Maret 4, 2024

Temukan Fosil Tertua di Bumi, Buka Harapan di Mars

Bagikan..

www.detikriau.wordpress.com (PARIS) – Harapan manusia untuk bisa hidup di Planet Mars belum memudar. Itu terjadi setelah sebuah mikrofosil yang ditemukan di Australia menunjukkan bahwa bumi pun awalnya tak beroksigen. Dalam temuan yang dirilis Minggu lalu (21/8) tersebut, umur mikrofosil itu ditaksir lebih dari 3,4 miliar tahun.

Para peneliti dari University of Western Australia dan Oxford University menegaskan bahwa fosil yang mereka temukan itu merupakan bagian dari mikroba yang hidup di area tanpa oksigen. “Mikrofosil itu kami temukan pada lapisan batu sedimen. Ini merupakan fosil paling tua yang ditemukan manusia,” papar jubir tim peneliti yang tidak disebutkan namanya itu.

Batu sedimen berisi mikrofosil tersebut berasal dari situs Strelley Pool, Pilbara Region, Australia Barat. Konon, mikroba yang terbentuk menjadi fosil itu terjebak di antara butiran pasir kuarsa ketika ia berada dalam kondisi sekarat. Selanjutnya, mikroba itu terabadikan sebagai mikrofosil. Temuan serupa, konon, juga pernah muncul pada 2002.

Sejak lama, para ilmuwan meyakini bahwa formasi batu sedimen di Pilbara merupakan yang paling tua di dunia. Sebelum dikenal sebagai Pilbara, kawasan tersebut berjuluk Archean Eon. Konon, di sanalah pusat simpanan air tanah saat bumi masih berupa planet sangat muda. Di kawasan itu juga terdapat lautan dan kolam air panas.

Pada 2002, tim peneliti juga menemukan mikrofosil sejenis di Pilbara. Kali ini, penemuan terjadi pada lokasi berjarak sekitar 35 km dari lokasi penemuan pertama. Namun, saat itu penemuan mikrofosil itu dimentahkan oleh analisis sejumlah pakar. Menurut para pakar kala itu, benda yang ditemukan dalam batuan sedimen tersebut bukanlah mikrofosil tapi mineral.

Kali ini, tim peneliti dari dua kampus tersohor itu bisa memastikan bahwa penemuan dalam batu sedimen tersebut adalah mikrofosil. “Mikroba purba ini bergantung pada sulfur untuk bertahan hidup. Mereka tak butuh oksigen,” ungkap David Wacey, ketua tim dari University of Western Australia. Temuan itu lantas didokumentasikan pada jurnal Nature Geoscience. (AFP/drc)