Kekayaan Laut di Desa Sungai Bela Semakin Tergerus - Arbindonesia
Februari 15, 2021

Kekayaan Laut di Desa Sungai Bela Semakin Tergerus

Bagikan..

Perahu nelayan yang masih menggunakan alat tradisional untuk menangkap ikan, foto arbindonesia.com

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Nelayan di Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri (Kuindra), Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) yang masih menggunakan alat tradisional untuk mencari hasil kekayaan laut semakin tergerus.

Menurut informasi yang dihimpun arbindonesia.com, berkurangnya hasil tangkapan para nelayan tradisional saat ini dikarenakan semakin banyaknya para penangkap ikan baik yang menggunakan alat modern, semi modern maupun tradisional.

Screenshot_2021_0214_015310
Rusni, Warga Desa Sungai Bela,

Seperti yang dikatakan salah seorang warga Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri (Kuindra), Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Rusni (50) mengungkapkan kesulitannya saat ini untuk mendapatkan hasil laut.

Menurutnya, hal itu dikarenakan banyak penangkap ikan saat ini dengan berbagai jenis dan model alat penangkap ikan, sehingga populasi ikan yang ada di laut semakin berkurang.

“Dulu penangkap ikan tidak banyak, kalau sekarang ini macam-macam penangkap,” kata Rusni, Selasa (9/2/2021).

“Ini anak saya tadi turun, cuma dapat 2 kilo,” tambahnya.

“Kalau sekarang ini payahlah kalau mau dapat ikan lebih. Kalau dulu ikan timbul di laut, sekali turun bisa dapat bepikul-pikul (ratusan kilo). Sekarang kalau kita bentang jaring satu haripun kalau bisa dapat puluhan kilo sudah hebat,” sahut Salim suami dari Rusni.

Feri, Nelayan Tradisional saat diwawancarai awak media

Hal senada juga diungkapkan nelayan lainnya, Feri mengakui saat ini memang sangat banyak penangkap ikan dengan berbagai model alat tangkap, sihingga membuat populasi ikan semakin hari – semakin berkurang.

Tentunya kata Feri, dengan kondisi seperti ini sangat berdampak pada perekonomian warga desa yang notabenenya adalah nelayan.

“Penghasilan tidak menentu, terkadang bisa tekor, bahkan bisa tidak dapat sama sekali.
Ikan yang dijual sama Tokeh tidak cukup untuk membayar uang pinjaman ‘dimuka ‘ waktu mau turun melaut,” imbuhnya Ayah beranak 5 kepada arbindonesia.com, Selasa (9/2/2021).

Lanjutnya, dalam mengangkat perekonomian disamping bekerja sebagai nelayan, masyarakat yang terdiri dari berbagai suku di Desa Sungai Bela juga membuat kerajinan tangan.

“Seperti membuat atap daun, lidi pokok nipah, dan pucuk nipah muda yang dikeringkan,” tutup Feri.

Untuk diketahui, menurut hasil studi yang telah diterbitkan di Jurnal Science pada 1 Maret 2019. Bahwa jumlah ikan di lautan dunia telah berkurang 4,1 persen dalam rentang tahun 1993 sampai 2010.

“Penurunan 4 persen itu terdengar kecil, tetapi itu sebesar 1,4 juta metrik ton ikan dari tahun 1930 hingga 2010,” kata Chris Free, penulis utama studi ini, sebagaimana dilansir The New York Times.

Penulis Arbain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *