5 Fakta Masker Kain, Penangkal Corona yang Dulu Sempat Dicibir - Arbindonesia
April 5, 2020

5 Fakta Masker Kain, Penangkal Corona yang Dulu Sempat Dicibir

Bagikan..

Foto : Facebook @hotijah

ARBindonesia.com – Masker kain sempat dicibir karena tidak sesuai standar. Namun di tengah kelangkaan masker bedah dan makin mengganasnya pandemi virus corona COVID-19, pandangan terhadap masker kain mulai melunak.

Ahli paru dari RSUP Persahabatan, dr Erlina Burhan, SpP, mengatakan masker kain bisa digunakan sebagai proteksi saat berada di tempat umum. Dibanding masker bedah, efek perlindungannya memang lebih rendah, namun tetap lebih baik daripada tidak ada perlindungan sama sekali.

Meski boleh dipakai, ada sejumlah catatan agar efek perlindungan masker kain lebih maksimal.


1. Bisa dipakai ulang
Satu-satunya kelebihan masker kain dibanding masker bedah adalah bisa dipakai ulang. Tentunya harus sering-sering dibersihkan dengan cara dicuci pakai detergen.

Ingat ya, hanya masker kain yang bisa dipakai ulang setelah dicuci pakai sabun. Masker bedah tetap hanya untuk sekali pakai.

2. Masih bisa ditembus aerosol
Saat memakai masker kain, dr Erlina menganjurkan untuk tetap saling menjaga jarak aman 1-2 meter dengan orang lain di sekitarnya. Meksi bisa menangkal hingga 70 persen partikel, masker kain tetap bisa ditembus oleh aerosol.

“Efektivitas filtrasinya pada partikel dengan ukuran 3 mikron bisa 10-60 persen tersaring atau dicegah. Tentu saja karena masker kain tetap ada kebocoran dan keuntungannya masker ini dapat dipakai berulang tapi perlu dicuci,” jelas dr Erlina.

3. Mulai dilirik WHO
Organisasi kesehatan dunia WHO terhadap penggunaan masker tengah meninjauh ulang guideline pemakaian masker di tengah pandemi COVID-19. Selain mempertimbangkan soak pemakaian masker sebagai upaya pencegahan, juga soal pemakaian masker kain.

“Kami bisa melihat situasi pemakaian masker, yang dibuat sendiri di rumah atau masker kain, di tingkat komunitas dapat membantu respons keseluruhan terkait penyakit ini,” jelas salah seorang direktur eksekutif WHO, Dr Michael Ryan.


4. Bahan kain lap lebih efektif
Masker kain dikarakan tidak standar karena bahan yang digunakan memang berbeda-beda. Dari sekian banyak bahan untuk membuat masker kain, kain lap dinilai lebih efektif menyaring partikel.

5. Minimal 3 lapis
Penggunaan masker kain sebagai pilihan alternatif juga disarankan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Salah satu catatan untuk jenis masker ini adalah jumlah lapisannya harus minimal tiga.

“Masker ini dapat terbuat dari kain minimal tiga lapis yang dapat digunakan oleh masyarakat, dan apabila mulai basah bisa diganti,” kata Ketua Tim Pakar Gugus Tugas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito.

loading…

Editor Arb

Sumber detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *