Hari ini Bertambah 14 Orang Positif Corona di Inhil

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Jumlah pasien positif Covid-19 di Indrgiri Hilir kembali bertambah, dengan total jumlah penambahan terkonfirmasi sebanyak 14 orang yang dinyatakan Positif Covid-19.


Jumlah ini jauh meningkat jika dibandingkan jumlah tambahan pasien pada hari sebelumnya, Senin (23/6/2020) yang hanya berjumlah 5 orang.


Akumulasi tambahan kasus baru Covid-19 di Inhil ini disampaikan juru bicara tim gugus tugas covid-19 Inhil Trio Beni Putra saat melakukan press conference di E-bilik DiskominfoPs Inhil, selasa (23/6/20/).


Disampaikan Trio data penambahan positif covid-19 di inhil sebanyak 14 orang pada hari ini, yaitu :


Pasien ke 23 Ny AKD (39), tenaga kesehatan (Nakes) di RSUD Puri Husada Tembilahan, Inhil


Pasien ke 24, Tn DF (41), Nakes di RSUD Puri Husada Tembilahan, Inhil


Pasien ke 25, Tn R (38), karyawan yang bekerja di RSUD Puri Husada Tembilahan, Inhil


Pasien ke 26, anak-anak, KHN (14), pengembagan rapid test masal di inhil minggu lalu


Pasien ke 27, Nn K (18), inhil, kontak erat dengan pasien unomor 160 IS


Pasien ke 28, Ny M, Inhil, kontak erat kasus 160 IS


Pasien ke 29, Tn M (64), hasil penemuan kasus positif swab masal di inhil


Pasien ke 30, Tn MS (47), inhil, belum diketahui riwayat perjalanan dan kontak erat


Pasien ke 31, Ny RZ (52), inhil, hasil kontak erat dengan pasien 128 Ny R


Pasien ke 32, Tn BK (22), inhil, riwayat perjalnan dari lampung


Pasien ke 33, Tn BK (31), Inhil, hasil penemuan swab massal di inhil minggu lalu


Pasien ke 34, Tn MI (30), inhil, hasil penemuan swab missal minggu lalu


Pasien ke 35, anak-anak, RAR (14), inhil, riwayat perjalanan ke Batam


Pasien ke 36, anak-anak 9 tahun, inhil, hasil swab massal dan memiliki riway ke batam.


“Jadi total keseluruhan positif corona di inhil menjadi 36 orang,” sebut Trio yang juga Plt Kadis KominfoPs Inhil.


Trio juga menjelaskan 14 orang positif corona ini, 9 orang dirawat di ruang isolasi RSUD Puri Husada Tembilahan, dan 5 orang di RS Raja Musa Sei Guntung. Jumlah keseluruhan covid-19 terkonfirmasi yang masih dirawat di RSUD Puri Husada sampai saat ini 18 orang. Dan Jumlah PDP dirawat saat ini 20 orang di RSUD Puri Husada. Maka total seluruh rawatan PDP dan positif Covid-19 di Kabupaten Inhil sebanyak 38 orang.


“Dari penambahan kasus positif saat ini, Dinas kesehatan Inhil bersama Polres Inhil, Kodim Inhil, langsung melakukan tracking kontak dari pasien yang terkonfirmasi hari ini,” tutup Trio. (*)




Tes SKB CPNS Digelar Akhir Agustus dengan Protokol Kesehatan

Foto: Dok. Borobudur News


ARBindonesia.com, JAKARTA – Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Hari Wibisana mengatakan bahwa tahap Seleksi Kemampuan Bidang Calon Pegawai Negeri Sipil (SKB CPNS) Formasi Tahun 2019 direncanakan berlangsung pada akhir Agustus hingga awal Oktober 2020.


“Jadwal SKB rencana dilakukan pada akhir Agustus hingga awal Oktober,” kata Bima dalam Rapat Kerja dengan Komisi II DPR RI dan Menpan RB Tjahjo Kumolo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6).


Dia menerangkan bahwa pelaksanaan SKB CPNS akan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) CPNS 2019 akan menetapkan lokasi ujian dengan meminimalisir pergerakan peserta.


Bima berkata Panselnas CPNS 2019 akan berkoordinasi dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 terkait hal ini.


“Panselnas akan melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, baik pusat dan daerah,” katanya.


Namun begitu, lanjutnya, rencana ini tetap melihat situasi perkembangan pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia.


Bima menambahkan, BKN tengah menyiapkan surat edaran baru terkait mekanisme lanjutan seleksi CPNS 2019 berdasarkan aturan yang dikeluarkan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.


Sebelumnya, pelaksanaan seleksi SKB CPNS Formasi Tahun 2019 ditunda menyusul persebaran virus corona (Covid-19).


Penundaan SKB tersebut tertuang dalam Surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo pada 17 Maret 2020. (Mts/Wis)


Sumber CNNindonesia.com




13 Lapak di Pasar Tradisional Tembilahan Hancur Akibat Ambruknya Bangunan Beton

ARBindonesia, INDRAGIRI HILIR – Sebanyak 13 buah lapak (tempat jualan) di Pasar Tradisional Yos Sudarso Tembilahan Kota mengalami ambruk setelah tertindih 7 bangunan beton, Senin (22/6/2020) malam pukul 21.45 wib.


Berdasarkan keterangan dari Petugas Trantib Pasar Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Arbain (33 tahun) mengatakan runtuhnya bangunan tersebut dikarenakan adanya pengerjaan renovasi pada Toko Sungai Indragiri.


“Bangunan beton yang runtuh ada 7 buah, sementara itu pengerjaan renovasi hanya dilakukan di Toko Sungai Indragiri yang posisinya berada ditengah. Pada saat dilakukan renovasi dengan cara meruntuhkan bangunan yang akan direnovasi, tiba-tiba semuanya ambruk akibat ada tiang yang tidak kuat menopang,” Ujar Arbain.


Sementara itu, Arbain juga menjelaskan dampak dari kejadian tersebut, setidaknya 13 lapak (tempat jualan) Buah dan Ikan Asin milik pedagang pasar tradisional ikut ambruk bersamaan dengan ambruknya beton tersebut.


“7 bangunan beton ambruk, 13 lapak milik pedagang kaki lima pasar tradisional yang berada didepan toko juga ikut hancur karena tertindih beton,” imbuh Arbain,


Untuk diketahui, setelah ambruknya bangunan beton pada saat akan di renovasi, 3 orang Pekerja terpaksa dilarikan ke IGD untuk mendapatkan perawatan. (Rls)




Niat Berobat dengan Berbekal Uang BST, Farhan di Diagnosa Kanker Darah dan harus Dirujuk ke Pekanbaru

ARBindonesia, INDRAGIRI HILIR – Saat ini Farhan tengah berjuang melawan sakit yang dideritanya. Ia merupakn seorang Anak laki-laki berusia 5 tahun yang lahir dari keluarga Petani di daerah Pulau Kijang Kecamatan Reteh, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).


Mereka berngkat ke RSUD Puri Husada Tembilahan dengan perjalanan cukup jauh (4 jam perjalan).


Dari rumah, mereka berangkat menggunakan sepeda motor dengan berbekal uang bantuan BST Covid-19, dengan niat berobat karena Farhan sering mengalami demam.


Ternyata setelah sampai di RSUD PH Tembilahan dan dilkuakan pemeriksaan, Farhan di diagnosa Kanker Darah.


Kini ia tengah dirawat dan telah melakukan transfusi darah sebanyak 4 kantong, yang kini mengharuskan Farhan dirujuk ke rumah sakit Pakanbaru.


Tapi apalah daya, BPJS pun tak kunjung rampung untuk dipergunakan, yang mengharuskan mereka dirawat dengan status umum tanpa BPJS.


Diujung pembicaraan melalui via seluler, saya mendengar rintihan sang ibu,”Jangankan buat ke Pekanbaru bu, makan aja kami gak kepikiran, bisa makan 1 bungkus berdua saja sudah Allhamdulilah,” kata orang tua Farhan saat dihubungi Tim Edelwis Peduli.


Atas hal tersebut, Edelwis Peduli membuka donasi untuk biaya perawatan Farhan yang saat ini masih dirawat di RSUD PH Tembilahan dan harus dirujuk kerumah sakit Pekanbaru.


“Kami Edelwis Peduli mengajak bagi siapa saja yang ingin membantu meringankan beban keluarga dari adik kita yang saat ini terbaring sakit,” tutur Cahya Maqbul, Selasa (23/6/2020). (Ar)


IMG-20200623-WA0002



Jangan Jadikan Rapid Test Ladang Bisnis

Foto dialexsis.com


ARBindonesia.com, JAKARTA – Langkah pemerintah mencegah persebaran corona (covid-19) melalui rapid test menuai kritikan. Reaksi yang muncul tersebut terkait dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk keperluan tersebut.


Dilansir dari sindonews.com, kondisi tersebut di antaranya disampaikan Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis di Twitter pribadinya @cholilnafis.


Jika Faktanya memang demikian, bagi sebagian besar masyarakat–termasuk orang tua santri yang hendak mengantarkan sang anak ke pesantren ke lain daerah—beban tersebut tentu sangat memberatkan. Padahal rapid test menjadi syarat wajib.


Pada temuan yang disampaikan Cholil Nafis, orang tua santri harus mengeluarkan biaya Rp400.000 untuk melakukan rapid test di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta.


Beban biaya yang harus dikeluarkan bagi masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi akan semakin membengkak karena model deteksi dini corona itu hanya berlaku tiga hari.


Dana penanganan corona yang telah digelontorkan pemerintah naik dari Rp405,1 triliun menjadi Rp695,1 triliun. Karena itu, pemerintah harus mengevaluasi pelaksanaan rapid test, termasuk adanya kecenderungan komersialisasi rapid test.


“Kalau orang mau tes saja disuruh bayar, sementara anggaran kita banyak, apakah ini tidak lebih urgen dibandingkan lainnya? Kalau orang tidak tes, dikejar-kejar (untuk) disuruh tes. Sementara orang mau tes (malah) disuruh bayar. Ini kan paradoks sebenarnya,” ujar Cholil Nafis.


Dia mengingatkan, belajar dari berbagai negara yang sukses menangani Covid-19, rapid test harus dilakukan secara masif, terstruktur, dan sistematis. Karena itu, pemerintah sudah seharusnya memudahkan mereka yang ingin melakukan uji cepat itu sehingga bisa diketahui penularannya. Dengan begitu, akan diketahui mana yang perlu diisolasi, mana yang tidak.


Sejumlah kalangan DPR merespons adanya komersialisasi rapid test tersebut. Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Irwan, misalnya, mendesak pemerintah mengatur pelaksanaan rapid test.


Bahkan dia meminta pemerintah menggratiskan rapid test dan swab test untuk masyarakat. Apalagi anggaran penanganan korona begitu besar.


Menurut dia, pembiayaan rapid test secara mandiri oleh masyarakat ini menambah beban dan derita masyarakat. Jika tidak memungkinkan penggratisan, pemerintah hendaknya melakukan pengawasan sehingga biaya rapid test bisa terjangkau.


“Jangan sampai ini kemudian menjadi komersialisasi oleh pemerintah ataupun pihak yang tidak bertanggung jawab,” desak Irwan.


Selain itu, Irwan meminta agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan aparat penegak hukum lain benar-benar mengawasi pelaksanaan anggaran penanganan Covid-19 yang sangat besar ini sehingga tepat sasaran dan tidak ada penyelewengan.


Hal senada disampaikan anggota Komisi IX DPR Anwar Hafid. Ia menyesalkan jika rapid test justru menjadi beban baru bagi masyarakat di tengah kehidupan yang semakin sulit akibat pandemi korona.


Dia pun mengingatkan, rapid test sudah seharusnya dilakukan kepada semua orang sebagai langkah awal, tindakan preventif untuk mencegah semakin meluasnya kasus atau penderita baru Covid-19.


“Kalau kita bicara penanganan Covid-19, sekarang ini semua orang terdampak. Kalau saya menyarankan kepada pemerintah agar masyarakat, utamanya yang tidak mampu dan anak sekolah, rapid test mestinya tidak dibebani biaya,” katanya.


Anwar kemudian menuturkan, rapid test adalah bagian dari penanganan Covid-19. Karena itu, DPR pun menyetujui penggunaan anggaran sebesar-besarnya untuk penanganan Covid-19 melalui pengesahan Perppu Nomor 1/2020.


“Saya berharap rapid test dilakukan gratis dan lebih masif. Kalau bisa semua orang Indonesia itu melakukan rapid test. Itulah kenapa anggaran Covid-19 itu diberikan sebesar-besarnya untuk itu sebenarnya,” paparnya.


Direktur Indonesia Public Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah juga mempertanyakan alasan pemerintah tetap membiarkan masyarakat membayar sendiri biaya rapid test.


“Bisa saja negara yang gagal mengalokasikan anggaran sekaligus gagal menertibkan praktik di lapangan,” ujar Dedi kepada SINDOnews kemarin.


Menurut dia, kondisi ini semakin menyakitkan masyarakat. Apalagi anggaran ratusan triliun itu tidak dapat dipertanggungjawabkan karena perppu yang telah menjadi undang-undang terkait penanganan Covid-19 memiliki imunitas hukum, sehingga membebaskan para pengguna anggaran untuk sewenang tanpa ada konsekuensi hukum.


Pihak Gabungan Perusahaan Farmasi mengungkapkan bahwa rapid test ini tidak semuanya tertanggung oleh anggaran pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan.


Pasalnya, anggaran yang diberikan pemerintah hanya kepada rumah sakit yang ditunjuk resmi dalam menangani dan menjalankan rapid test massal.


“Jadi, ini bisa menjadi bisnis baru untuk para pedagang rapid test karena akan meningkatkan permintaan alat rapid test,” ujar Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi Vincent Harjanto.


Dia menuturkan, produsen rapid test di luar negeri juga sudah banyak sekali. Hal ini tentu akan semakin memurahkan pembelian produk alat rapid test.


“Karena banyak jadi harga produk impornya sekitar USD3-4 (atau di bawah Rp60.000 dangan kurs Rp14.000),” katanya.


Sementara itu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan melakukan pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) terhadap pelaksanaan lima program pada penanggulangan pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah.


Pernyataan ini disampaikan anggota BPK Achsanul Qosasi melalui tiga cuitan di akun Twitter @AchsanulQosasi, Senin (22/6/2020) siang.


Menuutnya, langkah ini diambil salah satuya karena banyaknya permintaan dari berbagai pihak.


“Saat ini BPK sedang menyiapkan rencana pemeriksaan yang akan dilaksanakan pada awal Juli 2020. Pemeriksaan BPK mencakup lima program, yakni bantuan sosial (bansos), pengadaan alat pelindung diri (APD) dan alat tes, Kartu Prakerja, bantuan langsung tunai-dana desa (BLT-DD), dan BPJS. Pemeriksaan dilaksanakan serentak,” cuitnya.


Achasnul memastikan, pemeriksaan yang akan dilakukan BPK berupa dua bentuk pemeriksaan, yakni pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan PDTT (pemeriksaan dengan tujuan tertentu). Saat ini BPK sedang membahas apa saja cakupan pemeriksaan.


Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa kebutuhan anggaran penanganan korona membengkak dari Rp677,2 triliun menjadi Rp695,2 triliun. Penyebabnya yaitu melonjaknya kebutuhan korporasi hingga kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dalam memulihkan ekonomi pasca pandemi.


Masalah di Berbagai Negara Tarif Tes Covid 19


Tarif tes corona ternyata menjadi polemik berkepanjangan di berbagai negara, termasuk di Amerika Serikat (AS). Tarif perawatan kesehatan yang tidak diatur menjadikan pihak rumah sakit bisa memberlakukan tarif sesuai kepentingan mereka.


Kongres AS meminta perusahaan asuransi ikut menangguh tarif tes virus corona, namun banyak rumah sakit dan laboratorium justru mengambil keuntungan besar.


Kasus yang mencuat di AS adalah banyak warga yang mengeluhkan biaya tes Covid-19 yang sangat mahal.


Gibson Diagnostic Labs di Dallas, Texas, menetapkan tarif tes Covid-19 sebesar USD2.315 (Rp33 juta) per individu. Mereka berdalih karena pelaksanaan tes tersebut juga membutuhkan investasi teknologi yang mahal.


Padahal, mayoritas tes Covid-19 hanya memerlukan biaya USD100 (Rp1,4 juta). Namun, banyak rumah sakit tetap mengambil keuntungan dengan memberlakukan biaya tambahan sebagai bentuk perawatan.


Akibatnya, banyak perusahaan asuransi mengeluhkan hal itu. Maklum, sepertiga penduduk AS bergantung pada asuransi kesehatan.


“Kami melihat sejumlah laboratorium dan rumah sakit menerapkan harga tes Covid-19 sangat mahal,” kata Angie Meoli, wakil presiden senior Aetna, salah satu perusahaan asuransi yang menyediakan tes korona dalam layanannya, dilansir The New York Times.


Bukan hanya warga AS, penduduk Singapura juga mengeluhkan mahalnya biaya tes virus corona. Rata-rata biaya tes di sana mencapai 200 dolar Singapura (Rp2,1 juta) jika mereka melaksanakannya di rumah sakit swasta.


Apalagi, mereka juga memiliki kewajiban isolasi mandiri bagi warga yang baru tiba di negara tersebut. Namun, Pemerintah Singapura menjamin biaya tes corona bagi penduduknya, asalkan tes tersebut dilaksanakan di rumah sakit negeri.


Negara-negara miskin di Afrika juga mengeluhkan tentang biaya tes Covid-19 yang mahal.


Apalagi, mereka juga harus membeli biaya alat pelindung diri bagi para petugas medis, serta persiapan membeli vaksin.


Pada saat bersamaan, pendapatan negara juga mengalami penurunan akibat lockdown yang diberlakukan sehingga mematikan ekonomi negara tersebut.


“Seharusnya ada upaya untuk penetapan harga yang kompetitif dan transparansi dalam pengadaan tes Covid-19,” kata Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa.


Di India, biaya tes corona telah ditetapkan pemerintah senilai 2.400 rupee (Rp450.000) khusus di New Delhi. Pemerintah India juga melarang laboratorium swasta untuk menaikkan tarif tes tersebut. Pihak rumah sakit hanya diperbolehkan menurunkan tarif.


“Saya berharap tidak ada kesulitan bagi warga yang hendak melakukan tes corona,” kata Menteri Besar New Delhi Arvind Kejriwal.


Malaysia memberikan tiga persyaratan bagi warga yang ingin mendapatkan tes Covid-19 secara gratis dengan ketentuan warga Malaysia yang baru datang dari China, Jepang, Korea Selatan, Italia, dan Iran dengan gejala terinfeksi virus korona.


Namun, warga Malaysia yang tidak memenuhi persyaratan itu harus membayar tes sendiri senilai 950 ringgit Malaysia.


Penulis : Andika H Mustaqim/Michelle Natalia/ Abdul Rochim/Kiswondari/Rina Anggraeni.


Sumber Sindonews.com




Pekanbaru Juara 1 untuk Lomba Inovasi Hotel Aman Covid 19

Tangkapan Layar video Tatanan Perilaku Hidup Baru Produktif dan Aman Covid 19 untuk Sektor Perhotelan di Kota Pekanbaru


ARBindonesia.com, PEKANBARU – Kota Pekanbaru, Provinsi Riau mendapatkan juara pertama dalam lomba video inovasi daerah tatanan New Normal produktif dan aman Covid 19 yang dilaksanakan oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri RI).


Hal tersebut disampaikan dalam pengumuman hasil lomba dan penganugrahan lomba inovasi daerah tatanan normal baru produktif dan aman Covid 19 secara virtual bersama Gubernur Riau (Gubri), Syamsuar dengan Kemendagri RI serta jajaran kementerian terkait yang berlangsung di Gedung Daerah Balai Serindit, Senin (22/06/20).


Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Kanarvian menyampaikan Pandemi wabah Covid 19 belum diketahui kapan berakhirnya, untuk itu masyarakat Indonesia perlu beradaptasi dengan tatanan baru atau new normal life.


“Peran Pemerintah Daerah (Pemda) dianggap penting, karena Pemda bersentuhan langsung dengan daerahnya masing-masing, untuk itu lomba ini diadakan sebagai tahap pengenalan agar masyarakat siap dan beradaptasi menghadapi kehidupan normal baru dengan menjalankan protokol kesehatan,” ujar Menteri Tito.


Lomba inovasi daerah tatanan normal baru dimulai sejak tanggal 29 Mei 2020, Menteri Tito mengatakan terdapat tujuh sektor yang dipertandingkan sebagai inisiatif antar daerah se Indonesia sebagai daerah yang produktif dan aman Covid-19.


“Tujuh sektor tersebut diantaranya inovasi pasar tradisional, pasar modern, restoran, hotel, pelayanan terpadu satu pintu, tempat wisata dan terakhir transportasi umum aman Covid-19 dari tujuh sektor ini terbagi dengan empat kluster yaitu antar provinsi, antar kota, antar kabupaten dan antar kota tertinggal atau perbatasan,” jelas Menteri Tito.


Hadiah bagi pemenang lomba, Menteri Tito menyebutkan bahwa pemerintah pusat akan memberikan dana intensif daerah (DID) bagi pemenang lomba dimana juara pertama mendapatkan 3 miliar rupiah, juara kedua mendapatkan 2 miliar rupiah, dan juara ketiga 1 miliar rupiah.


“Diharapkan kepada pemerintah daerah yang menang dapat dicontoh serta dapat ditiru oleh pemda lain untuk menerapkan kehidupan normal baru yang produktif dan aman Covid 19,” harap Menteri Tito. (MCR/DW)