Merubah limbah Sabut Kelapa Menjadi Rupiah di Negeri Hamparan Kelapa Dunia

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Kabupaten Indragiri Hilir memiliki luas 240.733.73 Hektar perkebunan kelapa. Dari luas tersebut, perkebunan kelapa di Inhil mampu memproduksi buah kelapa sekitar 317.116.88 ton pertahun atau sekitar 26.426.33 ton perbulannya, seperti dikutip dari Data BPS Kab.Inhil tahun 2019.


Sangat disayangkan, dari banyaknya buah kelapa di Kabupaten Inhil, ketika dipanen hanya menyisakan sabut yang hanya menjadi tumpukan limbah.


Sementara, jika dimanfaatkan sabut kelapa tersebut dapat diolah menjadi beragam bahan produk jadi dan setengah jadi yang memiliki nilai jual tinggi dan bernilai Ekspor.


Sebagai contoh, Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur yang hanya produksi kelapanya mencapai 31.130 ton kopra kering dengan luas panen 22.236 hektar, data tahun 2018. Dikutip dari merdeka.com







Melalui PT Sumber Makmur Mulya mereka mampu memproduksi dan ekspor serabut serta serbuk kelapa ke Cina. Hal itu sudah dilakukan sejak tahun 2016 dengan total 20 kontainer per bulannya.


Ditahun 2019 pihaknya sudah bisa memproduksi hingga 40 kontainer per bulan. Masing masing kontainer memiliki berat rata-rata 16,5 ton.


“Bahannya 70 persen ambilnya dari Banyuwangi, dari pengepul kelapa, kita beli sabutnya. Kalau dulu mereka kesulitan jualnya kemana, ada yang bisa menerima untuk pembuatan kerajinan seperti keset, tapi jumlahnya terbatas, sekarang kita serap,” kata Abdul Haris 
saat seremoni pelepasan ekspor cocofiber di Banyuwangi, Kamis (5/9/2019). Dikutip dari merdeka.com


Dengan demikian, mampukah Kabupaten Indragiri Hilir yang memiliki julukan ‘Negeri Hamparan Kelapa Dunia’ merubah limbah sabut kelapa menjadi rupiah ?


Mengawali hal tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Inhil melalui Kodim 0314/Inhil saat ini telah memproduksi olahan limbah sabut kelapa dalam skala kecil atau home industri.


Tidak menutup kemungkinan, pengolahan sabut kelapa yang di gebrak oleh Kodim 0314/Inhil bisa saja terjadi secara masif apabila pemerintah daerah mendukung dengan memperdayakan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).



Sperti yang diungkapkan Dandim 0314/Inhil Letkol Inf Imir Faishal, dalam meningkat ekonomi kerakyatan melalui limbah sabut kelapa, Kami berharap Pemerintah Daerah Kabupaten mampu menggiatkan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) untuk melakukan pengolahan sabut kelapa.


“Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang besar, Kodim tidak mampu berdiri sendiri, ini perlu gerakan yang masif dalam pengolahan sabut kelapa,” tutur nya dalam rapat Koordinasi Pejabat Pemerintah Daerah dan Forkopimda dalam rangka pembahasan Isu Strategis dan pemberdayaan perekonomian kerakyatan pengolahan limbah sabut kelapa, di Makodim 0314/Inhil, Jum’at (31/1/2020).


Lajut Dandim, saat ini Kodim 0314/Inhil telah memproduksi, serat sabut (cocofibre) diolah menjadi sapu, pot tanaman dan serbuk sabut (cocopeat) untuk pupuk.


“Produk yang ingin dikembngkan kedepannya seperti kasur, tali, keset. Namun perlu dukungan tambahan alat untuk mendukung produksi tersebut,” imbuhnya.


Selain itu, pengolahan sabut kelapa sampai pada hari ini belum ditempatkan dengan benar oleh masyarakat.







“Selama ini sabut kelapa oleh masyarakat dinilai masih belum memiliki harga. Tentunya hal ini akan lebih kita galakkan guna membuka pola pikir masyarakat agar mau menjalankan ekonomi kreatif pengolahan limbah sabut kelapa ini,” jelasnya.


Menanggapi hal itu,  Bupati Inhil HM Wardan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kodim 0314/Inhil dalam mendukung program pemerintah melalui pengembangan ekonomi kerakyatan dengan pengolahan limbah sabut kelapa.


“Sejauh ini sabut kelapa di Kabupaten Inhil belum memiliki nilai ekonomis yang tinggi, semoga dengan adanya gebrakan dari Kodim kedepan mampu mengangkat pengolahan sabut kelapa menjadi nilai ekonomi,” kata HM Wardan saat memimpin rapat pemberdayaan perekonomian kerakyatan pengolahan limbah sabut kelapa di Makodim 0314/Inhil.







Lanjut Bupati dua periode, dalam pengengbangan ekonomi kerakyatan, yang menjadi titik berat adalah di pedesaan. Karena apabila desa mampu menggali potensinya yang ada di desanya, kedepan desa tidak lagi berharap dengan APBD seperti sekrang ini.


“Dinas, Camat, Desa melalui Bumdes, pengolahan sabut kelapa ini harus dikembangkan. Pemerintah daerah senantiasa mensuport untuk pengolahan sabut kelapa,”


Untuk diketahui, dalam rapat yang digelar di Aula Makodim 0314/Inhil, dihadir oleh Bupati Inhil, Kapolres, Ketua PN Tembilahan, Kejari Inhil,  dan unsur Forkopimda lainnya serta Organisasi Kemasyarakatan.


Reporter Arbain




Home Industri Limbah Sabut Kelapa Inhil

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Pilot Project Pengolahan Sabut Kelapa dan Budidaya Vanili milik Kodim 0314/Inhil merupakan suatu usaha mikro yang mampu menghasilkan karya bernilai ekonomis dan terjangkau.


Bersamaan dengan silaturahmi, Dandim Letkol Inf Imir Faishal memperkenalkan Home Industri tentang Pengolahan limbah sabut kelapa kepada Forum Komunikasi Wartawan Inhil (FKWI). tak hanya itu hadir juga Sekretaris Kesbangpol Marlis Syarif, Kabid Disbund Sutarno Wandoyo dan teman-teman Pers lain untuk menyaksikan proses nya.


Ketua FKWI Deby Candra menyampaikan Apresiasi setinggi-tingginya kepada Pimpinan Kodim 0314/Inhil yang berhasil menciptakan suatu gagasan luar biasa tersebut.


“Hasil dari gagasan Makodim 0314/Inhil ini sangat luar biasa, tak disangka bernilai ekonomis yang tinggi,” ungkap nya kepada Dandim


Dalam kesempatan itu juga Letkol Imir Faishal selaku Komandan nomor 1 di Kemiliteran Inhil menunjukan beberapa Hasilnya.


“Yang kita produksi ini ada Tali tambang, Jaring Anyaman Serat Sabut, Pot Bunga Besar dan Kecil, Sapu Ijok, dan Tali Pintal Panjang,” ujarnya


Selain itu Dandim mengatakan gagasan ini akan diteruskan sampai ke Desa-desa dan berharap dilirik sama pemerintah.


“Kita Berharap BUMDES atau BUMD bisa menyisihkan sedikit anggaran untuk pengolahan Home Industri Sabut dan tenaga kerjanya juga dari masyarakat sekitar, tujuan nya agar terbantukan, soal skil kita akan sosialisasikan,” ungkap nya. Arb




Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa ala Kodim 0314/Inhil

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Setelah melaksanakan pembekalan kepada Babinsa Kodim 0314/Inhil selama empat hari, hasil yang didapat dari memanfaatkan sabut Kelapa ternyata banyak sekali yang dapat dihasilkan.


Sebagai trobosan yang bernilai ekonomi, Dandim 0314/Inhil Letkol Inf Imir Faishal beserta jajaran Koramil 0314/Inhil memanfaatkan sabut Kelapa dan menyampaikan apa saja kerajinan tangan rumahan yang dapat dibuat.



“Dengan bahan sabut Kelapa ini, kita dapat mengolahnya sendiri dirumah, antara lain sebagai Pot Bunga, Tali Tambang, Sapu, Goni untuk menahan Air, bahkan bisa dibuat Busa Tilam. Namun yang menjadi perhatian adalah pembuatan pot dari sabut Kelapa sebagai sarana terbaik untuk budidaya Tanaman Vanili,” ujar Dandim 0314/Inhil, Sabtu (18/01/2020).


Upaya ini dilakukan untuk terus menggalakkan pemanfaatan limbah sabut Kelapa yang biasanya hanya terbuang-buang.


“Ini dapat dijadikan Nilai Ekonomi untuk menambah pendapatan masyarakat jika dijalankan dengan sungguh-sungguh. Kegiatan praktek pembekalan yang dilaksanakan Babinsa ini nantinya akan dikembangkan oleh para Babinsa di wilayah jajaran Koramil Kodim 0314/Inhil yang tersebar di Kabupaten Inhil,” tambahnya.


Babinsa yang telah dilatih nantinya akan  mengajak Badan Usaha Desa yang ada di desa dan masyarakat untuk memanfaatkan Sabut Kelapa sebagai usaha masyarakat. Sabut Kelapa ini nantinya dijadikan sebagai usaha rumahan dan bahan jadinya akan dapat menambah pendapatan di masyarakat Kabupaten Inhil.



“Babinsa ini nantinya dengan adanya pemanfaatan sabut Kelapa ini dapat menciptakan lapangan pekerjaan di masyarakat untuk lebih meningkatkan pendapatan masyarakat di Desa Binaan masing masing.” pungkas Letkol Inf Imir Faishal.


Hasil kerajinan tangan ini nantinya juga akan dikembangkan oleh Babinsa di pelosok-pelosok Desa di Kabupaten Inhil.


Ketua Umum Kadin Provinsi Riau Supianto  bersama dengan Kodim 0314/Inhil akan membuat MoU untuk pemasaran serta pengembangan usaha Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa yang cukup banyak di Kabupaten Inhil Ini serta membantu pemasaran agar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.


“Hasil jadinya kerajinan tangan rumahan ini  dapat dipasarkan tidak hanya di dalam Kabupaten, namun juga akan dibawa ke tingkat Provinsi sehingga dapat menjadi pendapatan masyarakat yang ada di desa desa dan khususnya Petani-petani Kelapa yang ada di Kabupaten Inhil,” sebut Supianto.


Sementara itu Pasiter Kodim 0314/Inhil Kapten Inf A. Siregar menyebutkan Babinsa yang sudah mendapat pelatihan ini nantinya akan memberi ilmunya yang mereka dapatkan.


“Nantinya mereka akan turun langsung ke wilayah binaannya masing masing untuk  dikembangkan di Kecamatan, Kelurahan, dan Desa sehingga sampah Sabut Kelapa tidak terbuang-buang dan mencemari sungai Indragiri.” tandasnya. (rls)




Soal Kopra Putih, SNV Netherland Developmen Organization Kunjungi LPK8 YES di Inhil

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Perwakilan dari Stichting Nederlandse Vrijwilligers (SNV) Netherland Developmen Organization (Organisasi Pengembangan Belanda)melakukan kunjungan kerja ke Lembaga Pelatihan Keterampilan 8 Yan Ekhsan (LPK 8YES) di Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir, Minggu (22/12/2019).

Dalam kunjungan itu, Retno perwakilan SNV Netherland Developmen Organization yang bertugas di Kabupaten Banyu Asin, Provinsi Sumatra Selatan menyampaikan, SNV Netherland Developmen Organization adalah organisasi pembangunan internasional nirlaba, yang didirikan di Belanda.






Didorong oleh tujuan pembangunan berkelanjutan, SNV membuat perbedaan abadi dalam kehidupan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan dengan membantu meningkatkan pendapatan.

“Organisasi ini bekerja di lebih dari 25 Negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin,” imbuh Retno.

Selain itu Retno juga mengatakan, melalui kunjungannya di LPK 8 YES soal pengolahan kopra putih melalui ‘Langkau Milenial’ ini merupakan suatu gagasan yang ingin di implementasikan di daerah tempatnya bertugas saat ini.






“kita ingin melihat dan memahami langsung pengolahan kopra putih, tidak menutup kemungkinan ini akan kita terapkan untuk meningkatkan perekonomian di Banyu Asin Khususnya,” ujarnya.

Sementara itu, Yan Ekhsan selaku pendiri LPK 8 YES mengapresiasi atas kunjungan yang dilakukan oleh perwakilan SNV Netherland Developmen Organization.

“Saya pribadi salut gengan Mbak Retno Jauh-jauh dari Banyu Asin datang seorang diri ke Kabupaten Indragiri Hilir hanya untuk melihat langsung pengolahan kopra putih,” ungkapnya.






Disisi lain Yan Ekhsan juga menyampaikan, bahwa LPK 8 YES akan terus berupaya menyebarkan ‘virus’ tentang pengolahan kopra putih melalui tenda yang ia beri nama ‘Langkau Milenial’.

” intinya, LPK akan selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin tau dan belajar pengolahan kopra putih,” cetusnya.

Untuk diketahui, pada kunjungan SNV Netherland Developmen Organization ke LPK 8 YES tersebut, turut hadir mendampingi beberapa orang Mahasiswa dari Unversitas Islam Indragiri Hilir (UNISI). 

(Arbain)

https://youtu.be/mx3IROlbsg4
Video



Harga Kelapa di Inhil masuk di Angka 2200 Perkilogram

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Lembaga Pelatihan Keterampilan 8 Yan Ekhsan (LPK 8 YES) lagi-lagi menggoyang pasar perkelapaan di Kabupatan Indragiri Hilir dengan mengangkat harga Rp 2.200 perkilogram untuk semua jenis ukuran.

Mencari sebuah perbandingan harga pasar kelapa di Inhil, dari keterengan yang berhasil didapat arbindonesia.com dari seorang petani kelapa di kecamatan pulau burung, Manaf mengaku menjual kelapa dengan ukuran ‘Super’ disalah satu perusahaan dihargai sekitar Rp 2.200 perbutirnya.

“Ukuran Super itu berat kelapanya sekitar 1,2 Kg Up, sebutirnya sekitar 2.200 rupiah. Kalau yang (B) ‘menengah’ nya sekitar 1.200 perbutir, dan kalau yang kecil 700,” ungkapnya, Jum’at (6/12/2019).

Sementara itu, Yan Ekhsan saat ditemui arbindonesia.com di LPK 8 YES  di Jalan Tanjung Priok Kelurahan Tembilahan Kota, Kecamatan Tembilahan Kabupaten Inhil, Kamis (5/12/2019).

Disampaikannya, “LPK 8 YES diangka 2.200 perkilogram siap tampung untuk semua ukuran dan jenis kelapa,”

Selain itu, Yan Ekhsan juga mengatakan kenaikan harga kelapa di Inhil menurutnya bukan karena peran atau sentuhan tangan pemerintah,  melainkan karena langkanya buah kelapa di Inhil.

“Kebutuhan pasar akan bahan baku besar, sementara bahan baku sudah berkurang,” ujar Yan Ekhsan, pelaku usaha komuditi Kopra Putih.

Terahir Yan Ekhsan menyampaikan, Kopra putih sampai hari ini masih bertahan di angka Rp 12.000/Kg.

Reporter Arbain




Gandeng LPK8 Yan Ekhsan, Ketua FKWI Tembuskan Pasar Komoditi Kopra Putih dan Arang Skala Ekspor

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Kehadiran Forum Komunikasi Wartawan Indragiri Hilir (FKWI) siap mendedikasikan dan berkontribusi untuk peningkatan perekonomian kerakyatan melalui komunikasi dan deplomasi kepada pengusaha kopra untuk meningkatkan harga jual kelapa rakyat.

Maka dari itu Ketua FKWI periode 2019-2022, Debi Candra Syahriwan gandeng Lembaga Pelatihan Kerja 8 (LPK8) yang dibina oleh Yan Ekhsan merupakan pengusaha kopra putih putra daerah tempatan.

Debi Candra mengatakan, kerjasama tersebut bertujuan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) solusi untuk meningkatkan nilai harga jual kelapa mengolah kelapa menjadi bahan setengah jadi atau turunan dari kelapa putih.

loading…



“Turunan kelapa yang pengolahannya sederhana dan mudah tanpa mengeluarkan modal besar bahkan sangat berpeluang bisa dilakukan petani saat ini adalah pengolahan kopra putih, kopra asalan dan arang, yang mana dengan pengolahan turunan kelapa tersebut dapat menaikkan nilai jual kelapa,” sebut Debi Candra, Selasa (5/10)

FKWI bukan hanya memberikan pembinaan dan peningkatan profesionalisme jurnalistik, kehadiran FKWI juga peduli akan perekonomian masyarakat, salah satunya peningkatan ekonomi kerakyatan dan peningkatan nilai jual kelapa ditentukan mencarikan formula market dan pemberdayaan kepada petani dan masyarakat Indragiri Hilir yan terkenal dengan julukan hamparan kelapa dunia.

“Market ataupun penjualan kopra putih, kopra asalan dan arang dalam beberapa bulan ini sudah kami tembuskan untuk penjualan dengan nilai yang kompetitor dan bersaing, mudah-mudahan bisa membantu ekonomi kerakyatan masyarakat ataupun petani kelapa di Indragiri Hilir,” sebutnya

Pada kesempatan itu, pembina LPK8 Yan Ekhsan selaku produsen dan pelatih kopra putih juga mengatakan hal yang sama, dengan adanya market hari ini mudah-mudahan petani di Indragiri Hilir bisa terbantu untuk meningkatkan ekonominya.

Yan Ekhsan juga mengatakan siap memberikan edukasi kepada masyarakat Indragiri Hilir untuk belajar cara pengolahan sebagai program pemberdayaan. “Jika pemerintah baru sebatas program, kami mampu membuktikan pemberdayaan dan penjualan yang berstandart eksport bersama bung Debi,” ujar bg Ekhsan yang merupakan mantan pelatih bola tersebut. (***)