Gelapkan Sepeda Motor, Polsek Tambang Amankan Seorang Mahasiswa

ARBindonesia.com, KAMPAR – Tim Opsnal Polsek Tambang amankan seorang pemuda sebagai tersangka penggelapan sepeda motor, pelakunya inisial DK alias J (20) yang berstatus sebagai mahasiswa, dan warga Perumahan Graha Payung Sekaki Desa Kualu , Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.


DK alias J ditangkap pada Sabtu malam (11/4/2020) diwilayah Desa Kualu Kecamatan Tambang dan penangkapan tersangka tersebut atas laporan korbannya Sherli (pemilik motor) karena tersangka membawa kabur motor Honda Beat yang dipinjamnya lewat adik korban pada Kamis (9/4/2020) lalu.


Pengungkapan kasus ini berawal pada Jumat (10/4/2020)sekira pukul 07.00 Wib, saat itu adik pelapor Andriani tidak pulang kerumah dimana pada malam harinya adik pelapor itu memakai sepeda motornya.


Setelah dihubungi lewat telepon, Andriani adik pelapor mengatakan kalau sepeda motor milik kakaknya itu dipinjam oleh temannya DK alias J namun hingga saat itu tidak kunjung dipulangkan dan atas kejadian itu korban mengalami kerugian sekitar Rp 20 juta.


Kemudian pada Sabtu malam (11/4/2020) pelapor melihat pelaku berada di Jalan Desa Kualu lalu serta melaporkannya ke Polsek Tambang dan atas laporan itu Kapolsek Tambang , Iptu Jurfredi, SH perintahkan Kanit Reskrim, Ipda Albert Sitompul, SH bersama Tim Opsnal Polsek untuk menyelidiki keberadaan pelaku.


Tidak berapa lama Tim berhasil mengamankan tersangka DK alias J dan setelah diintrogasi tersangka mengaku bahwa sepeda motor yang digelapkannya sudah dijual kepada temannya.


Kapolsek Tambang, Iptu Jurfredi ,SH saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut dan disampaikan Jurfredi bahwa tersangka DK alias J telah diamankan di Polsek Tambang untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.


Ditambahkan Jurfredi bahwa pihaknya masih melakukan pengembangan untuk mencari sepeda motor yang digelapkan tersangka ini, jelasnya. (Rls/Humas Polres Kampar/Yus)




Tindak Kejahatan Ditengah Pandemi Covid-19, Kasat Reskrim Himbau Masyarakat Waspada

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Kapolres Inhil AKBP Indra Duaman, S.IK melalui Kepala Satuan (Kasat) Resor Kriminal (Reskrim), AKP Indra Lamhot Sihombing, S.IK menghimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir untuk selalu waspada dalam situasi apapun di tengah pandemi Covid-19.


Sebab, tidak menutup kemungkinan para pelaku kejahatan untuk melakukan aksinya ditengah merebaknya virus corona.


Dengan keadaan lingkungan yang sepi, justru menjadi sasaran pelaku kejahatan.


Sebagai contoh, pada hari ini, Sabtu (11/04/2020) sekitar pukul 04:00 WIB, telah terjadi tindak pencurian dengan kekerasan terhadap seorang warga Parit 1, Jalan Gerilya, Kecamatan Tembilahan Hulu.







Ia mengalami luka-luka setelah sempat bergulat dengan 3 orang yang melakukan tindakan kekerasan terhadap korban dengan salah satu diantara pelaku melakukan aksinya dengan senjata tajam berjenis pisau yang mengakibatkan korban mendapat 17 jahitan di bagian kepala dan di lengannya.


Menanggapi hal itu, Kasat Reskrim Polres Inhil AKP Indra Lamhot Sihombing, S.IK bersama Kanit Reskrim Polsek Tembilahan Hulu dan rekan-rekan melakukan olah TKP kejadian tersebut.


“Kita sudah mendapat petunjuk dan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap para tersangka yang beraksi melakukan Pencurian dengan Kekerasan (Curas) ini segera terungkap,” ujar Kasat Reskrim, Sabtu (11/04/2020) sekitar pukul 16:00 WIB.


Maka dari itu, Kasat Reskrim juga menghimbau kepada masyarakat di tengah wabah Covid-19 agar tetap di rumah dan waspada.


“Kita tidak boleh lengah, terus waspada terhadap lingkungan sekitar, aktifkan kembali kegiatan ronda sebagai upaya antisipasi dan mengurangi terjadinya tindak kriminalitas di lingkungan masyarakat,” tandasnya. (MLC/MSG)


Editor Arb




Akibat Dendam dan Cemburu, IRT di Lubuklinggau Siram Air Keras ke Wajah Mantan Suami

Ilustrasi aktual


ARBindonesia.com, SUMSEL – Seorang ibu rumah tangga berinisial LM (34) menyiram wajah dan tubuh mantan suaminya menggunakan air keras. Aksi itu dilakukan pelaku diduga karena cemburu dan kesal terhadap istri korban.


Peristiwa itu terjadi saat pelaku mendatangi rumah korban, Mashuri (43) di Kelurahan Watervang, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Rabu (8/4). Pelaku bermaksud menemui istri korban yang diakuinya memiliki masalah dengannya.


Setiba di TKP, orang yang dituju pelaku tak ada di rumah karena sedang pergi ke warung. Pelaku lantas pergi menemui istri mantan suaminya itu. Namun dihalangi korban dan dimintanya pulang untuk menghindari keributan.







Pelaku menolak dan mengancam korban melukainya jika tetap menghalangi. Tak takut dengan ancaman itu, korban ngotot menyuruh pelaku pulang dengan agak memaksa.


Tiba-tiba, pelaku menyiramkan air keras yang sudah disimpannya dalam mangkok ke arah korban. Cairan itu mengenai wajah, lengan dan tubuh korban yang membuatnya berteriak minta tolong.


Kasatreskrim Polres Lubuklinggau, AKP Alex Adriyan, mengungkapkan tersangka ditangkap sehari usai dilaporkan.


Sementara korban tengah menjalani perawatan di rumah sakit.


“Motif penganiayaan itu diduga karena tersangka menaruh dendam dan cemburu terhadap istri korban. Dia ingin melukai istri korban, tetapi korban yang kena karena menghalangi aksinya,” ungkap Alex, Jumat (10/4).


Atas perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 351 ayat (2) tentang penganiayaan berat dengan ancaman di atas tujuh tahun penjara. Barang bukti telah diamankan dan tersangka telah ditahan sambil menunggu pelimpahan berkas perkara ke kejaksaan.


Sumber merdeka.com




Ditengah Pandemi Covid-19, Polda Riau Gagalkan Perdagangan Orang ke Malaysia

ARBindonesia.com, PEKANBARU – Perdagangan orang dengan cara menyelundupkan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) secara ilegal ke Malaysia tetap berlangsung di tengah maraknya penyebaran Virus Corona Disease (Covid-19). Tak hanya TKI, para pelaku juga selundupkan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal India ke negeri jiran tersebut. Padahal, Malaysia sudah menerapkan kebijakan lockdown guna mencegah penyebaran Covid-19.


Penangkapan pelaku perdagangan manusia tersebut oleh Polda Riau saat 15 TKI dan 2 TKA asal India, sudah duduk di atas speedboat bersiap-siap hendak berangkat ke Malaysia di Desa Sungai Cingam, Rupat, Bengkalis, akhir Maret 2020 silam.


“Di tengah kondisi sekarang ini, ancaman penyebaran Covid-19, komplotan jaringan internasional masih mengirimkan orang secara ilegal dari Indonesia menuju Malaysia, dan sebaliknya,” kata Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi, SH, SIK, MSi, melalui Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Sunarto, Selasa (7/4/2020).


Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ini, tutur Kombes Sunarto, merupakan jaringan internasional melibatkan warga dari tiga negara, India, Malaysia dan Indonesia. Jaringan ini menjadikan Pulau Rupat, Bengkalis, sebagai tempat penyeberangan manusia ke Malaysia Karena Jarak lebih dekat, ditempuh 30 menit saja menggunakan speedboat bermesin tenaga 160 PK.







Komplotan ini, jelasnya, membujuk calon korbannya dengan meyakinkan bisa memberangkatkan ke Malaysia secara resmi (legal) dan dipekerjakan dengan gaji besar. Namun pada kenyataannya, mereka diberangkatkan lewat jalur ilegal melalui perairan Selat Morong, Pulau Rupat, Bengkalis. Perairan ini sangat membahayakan bagi jiwa calon tenaga kerja.


Dalam melakukan aksinya, kata SUnarto, jaringan ini mematok dua “hidung mancung” asal India Rp 8-10 juta per orang dan TKI Rp 2,5 hingga Rp 3 juta per orang.


“Pengungkapan ini merupakan hasil pengembangan penyelidikan dilakukan Polda Riau pasca-tenggelamnya kapal speedboat membawa TKI ilegal dari Indonesia ke Malaysia, akhir Januari 2020 silam mengakibatkan 10 orang tewas, di Tanjung Medang, perairan Pulau Rupat, Bengkalis,” jelas Sunarto.


Sementara itu, Direktur Reserse dan Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Riau, Kombes Pol Zain Dwi Nugroho, mengatakan, untuk mengungkap jaringan internasional perlu waktu cukup lama serta kesabaran dengan melakukan penyamaran di tengah Laut.


Dit Reskrimum Polda Riau berhasil menangkap 3 (tiga) pelaku di TKP bertugas sebagai tekong dan awak kapal atas nama AM alias Ahmad, AR alias Abdul dan KH alias Irul. Tidak lama kemudian Polisi menangkap 2 pelaku lainnya sebagai agen perekrut atas nama HL alias Lina dan SP alias Pian otak utama (koordinator) perdagangan orang via Pulau Rupat.


“Pelaku yang menyeberangkan tenaga kerja ilegal tersebut diduga penduduk asli Pulau Rupat, bertempat tinggal di Pangkalan Buah, Desa Sungai Cingam, Kecamatan Rupat. Pelaku menyelundupkan korban gunakan speedboat kecepatan tinggi melalui Selat Morong menuju Malaysia,” kata Kombes Zain Dwi Nugroho.


Mantan Kapolresta Sidoarjo, Jawa Timur ini menjelaskan, pelaku utama perdagangan manusia ini adalah SP alias Pian. Ia bertugas sebagai bos dan koordinator menyediakan penampungan sementara bagi calon korban. Tak hanya itu, pelaku juga menyiapkan transportasi angkutan menjemput calon korban dari Dumai.


“SP juga menyediakan speed boat membawa korban ke Malaysia, serta penanggung jawab memberangkatkan korban dari Pangkalan Buah, Desa Sungai Cingam ke Malaysia dan sebaliknya,” jelas Zain.


Seorang perempuan, HL, ujar Direskrimum, bertugas merekrut dan membujuk rayu calon korban. Wanita ini juga menarik uang dari calon korban, kemudian membawanya ke penampungan milik SP. Kini, Polda Riau tengah mengejar 21 pelaku lainnya sebagian di antaranya WNA.


Zain Dwi Nugroho menjelaskan, sekali memberangkatkan manusia dari Rupat ke Malaysia, pelaku menargetkan harus ada minimal 15 orang. Jika belum sampai target tersebut, para calon korban ditaruh di penampungan milik SP.


“Pelaku dikenai ancaman hukuman penjara paling singkat 3 tahun, paling lama 15 tahun. Mereka melanggar Pasal 2 atau Pasal 4 Jo Pasal 10 UU RI No 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan pasal 5 Jo pasal 68 Jo pasal 83 UU RO Nomor 18 tahun 2017 tentang Tindak Pidana Pelindungan Pekerja Migran Indonesia,” jelas Zain.


Direskrimum Polda Riau berpesan kepada masyarakat agar tidak mudah percaya dengan segala bentuk bujuk rayu terkait pekerjaan ke luar negeri tanpa adanya kelengkapan dokumen asli dan jalur resmi yang ditetapkan Pemerintah. (Rls/PoldaRiau).


Editor Arb


loading…






Tiga Kepala Desa Kena OTT, Uang 100 Juta Diamankan

Foto : Tiga Kepala Desa dan Barang Bukti


ARBindonesia.com, KAMPAR – Tipikor Polres Kampar lakukan Operasi Tangkap Tangan terhadap (OTT) terhadap 3 Oknum Kepala Desa dalam kasus Tindak Pidana Korupsi dalam Jabatan  diduga dengan cara melakukan pemerasan.


Ke tiga oknum Kepala Desa yang terkena OTT ini adalah PI Kades Sari Galuh, LS Kades Batang Batindih dan MU Kades Non Aktif Desa Tambusai. Bersama tersangka juga diamankan barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 100 juta, 3 buah stempel, selembar kwitansi tanda terima uang dan 5 unit HP.


Peristiwa ini berawal pada Selasa siang (31/3/2020), saat itu PI selaku Kades Sari Galuh bersama LS Kades Batang Batindih dan MU Kades Non Aktif Desa Tambusai, mendatangi lokasi proyek pembangunan pabrik atau kandang ayam milik PT. Wilkon yang berlokasi di Wilayah Desa Sari Galuh Kecamatan Tapung.


Sesampai di lokasi mereka langsung menutup akses pintu keluar masuk dengan cara melintangkan 2 mobil yang mereka bawa di depan pintu masuk proyek, adapun tujuannya supaya kegiatan proyek berhenti sehingga Pimpinan Proyek menemui mereka, guna membicarakan permohonan para Kepala Desa ini yang meminta agar mereka ditunjuk sebagai pemasok material untuk pembangunan proyek tersebut.


Diketahui juga bahwa para Kepala Desa ini meminta uang sebesar Rp 100 juta kepada pihak perusahaan sebagai uang koordinasi dengan tiga desa, mereka mengancam pihak perusahaan apabila tidak diberikan maka kegiatan pembangunan pabrik akan mereka hentikan.


Selanjutnya pada Kamis pagi (2/4/2020), tersangka PI kembali berkomunikasi dengan pihak perusahaan dan kembali mengancam jika sampai sore ini uangnya tidak diserahkan, maka proyek pembangunan pabrik kandang ayam tersebut akan mereka tutup dan jalan akses tidak boleh lagi dilewati pihak PT. Wilkon, atas ancaman ini akhirnya pihak perusahaan terpaksa menuruti keinginan para Kades ini.


Selanjutnya pada Kamis pagi (2/4/2020), Aparat Kepolisian mendapat informasi dari masyarakat bahwa akan ada penyerahan uang sebesar Rp.100 juta kepada oknum Kepala Desa, yang diduga melakukan tindak pidana korupsi dan pemerasan.


Atas informasi itu Kapolres Kampar AKBP Mohammad Kholid SIK perintahkan Kasat Reskrim Polres Kampar AKP Fajri SH, SIK bersama Kanit IV Iptu Marupa Sibarani dan Panit Reskrim Polsek Tapung Iptu Aulia Rahman serta Unit Tipikor Polres Kampar mendatangi Lokasi untuk melakukan penyelidikan.


Di TKP Tim menemukan 8 orang yang sedang berkumpul dan mendapati uang tunai sebesar Rp 100 juta diatas meja sebagai barang bukti atas kasus ini, selain itu juga diamankan 3 buah stempel, selembar kwitansi tanda terima uang dan 5 unit HP. Ke-8 orang ini serta barang bukti yang ditemukan petugas kemudian dibawa ke Polres Kampar untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.


Kapolres Kampar AKBP Mohammad Kholid SIK melalui Kasat Reskrim AKP Fajri SH, SIK saat dikonfirmasi membenarkan kejadian ini, disampaikan Fajri bahwa setelah dilakukan pemeriksaan dan klarifikasi di Polres Kampar, lalu dilakukan Gelar Perkara di Ditreskrimsus Polda Riau.


“Selanjutnya dari 8 orang yang diamankan tersebut berdasarkan bukti permulaan yang cukup telah ditetapkan 3 orang tersangka untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut”, jelasnya. (Humas Polres Kampar)


Reporter Yusrizal
Editor Arb




Kejar-kejaran dengan Petugas, 6 Penyeludup Ratusan Ribu Rokok Ilegal dari Inhu Ditangkap di Jambi

ARB INdonesia, PEKANBARU – Sebanyak enam orang tersangka penyeludupan ratusan ribu batang rokok ilegal di dua tempat berbeda di Kabupaten Tebo, Jambi, berhasil ditangkap Bea Cukai setempat, Ahad (29/3/2020) malam lalu.

Pertama, Tim Bea Cukai mengamankan tersangka Z dan K bersama mobil minibus Grand Max yang digunakan  tersangka di Jalan Lintas Muara Tebo.

Kemudian berdasarkan pendalaman singkat dari dua orang tersangka tersebut, diketahui masih ada mobil lain yang juga membawa rokok ilegal.

Alhasil, setelah dilakukan pengintaian, 4 orang tersangka berikutnya berhasil dicegat dan ditangkap di Simpang Nian, Tebo, bersama kendaraan yang dikendarainya, yakni Xenia warna hitam.

Kasie Pengawasan dan Penindakan Bea Cukai Jambi, Heri Sustanto, seperti dilansir Haluanjambi.co (jaringan Haluan Media Group) mengatakan dalam operasi tersebut, terjadi aksi saling kejar-kejaran antara kawanan pelaku dengan petugas tak dapat dihindari. Sebab, pelaku sebelumnya diduga sudah mengetahui telah dibuntuti oleh petugas.

“Aksi kejar-kejaran memang terjadi. Beruntunglah, sarana pengangkut tersebut berhasil diberhentikan dan berhasil mengamakan 4 orang terduga tersangka,” ungkapnya, Rabu (1/4/2020).

Heri Sustanto mengatakan, dari tangan pelaku terdapat sebanyak 500.000 batang rokok ilegal tanpa dilekati pita cukai atau senilai Rp235 juta.

Dia menerangkan, terungkapnya kasus tersebut berdasarkan informasi dari masyarakat dan hasil analisa tim intelijen.

Informasi tersebut menyebutkan, bahwa ada rokok ilegal yang akan dikirim menuju Kabupaten Muaro Tebo via Simpang Niam, berasal dari daerah Indragiri Hulu (Inhu), Riau.

Untuk pemeriksaan lebih lanjut, saat ini seluruh orang terduga, 2 sarana pengangkut, dan barang bukti diamankan di Kantor Bea Cukai Jambi.

“Terhadap 6 orang tersebut, diduga telah melanggar Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang cukai,” tegas Heri.

Sumber Haluanjambi.co