Hari Mangrove Sedunia, Hasan: Selamatkan Bumi dan Kemanusiaan - Arbindonesia
Juli 21, 2022

Hari Mangrove Sedunia, Hasan: Selamatkan Bumi dan Kemanusiaan

IMG-20220721-WA0064
Bagikan..

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Menyambut hari mangrove sedunia pada 26 Juni 2022, suku Duano yang merupakan salah satu suku bangsa Melayu Tua yang mendiami wilayah pesisir kawasan mangrove Sungai Indragiri akan menggelar aksi penanaman pohon mangrove atau bakau.

Penanaman pohon bakau itu bertema ‘Duano Peduli Mangrove’ yang akan digelar di kawasan hutan mangrove di pesisir Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuindra, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.

Ketua Umum Ikatan Keluarga Duano Riau (IKDR), Hasanuddin mengatakan, aksi penanaman bakau itu dalam rangka memagari laut untuk menyelamatkan kehidupan, menyelamatkan bumi, dan kemanusiaan sebagai bentuk kearifan lokal dalam menjaga kelestarian hutan mangrove.

“Aksi penanaman mangrove ini sebagai upaya memagari sungai untuk menyelamatkan bumi dan kemanusiaan sebagai wujud kearifan lokal,” kata Hasanuddin yang juga Anggota Komisi III DPRD Inhil itu, Kamis (21/7).

Hutan mangrove dengan mayoritas tanaman bakau sangat penting bagi kehidupan manusia. Karena tanpa hutan mangrove, maka akan terjadi abrasi pantai yang berpotensi mengurangi setiap jengkal luas daratan sehingga akan mengganggu keberlangsungan ekosistem laut dan daratan. Selain itu juga, dampak lain dari abrasi tersebut berupa Intusi air laut yang tentunya akan berdampak pada kerusakan kebun-kebun masyarakat.

“Masyarakat Duano yang bermukim di pesisir pantai sungai Indragiri bertahan hidup dari hasil laut (nelayan_red),” sebutnya.

Maka dari itu, kata Hasanuddin, pentingnya aksi peduli mangrove dalam menyelamatkan berbagai kehidupan melalui rehabilitas hutan dan lahan melalui konservasi tanah dan air serta reboisasi penghijauan hutan bakau.

Selain mengangkat isu kemanusiaan dan kehidupan, aksi peduli mangrove tersebut juga berkaitan aksi penyelamatan alam dengan menjaga keseimbangan alam dalam rangka menghadapi ancaman global sangat serius berupa rusaknya keseimbangan alam yang disebabkan oleh berbagai macam faktor yang rentan menimbulan berbagai bentuk bencana alam.

“Ini serius, rusaknya keseimbangan alam akan menimbulkan fenomena alam yang setiap waktu dapat menghampiri kehidupan manusia. Seperti banjir, erosi tanah longsor, kekeringan pemanasan global yang akan mengundang kebakaran lahan cukup luas,” sebutnya.

Jika bencana alam sudah melanda akibat rusaknya lingkungan alam oleh manusia yang tidak bertanggung jawab, maka akan dihadapkan dengan ancamam kepunahan serta hilangnya beberapa jenis floura dan fauna akibat ekosistem alam sudah tidak seimbang.

Hasanuddin mengajak suku Duano dan masyarakat untuk ikut berkontribusi melangkahkan kaki meramaikan aksi penanaman mangrove yang memiliki fungsi sangat krusial dalam menjaga keseimbangan alam sehingga bencana alam berupa abrasi pantai, longsor dan intuisi air laut serta potensi-potensi bencana alam lainnya dapat dicegah ataupun diminimalisir.

“Hutan mangrove dapat menata, menyerap dan menyimpan air yang berguna bagi kesuburan tanah, suhu udara dan sumber oksigen serta menjadi habitat yang bagus bagi hewan-hewan laut yang bermanfaat bagi manusia” paparnya.

Dimana pohon mangrove memiliki fungsi mengendapkan lumpur di akar-akar pohon bakau sehingga dapat mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan dalam mengendalikan dan keseimbangan alam.

Pohon Mangrove juga mempunyai beberapa keterkaitan dan kontribusi dalam pemenuhan kebutuhan manusia, baik fungsinya dalam penyediaan bahan pangan, papan, kesehatan, dan untuk lingkungan.

Untuk diketahui, faktor utama kerusakan mangrove adalah alih fungsi lahan baik untuk tambak, pemukiman, dan infrastruktur lainnya. Bukan hanya itu, kejahatan lingkungan juga sering terjadi, seperti perambahan hutan mangrove secara ilegal.

Selain kejahatan lingkungan, juga minimnya kesadaran manusia akan bahaya membuang sampah sembarangan yang berujung rusaknya ekosistem laut. Padahal eksistensi laut seperti ikan, kepiting, dan biota lain yang berperan besar secara ekologi dan ekonomi.

“Penyebab kerusakan lainnya adalah limbah dan sampah rumah tangga,” kata mantan Kades Sungai Bela itu.

Maka dari itu melalui aksi itu, kata Hasanuddin, masyarakat diajak sadar akan pentingnya menjaga ekosistem mangrove dan disiplin dalam membuang limbah dan sampah rumah tangga demi keberlangsungan kualitas dan keseimbangan alam.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.