DPR RI : BKSDA Riau Harus Serius Tangani Serangan Harimau, Ini Menyangkut Keselamatan Masyarakat

Abdul Wahid anggota DPR RI





ARB INdonesia, RIAU – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau diminta untuk lebih serius dan segera menindaklanjuti permohonan masyarakat di Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) soal masih mencekamnya ancaman serangan Harimau Sumatera di daerah setempat. Karena BBKSDA dibentuk untuk menangani persoalan ancaman konflik satwa liar yang mengancam keselamatan warga.

“Karena ini berkaitan dengan keselamatan masyarakat dan kenyamanan. Jika BBKSDA Riau tidak punya personil atau terbatas peralatan maka dia bisa lapor ke pusat untuk menanganinya” ungkap Abdul Wahid anggota Komisi VII DPR RI ini kepada Gagasan Sabtu malam (7/12/2019).

Untuk itu politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menyarankan agar pihak BBKSDA Riau harus ada tindakan yang cepat dan tepat soal ancaman serangan harimau sumatera, yang telah menewaskan 5 orang dalam kurun dua tahun di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir ini. 

“Silahkan rapat. Tapi yang paling penting bagi masyarakat tindakan yang cepat. Turunkan tim untuk untuk Investigasi di lapangan” tegasnya.





Jika perlu kata legislator Daerah Pemilihan Riau II meliputi Kabupaten Kampar, Pelalawan, Kuansing, Inhu dan Inhil ini, pihak BBKSDA rapatnya di lapangan agar jelas kinerjanya dan merasakan keresahan yang dialami masyarakat terkait ancaman hewan buas itu.

“Jika perlu rapatnya langsung Di lapangan, lakukan tindakan investigasi dan evakuasi” tegasnya. “Karena mereka dibentuk untuk menangani itu semua” tutup dia.

Sebelumnya diberitakan, Tolib, tokoh masyarakat Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, geram dengan pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau karena tidak ada tindakan sama sekali soal untuk menangani Harimau Sumatera di daerah mereka. Pasalnya selama tahun 2019 ini, sudah tiga orang tewas akibat serangan harimau sumatera di Kabupaten Indragiri Hilir.

“Tidak ada respon sama sekali dari pihak balai (BKSDA.Red), kalau kondisi saat ini, bukan menakutkan atau mencekam lagi pak, sudah lima orang jadi korban, dan itu terjadi di Kampung Danau semua, kalo pihak dari Balai (BKSDA) mereka datang kesini cuma petantang petenteng foto-foto pasang spnaduk, tidak ada tindakan atau mencoba evakuasi Harimau itu” kata Tolib kepada Gagasan Kamis malam (5/12/2019).





Padahal katanya warga di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir ini sampai membuat surat permohonan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat agar Harimau Sumatera itu segera dilakukan tindakan baik melakukan evakuasi maupun tindakan lain hingga masyarakat dapat beraktifitas untuk mencari nafkah.

BBKSDA kata Tolib, harusnya tahu bahwa habitat kawasan harimau sumatera di dua Kecamatan yakni Gaung dan Pelangiran sudah tak layak lagi. Pasalnya kata Tolib kawasan itu sudah dikepung oleh perusahaan perkebunan sawit maupun Hutan Tanaman Industri (HTI). Sehingga sudah sepantasnya dilakukan evakuasi terhadap harimau sumatera tersebut.

“Harimau itu sudah dikepung oleh (konsesi) perusahaan semua, mulai PT SPA, Sinar Mas Group, PT MDI, nah harusnya kan dipindahkan harimau tuch, daripada mengancam keselamatan warga ke tempat yang aman bagi harimau dan masyarakat juga nyaman menjalani aktifitas kesehariannya” ungkap Tolib.





Dikatakan Tolib, BBKSDA Riau lebih peduli tentang keselamatan harimau sumatera itu, tanpa tidak sebaliknya memikirkan keselamatan masyarakat yang terus dihantui ancaman serangan hewan buas tersebut.

“Kita boleh lah pak melindungi hewan tersebut, apa bila mereka tidak menggangu, ini kan makan korban warga kami, kan harus ada dari pihak BBSKDA” tukasnya.

Dikatakan Tolib, warga di kampungnya sampai membuat surat bermohon agar hewan buas itu di evakuasi segera, tepatnya tanggal 16 September 2019, dengan nomor surat 010/PEM-DTS/RT/IX/2019 yang ditujukan kepada Bupati Kabupaten Inhil judul surat itu “Permohonan Tindak Lanjut Evakuasi Satwa Liar Harimau ditanda tangani oleh Kadesnya Abu Nawas. 

Surat itu juga ditembuskan kepada Siti Nurbaya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Gubernur Riau, Polda Riau, BBKSDA Riau, DPRD Provinsi Riau dan jajaran forkompinda lainnya.

Sementara itu, Kepala BBKSDA Riau Suharyono menanggapi surat yang diajukan tersebut mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan rapat dan dia menyarankan agar konfirmasi kepada pihak Pemkab Inhil.

“Terakhir kami sudah rapat bersama dengan pemangku kepentingan di pusat. Dipimpin langsung oleh Dir KKH terkait masalah itu. Untuk surat tersebut mungkin lebih tepat ditanya ke Pemda, karena surat tersebut adressnya ke kabupaten” kata dia kepada Gagasan Rabu 4 Desember 2019.





Saat ditanyakan kembali apakah tindak lanjut dari surat permohonan yang diajukan masyarakat itu, dia tak kembali mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan rapat. “Kami ambil langkah-langkah salah satunya tadi diatas, merapatkan dengan pemangku kepentingan” tulis dia singkat.

Informasi yang berhasil dirangkum, akibat serangan harimau sumatera ini, tiga orang meninggal di Kabupaten Indragiri Hilir selama 2019. Pada Kamis (24/10).

Korban atas nama Wahyu Kurniadi asal Provinsi Aceh, tewas mengenaskan karena diterkam di lahan konsesi PT Ria Indo Agropalma di Kecamatan Pelangiran.

Kemudian pekerja di konsesi PT Ria bernama M. Amri pada 23 Mei 2019. Tubuhnya dicabik-cabik harimau sumatera di Kanal Sekunder 41 PT Ria di Desa Tanjung Simpang.

Selanjutnya Agustus 2019, Darwaman alias Nang (36) tewas akibat diterkam harimau sumatera liar di lahan konsesi PT Bhara Induk.Nang adalah warga Desa Tanjung Simpang.





Sumber gagasanriau.com
https://gagasanriau.com/news/detail/42031/dpr-ri–bksda-riau-harus-serius-tangani-serangan-harimau-ini-menyangkut-keselamatan-masyarakat




Indra Sjafri bersedia latih timnas senior Indonesia

Pelatih Timnas U-22 Indonesia Indra Sjafri memberi arahan timnya saat melawan Timnas Thailand dalam pertandingan Grup B SEA Games 2019 di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina, Selasa (26/11/2019). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)





ARB INdonesia, MANILA – Usai membawa skuatnya ke final SEA Games 2019, pelatih tim nasional U-22 Indonesia Indra Sjafri mengatakan bahwa dirinya bersedia jika PSSI menunjuknya menjadi pelatih timnas senior Indonesia.

“Saya siap kalau ditunjuk menjadi pelatih tim nasional,” ujar Indra di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina, Sabtu (7/12).

Juru taktik asal Sumatera Barat itu menegaskan bahwa dirinya memilik pengalaman melatih yang mumpuni, baik di level klub maupun tim nasional kelompok umur.





Indra Sjari dikenal memiliki jejak panjang di dunia kepelatihan tim nasional kelompok umur. Dia pernah membawa timnas U-17 Indonesia juara di turnamen Asosiasi Sepak Bola Hong Kong (HKFA) U-17 pada tahun 2012.

Setahun berikutnya, Indra kembali membawa Indonesia menjadi yang terbaik di turnamen HKFA U-19.

Pelatih berusia 56 tahun itu pernah membawa Indonesia juara Piala AFF U-19 tahun 2013 dan Piala AFF U-22 tahun 2019. Kedua gelar itu menjadi yang pertama bagi Indonesia sepanjang sejarah.

Di tingkat Asia, timnas U-19 diantarkannya ke perempat final Piala Asia U-19 tahun 2018. Indra juga pernah tercatat sebagai pelatih klub Bali United.





Terkini, Indra Sjafri sukses membawa anak-anak asuhnya melaju ke final SEA Games 2019, di mana Indonesia akan melawan Vietnam pada Selasa (10/12) di Stadion Rizal Memorial, Manila.

Pencapaian final itu menjadi yang pertama untuk timnas sejak SEA Games 2013 dan lebih baik dari SEA Games 2017, saat Indonesia ditangani pelatih asal Spanyol Luis Milla, di mana Garuda Muda cuma sampai semifinal yang akhirnya merebut medali perunggu.

Indonesia belum pernah mencicipi medali emas sepak bola putra SEA Games sejak menggapainya pada tahun 1991.





PSSI sendiri masih mencari sosok yang tepat untuk menangani tim nasional Indonesia sepeninggal pelatih asal Skotlandia Simon McMenemy.

PSSI masih menempatkan dua nama sebagai calon pelatih timnas Indonesia yaitu Shin Tae-Yong dan Luis Milla. Mereka pun telah bersua PSSI dalam beberapa minggu yang lalu di Filipina serta Manila untuk pemaparan program kepelatihannya jika terpilih menjadi juru taktik tim berjuluk Garuda.

Ketua Umum PSSI Komjen Pol. Mochamad Iriawan pun menyebut bahwa pihaknya sudah menghubungi pelatih dan legenda sepak bola asal Belanda Ruud Gullit untuk dicalonkan menjadi pelatih timnas Indonesia.(*)





Sumber antaranews.com
https://m.antaranews.com/berita/1198824/indra-sjafri-bersedia-latih-timnas-senior-indonesia




Razia di Hutan Riau, Petugas BBKSDA Temukan 170 Jerat Satwa

Ilustrasi jerat satwa (Foto: Matius Alfons/detikcom)





ARB INdonesia, RIAU – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menggelar operasi bersih jerat di kawasan konservasi. Tim menemukan 170 jerat atau perangkap untuk membunuh satwa di dalam hutan.

“Terhitung sejak 25 November hingga 7 Desember 2019 ada 170 jerat yang disita dari kawaaan hutan di Riau. Operasi jerat ini cukup efektif dan diketahui model jerat yang semakin variatif,” kata Kepala BBKSDA Riau, Suharyono, Minggu (8/12/2019).

Haryono menjelaskan, kematian satwa liar dalam setahun terakhir ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Penyebab utamanya, adalah adanya konflik dengan manusia, serta perburuan satwa liar.

“Salah satu model perburuan satwa liar di Riau yaitu pemasangan jerat dalam kawasan hutan sebagai habitat dari satwa liar. Dengan dalih memasang jerat babi hutan,” kata Haryono.





Akan tetapi, lanjut Haryono, jerat tersebut kebanyakan yang menjadi korban jerat justru satwa liar yang statusnya dilindungi. Faktanya korbannya adalah justru gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus, harimau sumatera (Pantera tigris sumatrae), beruang (Helarctos malayanus). Ada lagi tapir (Tapirus indicus).

“Ini belum satwa lainnya. Tercatat 2018-2019 ada 4 ekor gajah sumatera yang terjerat. Harimau Sumatera ada 3, beruang 2 ekor, tapir 2 ekor. Ini terjadi dalam kantong kawasan konservasi Giam Siak Kecil, Kerumutan, dan kawasan konservasi Zamrud,” kata Haryono.





Dengan banyaknya satwa menjadi korban perburuan liar dengan jerat, kata Haryono, sehingga pihaknya menurunkan tim sapu jerat di Riau. Tim ini dibagi untuk menelusuri jerat di sejumlah kawasan hutan di Riau.

Kawasan hutan yang dibersihkan ada 8 lokasi. Konservasi Kerumutan Utara Kecamatan Teluk Meranti di Kabupaten Pelalawan dengan dua tim menemukan 25 jerat. Kerumutan Selatan ada Kecamatan Kuala Cinaku Kabupaten Inhu, ada 15 jerat.

Kawasan hutan Giam Siak Selatan Kabupaten Siak ada 38 jerat, Giam Siak Utara Kabupaten Bengkalis 30 buah jerat. Lanskap Bukit Batu Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis ada 34 jerat. Lanskap Zamruh Kecamatan Dayun Siak Kabupaten Siak ada 30 jerat.

“Ada jerat yang dimukan seekor moyet ekor panjang ditemukan mati sudah tergantung dijerat yang dipasang warga. Dengan masih banyaknya jerat, menunjukan ancaman mati satwa liar di Riau masih cukup tinggi. Jenis jerat yang disita ada jenis benang nilon dan kawat,” tutup Haryono.





Sumber detik.com
https://m.detik.com/news/berita/d-4814251/razia-di-hutan-riau-petugas-bbksda-temukan-170-jerat-satwa/2#detailfoto




Mekanik Mobil di Sulsel Diciduk karena Cabuli Anak Kandung

Foto: Pelaku pencabulan ditangkap di Parepare (dok ist)





ARB INdonesia, PAREPARE – Seorang pria berinisial RH (39) ditangkap Kepolisian Polres Parepare, Sulawesi Selatan. Pria tersebut diciduk karena diduga mencabuli anak kandungnya sendiri.

Pria tersebut diamankan di tempat kerjanya di sebuah Bengkel mobil, tempatnya bekerja di Parepare atas laporan dugaan pencabulan terhadap anak kandungnya, Sabtu (7/12) malam. Dari informasi yang dihimpun, pelaku dilaporkan oleh tetangganya.

“Pelaku sudah diamankan, masih kita dalami dan lakukan penyelidikan terkait kasus ini,” terang Kapolres Parepare AKBP Budi Susanto, saat dihubungi, Minggu (8/12/2019).

Meski begitu, Budi belum mau merunut kronologis kasus dugaan pencabulan tersebut. Diduga peristiwa pencabulan ini bukan sekali saja dilakukan pelaku.

“Nanti ya, sementara kita dalami,”tutupnya.





Sumber detik.com
https://m.detik.com/news/berita/d-4814241/mekanik-mobil-di-sulsel-diciduk-karena-cabuli-anak-kandung?tag_from=wpm_nhl_4




SEA Games: Pelatih Vietnam Ingin Kalahkan Indonesia Tiga Kali

Park Hang-Seo yakin kalahkan Indonesia untuk kali ketiga. (CNN Indonesia/Surya Sumirat)





ARB INdonesia, SEA GAMES – Pelatih Vietnam Park Hang Seo percaya diri untuk meraih kemenangan untuk kali ketiga lawan Timnas Indonesia termasuk di final SEA Games 2019.

Vietnam arahan Park Hang Seo tercatat sudah dua kali mengalahkan Timnas Indonesia U-23. Pada Maret 2019, Garuda Muda gagal lolos ke putaran Piala Asia 2020 usai menderita kekalahan 0-1 dari Vietnam.

Kekalahan kedua Indonesia terjadi di fase Grup B SEA Games 2019. Sempat unggul lebih dulu, Vietnam berhasil bangkit dan memetik kemenangan 2-1 di akhir laga.





Kini, kedua tim kembali bersua di final SEA Games 2019 yang akan digelar di Stadion Rizal Memorial, Slasa (10/12). Park Hang Seo pun optimistis bisa mengantongi kemenangan ketiga lawan Indonesia.

“Vietnam memenangkan pertandingan lawan Indonesia di Kualifiksi Piala Asia U-23 dan babak penyisihan grup SEA Games. Mereka memiliki kekuatan yang merata antara tim utama dan cadangan,” kata Park Hang Seo dikutip Bongdaplus.

“Namun, seperti yang saya katakan sebelumnya, kami berhasil mengalahkan mereka dua kali. Maka dari itu, Vietnam akan kembali menang lawan Indonesia di final SEA Games,” sambung juru taktik asal Korea Selatan tersebut.

Vietnam kalahkan Indonesia 2-1 di babak grup. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Vietnam berhasil melaju ke final usai mengalahkan Kamboja dengan skor telak 4-0. Sementara Indonesia menang 4-2 atas Myanmar melalui perpanjangan waktu. (*)





Sumber CNNIndonesia.com
https://m.cnnindonesia.com/olahraga/20191208015230-142-455090/sea-games-pelatih-vietnam-ingin-kalahkan-indonesia-tiga-kali




Pemburu Harimau di Riau Dibekuk Polisi, Empat Janin Disita

Ilustrasi perburuan harimau. (Antara Foto/Riki Rahmansyah)





ARB INdonesia, RIAU – Balai Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) wilayah Sumatera bersama dengan kepolisian menangkap lima pemburu harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Riau, Sabtu (7/12).

Kepala Balai Penegakan Hukum Wilayah Sumatera Eduward Hutapea di Pekanbaru mengatakan dari penangkapan yang dilakukan pada Sabtu pagi tersebut, petugas gabungan menyita empat janin harimau serta organ kulit harimau dewasa.

“Ada empat janin harimau yang disimpan dalam toples serta satu lembar kulit harimau dewasa,” kata Eduward seperti dilansir Antara.





Eduward menjelaskan penangkapan tersebut merupakan hasil penyelidikan mendalam terkait informasi perburuan harimau sumatera di wilayah Kabupaten Pelalawan, Riau. Informasi yang diperoleh dari masyarakat itu kemudian ditindaklanjuti KLHK yang bersinergi dengan Polri melalui pengumpulan informasi dan pemetaan.

Hasilnya, pada Sabtu pukul 06.00 WIB, petugas bergerak ke Desa Teluk Binjai, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Di lokasi tersebut, petugas menangkap tiga tersangka MY, SS dan E (istri MY).

“Empat janin bayi itu ditemukan dari tiga pelaku tersebut,” ujarnya.





Dari penangkapan tiga pelaku itu, petugas kembali melakukan pengembangan. Hasilnya, dua pelaku lainnya berhasil dibekuk. Dua pelaku terakhir adalah SS dan TS. Keduanya ditangkap di Jalan Lintas Timur, Pelalawan.

“Kemudian dari dua pelaku itu disita satu lembar kulit harimau dewasa,” ujarnya.

Eduward menerangkan petugas masih belum memberikan keterangan secara rinci bagaimana aksi perburuan itu dilakukan para pelaku dan modus operandi mereka. Para pelaku dan barang bukti sendiri saat ini masih berada di Pelalawan serta tengah menuju ke Kantor Balai Gakkum KSDA Riau.

Eduward mengatakan pihaknya akan memberikan keterangan secara rinci terkait pengungkapan tersebut.

Para pelaku terancam dengan Pasal 40 Ayat 2 Jo. Pasal 21 Ayat 2 Huruf d Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp100 juta.





Sumber CNNIndonesia.com
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20191208015343-12-455091/pemburu-harimau-di-riau-dibekuk-polisi-empat-janin-disita