15 September 2026

PUPR Rohul Manfaatkan Aspal Sisa untuk Efisiensi Pemeliharaan Jalan di Tengah Keterbatasan Anggaran

Bagikan..
image_pdfimage_print

ARBindonesia.com, ROKAN HULU — Di tengah keterbatasan anggaran untuk pemeliharaan infrastruktur, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Rokan Hulu, Riau, mengembangkan langkah efisiensi dengan memanfaatkan kembali material aspal sisa pekerjaan yang masih layak digunakan.

Kebijakan tersebut dinilai menjadi salah satu strategi Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu dalam menjaga kondisi jaringan jalan tanpa harus selalu mengandalkan pembelian material baru.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas PUPR Rohul, H. Zulfikri, ST, dalam acara bincang publik bertajuk “Surambi Nogori, Bupati Menyapa” yang digelar pada hari selasa 15/9/2026.

Menurut Zulfikri, material sisa pekerjaan tidak serta-merta harus dianggap sebagai limbah. Selama masih memenuhi persyaratan teknis, material tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pemeliharaan jalan.

Penerapan langkah tersebut terlihat pada 6 Agustus 2026. Jajaran Dinas PUPR Rohul turun langsung melakukan pemeliharaan sejumlah titik jalan di kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten Rohul.

Dalam kegiatan itu, PUPR tidak menggunakan material aspal baru, melainkan memanfaatkan serpihan aspal dari pekerjaan sebelumnya yang masih dinilai memenuhi syarat teknis.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung Zulfikri bersama Sekretaris Dinas PUPR Rohul, Rezki Rades, ST. Sejumlah titik jalan berlubang ditangani sehingga permukaan jalan kembali lebih rata dan aman dilalui.

“Prinsipnya sederhana, yang masih bernilai jangan langsung dibuang,” ujar Zulfikri.

Ia menjelaskan, pemanfaatan kembali material tersebut menjadi salah satu instrumen untuk memperluas jangkauan penanganan kerusakan jalan, khususnya kerusakan ringan hingga sedang.

Namun, Zulfikri menegaskan bahwa efisiensi anggaran tidak berarti mengabaikan kualitas pekerjaan.

“Kami tidak asal pakai. Material sisa hanya dimanfaatkan jika kondisi dan karakteristiknya memenuhi spesifikasi teknis pekerjaan,” tegasnya.

Menurut dia, setiap material yang akan digunakan kembali tetap melalui pemeriksaan kelayakan. Hal itu dilakukan agar hasil pekerjaan tetap memiliki kualitas yang baik, tahan lama, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Selain pemanfaatan material sisa, PUPR Rohul juga menerapkan pola pemeliharaan secara swakelola. Pekerjaan dilakukan langsung oleh jajaran dinas sehingga penanganan kerusakan dapat dilakukan lebih cepat, terutama ketika ditemukan kerusakan jalan yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.

“Jalan yang dibiarkan berlubang lama-lama justru makin rusak parah, biaya perbaikannya makin mahal,” katanya.

Pemeliharaan Dini Jadi Prioritas
Sejumlah ruas jalan yang menjadi perhatian dalam kegiatan pemeliharaan di antaranya Jalan Lingkar KM 4 Pasir Pengaraian, jalur Banjar Datar–Rokan IV Koto, Tambusai Timur–Lubuk Kerapat, serta Dalu-Dalu–Pekan Tebih.

Pendekatan yang dikedepankan adalah melakukan penanganan sedini mungkin sebelum kerusakan berkembang menjadi lebih parah.

Menurut PUPR Rohul, penanganan berupa penambalan lubang dan pemeliharaan ringan dapat menjadi pilihan yang lebih efisien dibandingkan harus membongkar dan mengaspal ulang seluruh badan jalan yang telah mengalami kerusakan berat.

Kondisi tersebut dinilai semakin penting di tengah kebijakan efisiensi anggaran, sehingga setiap penggunaan anggaran harus diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar mendesak dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Menuju Infrastruktur Berbasis Data
Pemanfaatan kembali material aspal disebut baru menjadi salah satu langkah awal. Ke depan, PUPR Rohul juga menyiapkan pengelolaan infrastruktur yang lebih sistematis dan berbasis data.

Sejumlah langkah yang direncanakan meliputi pembangunan peta kondisi jalan dan jembatan berbasis sistem informasi geografis (GIS), penyusunan basis data kerusakan infrastruktur yang lebih akurat, perluasan penggunaan material daur ulang yang memenuhi standar, serta penguatan saluran pelaporan kerusakan dari masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, penentuan prioritas pemeliharaan diharapkan tidak hanya berdasarkan usulan, tetapi juga mempertimbangkan tingkat kerusakan, urgensi penanganan, potensi kerugian apabila kerusakan dibiarkan, serta dampaknya terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Jalan sebagai Penggerak Ekonomi
Dalam sesi diskusi yang turut dihadiri Dr. Hj. Hidayati, S.Kom., M.Pd.I., serta Mawardi Azhar, ST., MM dari Bappeda Rohul, pembangunan dan pemeliharaan jalan dinilai tidak semata-mata berkaitan dengan infrastruktur fisik.

Jalan yang baik memiliki peran penting dalam menghubungkan masyarakat dari desa ke pusat perdagangan, membuka akses petani, memperlancar distribusi hasil produksi, serta mendukung berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.

Karena itu, keterbatasan anggaran tidak semestinya menjadi alasan untuk menghentikan pemeliharaan infrastruktur. Sebaliknya, kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk mencari pola kerja yang lebih efisien, terukur, dan tepat sasaran.

“Menghadapi keterbatasan anggaran bukan berarti berhenti bekerja. Justru kita dipaksa berpikir lebih cerdas, lebih terukur, lebih tepat sasaran,” kata Zulfikri.

Pemanfaatan aspal sisa yang sebelumnya dianggap tidak lagi bernilai kini menjadi salah satu alternatif dalam mendukung pemeliharaan jalan. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa efisiensi anggaran dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kualitas infrastruktur, sepanjang dilakukan berdasarkan standar teknis dan perencanaan yang tepat. (Adv)