Generasi Kriminal akan Terbentuk Jika Narkotika Terus Merajalela - Arbindonesia
Februari 23, 2021

Generasi Kriminal akan Terbentuk Jika Narkotika Terus Merajalela

Bagikan..

Foto: Ilustrasi internet, edt.

ARBIndonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Seakan tidak ada habisnya, kasus narkotika terus ‘menghantui’ negeri ini terutama di kalangan remaja.

Aparat penegak hukum pun tak henti-hentinya melakukan pemberantasan terhadap barang haram tersebut. Karena dikhawatirkan generasi kriminal akan terbentuk jika narkotika terus merajalela.

Kasus narkotika di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) masih menjadi sesuatu yang bersifat urgent dan kompleks.

Hal itu terlihat pada maraknya kasus-kasus tindak pidana narkotika di Negeri Hamparan Kelapa Dunia yang berhasil diungkap kepolisian Kabupaten Inhil.

Sepanjang tahun 2021 yang belum genap 2 bulan berjalan, 17 kasus tindak pidana narkotika berhasil di ungkap Polres Inhil dengan tersangka yang tergiring ke penjara sebanyak 27 orang.

Mirisnya lagi, rata-rata tersangka yang terlibat dalam ‘lingkaran hitam’ tersebut masih dalam kategori usia produktif.

“Jumlah kasus penanganan sejak awal tahun 2021 hingga saat ini sudah 17 kasus tindak pidana narkotika. Dari kasus-kasus tersebut 27 orang yang menjadi tersangka dengan rata-rata tersangka masih usia produktif,” kata Kapolres Inhil, AKBP Dian Setyawan melalui Kasubbag Humas, AKP Warno, Selasa (23/2/2021) malam.

Dengan demikian, ancaman akan ‘tergerusnya’ generasi anak bangsa akibat terkontaminasi barang haram akan semakin nyata pada masa mendatang.

Baru-baru ini, Polres Inhil melalui Unit Reskrim Polsek Kempas menangkap seorang pemuda berinisial A (23 tahun) atas kepemilikan satu paket kecil sabu yang dibeli dari tersangka H (45 tahun).

Jika hal ini terus terjadi, Kabubaten Inhil kedepannya berpeluang menciptakan generasi kriminal atau generasi ‘lingkaran hitam’ akibat dampak peredaran narkoba.

Demi menyelamatkan generasi bangsa dan memutus ‘rantai’ peredaran narkotika, upaya serius telah dilakukan aparat penegak hukum di Kabupaten Inhil. Hal itu dibuktikan dengan maraknya pengungkapan kasus-kasus tindak pidana narkotika mulai dari kecil hingga ‘kelas’ besar.

Dalam upaya memutus peredaran narkotika, hal tersebut tidak serta-merta menjadi tanggung jawab penegak hukum sepenuhnya, akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama antara lapisan masyarakat dan penegak hukum.

Perlu adanya kerjasama dan dukungan dari semua lini didalam memberantas peredaran barang haram tersebut.

Terlebih peran orang tua dan keluarga sangat penting dalam mengawasi putra-putrinya agar tidak terjerumus dalam ‘lingkaran hitam’ yang menyesatkan.

Seperti yang dikutip dalam sebuah penelitian di UIN Alauddin Makassar, Fakultas Syariah dan Hukum. Dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika diwujudkan dalam bentuk peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk memberantas peredaran gelap narkotika.

Karena tanpa dukungan masyarakat maka segala usaha, upaya dan kegiatan penegakan hukum akan mengalami kegagalan. Disinilah pentingnya mengubah sikap tingkah laku dan kepedulian masyarakat terhadap pencegahan dan penanggulangan tindak pidana narkotika.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan arbindonesia.com kepada salah seorang mantan pencandu narkotika di Kabupaten Inhil yang berhasil melewati ‘pahitnya’ hidup selama 14 tahun (2000-2014) karena ‘terjerat’ barang haram.

Pria itu berinisial AK (44 tahun), ia mengaku sebelum terjerumus kedalam lingkaran hitam peredaran narkotika, ia sangat sadar akan bahayanya mengkonsumsi narkoba.

“Karena terpengaruh akan lingkungan sekitar, pergaulan, dan kurangnya pengawasan dari orang tua akhirnya saya mencoba narkotika jenis sabu yang diberi secara gratis,” ungkapnya,” tuturnya, Selasa (23/2/2021).

Menurut AK, saat mencoba barang haram tersebut, ia merasakan ada sesuatu semangat yang berbeda. “Timbul semangat yang berlebihan dari biasanya (euforia),” kata AK.

Karena terbiasa, ketergantungan akan narkoba semakin dirasakannya. “Hilangnya gairah dan semangat untuk melakukan aktivitas akibat merasakan keletihan yang berlebihan jika tidak memakai narkoba,” ucapnya.

Saat sudah ketergantungan, cita-cita yang ingin kita capai dulunya pupus seketika, yang ada hanya keinginan bagaimana agar terus bisa membeli narkoba.

“Akhirnya jalan pintas saya ambil demi membeli narkoba dari hasil tindakan kriminal. Yang pada akhirnya saya di penjara 2,5 tahun karena kasus perampokan,” pungkas AK.

Menurut pengakuannya juga, kala itu didalam penjara tak membuatnya insaf akan mengkonsumsi narkoba. Akan tetapi terasa sedikit lebih mudah untuk mendapatkan narkoba didalam penjara dibanding di luar penjara.

“Setelah saya dinyatakan bebas pada tahun 2011silam, mulai timbul kesadaran untuk berhenti sebagai pengguna narkoba. Memang awalnya sangat terasa sulit karena harus menghadapi pengaruh lingkungan yang sangat besar. Akan tetapi dengan niat yang kuat dari dalam diri untuk melepaskan dari jeratan narkoba akhirnya semua itu bisa saya lalui,” pungkas AK.

“Dukungan dari keluarga adalah hal yang terpenting untuk berhenti menggunakan narkoba. Karena kondisi jiwa kita saat itu menjadi labil, maka harus didukung oleh keluarga. Jika tidak, maka berkemungkinan besar akan terulang kembali sebagai penikmat barang haram,” tambahnya.

Terakhir AK berpesan kepada masyarakat khususnya generasi muda penerus bangsa bahwa dipundak anda nantinya masa depan serta cita-cita diri sendiri, keluarga, dan negari ini dipertaruhkan.

Tidak ada kata-kata mencoba dalam dunia narkoba, karena disaat anda mencoba di saat itulah anda mulai terjerumus.

“Selalu lakukan kegiatan positif, jauhi lingkungan serta teman yang membawa pengaruh buruk, dekatkan diri kepada Tuhan serta slalulah berpikir positif,” pesan AK mantan pecandu narkoba.

“Narkoba hanya akan menyengsarakan dan membuat kita jauh dari segala hal positif yang ingin diraih. Katakan Tidak Pada Narkoba,” tutupnya.

Arbain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *