Maret 4, 2024

Sektor Kesehatan Makin Dikomersialisasi

Bagikan..

www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN) – Masyarakat mungkin merindukan tenaga medis seperti dokter, perawat dan bidan yang lebih mengedepankan nilai pengabdian, ketimbang sisi komersial. Pengabdian seorang tenaga medis mungkin saat sekarang ini hanya ada ditayangan televisi seperti penayangan Trans TV yang biasa tayang pada sore hari. Dimana tenaga medis dengan sukarela membantu masyarakat, tanpa memikirkan imbalan.

Setakat ini, yang terlihat dalam alam nyata kita adalah komersialisasi kesehatan. Dimana-mana untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, harus ada uang terlebih dahulu. Kalau tidak ada uang, rasanya sangat mustahil seorang warga akan memperolehnya, meski ketika itu nyawa sudah hampir mereggang.

Meskipun ada semacam pengobatan gratis, itupun biasanya disponsori oleh kalangan tertentu, apakah itu partai politik ataupun lembaga-lembaga lainnya yang sarat dengan pesanan dari sponsor. Tapi yang namanya murni, rasanya sangat jauh dari harapan dan mungkin hanya ada dalam mimpi warga saja.

Itu semua tentunya berakar pada komersialisasi dan leberalisme dunia pendidikan. Fakultas kedokteran dan lembaga pendidikan lainnya yang berkaitan dengan dunia medis saat ini sudah menjadi barang yang sangat mahal. Hanya kalangan orang “beruang” saja yang mampu menyekolahkan anak mereka kesana yang tentunya tidak mungkin terjangkau oleh masyarakat kebanyakan.

Besarnya biaya investasi yang harus ditanamkan seorang tenaga medis tentunya berimbas pada upaya untuk mencari keuntungan tanpa memikirkan pengabdian sebagaimana yang diatur dan menjadi sumpah seorang tenaga medis. Akibatnya, seorang tenaga medis dalam bekerja, lebih mengedepankan komersialisasi.

Itulah yang terjadi disetiap wilayah di Negara ini, tidak terkecuali di Inhil. Dimana akan mudah ditemui, pasien yang terlantar hanya karena ketidakmampuan biaya. Meskipun dalam berobat mereka menggunakan Jamkesda, Jamkesmas, yang tentunya pengobatan mereka ditanggung oleh daerah maupun Negara. Tapi dalam prakteknya, mereka sering termarjinalkan.

“Kalau sudah ke dokter saya takut, biayanya mahal. Orang seperti kami mungkin tak sanggup untuk membayar biaya perobatan. Memang ada Kartu Jamkesda dan Jamkesmas yang terkadang dimiliki, tapi biaya obat terkadang selangit dan tidak terjangkau,” kata Fauziah, salah seorang warga Tembilahan ketika berbincang-bincang baru-baru ini.

Akibat komersialiasi bidang kesehatan, banyak warga yang menggunakan jasa pengobatan alternatif. Meski terkadang tidak masuk logika, tapi masyarakat sepertinya tidak punya alternatif lain. Ambil contoh, dengan menggunakan semacam media air putih ditambah dengan jampi-jampi mampu untuk mengobati berbagai penyakit termasuk yang kronis.

“Mau tidak mau kita terpaksa berobat untuk jalur alternatif. Sebab kalau ke medis, apalagi harus operasi terkadang kita takut. Dimana harus mencarikan biayanya yang begitu mahal,” kata Iqwal, salah seorang warga yang kebetulan sempat berbincang belum lama ini.

Apa yang kita saksikan belakangan ini, tentu membuat miris. Paska 66 tahun Indonesia merdeka, bukan pelayanan kesehatan semakin mudah dan terjangkau, tapi malah sebaliknya. Kondisi itu tentunya berbeda dengan waktu Indonesia merdeka, karena banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi. Tapi kalau sekarang tentunya berbeda, tapi kalau itu terjadi, hanya karena komersialiasi dan liberalisme dunai kesehatan, dan tidak adanya kesadaran tanaga medis dalam melakukan pengabdian. Selanjutnya, apa relevansinya dengan kampanye bea kesehatan gratis yang sering didengungkan dalam setiap kali ikrar janji pilkada? Apakah sekedar janji bohong?………(drc2 )