“Warning” Kapolres dan Larangan Disdik, Oh hanya ... - Arbindonesia
Januari 9, 2016

“Warning” Kapolres dan Larangan Disdik, Oh hanya …

Bagikan..

“Jika serius, bukankah kepolisian dan Disdik bisa melakukan pengawasan secara tersembunyi. Tidak susah kok mendapatkan bukti. Jadi tinggal mau atau tidak”

Tembilahan, detikriau.org – Warning pemberlakuan ultimum remidium bagi pelaku praktik pungli disekolah dan larangan Kadisdik Inhil ternyata masih belum efektif. Meski tidak secara terang-terangan, praktik itupun masih terus berlanjut.

Hasil komfirmasi detikriau.org dengan sejumlah orang tua siswa dibeberapa lembaga pendidikan setingkat SD hingga SMA khususnya di Kecamatan Tembilahan dan Tembilahan Hulu, pungli, khususnya pada penerimaan raport hari ini masih terjadi. Meski sebahagian besar sekolah tidak lagi menyampaikan pemberitahuan secara khusus kepada siswa, pungutan berdalih “sumbangan sukarela” tetap mengalir kekantong oknum pelaku.

“tak ada besaran nilai yang ditetapkan. Tapi ya kita tetap memberi. Sudah kebiasaan. Saya amplopin Rp 20 ribu,” sampaikan salah seorang wali murid disalah satu sekolah dasar di kota Tembilahan

Meski menurutnya secara pribadi ia mengetahui pungutan uang raport tidak dibenarkan, namun ia merasa sungkan jika tidak memberi. Apalagi hampir seluruh orang tua siswa-pun sepertinya tidak keberatan dengan kebiasaan buruk ini.

“sungkan kita bang. Hampir seluruh orang tua siswa memberi,” tambahnya

Orang tua siswa lainnya yang juga enggan mempublikasikan namanya juga membenarkan hal ini. Disekolah menengah di Kecamatan Tembilahan Hulu dimana putrinya menempuh pendidikan, praktik itupun menurutnya masih berjalan mulus.

“Praktik ini tidak akan bisa terhapus selagi mental oknum pelaku tidak diperbaiki. Jika guru tidak lagi mau menerima, baru bisa tuntas. Artinya harus ada upaya untuk melakukan revolusi mental dulu di tenaga pendidiknya,” pendapatnya

Bahkan ia menilai peringatan Kapolres dan Kadisdik juga terkesan masih setengah hati. “jika serius, bukankah kepolisian dan Disdik bisa melakukan pengawasan secara tersembunyi. Tidak susah kok mendapatkan bukti. Jadi tinggal mau atau tidak,” Ujarnya

Menurutnya juga, jika harus menunggu adanya pelapor baru memberikan tindakan, pastinya akan sulit. Kebanyakan orang tua siswa termasuk dirinya mengaku enggan untuk mengkritisi secara terbuka apalagi tampil sebagai pelapor.

“Pertimbangannya banyak. Tapi yang jelas mental anak-anak kita disekolah jika saya berani berbicara secara terbuka,” Akhirinya. –dro-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.