JAKARTA – Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan, dibutuhkan utang sekira Rp605,3 triliun untuk pembiayaan pada 2016. Pembiayaan ini meliputi untuk kebutuhan defisit anggaran hingga Penyertaan Modal Negara (PMN).
“Saya fokus mengenai kebutuhan pembiayaan utang untuk 2016,” tegas Bambang dalam acara Investor Gathering di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin kemarin.
Bambang menjelaskan, total kebutuhan pembiayaan pada 2016 sekira Rp605,3 triliun terdiri dari kebutuhan defisit Rp273,2 triliun, kebutuhan investasi ()PMN Rp58,1 triliun, pembayaran jatuh tempo Rp256 triliun yang meliputi jatuh tempo SBN Rp187,2 triliun dan jatuh tempo pinjaman Rp68,8 triliun, kemudian pengelolaan portofolio utang Rp3 triliun, SPN Cash Management Rp15 triliun.
Untuk memenuhi pembiayaan tersebut, pemerintah sudah menyiapkan beberapa mekanisme seperti, penerbitan SBN Rp532,4 triliun, penarikan pinjaman LN non-SLA Rp69,2 triliun dan penarikan pinjaman DN Rp3,7 triliun.
“Total kebutuhan pembiayaan Rp605,3 triliun. Ini kenapa kita masih butuh pembiayaan? Kalau dikaitkan defisit 2016, kondisi 2016 meski banyak lebih optimis dibanding 2015 tapi kita berada di kondisi global yang tidak pasti,” kata Bambang.
“Paling tidak 2015, memang enggak bisa dibilang krisis keuangan global tapi yang pasti ini berat bagi perekonomian global,” tukasnya. / Kaskus


BERITA TERHANGAT
BPK Apresiasi LKPP 2025: Komitmen Akuntabilitas Kabinet Merah Putih Diuji
Pemerintah Jamin Cadangan BBM Aman di Tengah di Tengah Dinamika Global
OJK Blokir 436 ribu Rekening Terindikasi Penipuan, Dana Korban Lebih Setengah Triliun