Gencatan Perang Dagang Amerika-China dan Dilematis Perdagangan Indonesia - Arbindonesia
September 28, 2021

Gencatan Perang Dagang Amerika-China dan Dilematis Perdagangan Indonesia

IMG-20210928-WA0135

Ilham Mandala Anugrah peserta LK III Badko HMI Riau Kepri

Bagikan..

Opini : Ilham Mandala Anugrah (Gencatan Perang Dagang Amerika-China dan Dilematis Perdagangan Indonesia)

ARBIndonesia.com, KEPRI – Ilham Mandala Anugrah peserta LK III Badko HMI Riau Kepri, awal tahun 2017 menjadi babak baru bagi Amerika Serikat dengan terpilihnya Donald Trump seorang pengusaha menjadi Presiden Amerika Serikat yang menggantikan Barack Obama.

Kebijakan Trump secara ekonomi dan politik mengundang banyak kontroversi dalam negeri maupun ranah internasional.

Trump mengumumkan kebijakan memorandum eksekutif yakni berkaitan dengan kebijakan yang menerapkan peraturan-peraturan terkait dengan tarif impor Amerika Serikat dan telah dilakukan penanda tanganan dengan menerapkan tarif sekitar 60 miliar dollar AS atau sekitar 827,34 triliun rupiah atas produk Cina serta kenaikan tarif impor senilai 34 miliar dollar AS atau sekitar 489 triliun rupiah untuk ratusan produk-produk yang berasal dari Cina2.

Tarif impor dari Cina tertinggi terdiri dari tarif impor baja sebesar 25% dan tarif impor aluminium sebesar 10%. Amerika Serikat dan Cina merupakan dua negara dengan perekonomian raksasa di dunia.

Cina sebagai negara kuat dengan GDP (Gross Domestic Product) sebesar 11199,15 miliar pada tahun 2016 tersebut akan melakukan retaliasi pengenaan tarif produk-produk utamanya ke Amerika Serikat (Kompas, 2018).

Cina terus menerapkan peningkatan tarif balasan senilai 34 miliar dollar AS untuk 128 produk impor asal Amerika Serikat.

Kenaikan tarif ini selanjutnya diyakini akan berimplikasi pada kerugian ekonomi dan hanya menguntungkan sebagian kelompok agen ekonomi serta merugikan sebagian besar industri dan konsumen pada umumnya, dalam istilah ekonomi disebut dead weight losses.

Latar belakang terjadinya perang dagang bermula dari niat Amerika Serikat untuk menghukum Cina atas dugaan praktik perdagangannya yang dianggap tidak adil terhadap Amerika Serikat.

Trump menuduh Cina memperoleh teknologi Amerika Serikat dan membatasi akses pasar untuk perusahaan keuangan dan teknologi.

Di samping itu, komoditas baja dan aluminium pun menjadi faktor Trump melakukan ancaman perang dagang akibat dari impor berlebih yang dilakukan Amerika Serikat.

Dalam hitungan hari setelah retaliasi yang dilakukan oleh Cina, otoritas Amerika Serikat merencanakan untuk menambah jumlah barang-barang asal Cina yang dikenai tarif dengan nilai mencapai 200 miliar dollar AS.

Amerika Serikat dan Cina merupakan negara ujung tombak sebagai mitra dagang seluruh negara-negara di dunia. Kekuatan perekonomian kedua negara tersebut menjadi pilihan negara-negara berkembang untuk menciptakan pasar yang kuat dan stabil.

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang saat ini terus menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat dan Cina.

Pemerintah Indonesia memilih kedua negara tersebut sebagai pilihan ekspor utama untuk menjual produk-produk dalam negerinya.

Perang dagang Amerika Serikat-Cina merupakan kebijakan yang melibatkan dua negara adidaya yang memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian global hingga saat ini.

Perang dagang ini akan berdampak dan berpengaruh secara global termasuk pada kondisi Indonesia sebagai negara berkembang.

Perang dagang Amerika Serikat-Cina berpengaruh terhadap sistem perekonomian negara-negara berkembang termasuk Indonesia yang juga merasakan implikasinya.

Komoditi dan industri di Indonesia menghadapi naik turun perdagangan akibat dari derasnya arus impor barang dari Cina dan tidak sebanding dengan ekspor Indonesia ke luar negeri.

Baja dan aluminium serta turunannya, yang berasal dari Cina dengan harga beli jauh lebih murah dibanding produk dalam negeri telah membanjiri pasar lokal sehingga berdampak terhadap industri dalam negeri.

Pemerintah harus bersiap dengan kelonjakan permintaan impor baja dan aluminium Cina yang didapatkan dengan harga jauh lebih murah dibanding produk dalam negeri.

Jika impor terus dilakukan, maka kerugian yang didapatkan pemerintah akan besar dan membuat industri baja dan aluminium dalam negeri terpuruk karena kalah bersaing dengan produk impor yang lebih murah.

Disisi lain, Indonesia berpeluang menggantikan posisi Cina untuk melakukan ekspor baja dan aluminium ke Amerika Serikat.

Amerika Serikat resmi menerapkan perang dagang dan telah mengakibatkan gejolak perekonomian dunia. Selain itu, Cina merupakan negara utama yang menjadi lawan bagi Amerika Serikat. Perang dagang disebabkan oleh impor yang dilakukan Amerika Serikat terlalu besar dan sangat menguntungkan Cina.

Selanjutnya, aksi balas tarif impor gencar dilakukan oleh keduanya yang bertujuan untuk melindungi perekonomian negaranya masing-masing. Perang dagang ini menjadi langkah proteksi yang dilakukan oleh Amerika Serikat, sehingga akan berimplikasi terhadap negara-negara lain.

Cina dan negara-negara lain memilih untuk melakukan aksi balas dengan terus menaikkan tarif impor terhadap Amerika Serikat.

Perekonomian Indonesia telah bergejolak sejak resmi diterapkannya perang dagang, serta kenaikan nilai ekspor pada tahun 2018 tidak sesuai dengan harapan.

Proteksi Amerika Serikat menjadikan Indonesia sebagai negara yang tidak memiliki arah ekspor-impor serta ragu dalam menentukan kebijakan selanjutnya.

Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan perekonomian melalui perdagangan baja dan aluminium.

Dengan adanya perang dagang, baja, aluminium dan turunannya mengalami berbagai implikasi serta berpengaruh terhadap industri dalam negeri.

Perang dagang ini tentunya berdampak bagi meningkatnya harga barang di Amerika Serikat dan Cina sehingga membuka kesempatan ekspor bagi negara ketiga untuk mengisi pasar.

Disamping itu, dampak perang dagang Amerika Serikat-Cina ini terhadap Indonesia tidak signifikan karena produk yang dikenakan tarif bukan produk utama dan Indonesia hanya memiliki pangsa pasar kecil di Amerika Serikat maupun di Cina.

Indonesia merupakan negara berkembang yang juga bukan sebagai mitra dagang utama bagi Amerika Serikat, melainkan merupakan negara pemasok ke-16.

Indonesia berpeluang mengisi pasar Amerika Serikat di Cina dalam berbagai produk, utamanya adalah produk-produk dari baja dan aluminium, begitupun sebaliknya Indonesia berpeluang untuk mengisi pasar Cina di Amerika Serikat dalam produk-produk baja dan aluminium.

Disamping itu, perang dagang juga berpengaruh terhadap neraca dagang Indonesia yang mana dikarenakan menurunnya permintaan bahan baku impor dari Amerika Serikat dan Cina.

Penulis : Ilham Mandala Anugrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *