April 18, 2024

DTPHP Galakan Budi Daya Padi Spesifik Lokasi Inhil

Bagikan..

TEMBILAHAN (WWW.DETIKRIAU.ORG) – Usulan yang disampaikan Dinas Tanaman Pangan Holtikuktura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Indragiri Hilir, untuk mempertahankan jenis Padi Spesifik Lokasi Kabupaten Indragiri Hilir kepada Dirjen Pertanian RI mendapatkan tanggapan positif dan tahun ini juga sudah akan direalisasikan. Diyakini, varietas spesifik lokasi ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki jenis padi varietas unggul.

“Nama-nama padi spesifik lokasi seperti lantik bamban, karandukuh, karya, serai, bujang berinai dan merah putih, dulunya adalah varietas padi unggulan khususnya untuk kabupaten Indragiri Hilir. Padi varietas  ini memiliki keunggulan dari sisi rasa yang enak dan harga jual yang tinggi. Kelemahannya, varietas ini memiliki usia panen yang cukup panjang (mencapi lebih kurang 6 bulan. Red) serta Sosok tanaman berbatang panjang sehingga akan mudah rubuh saat padi mulai berisi terutama akibat tiupan angin.” Ujar Kadis TPHP Kabupaten Indragiri Hilir, Drs Wiryadi kepada Www.detikriau.org ketika ditemui diruang kerjanya, Rabu (25/4).

Mengatasi beberapa kekurangan itu, ditambahkan Kadis yang mengaku pernah menjadi Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di Natuna, Pulau Burung, Mandah dan Tembilahan ini perlu dilakukan beberapa strategi. Misalnya untuk usia panen yang panjang bisa dipersingkat dengan cara melakukan tanam langsung kelahan setelah semaian mencapi tinggi kira-kira 20 cm.”Kebiasaan petani kita, setelah semaian mencapi lebih kurang 20 cm, benih masih harus di ampak kemudian dilanjutkan dengan proses lancak. Kedua tahapan ini membutuhkan waktu sekira 2,5 bulan. Untuk mempersingkat usia panen, kita tidak lagi melakukan proses ampak dan lancak tapi akan langsung penanaman kelahan. Dengan cara ini, Usia panen maksimal diperkirakan hanya membutuhkan waktu 3 sampai 4 bulan dan agar hasil panen baik tentunya harus dilakukan perawatan dengan benar seperti pemupukan yang teratur,  termasuk pengawasan terhadap serangan hama penyakit.” Jelas Wiryadi.

Alasan berikutnya untuk kembali mempertahankan padi spesifik lokasi  adalah agar varietas padi ini tidak hilang dan tetap akan dikenal oleh generasi penerus.” Sumatra Barat memiliki padi spesifik lokasi seperti, beras solok dan kurik dan tetap mereka pertahankan. Dengan pemasaran yang baik, beras ini menjadi beras dengan pangsa pasar yang cukup besar. Lantik bamban, karan dukuh dan nama-nama lain padi spesifik lokasi inhil, dari sisi kualitas dinilai mampu menyaingi beras lokal Sumatra barat. Kenapa keunggulan asset daerah kita tidak kita pertahankan? Tanya Wiryadi.

Dijelaskan Wiryadi lebih jauh, dengan usaha mempersingkat masa panen dan harga jual yang tinggi diharapkan petani kembali berminat untuk mengembangkan jenis padi lokal Inhil ini.” Disamping untuk konsumsi sendiri, hasil panen tentunya untuk dipasarkan. Dengan masa panen yang hanya 3 sampai 4 bulan, artinya kita bisa melakukan 2 kali masa tanam dalam satu tahun dan tentunya volume produksi akan meningkat. Pada akhirnya dengan harga jual yang tinggi, tingkat pendapatan petanipun akan meningkat pula. Ini yang memberi keyakinan saya petani akan bersedia untuk kembali membudidayakan jenis padi ini.”Sambung Wiryadi.

Untuk pemasaran, menurut Wiryadi bisa dilakukan dengan membuat tempat-tempat penjualan khusus untuk jenis pada lokal ini.”Benar sekarang pangsa pasar beras asal Sumatra barat cukup bagus. Tapi saya yakin masyarakat Inhil cukup banyak yang masih mengnal jenis-jenis padi lokal karena dari sisi rasa jelas lebih familiar bagi lidah masyarakat tempatan. Dengan adanya tempat penjualan khusus, tentu nantinya akan ada persaingan, imbasnya, harga dan selera masyarakat akan menjadi penentu pilihan.”Imbuh Wiryadi sambil mengatakan dengan mempertahakankan varietas spesifik lokasi ini petani memiliki pilihan untuk melakukan budidaya padi selain jenis padi unggul.

Amrullah (43), seorang warga Tembilahan menyatakan dukungan akan program yang dicanangkan DTPHP untuk kembali menggiatkan penanaman padi jenis Lokal ini. Ia akui sangat familiar dengan nama-nama padi karandukuh dan lantik bamban. Hanya saja, untuk mendapatkannya saat ini sudah terbilang cukup sulit.”Saya setuju betul. Dilidah saya masih melekat rasa khas dari kedua jenis beras lokal itu. Hanya saja untuk mendapatkannya sekarang tidak semudah dulu, kita jauh-jauh hari sudah harus pesan kepada petani. Kalaulah jenis-jenis beras lokal ini selalu tersedia di pasaran dengan harga yang tentunya bersaing, saya sangat yakin padi lokal ini akan kembali mampu merebut hati masyarakat.”Ungkap Amrullah dengan nada suara bersemangat. (fsl)