Balas Dendam Iran Dimulai, Pangkalan AS di Irak Dibombardir

Sebuah rudal diluncurkan dari Iran dengan target Pangkalan Udara Ayun Al-Assad di Irak yang digunakan militer Amerika Serikat. Foto/Twitter @FarsNewsAgency







ARB INdonesia, BAGHDAD – Pangkalan Udara Ayun al-Assad di Irak barat yang digunakan militer Amerika Serikat (AS) dibombardir dengan puluhan roket dan rudal balistik, Rabu (8/1/2020). Kantor berita Iran, Fars, melaporkan serangan ini awal dari balas dendam Teheran atas kematian Jenderal Qassem Soleimani.


Sejumlah sumber militer Irak mengatakan banyak roket telah ditembakkan ke Pangkalan Udara Ayn al-Asad. Menurut laporan awal dari jurnalis Voice of America (VoA), Carla Babb, serangan roket masih berlangsung hingga saat ini.


“Pangkalan Al-Assad sedang dihantam sekarang dengan tembakan tidak langsung, putaran (tembakan) masih masuk, sekitar 30 (roket) sejauh ini,” tulis Babb di Twitter mengutip sumber militer.



Kantor berita Fars dalam laporan singkat yang di-posting di media sosial menyebutkan rudal balistik Iran ditembakkan ke pangkalan AS.


“Awal dari balas dendam Iran, pembalasan (terhadap) AS,” tulis media tersebut dengan menayangkan video peluncuran beberapa rudal ke pangkalan udara AS.


Sementara itu, sumber militer AS yang berbicara dalam kondisi anonim kepada Fox News mengatakan serangan rudal datang dari Iran. “Ini adalah rudal jelajah atau rudal balistik jarak dekat,” katanya.


Para pejabat AS belum mengomentari perihal kemungkinan jumlah tentara Amerika yang terluka atau pun terbunuh dalam serangan pagi ini. (*)


loading…




Sumber Sindonews.com
https://international.sindonews.com/read/1490356/43/balas-dendam-iran-dimulai-pangkalan-as-di-irak-dibombardir-1578441021




Rudal Iran Siaga Tinggi setelah Amerika Habisi Jenderal Soleimani

Sistem pertahanan rudal Khordad 15 Iran. Foto/IRNA







ARB INdonesia, TEHERAN – Rudal Iran dilaporkan dalam keadaan siaga tinggi di seluruh negara itu. Kondisi itu terjadi setelah komandan Pasukan Quds, Jenderal Qassem Soleimani, tewas dalam serangan udara Amerika Serikat (AS) di Baghdad, Irak, Jumat pekan lalu.


Seorang pejabat AS yang memiliki informasi intelijen mengatakan kepada Reuters bahwa belum jelas apakah tingkat kesiapan misil-misil negara para Mullah itu bersifat defensif atau tidak.


Pejabat itu, yang berbicara dengan syarat anonim tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut atau mengatakan apakah rudal-rudal Iran membidik target tertentu, di tengah ancaman balas dendam oleh Teheran.


“Mereka jelas-jelas berada pada kondisi siaga yang tinggi. Apakah keadaan siaga yang tinggi itu dipersiapkan dengan lebih baik untuk defensif atau untuk dipersiapkan dengan lebih baik? Itu tidak dapat ditentukan pada titik ini,” kata pejabat itu, yang dikutip dari Reuters, Senin (6/1/2020). “Tapi kita memperhatikannya dengan cermat.” katanya lagi.


Laporan New York Times juga menyebutkan bahwa agen mata-mata AS mendeteksi bahwa Iran telah menyiapkan unit rudal balistik.



Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang 52 situs di Iran, termasuk yang memiliki nilai budaya tinggi, jika Teheran menyerang aset Amerika. Serangan terhadap situs budaya merupakan kejahatan perang.


“Iran berbicara dengan sangat berani tentang penargetan aset-aset AS tertentu sebagai balas dendam karena kita membersihkan dunia dari pemimpin teroris mereka yang baru saja membunuh seorang warga Amerika dan melukai banyak orang lain, belum lagi semua orang yang telah dia bunuh seumur hidupnya,” tulis Trump di Twitter.


Dia terus menulis bahwa Soleimani telah memimpin serangan terhadap kedutaan AS, yang dilaporkan New York Times merupakan faktor di balik keputusan Trump untuk memerintahkan serangan yang menewaskan jenderal top Iran tersebut.


“Biarkan ini berfungsi sebagai peringatan bahwa jika Iran menyerang orang Amerika, atau aset Amerika, kami telah menargetkan 52 situs Iran (mewakili 52 sandera Amerika yang diambil oleh Iran beberapa tahun yang lalu), beberapa merupakan (situs) budaya yang sangat tinggi dan penting bagi Iran,” lanjut tweet Trump.


“(Serangan terhadap) target-target itu, dan Iran sendiri, akan sangat cepat dan sangat keras.AS tidak menginginkan ancaman lagi!,” imbuh Trump.


loading…




Sumber Sindonews.com
https://jateng.sindonews.com/read/14854/1/rudal-iran-siaga-tinggi-setelah-amerika-habisi-jenderal-soleimani-1578290473




War with the United States at the 'Horns of End', Will Iran Helped by Russia & China?

convoy of US forces in Syria. © AFP


ARB INdonesia, INTERNATIONAL – The United States killed Iranian Revolutionary Guards Commander Major General Qassim Sulaimani in a drone strike to Baghdad International Airport, Friday (1/3). The murder order was immediately given by the US President, Donald Trump.


Iran immediately responded and promised to reciprocate the actions of the United States. The relations between the two countries are currently at the lowest point.


The potential for war between the two is so open. Iran and the US are on the brink of war. Like the US, Iran also has allies. In fact, Iran’s allies are known to be countries that are opposed to the US. Iran is known to have good relations with Russia and China.


Then will Russia and China help Iran if a war breaks out? The following is a portrait of Iran’s proximity to China and Russia.


Iran, China and Russia Joint Military Training


The Iranian Navy Army, China and Russia joint exercises in the Indian Ocean and the Gulf of Oman in December 2019. This Navy military exercise is an effort to prevent the pressure of the United States.


“The message of the exercise is lasting peace, friendship and security through cooperation and unity … and the results will show that Iran cannot be isolated,” the admiral of the Iranian fleet, Gholamreza Tahani said on state television.


As is known, the waters around Iran have become the focus of international tensions. The United States is putting pressure on Iran, such as suppressing Iranian crude oil sales and breaking Iran’s trade ties.


Iran and Russia Build Nuclear Power Plants


Iran and Russia Build Nuclear Power Plants Iran and Russia inaugurated a new reconstruction phase for the second reactor at Iran’s only nuclear power plant at Bushehr on the Gulf coast on Sunday (11/10/2019).


The reconstruction was inaugurated by the Head of the Iranian Atomic Energy Organization (AEOI) Ali Akbar Salehi and the deputy head of the Russian nuclear agency Rosatom, Alexander Lokshi.


The reactor is one of two officially being built since 2017 at the Bushehr site, which is about 750 kilometers (460 miles) south of Tehran.


The 2015 nuclear deal signed by Iran with six major powers, including Russia, limits certain types of nuclear reactors that Iran can develop, and the production of nuclear fuel. But it does not require Iran to stop using its nuclear energy for electricity generation.


“In the long-term vision until 2027-2028, when these projects are completed, we will have 3,000 megawatts of electricity produced by nuclear plants,” Salehi said at the ceremony.


The Islamic Republic is indeed trying to reduce dependence on oil and gas through the development of nuclear power facilities. Russia is building a 1,000 megawatt reactor in Bushehr which will start operating in September 2011 and is expected to carry out a third of its construction in the future, according to AEOI.


As part of the 2015 agreement, Moscow is providing the fuel Iran needs for nuclear reactors.


China and Iran relations


The relationship between China and Iran has become even stronger since China experienced a trade war with the United States. China and Iran collaborate in the economic field. Naturally, because both are targeted by the United States.


Washington became increasingly aggressive towards Tehran in 2017. President Donald Trump warned Iran on Sunday that: “If Iran wants to fight, it will be the official end of Iran. Never threaten the United States again!”


After Trump’s statement, Pentagon officials are expected to give briefing to national security officials about plans to send 10,000 US troops to the Middle East amid rising tensions with Iran. (*)


Indonesian language
https://arbindonesia.com/perang-dengan-amerika-serikat-di-ujung-tanduk-akankah-iran-dibantu-rusia-china/


Source link :
https://m.merdeka.com/dunia/perang-dengan-amerika-serikat-di-ujung-tanduk-akankah-iran-dibantu-rusia-china.html


(Translation from google)




Perang dengan Amerika Serikat di 'Ujung Tanduk', Akankah Iran Dibantu Rusia & China?

konvoi pasukan AS di Suriah. ©AFP


ARB INdonesia, INTERNASIONAL – Amerika Serikat membunuh Panglima Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Qassim Sulaimani dalam sebuah serangan pesawat nirawak (drone) ke Bandara Internasional Baghdad, Jumat (3/1). Perintah pembunuhan langsung diberikan oleh Presiden AS, Donald Trump.


Pihak Iran langsung merespons dan berjanji bakal membalas tindakan Amerika Serikat. Hubungan kedua negara pun saat ini bisa dibilang berada di titik nadir.


Potensi terjadinya perang antara keduanya begitu terbuka. Iran dan AS berada di ujung tanduk peperangan. Layaknya AS, Iran juga memiliki sekutu. Bahkan, sekutu Iran diketahui merupakan negara-negara yang menjadi lawan AS. Iran diketahui memiliki hubungan baik dengan Rusia dan China.


Lantas akankah Rusia dan China bakal membantu Iran jika perang terjadi? Berikut potret kedekatan Iran dengan China dan Rusia.


Iran, China dan Rusia Latihan Militer Bersama


Militer Angkatan Laut Iran, China dan Rusia latihan bersama di Samudera Hindia dan Teluk Oman pada Desember 2019. Latihan militer AL ini menjadi upaya pencegahan dari tekanan Amerika Serikat.


“Pesan dari latihan ini adalah perdamaian, persahabatan dan keamanan abadi melalui kerja sama dan persatuan … dan hasilnya akan menunjukkan bahwa Iran tidak dapat diisolasi,” kata laksamana armada Iran, Gholamreza Tahani di televisi pemerintah, seperti dikutip dari Reuters.


Seperti diketahui, perairan di sekitar Iran telah menjadi fokus ketegangan internasional. Amerika Serikat memberikan tekanan pada Iran, seperti penekanan penjualan minyak mentah Iran dan memutus tali perdagangan Iran.


Iran dan Rusia Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir


Iran dan Rusia meresmikan tahap rekonstruksi baru untuk reaktor kedua di satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di Bushehr di pantai Teluk, Minggu (10/11/2019). Rekonstruksi itu diresmikan oleh Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Ali Akbar Salehi dan wakil kepala badan nuklir Rusia Rosatom, Alexander Lokshi


Reaktor tersebut adalah satu dari dua yang secara resmi sedang dibangun sejak 2017 di lokasi Bushehr yang berjarak sekitar 750 kilometer (460 mil) selatan Teheran.


Kesepakatan nuklir 2015 yang ditandatangani oleh Iran dengan enam kekuatan utama, termasuk Rusia, membatasi beberapa jenis reaktor nuklir yang dapat dikembangkan Iran, dan produksi bahan bakar nuklirnya. Namun tidak mengharuskan Iran untuk menghentikan penggunaan energi nuklirnya untuk pembangkit listrik.


“Dalam visi jangka panjang hingga 2027-2028, ketika proyek-proyek ini selesai, kita akan memiliki 3.000 megawatt listrik yang dihasilkan oleh pembangkit nuklir,” kata Salehi pada upacara tersebut.


Republik Islam memang sedang berusaha untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas melalui pengembangan fasilitas tenaga nuklir.


Rusia membangun reaktor 1.000 megawatt yang ada di Bushehr yang mulai beroperasi pada September 2011 dan diperkirakan akan melakukan pembangunan sepertiga di masa depan, menurut AEOI.


Sebagai bagian dari perjanjian 2015, Moskow menyediakan bahan bakar yang dibutuhkan Iran untuk reaktor nuklir.


Hubungan China dan Iran


Hubungan China dan Iran semakin melekat, semenjak China mengalami perang dagang dengan Amerika Serikat. China dan Iran menjalin kerjasama di bidang ekonomi. Wajar saja, karena keduanya menjadi target Amerika Serikat.


Washington menjadi semakin agresif terhadap Teheran pada tahun 2017. Presiden Donald Trump memperingatkan Iran pada hari Minggu bahwa: “Jika Iran ingin berperang, itu akan menjadi akhir resmi Iran. Jangan pernah mengancam Amerika Serikat lagi!”


Usai pernyataan Trump, para pejabat Pentagon diperkirakan memberi arahan singkat kepada para petugas keamanan nasional soal rencana untuk mengirim 10.000 pasukan AS ke Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. (*)


Sumber merdeka.com
https://m.merdeka.com/dunia/perang-dengan-amerika-serikat-di-ujung-tanduk-akankah-iran-dibantu-rusia-china.html




Memanas, Pasukan Amerika Dihantam Roket di Baghdad

Dua putaran mortir menghantam Zona Hijau dan dua roket menghantam pangkalan yang dihuni personel militer Amerika Serikat (AS) di Baghdad, Irak, Sabtu (04/01/2020). Foto : Ilustrasi/Istmewa


ARB INdonesia, BAGHDAD – Dua putaran mortir menghantam Zona Hijau dan dua roket menghantam pangkalan yang dihuni personel militer Amerika Serikat (AS) di Baghdad, Irak, Sabtu (04/01/2020).


Serangan ini terjadi satu hari setelah serangan udara AS yang menewaskan Komandan Pasukan IRGC, Letnan Jenderal Qassem Soleimani di sekitar bandara Baghdad.


Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat serangan roket ini. Zona Hijau adalah kantong keamanan tinggi, di mana kedutaan besar AS berada.


Koresponden Al Jazeera, Osama Bin Javaid melaporkan, tidak ada proyektil yang mendarat di dalam kedutaan AS. “Menurut pasukan keamanan Irak, proyektil mendarat di area perayaan di dalam Zona Hijau,” katanya.


Sepasang roket Katyusha juga menghantam pangkalan udara Balad di utara Baghdad, tempat pasukan Amerika berpangkalan, kata sumber keamanan dan militer Irak. Sumber-sumber keamanan melaporkan sirene yang menggelegar dan mengatakan pesawat pengintai dikirim di atas pangkalan untuk menemukan sumber roket.
Kedutaan AS di Baghdad, serta 5.200 tentara Amerika yang ditempatkan di seluruh negeri, menghadapi serentetan serangan roket dalam beberapa bulan terakhir, yang ditudingkan Washington kepada Iran dan sekutunya di Irak.


Bulan lalu, satu serangan menewaskan seorang kontraktor AS yang bekerja di Irak utara, yang memicu serangan udara AS yang menewaskan 25 pejuang pro Iran. Ketegangan memuncak pada hari Jumat, ketika AS menyerang konvoi Jenderal Soleimani setelah ia keluar dari bandara Baghdad.


Sumber Sindonews.com
https://makassar.sindonews.com/read/39127/1/memanas-pasukan-amerika-dihantam-roket-di-baghdad-1578186101




Konflik AS-Iran Setelah Panglima Garda Revolusi Dibunuh

massa pendukung milisi irak bakar kedutaan as di baghdad. ©Thaier al-Sudani/Reuters


ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Peta konflik di Timur Tengah kini berubah.


Dalam kurang dari sepekan konflik Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah kini memasuki masa genting setelah serangan pesawat nirawak (drone) AS menewaskan Panglima Garda Revolusi Iran Qassim Sulaimani di Bandara Internasional Baghdad kemarin pagi.


Serangan AS itu masih berkaitan dengan peristiwa sebelumnya yakni massa demonstran pro-Iran yang menyerbu dan membakar Kedutaan Besar AS di Baghdad. Demonstran itu marah setelah serangan udara AS pada Minggu lalu menewaskan 25 milisi Irak dukungan Iran. AS melancarkan serangan itu sebagai balasan setelah seorang kontraktor mereka tewas akibat serangan milisi pro-Iran.


Kematian Sulaimani memicu kekhawatiran para pengamat tentang skenario buruk yaitu serangan perang terbuka antara Iran dan AS serta balasan terhadap warga Amerika di Timur Tengah atau di dalam negeri.


Serangan terhadap pasukan AS dan fasilitas mereka di Irak tampaknya akan menjadi keniscayaan. Teheran selama 15 tahun terakhir membangun jaringan di antara para kelompok milisi dan politisi di Irak. Awal pekan ini sebelum kematian Suleimani, Iran disebut-sebut dalang di balik serangan ke Kedutaan Besar AS di Baghdad lewat massa demonstran.


Dikutip dari laman New York Magazine, Jumat (3/1), kelompok Irak Sunni dan sejumlah kalangan yang anti pengaruh Iran di negara mereka tentu senang dengan kabar ini. Namun pemerintah Irak saat ini masih bergantung pada dukungan finansial dan politik Iran meski mereka mencoba mengatur keseimbangan antara pengaruh AS dan Iran di pemerintahan.


Jika salah satu pihak lebih dominan maka kekerasan tidak bisa dihindari dan itu berarti warga Amerika akan menjadi target serangan. Sejumlah kalangan memprediksi Irak akan meminta AS untuk menarik pasukannya dan jika itu terjadi maka menjadi kemunduran bukan saja bagi pemerintahan Trump yang selama ini berusaha menekan Iran secara militer, tapi juga dalam hal memerangi ISIS yang masih aktif di perbatasan Irak-Suriah.


Iran tidak melihat pilihan lain selain membalas kematian Sulaimani dan mereka punya banyak pilihan. Anggota proksi Iran bisa menyerang target Amerika dan sekutunya dari Arab Saudi hingga Israel. Hizbullah, terutama, sekutu Iran ini dianggap sebagai pasukan bersenjata non-negara paling efektif yang bersekutu dengan Iran dan bisa menyerang warga Amerika di kawasan. Sebelum matahari tenggelam kemarin Israel mengumumkan mereka mengerahkan pasukannya ke utara untuk mencegah balasan serangan Iran.


Selama beberapa dekade, Hizbullah sudah melancarkan serangan di sejumlah tempat di luar Timur Tengah, yang paling parah adalah pengeboman ke pusat komunitas Yahudi di Argentina yang menewaskan 85 orang pada 1994. Di Libanon pada 1983 Hizbullah meledakkan Kedutaan AS di beirut dan barak marinir yang menewaskan 220 marinir dan puluh warga Amerika lainnya.


Dilema AS di Timur Tengah



Serangan udara AS yang menewaskan Sulaimani juga dilaporkan membinasakan pemimpin milisi pro-Iran Kataib Hizbullah, Abu Mahdi al-Muhandis dan sejumlah pejabat senior pro-Iran di Irak. Kataib Hizbullah dianggap bertanggung jawab atas sejumlah serangan ke pasukan AS dan Irak atas perintah Iran. Dengan begitu para milisi Irak yang pro-Iran akan murka atas kematian Muhandis dan membalas kematian sang pemimpin.


“Dengan membunuh Sulaimani, AS akan menghadapi dilema. AS bisa tetap bertahan di Timur Tengah dengan pasukan yang terbatas di Irak, Suriah, dan Afghanistan dan itu akan membuat mereka rentan serangan Iran,” kata Daniel Byman, profesor di Universitas Georgetown dan pengajar di Institusi Brooking untuk Pusat Kebijakan Timur Tengah.


“Atau AS bisa saja mengurangi pasukannya karena ancaman Iran dan memperlemah pengaruhnya sehingga Iran menjadi lebih kuat di Timur Tengah.”(***)


Sumber merdeka.com
https://m.merdeka.com/dunia/konflik-as-iran-setelah-panglima-garda-revolusi-dibunuh.html