Ada Apa ? Kasus 8 Orang Pelaku Penyeludupan Rokok yang Ditangkap Polres Inhu Dihentikan BC Tembilahan - Arbindonesia
Juli 21, 2020

Ada Apa ? Kasus 8 Orang Pelaku Penyeludupan Rokok yang Ditangkap Polres Inhu Dihentikan BC Tembilahan

Bagikan..

Syarif Yono, Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Komitmen dan keseriusan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tembilahan dalam memerangi serta pemberantasan barang ilegal patut dipertanyakan.

Pasalnya, setelah 9 bulan berlalu akhirnya Bea Cukai (BC) Tembilahan secara terang-terangan menegaskan kasus penyeludupan rokok ilegal pelimpahan dari Polres Inhu telah setop penyelidikan dan tidak melanjutkan kasus ini ketingkat penyidikan.

Dengan begitu, 8 pelaku yang sebelumnya sempat diamankan aparat kepolisian Polres Inhu tepat November 2019 lalu menjadi sia-sia.

Sebab, semenjak kasus tersebut ditangani BC Tembilahan, 8 pelaku tidak dilakukan penahanan hingga saat ini dinyatakannya kasus tersebut telah diberhentikan.

Selain itu pihaknya juga berkilah tergendala Pandemi Covid-19 sejak bulan Maret 2020 lalu, serta keluarnya surat edaran presiden dan surat edaran kementrian keuangan tentang larangan untuk beraktifitas keluar dan larangan perjalanan keluar kota.

Sehingga para petugas tidak bisa melakukan operasi diluar. Mulai saat itulah petugas kesulitan mencari informasi diluar untuk menemukan bukti-bukti lanjut terkait kasus tersebut.

Itulah yang mendasari pihak BC Tembilahan menghentikan tindak lanjut proses hukum terhadap 8 orang pembawa 99 karton rokok ilegal.

Demikian disampaikan Kepala BC Tembilahan, Ari Wibawa Yusuf, melalui Syarif Yono, Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan saat menggelar Confrensi Pers bersama awak media di kantor BC Tembailahan.

“Penghentiannya sekitar bulan April atau Mei 2020 lalu,” jawabnya dengan ragu saat ditanyai wartawan kapan waktu kasus tersebut mulai dihentikan, Selasa (21/7/2020).

Selain itu, ia juga berkilah bahwa
tugasnya sebagai pengawasan itu banyak, sehingga lebih memilih hal yang prioritas.

“Jika kasus itu kita gantung terus, maka tidak akan pernah putus-putus,” katanya.

Berikut potongan vedionya :

Syarif menerangkan, untuk menangkap pelaku yang melanggar UU Cukai, penyidik harus menemukan alat bukti berupa dokumen dan saksi bahwa barang yang dimilik memenuhi unsur-unsur pelanggaran tindak pidana.

“Penanganan perkara Cukai itu ada dua mekanisme, dilakukan penyelidikan dengan sangsi pidana dan dilakukan sidik dengan sangsi administrasi,” terangnya.

Maka dari itu, kata Syarif, BC Tembilahan memutuskan untuk memberhentikan penyelidikan dan tidak melanjutkan kasus ini ketingkat penyidikan. Kasus ini diputuskan dengan proses penetapan barang milik negara dan diusulkan akan dimusnahkan.

“BC kesulitan menemukan alat bukti sebagai unsur tindak pidana Cukai, namun barang Ilegal tersebut tetap kami tahanan dan diusulkan akan dimusnahkan,” tukasnya.

Ketika awak media mempertanyakan adanya alat bukti dan para pelaku yang dilimpahkan Polres Inhu ke BC Tembilahan apakah tidak bisa jadi alat bukti. Syarif berkilah, para pelaku tidak ditemukannya unsur-unsur menawarkan, menjual, menukar, pemperoleh, menimbun, menyediakan, memiliki.

“Saat ditanya, tidak ada kata-kata membawa, yang ada dimiliki. Namun untuk membuktikan orang itu memiliki barang tersebut, ada ga alat bukti orang itu benar-benar memiliki, ada ga saksi yang mengatakan orang itu memiliki,”

Terakhir Syarif menegaskan berkomitmen menindak anggotanya jika ada yang terlibat menikmati lingkaran bisnis hitam rokok ilegal, dan tidak ada toleransi.

“Kami tak ragu menindak anggota kami sendiri, jika ada bukti melepaskan pelaku rokok ilegal. Tapi harus dilengkapi dengan bukti,” tegasnya

Untuk diketahui, berita sebelumnya, beredar kabar pihak BC Tembilahan lepas 8 orang pelaku penyelundupan rokok ilegal tindak lanjut perkara pelimpahahan 50.400 bungkus rokok ilegal bersama 8 orang pelaku dari Polres Inhu kepada Bea dan Cukai Tembilahan.

Kasus tersebut masih dipertanyakan masyarakat, pasalnya kasus tersebut masih misteri karena pihak Bea dan Cukai Tembilahan masih bungkam saat diwawancarai pada Senin (13/7/20) kemarin.

(Arbain)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *