keberanian yang tak bersuara. Dan mungkin, di antara langkah-langkah yang terburu-buru, ada satu yang berhenti dan melihat bahwa di sana duduk seorang pejuang yang sedang melawan waktu dengan senyap. (Arb)


error: Content is protected !!