Sempat Dikeluarkan, Kini Sulaiman Kembali Berstatus Siswa di SMAN 1 Tembilahan Hulu - Arbindonesia
November 2, 2020

Sempat Dikeluarkan, Kini Sulaiman Kembali Berstatus Siswa di SMAN 1 Tembilahan Hulu

Bagikan..

Pertemuan Khusus di SMAN 1 Tembilahan Hulu terkait pemindahan Sulaiman, foto arb

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Sulaiman salah siswa SMA Negeri 1 Tembilahan Hulu (SMA Sahul) yang sempat dikeluarkan dari sekolah dengan status ‘pindah sekolah’, kini ia dinyatakan kembali sabagai siswa disekolah tersebut.

Kembalinya Sulaiman sebagai peserta didik di sekolah tersebut, merupakan hasil usulan yang disampaikan oleh Ketua Komisi IV DPRD Inhil, Komisi Pendidikan Inhil, Kapolsek Tembilahan Hulu yang meminta agar pihak sekolah membatalkan pemindahan Sulaiman.

Sebelum memutuskan atas usulan tersebut, pihak SMAN 1 Tembilahan Hulu sempat melaksanakan rapat besar antara majelis guru.

“Hasil rapat yang kami laksanakan bersama 38 guru dari 68, kami sepakat untuk menerima Sulaiman untuk belajar kembali di sekolah SMA Negeri 1 Tembilahan Hulu ini,” kata Farida dalam pertemuan khusus khusus bersama Ketua Komisi IV DPRD Inhil, Komisi Pendidikan Inhil, Kapolsek Tembilahan Hulu, Lurah Tembilahan Hulu, NGO, dan pihak Keluarga Sulaiman, serta awak media yang digelar di gedung SMAN 1, Jalan Sapta Marga, Tembilahan Hulu, Senin (2/11/2020).

“Kepada anak kami Sulaiman, agar lebih semangat dalam menuntut ilmu serta selalu berkomunikasi dengan pihak sekolah baik itu guru BK ataupun dengan wali kelas,” harapnya.

Klarifikasi atas Pemberitaan Sebelumnya

Sebelum menetapkan kembali Sulaiman sebagai siswa di SMA N 1 Tembilahan Hulu, Faridah juga menyampaikan klarifikasi atas pemberitaan sebelumnya yang menyebutkan bahwa pihak sekolah telah mengeluarkan siswanya (Sulaiman) secara sepihak karena jarang membuat tugas.

Ia menyebutkan bahwa sanksi yang diberikan kepada anak didiknya tersebut, tidak diberlakukan secara sepihak, akan tetapi melalui proses penilaian panjang, dan merupakan kehendak dari yang bersangkutan.

Selain itu, Faridah juga membantah pernyataan orang tua Sulaiman dalam pemberitaan sebelumnya yang menggunakan kata “dikeluarkan”.

Menurutnya, kalimat yang tepat untuk digunakan adalah dipindahkan atau pindah.

“Pindah itu juga atas kemauan sendiri si anak didik, tidak ada paksaan,”ujar plt Kepsek SMA N 1 Tembilahan Hulu.

Lanjutnya, proses penilaian hingga pemberian sanksi kepada Sulaiman dilakukan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Sementara serah terima sebagai Plt Kepsek SMAN 1 Tembilahan Hulu pada 15 september 2020, sedangkan proses penilaian terhadap Sulaiman sudah berjalan sebelum itu.

“Artinya saya hanya mengambil peran dihujungnya. Penilaian sudah berjalan sebelum saya dikukuhkan sebagai plt kepsek,” tegaskan Faridah.

“Itupun saat saya diserahi berkas kepindahan Sulaiman, berulang-ulang kali saya pertanyakan kepada wali kelasnya apakah keputusan tersebut sudah sesuai prosedur, dijawab iya, barulah saya bersedia menandatangani.” paparnya.

“Semua berjalan dengan berproses, jadi pindahnya Sulaiman bukan atas kemauan sepihak dari sekolah,” ungkap Faridah.

Pernyataan Wali Kelas Sulaiman

Sementara itu, wali kelas Sulaiman, Indah Fitriani juga menekankan bahwa “pindah” sekolah adalah pilihan yang diputuskan sendiri oleh Sulaiman.

Proses yang pada akhirnya mengharuskan Sulaiman untuk pindah sekolah merupakan sanksi yang dipilih oleh Sulaiman “jika” ia tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang diberikan kepadanya.

“Surat perjanjian tertulis diatas matrai itu sengaja dibuat untuk menegaskan janji anak didik agar ia patuh, artinya bukan hanya berjanji mulut tapi harus ada hitam dan putihnya,” dijelaskan Indah

“Sanksi pindah sekolah jika tidak memenuhi atas perjanjian itu, Sulaiman sendiri yang pilih, bukan saya,” tambahnya.

Sebelum sampai diakhir proses, Indah menyebutkan Sulaiman sama sekali tidak pernah mengumpulkan tugas secara daring.

Solusinya, Sulaiman diberlakukan pembelajaran luring, dimana tugas-tugas sekolah dijemput dan dalam waktu tertentu dikumpulkan kembali untuk dilakukan penilaian.

Hanya saja menurut Indah, dari 14 mapel, hanya 7 mapel yang selesaiakan dan diantarkan. Dan kealpaan atas ketidaksanggupan menyelesaikan tugas dicantumkan dalam perjanjian, dan sanksinya pilihan Sulaiman adalah pindah sekolah.

“Saya pastikan juga semua sudah sesuai proses. Bukan sekolah mengeluarkan tapi pindah sekolah sesuai sanksi hukuman atas perjanjian yang dipilih sendiri oleh Sulaiman.” paparkannya

Indah menegaskan, sebagai seorang pendidik, dirinya sama sekali tidak pernah membeda-bedakan mana anak didik mampu dengan anak didik tidak mampu. Bukan hanya Sulaiman, ia juga menyebutkan ada anak didiknya yang juga tergolong tidak mampu, orang tuanya hanyalah seorang pemulung.

“Namun ia mampu menyelesaikan semua tugas-tugas yang diberikan sekolah. Ia patuh menuntaskan semua tugas-tugas mapel yang diberikan,” dicontohkan Indah.

“Jika ada masalah, ia dengan berbagai cara mempertanyakan kepada saya, tidak halnya dengan Sulaiman, saya tidaklah mungkin mengetahui kondisi secara pasti anak didik saya yang cukup banyak satu persatu jika tidak diberitahukan oleh si anak,” tutupnya.

Pernyataan Orang Tua Sulaiman

Sebelumnya dalam pertemuan itu juga, Ibunda Sulaiman, Nurhasanah mengaku kaget dengan kata yang masih dipilihnya “dikeluarkan” anaknya dari sekolah.

Ia mengaku memang ada diberikan surat dari wali kelas saat menemuinya disekolah. Hanya saja karena ia menyebut dirinya memang tidak bisa baca tulis, dalam pertemuan itu ia meminta waktu agar surat tersebut dibawa pulang olehnya, namun wali kelas memberikan pena dan meminta ia untuk segera menandatanganinya.

“Saya sempat meminta surat itu untuk saya bawa pulang dulu. Karena saya tidak mengerti, saya tidak bisa baca tulis, tapi saya tetap disodorkan pena dan diminta untuk menandatangani. Terpaksa saya ikuti, tapi itupun dengan hanya memberikan coretan,” papar Nurhasanah.

“Belakangan saya kaget setelah tau bahwa surat itu merupakan surat itu adalah surat pernyataan bahwa saya menerima anak saya untuk dipindahkan,” katanya.

Pernyataan Ketua Komisi IV DPRD Inhil

Ketua Komisi IV DPRD Inhil Samino menyebutkan bahwa dalam kondisi yang tidak biasa, seperti dimasa pandemi covid-19, khusus untuk bidang pendidikan, Pemerintah saat ini tidak memfokuskan pada capaian prestasi namun yang dituntut hanyalah agar proses pendidikan tetap berjalan, jangan sampai tertinggal sama sekali atau lose class.

Untuk itu dikatakan Samino, saat ini, pihak sekolah harus memastikan proses pembelajaran tetap dapat berjalan sesuai dengan arahan Kementrian Pendidikan, baik melalui sistem pembelajaran daring maupun luring, bukan menekankan pada capaian prestasi.

Dalam kaitannya dengan apa yang dialami, Sulaiman, Samino berpendapat bahwa memindahkan siswa karena kealpaan dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah bukanlah solusi terbaik. Kondisi seperti itu diyakininya justru akan dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan anak didik. Jikalau memang harus dipindahkan juga, masalah-masalah baru atas beban fsikologis si-anak diyakini Samino akan menjadi faktor penghambat baru.

“Dalam kondisi biasa saja, memindahkan anak karena sesuatu sebab tertentu harusnya menjadi pilihan terakhir, tidak mudah. Apalagi Negara dalam kondisi yang tidak biasa seperti saat ini. Saran saya, berikan kesempatan lagi kepada Sulaiman untuk mengikuti pendidikan di sekolah ini, agar tidak menimbullkan masalah baru dikemudian hari, khususnya kepada siswanya,” Saran Samino yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Inhil ini

Samino meminta agar apa yang terjadi terhadap Sulaiman cukuplah diakhiri sampai disini, jadikan semua ini sebagai suatu intropeksi bagi lembaga pendidikan karena mendidik memang bukanlah tugas mudah, perlu kesabaran dan niat tulus.

Kepada Sulaiman, Samino juga berpesan agar dapat lebih memotifasi diri untuk menerima transfer ilmu dengan baik yang dimaknai dengan mentaati semua aturan dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dari sekolah semampu mungkin.

“Saat ini seluruh peserta UN lulus, anak-anak didik seluruhnya naik kelas. Karena memang kondisinya seperti itu. Tidak ditekankan pada prestasi. Mau atau tidak mau. Yang penting pendidikannya saja harus tetap berjalan. Ini bukan hanya menjadi persoalan Indonesia tapi juga persolan seluruh Dunia.” akhiri Samino. (Arbain)

Sumber detikriau.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *