April 18, 2024

WARGA SRAGEN TERLANTAR DI DESA SIALANG PANJANG

Bagikan..

Dinas Sosial Enggan Mengulurkan Bantuan
www.detikriau.wordpress.com (SialangPanjang) – Abd Yasir (70) kini hidup sebatang kara. Laki-laki diusia senja yang mengaku berasal dari Sragen, Provinsi Jawa Tengah dengan kondisi penglihatan buta akibat penyakit katarak ini, kini menggantungkan hidup dari belas kasihan warga sekitar. Bahkan saat ditemui di tempat kediaman bekas kantor kelurahan Desa Sialang Panjang Kecamatan Tembilahan Hulu ini, Laki-laki yang akrab dipanggil warga dengan Mbah Yasir ini mengaku datang merantau ke Kabupaten Indragiri Hilir sekira tahun 80 an.
Saat mengunjungi mbah Yasir, detikriau.wordpress.com yang saat itu ditemani oleh seorang tenaga pendidik, Fadli yang merasa peduli dengan penderitaanya, terlihat kondisi mbah Yasir kini dalam keadaan sangat memprihatinkan. Dibangunan reot bekas kantor lurah ini, Mbah Yasir mempergunakan sepetak ruang dengan peraduan lusuh dan sebuah dapur dengan peralatan memasak yang terlihat sudah lama tidak dipergunakan.
Untuk menyambung hidup, karena merasa iba, beberapa orang warga secara bergantian menjenguk dan mengulurkan tangan kepada mbah sekedar memberi panganan pengganjal perut. Namun, untuk berbuat lebih dari itu, warga desa yang rata-rata juga hidup pas-pasan tidak mampu.
Menurut Fadli, dirinya tergerak untuk ambil perduli dengan Mbah Yasir karena merasa iba melihat kondisi laki-laki tua renta ini. Bahkan Fadli mengaku sudah beberapa kali mendatangi kantor Dinas Sosial di Kota Tembilahan. Dan yang terakhir, dirinya datang bersama komite sekolah tempat dirinya mengajar. Sayangnya, dari beberapa kali usaha itu, Dinas Sosial tidak pernah memberikan solusi yang tepat.
“Dari beberapa kali usaha itu, saya hanya ditemui staff di Dinsos. Menurut penuturannya, Dinsos juga tidak memiliki alternative untuk memberikan bantuan. Katanya, kalau harus dibantu untuk dipulangkan ke tempat asalnya, Dinsos pernah mengalami kejadian seperti ini. Menurut penuturan staff itu, dulu, seorang warga terlantar di Inhil juga pernah diupayakan kepulangannya di daerah Lampung. Begitu sampai disana, keluarganya tidak menerima. Dengan kondisi itu, Ucap Fadli menirukan alasan staff tersebut, Dinsos menjadi repot karena harus kembali membawa pulang ke Inhil.
Kemudian, masih menurut staff tersebut, kata Fadli, kalau harus dimasukkan ke Panti Jompo, kondisi Mbah Yasir saat ini sudah tidak bisa merawat diri sendiri. Dan syarat untuk ditempatkan di Panti Jompo tentu tidak terpenuhi.” Urai Fadli menceritakan pengalaman beberapa usaha yang coba diberikannya untuk sekedar peduli.
Akhirnya, mendengar alasan yang terkesan lepas tangan ini, dirinyapun tidak tau lagi harus berbuat apa.”saya hanya menyayangkan, berdirinya Dinas Sosial tentunya didasari dari Amanat UUD45 BAB XIV Pasal 34 bahwa Fakir Miskin dan orang terlantar ditanggung oleh Negara”. Jadi tentunya sangatlah naïf seorang yang duduk di Dinas Sosial tidak mau berpikir mencarikan solusi membantu fakir miskin dan anak-anak terlantar. Karena toh mereka memang digaji untuk itu.” Sindir Fadli dengan menghela nafas.
“saat ini saya hanya pasrah namun saya tidak akan pernah menyesali nasib yang sudah digariskan Allah,” Ungkap Mbah Yasir dengan suara bergetar seorang laki-laki renta. (fsl)