Miniature Dunia Aneh dan Cantik yang Disebut “koloni angkasa” - Arbindonesia
November 18, 2018

Miniature Dunia Aneh dan Cantik yang Disebut “koloni angkasa”

Bagikan..

Sumber: CNN (Terjemahan)   Editor: Faisal

Aki Murase hidup dalam bayang-bayang Pegunungan Hira di utara Kyoto, tetapi dia dengan senang hati menghabiskan hari-hari di dalam ruangan memilih koleksi rekamannya buah pemikiran yang besar atau mengotak-atik komponen televisi yang rusak.

Murase telah mengabdikan dirinya untuk menciptakan “terarium – Ecospheres Lilliputian” yang terbungkus dalam ruang kaca. Pria berusia 37 tahun itu menyebut karya-karyanya sebagai “Koloni Angkasa”, sebuah gambaran bagi permukiman luar angkasa raksasa yang dibayangkan oleh fisikawan Amerika, Gerard O’Neill.

Dilangit-langit rumahnya tergantung terrariums berbagai ukuran. Didalam masing-masing tabung kaca ia mengkurasi lansekap miniatur yang terawat dengan baik.

Bernuansakan pegunungan dengan pohon-pohon yang kecil yang jelas berkaitan dengan seni bonsai jepang. Namun Murase, sang otodidak ini lebih memilih untuk bekerja diluar batas dari tradisi bonsai.

Daur ulang dan penanaman kembali adalah pusat dari proses kreasi Murase. Kamu akan melihat papan sirkuit dan kabel TV yang dirangkai secara melilit dan membentuk miniatur momiji, sebuah pohon maple jepang.

Dari taman Indor ke terarium

Kakek Murase adalah seorang amatir penggila seni bonsai, oleh karena itu benih kecintaan Morase sudah tertanam sejak usia dini.

“saya membuat apa yang dinamakan aqua terarrium sejak masih duduk dibangku sekolah menengah pertama, Ini adalah hobi yang banyak disukai anak-anak pada masa itu. Saya sangat suka menanam tanaman air di dalam tangki kaca dengan menempatkan lampu LED dan membiarkan kura-kura kecil saya bermain disana”

Namun rekam jejak Murate pada penciptaan terarium secara penuh waktu silih berganti. Setelah menghabiskan waktu  satu tahun penuh bertempat tinggal di Australia, dia pindah ke Kyoto, sebuah kota yang dianggapnya tanah kelahiran dan pelestari budaya jepang. Sesampainya di Kyoto, Murase magang sebagai pembuat furnitur, mengabdikan dirinya sebagai seorang tukang kayu.

Namun beberapa tahun kemudian, Murase berbalik arus, ia memulai dari bekas reruntuhan sebuah café dipusat kota. Disnilah ia mulai mengutak-atik kehidupan tanaman kembali. Ia mendekorasi limbah dengan kreasinya sendiri, seperti bekas TV yang sudah dibuang yang ditanami tanaman yang menjalar keluar darinya. Dia juga akan memberikan kehidupan baru pada tabung logam tua dengan merombaknya sebagai pot tanaman.

Pelanggan dan teman-temannya mendorong Murase untuk meneruskan pengembangan taman didalam ruangan yang akhirnya mengarah kepada terarium. Namun pada awalnya Murase mendapati kendala signifikan pada desain awalnya, yaitu tidak adanya sinar matahari.

“Rumah-rumah tradisional di Kyoto sangat panjang dan sempit sehingga sangat sedikit mendapatkan sinar matahari.” Kata Murase

“Ini bukan lingkungan yang baik untuk menumbuhkan tanaman apapun”

Memecahkan masalah ini, Murase beralih kembali dengan menggunakan cahaya dari lampu LED yang sudah pernah ia gunakan dalam ekperimen aqua terrarium saat ia masih remaja.

Daur Ulang dan Penanaman Kembali

 Selama enam tahun terakhir, Murase telah bekerja menciptakan terrarium secara penuh waktu.

Untuk menjaga pilosopinya “replanting and recycling” ia mendatangkan tanaman dari berbagai sumber. Ia mendapatkan pasokan dari teman-temannya, menjelajahi hutan-hutan di pegunungan sekitar studionya dan mengunjungi tempat-tempat yang tidak biasa seperti toko-toko perangkat keras termasuk untuk mendapatkan tanaman yang terlupakan atau rusak.

Saat kunjungan kami, ia memperlihatkan sebuah tanaman bonsai yang diberikan kepadanya secara gratis dari pembibitan tanaman. Meskipun kelihatan seperti sudah layu dan mati, Murase yakin akan mampu kembali membuat tanaman itu hidup dan menjadikannya sebagai  pusat dari sebuah terrarium.

Master Bonsai: Rahasia kuno di balik pohon tua berusia berabad-abad milik mereka

“Aku tidak mencoba membuat bonsai atau pemandangan yang sempurna” katanya “Tetapi aku ingin menjadikan tanaman dan pohon yang sudah tua kembali hidup dengan kerja seni saya”

Mungkin kepindahannya ke Kyoto menjadi asalnya – Terarium Murase berbagi ciri dengan sejenis taman tradisional yang berasal dari kota itu, menurut kolektor seni Jepang, Alex Kerr.

“Seni Murase merupakan potongan tsuboniwa modern, sebuah taman mini yang Anda temukan di dalam rumah-rumah tradisional Kyoto,” katanya dalam wawancara email.

Sebagai sebuah taman, Murase terrarium membutuhkan perawatan yang relative sederhana, tetapi harus secara rutin. Disiram dan dibersihkan secara teratur.

Terarium Murase dijual seharga 50.000 yen ($ 460) atau 100.000 yen ($ 919) – untuk ukuran kecil dan besar – masing-masing terarium dilengkapi dengan seperangkat alat berkebun dan petunjuk terperinci untuk pemeliharaan.

Menurut Murase,  terrarium sangat special dikalangan masyarakat perkotaan di Jepang, dimana ruang taman premium dan luar ruangan adalah sebuah kemewahan.  Kreasinya juga dapat ditemukan di café, restoran dan sekolah-sekolah diseluruh negri.

Kerr, pemilik salah satu terarium yang tergantung di dapur rumahnya di Kyoto, mengatakan bahwa dia memeriksa koloni ruang angkasanya sendiri setiap pagi. “Ini meditasi,” kata Kerr.

“Cahaya hijau yang bersinar di dalam bola kaca, bola dunia Murase adalah benih kehidupan – pengingat yang kecil tapi kuat dari misteri alam luar.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *