Riau Unggul Grafik Pasien Sembuh Secara Nasional

ARBindonesia.com, PEKANBARU – Tim Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Riau mendata angka kesembuhan pasien positif di Provinsi Riau secara grafik lebih tinggi secara Nasional.


Penjelasannya, jika di Riau, grafik pasien sembuh misalnya empat. Maka, angka pasien positif satu.


Jika dibandingkan, secara nasional angka kesembuhan, kata juru bicara gugus tugas Provinsi Riau, justru lebih rendah.


”Ini suatu pencapaian bahwa kesembuhan di Riau unggul secara nasional,” terang Juru Bicara Penanggulangan Covid-19 Provinsi Riau, dr Indra Yovi.


Hal ini kata Yovi, sesuai fakta, Minggu (10/5/2020), dari penambahan dua pasien positif. Sementara angka kesembuhan ada empat.


”Yang sembuh hari ini ada lima, empat asal Pekanbaru dan satu dari Dumai,” ungkap Yovi.


Secara keseluruhan, angka kesembuhan di Riau, saat ini telah mencapai angka 44 orang. Maka, jika dibuat grafik nya angkanya mencapai 50 persen.


”Artinya kesembuhan di Riau mencapai angka 50 persen. Sedangkan secara nasional hanya 19 persen,” papar Yovi.


Artinya, sambung Yovi, penanganan pasien di Riau bisa dikatakan lebih baik secara nasional.


”Melihat grafik ini yang landai. Maka, proses penyembuhan pasien dapat kita maksimalkan di Riau,” kata Yovi.


Namun, meski telah di perbolehkan pulang. Terhadap pasien tersebut, ungkap Yovi, tetap dilakukan pemantauan kesehatannya.


”Setelah diperbolehkan pulang, pasien kita sarankan melakukan isolasi mandiri selama tujuh hingga 14 hari dirumah,” sebut Yovi.


Sumber : mediacenter.riau.go.id




Kapal Tanker Meledak dan Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Belawan

Kapal tanker yang terbakar saat bersandar di dermaga Pelabuhan Belawan


ARBindonesia.com, MEDAN – Warga di sekitaran Pelabuhan Belawan dibuat kaget dengan suara ledakan yang diikuti asap pekat mengepul di dekat dermaga. Diketahui satu unit kapal tanker terbakar di lokasi, Senin (11/5/2020).


Kapal yang yang terbakar MT Jag Leela yang sedang bersandar di dermaga galangan kapal milik PT Waruna Nusa Sentana Shipyard Belawan sekira pukul 08.00 WIB.


Berbagai video detik-detik terbakarnya kapal tersebut beredar luas di media sosial. Terdegar suara ledakan dan terlihat para pekerja diatas kapal itu berusaha menyelamatkan diri. Asap yang pekat membuat mereka kesulitan keluar dari kapal dan memilih melompat ke laut.


Dari informasi yang dihimpun, ada enam orang yang dilarikan ke rumah sakit. Namun, belum ada keterangan resmi soal ini.


Terpisah, Kadis Pencegah dan Kebakaran Kota Medan, Albon Sidauruk menjelaskan kapal yang terbakar saat bersandar karena perbaikan di dermaga milik PT Waruna Belawan.


“Kebakaran terjadi sekitar pukil 08.30 tadi pagi. Kami dari Damkar Kota Medan mengerahkan 10 unit armada, didukung dari Armada PT. Pelindo I, TNI AL, dan Pol Air Belawan. Hingga saat ini belum padam tapi sudah terkendali, korban jiwa belum ada informasi,” jelasnya.


Sementara itu, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dalam keterangan resmi tertulisnya, membenarkan terjadinya inside kebakaran di galangan kapal milik PT Waruna Nusa Sentana Shipyard Belawan tersebut.


“Benar telah terjadi kebakaran kapal MT Jag Leela yang sedang melakukan perawatan atau docking di galangan kapal milik PT Waruna Nusa Sentana Shipyard Belawan, Medan yang berlokasi dan berjarak kurang lebih 1 sampai 2 kilometer dari kantor Distrik Navigasi Kelas I Belawan,” jelas Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Ahmad di Jakarta (11/5/2020).


Dibeber Ahmad, hingga saat ini, proses pemadaman api sedang berlangsung.


Sementara dari sisi Laut kapal patroli KPLP KN. 5205 sudah berada di sekitar kejadian untuk mengamankan sisi laut dengan jarak sekitar 200 m dari lokasi. Ada 3 kapal terlibat dalam kegiatan pemadaman dari sisi laut. Kapal-kapal tersebut adalah milik Pelindo I dan PT. Waruna.


“Hingga kini, tim SAR masih melakukan pengecekan apakah ada jatuh korban dengan terjadinya musibah kebakaran tersebut. Segera kami update informasinya,” tutupnya.
(*)


Sumber pojoksatu.id




Cukupkah BLT 600 Ribu untuk Biaya Hidup per Bulan?

Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah diharapkan mampu mengurangi beban masyarakat miskin yang terdampak Covid-19. Foto/Ilustrasi
(ist).


ARBindonesia.com, JAKARTA – Guna menjaga daya beli dan mengurangi dampak ekonomi wabah Corona (Covid-19), pemerintah menyiapkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa dengan besaran Rp600 ribu per keluarga per bulan hingga Juni 2020. Penerimanya adalah keluarga miskin yang bukan termasuk penerima Program Keluarga Harapan (PKH), tidak memperoleh Kartu Sembako dan Kartu Prakerja.


Namun, cukupkah dana BLT sebesar Rp600 ribu tersebut untuk menyambung hidup masyarakat di tengah pandemi Covid-19? Mengutip laporan lifepal.co.id, di beberapa provinsi, besaran BLT tersebut bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan per individu tiap bulan.


Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, total biaya kebutuhan hidup masyarakat Indonesia per kapita atau per kepala rata-rata Rp1,3 jutaan per bulan. Rinciannya, Rp620 ribuan untuk kebutuhan makanan dan sisanya, Rp729 ribuan untuk kebutuhan non-makanan.


Dari angka ini jelas bahwa BLT sebesar Rp600 ribu per bulan per keluarga yang diberikan oleh pemerintah, belum cukup untuk memenuhi keseluruhan biaya hidup masyarakat yang terdampak. Bahkan, angka yang diberikan belum melebihi kebutuhan biaya makan per-individu setiap bulannya. Apalagi jika anggota keluarga lebih dari 1 orang, tentunya biaya yang dibutuhkan lebih besar lagi.


Terlebih, saat ini sudah menginjak tahun 2020 yang artinya biaya hidup tentunya cenderung meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2018 silam.


Lebih lanjut, laporan tersebut menunjukkan, jika dilihat per provinsi, BLT Rp600 ribu masih belum mampu memenuhi kebutuhan makan per orang di 20 provinsi, di mana Provinsi DKI Jakarta menempati urutan teratas sebesar Rp847 ribuan.


Selanjutnya, di Kepulauan Riau Rp774 ribuan, di Bangka Belitung Rp757 ribuan, di Papua Rp749 ribuan, dan di Kalimantan Timur Rp741 ribuan.


Sementara di beberapa provinsi lainnya, misalnya Jateng dan NTT, BLT Rp600 ribu cukup untuk kebutuhan makan per individu. Bagi warga Jawa Tengah, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Timur, Rp600 ribu sudah mampu memenuhi biaya kebutuhan akan makanan per kepala per bulan.


Biaya untuk kebutuhan makanan per kepala selama satu bulan di Jawa Tengah berdasarkan data itu sekitar Rp490 ribuan, di Gorontalo Rp500 ribuan, di Sulawesi Barat sekitar Rp505 ribuan, Sulawesi Tenggara Rp534 ribuan, dan di Nusa Tenggara Timur Rp540 ribuan, masih di bawah besaran BLT.


Namun, laporan itu pun menegaskan bahwa seperti tujuan awalnya, bantuan tunai dari pemerintah itu memang hanya untuk meringankan beban dan bukan untuk memfasilitasi keseluruhan biaya hidup masyarakat. Masyarakat diharapkan menjalankan langkah-langkah cerdas untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan mendasar selama pandemi Covid-19 ini.


Hal ini bisa dilakukan dengan cara menghemat pengeluaran, tidak membeli barang-barang yang bukan kebutuhan pokok, memanfaatkan tabungan jika ada, dan jika tidak ada, bisa menggadaikan aset-aset yang berharga.


Tentunya kita berharap yang terbaik bagi mereka yang kehilangan sumber penghasilan, semoga dapat menemukan jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. (*)


Sumber sindonews.com




Trobosan Baru, Polda Riau Gunakan Helm Canggih Pendeteksi Orang Terpapar Covid 19

foto dok Humas Polda Riau


ARBindonesia.com, PEKANBARU –  Berbagai upaya dan terobosan kreatif terus dilakukan oleh Polda Riau untuk membantu pemerintah dalam menangani Covid-19 serta saat penerapan PSBB


Kekinian, Polda Riau memanfaatkan Smart Helmed Thermal canggih guna mendeteksi secara dini subyek yang terpapar Covid-19.


Kabid Humas Polda Riau, Kombes Sunarto mengatakan mengutip dari South China Morning Post (SCMP), helm ‘robocop’ N901 besutan perusahaan yang berbasis di Shenzhen ini dirancang untuk mengukur suhu tubuh subyek di tengah kerumunan orang.


“Berbeda dengan drone, thermal yang pernah dipakai oleh Polda Riau saat mengecek PMI beberapa waktu lalu, Smart Helmed ini lebih spesifik mengidentifikasi suhu panas dari orang secara lebih detail. Selain itu lebih efektif bila dibandingkan dengan pengukuran melalui alat thermoscan maupun thermogun,”imbuhnya.



Setiap subyek yang mengalami demam atau suhu panas dapat discreening sejauh lima meter dan dapat memindai semua individu di dalam kerumunan dan 100 persen akurat. Tak hanya itu, helm yang terinspirasi dari robocop ini dilengkapi pemindai kode QR dan fitur pengenalan wajah.


“Kacamata yang terpasangpun menggunakan teknologi augmented reality (AR) dengan berbagai pilihan konektivitas seperti WiFi, Bluetooth, dan jaringan 5G,” jelas Sunarto.


Lanjutnya, alat ini akan digunakan Polda Riau untuk mendukung PSBB di Kota Pekanbaru. Setiap anggota Polri di lapangan terutama pada pintu masuk akan dilengkapi Smart Helmed ‘Robocop’ ini sehingga pengecekan kepada masyarakat yang masuk tanpa harus bersentuhan.


Selain itu, helm canggih ini juga dilengkapi dengan alat perekam live. Rekaman ini akan dapat digunakan sebagai salah satu alat bukti di Pengadilan saat petugas melakukan penindakan terhadap masyarakat yang melanggar PSBB.


“Upaya pemanfaatan teknologi tersebut adalah komitmen Polda Riau untuk mendukung pemerintah dalam memutus penyebaran Covid-19 di Provinsi Riau yang kita cintai ini,” Kabid Humas Polda Riau, Kombes Sunarto. (Humas Polda Riau/Yus)


Editor Arb




Cegah Penularan Covid 19 dengan Memasang Portal di Gang atau Jalan Menuai Pro dan Kontra

ARBindonesia.com, DUMAI – Saat ini upaya untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 banyak di lakukan oleh berbagai element, seperti memakai masker, penyemprotan disinfektan, bahkan sampai membuat portal di pintu-pintu masuk Gang atau Jalan.


Semua langkah-langkah pencegahan ini di lakukan hampir di seluruh wilayah Kota Dumai, terkhusus di Kelurahan Purnama, Kecamatan Dumai Barat


Namun salah satu langkah pencegahan pembuatan portal di pintu-pintu masuk Gang atau Jalan saat ini terjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat, ada yang mendukung juga ada yang protes terhadap kebijakan yang satu ini, Senin (11/05/2020).


Aan salah satu warga yang mendukung pembuatan portal menyampaikan bahwa ini salah satu langkah pencegahan di kawasan kita, portal ini sangat berguna untuk mencegah warga dari luar kota yang masuk di Gang kita.


“Karna di portal tersebut di lakukan pengecekan suhu tubuh dan wajib memakai masker juga mencuci tangan, itu alasannya saya sangat mendukung kebijakan yang di ambil Ketua RT di tempat saya tinggal,” ujar Aan.


”Saya juga berharap kepada warga untuk saling jujur dan terbuka, jika kita pulang dari luar kota sampaikan lah ke ketua RT, dengan tujuan agar Covid-19 tidak masuk di kawasan kita,” Tambah pria berbadan gempal itu.


Selain itu, ada juga salah satu warga yang protes pembuatan portal di pintu masuk Gg atau Jalan.


Jailani salah satu warga yang protes mengatakan sangat tidak setuju dengan adanya pembuatan portal ini.
Sebab menurutnya langkah ini tidaklah efektif, hanya membuat warga sekitar susah.


“Seharusnya bisa keluar dari Gang itu dekat, terpaksa harus melewati pintu utama yang sedikit agak jauh,” tuturnya.


Jika portal disetiap pintu masuk Gang bisa buka tutup ya gak masalah, tapi ini di tutup mati. Kalau memang ingin memutus mata rantai penularan Covid-19 ini jangan Gang yang di tutup.


” Kita lebih mengkuatirkan supir-supir armada perusahaan yang masuk di kawasan kita, seharusnya di Simpang TPI itu yang di tutup, agar supir-supir yang datang dari zona merah itu tak masuk,” tegas pria yang kerap di sapa Udo Jay itu.


Ia juga meminta pemerintah agar lebih mempertimbangkan lagi kebijakan yang di lakukan Ketua RT mengenai Pembuatan Portal ini.


”Saya berharap kepada pemerintah untuk memperhatikan permasalah ini, jangan sampai kebijakan ini bisa menimbulkan perkelahian dan hal yang tak terduga lainnya”tutup Jay.


Di tempat terpisah Lurah Purnama, Teguh Ananta Putra A,Md Par, menjelaskan bahwa kebijakan yang di lakukan Ketua RT yang ada di Kelurahan Purnama Ini bukan tanpa alasan, pembuatan portal di pintu masuk Gang atau Jalan sudah diketahui dan disetujui oleh Pemerintah Kota Dumai.


“Ketua RT juga tidak menutup semua pintu masuk ada satu pintu yang dijadikan pintu utama untuk bisa keluar masuk ke Gang atau Jalan tersebut, pembuatan portal ini juga salah satu upaya kita dalam memerangi Covid-19, ″ jelas Lurah Purnama


Lanjutnya, Standar Oprasional Prosedur (SOP) nya ada, portal disetiap posko Covid-19 yang berada di pintu masuk Gang Atau Jalan bertujuan,


1.melakukan pengawasan terhadapat warga,masyarakat yang keluar masuk wilayah RT nya masing-masing


2.mengingatkan masyarakat diwilayahnya untuk memakai masker bila bepergian/keluar rumah


3.melakukan pengecekan suhu tubuh bagi setiap warga yang melintas portal/posko covid-19 dan mencatat warga yang suhu tubuhnya tinggi langsung melaporkan ke puskesmas/pihak terkait


4. Melakukan penyemprotan desinfektan terhadap kendaraan yang masuk wilayahnya yang melewati posko covid-19 dan apabila dimungkinkan juga melakukan penyemprotan desinfektan ke rumah warga dilingkungan RT nya.


5. Memberikan edukasi kepada warga tentang kesadaran utk memakai masker, dan menyebar luaskan surat edaran Wali Kota tetang pencegahan penyebaran covid-19


7. Menerima bantuan dari warga terkait covid-19 seperti masker hand sanitizer dan yang lainnya


8.memantau warga/ masyarakat yang sudah berstatus ODP untuk tidak keluar dan tetap di rumah


9. Memantau kondisi keamanan wilayahnya.


“Dari beberapa poin ini, saya rasa sangat efektif untuk memutus mata rantai penularan covid-19 di wilayah kita, ” paparnya.


Tambahnya lagi, bukan hanya itu pembagian tugaspun harus dilakukan disetiap posko covid-19 beserta kelengkapan peralatannya, seperti Pembagian tugas ; oleh ketua RT selaku ketua POSKO
Kelengkapan di posko;
1. tempat cuci tangan dan sabun
2. Spanduk
3. Ada portal
4.jadwal petugas jaga
Peralatan ini sangat di haruskan ada di setiap posko Covid-19.


“Saya menghimbau kepada seluruh masyarakat terkhusus di Kelurahan Purnama untuk bersama-sama mendukung kebijakan pemerintah, dengan maksud agar pasien positif Covid-19 tidak bertambah lagi di kota Dumai ini,” tandas Lurah. (*)


Reporter Hendrik
Editor Arb




Apa Benar pada Tahun 2030 Nanti Umat Muslim Bakal Rasakan 2 Kali Ramadhan?

ARBindonesia.comKita semua pasti sudah merasakan betapa berbedanya Ramadhan tahun ini dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu semua disebabkan karena adanya wabah virus corona.


Demi mengurangi penyebarannya seluruh masyarakat dianjurkan untuk lebih banyak di rumah saja, termasuk dalam hal beribadah.


Namun jangan khawatir, meski di tahun ini Ramadhan sangat berbeda tapi di tahun 2030 kesedihan ini akan terbayarkan.


Dilansir dari tipstren.com, hal itu dikarenakan 10 tahun lagi umat Islam di seluruh dunia akan merasakan Ramadhan 2 kali dalan satu tahun. Apa benar?


Menurut perhitungan Ramadhan akan datang kepada umat Muslim di awal dan akhir tahun.


Berdasarkan perhitungan kalender Hijriyah 1451-1452, Ramadhan pertama pada tahun 2030 akan dimulai pada tanggal 5 Januari. Kemudian, Idul Fitri akan terjadi pada tanggal 4 Februari.


Dan uniknya lagi, Ramadhan kedua ternyata akan datang pada tanggal 26 Desember 2030, tepat sehari setelah perayaan Natal.


Yang harus kalian ketahui nih tipstrenners, kondisi bukan hanya sekali saja terjadi tapi juga pernah terjadi pada tahun 2000 silam.


Ramadhan pertama terjadi pada tanggal 5 Januari, dan Ramadhan kedua terjadi pada tanggal 27 Desember 2000.


Hal ini disebabkan lantaran perhitungan bulan Hijriyah dan Masehi berbeda.


Ada 365 hari di tahun Masehi, sementara ada 355 hari di tahun Hijriyah. Jadi, ada selisih sekitar 10 sampai 11 hari dalam setahun.


Hal ini menyebabkan bulan Ramadhan selalu maju 10 hari setiap tahun masehi. Berdasarkan perhitungan ini, maka setiap 30 tahun umat Muslim akan mengalami dua kali Ramadhan dan dua kali Idul Fitri setiap 36 atau 37 tahun.


Tapi ingat tipstrenners, Ramadhan yang akan terjadi dua kali di tahun 2030 ini masih perhitungan manusia semata yang artinya bisa terjadi, dan bisa pula tidak. Jadi kita tunggu saja. (*)


Sumber ramadhan.pojoksatu.id
Editor Arb