Bertemakan Membangun Karakter Bangsa, HIMA Magister PGMI UIN Riau Gelar Webinar Nasional - Arbindonesia
Januari 15, 2021

Bertemakan Membangun Karakter Bangsa, HIMA Magister PGMI UIN Riau Gelar Webinar Nasional

Bagikan..

ARBindonesia.com, PEKANBARU – Himpunan Mahasiwa Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) untuk kesekian kalinya mengadakan webinar nasional.

Kali ini tema yang diangkat adalah “ Membangun Karakter Bangsa”, webinar nasional ini diadakan pada hari kamis 17 Desember 2020 lalu.

Pada kegiatan Webinar nasional kali ini HIMA PGMI Fakultas Tarbiayah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Riau menghadirkan narasumber dari negeri tentangga yakni Prof Gamal Abdul Nazir, dosen Universitas Brunai Darussalam.

Tidak hanya itu, HIMA juga menghadirkan narasumber daru Universitas Gajah Mada, Dr Sahilal Arimi, M.Hum, serta dari UIN SUSKA Riau Prof. Amril, M. MA dan Dr. Zulhidah, M.Ag.

Materi yang disampaikan Prof. Gamal adalah “Penguatan Karakter Bangsa Melalui Budaya Melayu”. Ia membahas bagamana karakter atau pembentukan akhlak adalah salah satu tugas atau risalah Nubuwwah Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang tertulis didalam Surah Al-Kalam ayat 4 yang artinya “dan sesungguhnya engkau benar benar berbudi pekerti luhur”.

Prof Gamal mengaitkan bahwa kejayaan suatu massa tergantung pada akhlak atau karakter serta budi pekerti bangsa itu sendiri.

“Dimana seorang penyair mesir termasur yakni Ahmad Syauqi Beik mengatakan “Sesungguhnya kejayaan suatu umat (bangsa) terletak pada akhlaknya selagi mereka berakhlak dan berbudi perangai utama. Jjka pada mereka telah hilang akhlaknya, maka jatuhlah umat (bangsa) itu,” imbuh Prof Gamal.

Lanjutnya, kedatangan Islam ke dunia Melayu membawa berkah dan perubahan yang mendasar dalam semua bidang kehidupan Ilmu, Tamaddun, Pendidikan, Ekonomi, Politik (NAQUIB AL-ATTAS).

“Pendidikan Karakter Islami tidak dapat dipisahkan dengan budaya Melayu, karena Kebudayaan Melayu itu masih relevan dijadikan sebagai asas pembentukan karakter Islami dan Pembinaan karakter Islami dalam budaya Melayu yang dinukilkan melalui pantun, gurindam,” papar dosen Universitas Brunai Darussalam.

Maka sangatlah relevan jika kebudayaan melayu dijadikan asas sebgai pembentukan karakter islami.

“Selain itu Islam harus dijadikan sebagai panduan dan pendidik utama kerana tanpa Islam bangsa Melayu akan kehilangan jati diri mereka,” tuturnya.

Selain itu, materi tentang karakter juga disampaikan dosen Universitas Gajah Mada, Dr Sahilal Arimi mengatakan bahwa bahasa merupakan refleksi dari Karakter Bangsa.

Sebagai contoh, ujaran berkarakter dalam Bahasa Indonesia diantaranya “mau ke mana?, Silakan mampir dulu, anggap saja seperti rumah sendiri, dompet saya hilang di jalan, aduh, jari saya terluka, mohon izin ke belakang sebentar, semangat!, Maaf numpang tanya, dan terima kasih sudah repot membantu.

“Hal itu lebih menguatkan bahwa bangsa Indonesia dikenal ramah, santun dan damai (menghindari konflik, non-opposan),” imbuhnya.

Lanjut Dr Sahilal memaparkan, terdapat 4 Cabang Linguistik yang relevan membicarakan karakter adalah :

  1. Linguistik Forensik, cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan bahasa dan kasus hukum
  2. Pragmatik, cabang ilmu bahasa yang mempelajari maksud penutur berdasarkan konteks
  3. Sosiolinguistik, cabang ilmu bahasa yang mempelajari variasi bahasa berdasarkan struktur masyarakat penuturnya
  4. Linguistik Kognitif, cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan ekspresi kebahasaan dengan pikiran penuturnya. Lewat bahasa kita menunjukkan identitas, merepresentasikan budaya, membangun bangsa lewat bahasa kita bangga dengan identitas, bangga dengan budaya, dan bangga dengan bangsa kita, indonesia.

“Berdasarkan beberapa hal tersebut, kita harus jujur bahwa PR kita dalam membangun karakter bangsa harus memantapkan dan memperbaiki bahasa, serta memantapkan dan memperbaiki budaya,” ujarnya.

Sementara itu, dosen UIN SUSKA Riau Prof. Amril, M. MA dan Dr. Zulhidah, M.Ag. membahas karakter melalui Refleksi Sejarah Pendidikan Karakter di Indonesia serta mengimplementasikannya kedalam pembelajaran.

Mengambil pelajaran dari perjalanan pendidikan karakter pada suatu bangsa (Indonesia), pada masa lalu sebagai modal dasar untuk membangun karakter Bangsa hari ini dan esok melalui pendidikan berkarakter (nasional) yang telah ditetapkan.

Melalui pendidikan karakter peserta didik dalam kehidupannya bisa melalukan kebajikan bagi masyarakat melalui penanaman nilai-nilai moral preskriptif- preventif.

Terdapat lima nilai pendidikan yang implementasikan dalam Kurikulum k 13 yakni:

Religius: Iman kepada Tuhan yang Maha Esa, ditandai dengan mengamalkan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, menjunjung tinggi toleransi terhadap pelaksanaan ajaran agama dan kepercayaan yang berbeda, rukun dan damai dengan pemeluk agama lain, cinta damai, melindungi, suka persahabatan, tidak memaksakan kehendak.

Nasionalis: Menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompok. Untuk itu cara berpikir dan bersikap, serta kepedulian menjadi perhatian utama. Karakter nasionalis ini ditandai al. mengapresiasi kebudayaan bangsanya dan menghormatinya, melahirkan rela berkorban, disiplin, taat hukum ditengah-tengah keragaman.

Integritas : Nilai yang berusaha memperbaiki dirinya agar dapat menjadi dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaannya, memiliki komitmen serta kesetiaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Karakter integritas ini ditandai tanggung jawab sebagai warga negara, aktif kegiatan sosial, menghargai martabat orang lain, dan menunjukkan keteladanan.

Mandiri: Sikap tidak bergantung pada orang lain baik dalam tenaga, pikiran, dan waktu sendiri demi mewujudkan cita-cita. Karakter mandiri ini ditandai dengan etos kerja yang baik, ketangguhan, daya juang, profesionalitas, kreativitas, dan keberanian.

Gotong royong: Sikap menghargai kerja sama dalam menyelesaikan masalah bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, serta memberi pertolongan yang membutuhkan.

Jika dipahami lebih jauh, dalam UU ini sudah mencakup pendidikan karekter. Misalnya pada bagian kalimat terakhir dari defenisi pendidikan dalam UU tentang SISDIKNAS ini, yaitu memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Selain bagian dari defenisi pendidikan di Indonesia, bagian kalimat tersebut juga menggambarkan tujuan pendidikan yang mencakup tiga dimensi. Yaitu dimensi ketuhanan, pribadi dan sosial.

Artinya, pendidikan bukan diarahkan pada pendidikan yang sekuler, bukan pada pendidikan individualistik, dan bukan pula pada pendidikan sosialistik. Tapi dari defenisi pendidikan ini, pendidikan yang diarahkan di Indonesia itu adalah pendidikan mencari keseimbangan antara ketuhanan, individu dan sosial.

Dari keempat narasumber tersebut dapat dipahami bahwa Membangun Karakter Bangsa itu amatlah penting bukan hanya dalam pembelajaran di sekolah akan tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Dimana kita sebagai masyarakat timur dikenal dengan sikap santun, ramah dan damai, untuk itu perlu mengembangkan karakter itu sendiri.

Menanamkan sikap bagimana mengahargai, menghormati, peduli sesama bukan sebagai masyarakat yang individual.

Bukan hanya itu saja bahkan di dalam Islam itu sendiri mengajarkan seorang manusia harus berakhlak mulia serta berbudi luhur dean merupakan tugas Risallah nubuwah Nabi Muhammad SAW yang termaktub di dalam hadis riwayat Imam Ahmad Mengatakan “Sungguh aku diutus menjadi rasul tidak lain adalah menyemempurnakan akhlak yang sholeh”.

Untuk itu Pendidikan Islam sangat penting dalam membentuk dan mengembangkan karakter siswa.

“Pendidikan agama dan moral harus saling berintegrasi dan berinteraksi melalui realitas sosial yang berkembang di masyarakat. Pendidikan yang memuat nilai-nilai keagamaan pada akhirnya mampu membentuk manusia seutuhnya,” pemaparan dosen UIN SUSKA Riau Prof. Amril, M. MA dan Dr. Zulhidah, M.Ag.

Kontributor : Rosdiana Dewi,
Mahasiswa Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah, UIN SUSKA RIAU

Editor : Arbain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *