ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Dalam upaya proaktif menghadapi masalah keberlangsungan perkebunan kelapa, warga di Desa Suhada Kecamatan Enok, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mengambil inisiatif untuk melakukan normalisasi sebahagian sungai suhada yang tersumbat.
Kegiatan ini dilakukan sebagai respons terhadap ancaman kesuburan tanaman kelapa akibat sungai yang sangat panjang tersebut tidak mengalir normal ke parit-parit perkebunan warga karena bertahun tertutup tumbuhan liar.
Ramli salah satu warga yang turut andil dalam gotong royong itu menyatakan normalisasi sebagian dari sungai suhada ini merupakan langkah penting untuk mencegah kerusakan perkebunan yang berdampak pada penurunan pruduktifitas buah kelapa karena kekurangan sumber air akibat tersumbatnya induk aliran air yang mengaliri parit-parit perkebunan kelapa, Kamis (25/4/2024).
Selain itu, sungai ini bisanya juga digunakan oleh masyarakat sebagai rute perairan untuk membawa hasil perkebunan kelapa, dan aktifitas lainnya.
“Kondisi ini sudah terjadi sudah sangat lama (1 periode lebih-red). Kalau ini terus terbiarkan, tentunya ini semakin berdampak besar kepada keberlangsungan dan produktifitas perkebunan kelapa kami (warga Desa Suhada-red),” ungkapnya.
“Maka dari itu sebelum kondisi ini semakin berlarut, kami warga RT 14/Rw 05 Desa Suhada mengambil langkah gotong royong untuk melakukan pelebaran sebagian dari aliran sungai suhada ini (sekitat 700 meter yang sangat parah-red),” tambah Ramli.
Awalnya kata Lemok sapaan akrabnya, sungai suhada yang masuk dalam kawasan Desa Suhada ini memiliki lebar 8 meter, karena bertahun-tahun tak pernah di normalisasi akhirnya buntu. Sekitar 2 tahun lalu mendapat bantuan normalisasi oleh Anggota DPRD Inhil (Edi Sindirang) sepanjang 2 kilometer. Akhirnya sungai ini menjadi lebar 6 meter. Saat ini kondisinya kembali dipenuhi oleh tumbuhan liar, hanya memiliki lebar kurang lebih 1 meter.
“Setelah kita lakukan pelebaran secara swadaya, sekarang sudah menjadi 4 meter lebarnya. Sungai yang berada dikawasan kami ini yang parahnya ada sekitar 700 meter. Tentunya ini akan membutuhkan waktu yang lama untuk kami membersihkan, karena kami hanya sebatas swadaya masyarakat saja tanpa ada bantuan dari pihak terkait saat ini,” papar Lemok yang juga seorang petani kelapa.
“Setelah ini kita akan melanjutkan penyemprotan terhadap tumbuhan liar yang ada dialiran sungai. Tentunya kita juga berharap ada turut andil dari pemerintah setempat akan hal ini,” tutupnya.
Sabagai informasi, Inisiatif warga dalam melakukan normalisasi sungai ini menunjukkan kesadaran dan tanggung jawab sosial yang tinggi dalam menghadapi ancaman kerusakan perkebunan kelapa yang menjadi sumber mata pencaharian. Sehingga sangat diperlukan adanya campur tangan dari pemerintah Desa, Kecamatan, dan Kabupaten hingga Wakil Rakyat akan hal tersebut. (Arbain)

BERITA TERHANGAT
Polsek Mandah Gelar Sosialisasi Bahaya Narkoba dan Pencegahan Karhutla di Desa Bekawan
Gp Ansor dan Banser Inhil Siap Bersinergi Jaga Persatuan dan Kondusifitas Daerah
Sidang Perkara AP dan AI, Kuasa Hukum: Konstruksi Hukum Patut Dipertanyakan