Naas, Tarwini Tertipu Depan Kantor Polisi. Puluhan Juta Raib

penipuTEMBILAHAN (detikriau.org) – Warga Tembilahan diminta untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dari pelaku kriminal. Aksi nekad pelaku kejahatan kini sepertinya sudah tak pandang tempat dan waktu. Sebagaimana yang dialami tarwini (26). Warga Kecamatan Tembilahan Hulu ini harus rela kehilangan uang puluhan juta. Nasib naas ini bahkan terjadi dihalaman kantor Mapolres Inhil. Sabtu (22/11/2014) sekira pukul 09.45 Wib

Berdasarkan keterangan Kapolres Inhil melalui Paur Humas, Ipda Warno, Nasib naas tarwini bermula ketika korban mendatangi ATM yang berada dihalaman depan kantor Mapolres Inhil Jalan Gadjah Mada Tembilahan untuk melakukan transfer sejumlah uang pembelian tiket pesawat ke nomor rekening yang sudah ada. Setelah proses transfer selesai. Korban kembali mendapat telpon dari seorang perempuan yang mengaku dari salah satu maskapai.

Ketika itu pelaku menyebutkan proses transfer awal yang dilakukan korban dipending karena gangguan jaringan. Saat itu korban diminta melakukan tranafer ulang. Sekitar pukul 19.34 Wib korban kembali mendatangi ATM dan mentransfer uang dengan arahan pelaku.

“Pertama korban mentransfer uang sebesar Rp 750 ribu. Sedangkan transfer ke dua sebesar Rp 18, 9 juta. Setelah itu baru korban sadar bahwa dirinya telah menjadi korban penipuan,”ujar Paur Humas Ipda Warno, Ahad (23/11).

Akubat kejadian tersebut korban menderita kerugian hingga lebih kurang Rp 19, 7 juta. Hingga saat ini petugas masih melakukan penyelidikan (lidik) terhadap kasus dugaan penipuan dengan modus jual beli tiket pesawat.

“Korban melaporkan masalah ini kepada petugas dengan didampingi Efrin. Menurut korban ia ditipu seseorang yang mengatas namakan Efrin, warga Jalan Harapan Tembilahan,” papar Paur Humas menambahkan.

Disampaikanya, Efrin saat ini telah dimintai keterangan oleh penyidik sebagai saksi dari kasus tindak pidana penipuan. Saat ini petugas tengah mendalami kasus ini dengan cara melacak keberadaan pelaku.

“Ada beberapa alat bukti yang kami pegang, diantaranya nomor rekening dan nomor telpon yang digunakan pelaku untuk melakukan penipuan,” imbuhnya. (dro/*1)




Bawa Sabu, Warga Benteng Ditangkap

sabuTEMBILAHAN (detikriau.org) – Terbukti menyimpan dan menguasai narkoba jenis sabu-sabu, dua warga Benteng, Kecamatan Sungai Batang, ditangkap jajaran Polsek setempat, Kamis (13/11) sekitar pukul 16.15 WIB kemaren.

Ke dua pelaku ditangkap saat berada di Jalan Pendidikan, Benteng, Kecamatan Sungai Batang. Mereka tak bisa mengelak setelah petugas yang menggeledahnya berhasi menemukan sabu seberat 1 gram yang dibagi menjadi 2 paket.

Kapolres Inhil AKBP Suwoyo SIK MSi, melalui Paur Humas Ipda Warno Akman, menerangkan bahwa penangkapan terhadap ke dua pelaku berawal dari intelijen pihak kepolisian setempat. Diketahui dua orang tersebut tengah membawa sabu untuk dijual.

“Informasi ini kami kembangkan. Kemudian dilakukan penggeledahan, ternyata benar para pelaku terbukti menyimpan dan menguasai sabu. Mereka langsung kita bawa ke Mapolsek Sungai Batang untuk dimintai keterangan,” ujar Paur Humas, Jumat (14/11).

Ke dua pelaku yang diamankan petugas bernama, GS (22) warga Jalan H Ahmad, Desa Benteng, Kecamatan Sungai Batang. Kemudian RS (30) warga Jalan Penunjang, Desa Benteng, Kecamatan Sungai Batang.

“Selain ke dua pelaku saat ini kami juga sedang memeriksa seorang saksi inisial SA (24),” jelasnya. Jika terbukti, ke dua pelaku akan dijerat undang-undang no 35 tahun 2009 tentang narkotika.(dro/*1)




Ternyata, Selfie Bisa Jadi Karya Jurnalistik dan Hasilkan Uang

selfieWalau ‘selfie’ dipandang sebagai bentuk modern dari narsisme, ada hal lain dari fenomena ini yang belum disadari masyarakat. ‘Selfie’ bisa menjadi sebuah bentuk jurnalisme warga dan memiliki potensi bisnis, menawarkan uang sebagai bentuk pertukaran foto yang diunggah online.

Bangkitnya media sosial, yang dibarengi dengan maraknya penggunaan ponsel pintar, tablet dan latop, adalah faktor di balik munculnya bentuk baru fotografi, yakni ‘selfie’.

Seperti namanya, ‘selfie’ meliputi wajah sang fotografer dalam jarak dekat, dengan rumah atau lokasi liburan sebagai latar belakangnya, menggambarkan apapun, mulai dari potongan rambut baru hingga suasana hati yang buruk.

‘Selfie’ mudah dilakukan dan bahkan lebih mudah untuk diunggah ke media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter.

Selfie sering diartikan sebagai bentuk narsisme dan dipandang sebagai fenomena fotografi yang secara spesifik dikaitkan dengan anak muda, tapi ada alasan mengapa kita harus memperhatikan fenomena foto ini.

Potensi produktif dari selfie, misalnya, bisa dilihat dari pergerakan politik terbaru, seperti unjuk rasa di Hongkong, tempat di mana selfie secara tak sengaja menjadi bentuk jurnalisme-foto warga. Selfie memungkinkan pelakunya untuk menandakan kehadiran mereka, secara visual, pada peristiwa penting seperti unjuk rasa, dan foto-foto ini memiliki kekuatan untuk menumbangkan liputan media yang ‘mainstream’.

Selfie cenderung muncul secara organik, dibuat oleh mereka yang hadir pada peristiwa itu dan kemudian beredar di antara sesama peserta, meningkatkan keaslian mereka.

Tapi apa perbedaan selfie dengan foto sehari-hari yang diambil warga pada saat ia menyaksikan suatu peristiwa atau mengikuti suatu acara?

Melihat potret wajah dengan ukuran ‘close-up’ atau secara dekat adalah bedanya. Selfie memiliki narasi personal atas gambar di dalamnya, di mana orang yang ada dalam foto bukanlah sebuah obyek jauh dan pasif.

Dalam foto selfie, wajah dan tubuh disesuaikan sebagai kanvas untuk mengekspresikan diri. Disandingkan dengan latar belakang yang menarik, selfie dapat memicu rasa keintiman dan aksesibilitas di antara para pemirsanya.

Beberapa pengguna media sosial telah membuat seni ber-selfie naik derajat dan kini menghasilkan uang bagi mereka.

Para pengguna ini bisa diklasifikasikan sebagai mikro-selebriti media sosial – mereka memiliki jumlah pengikut yang lumayan banyak, yang bisa dipengaruhi.

Penulis blog gaya hidup di Singapura adalah salah satu kelompok masyarakat yang memprofesionalkan selfie mereka demi keuntungan ekonomi. Para penulis blog ini secara hati-hati mengunggah selfie mereka, menciptakan keintiman dengan para pengikut, yang merupakan target

Bahkan ada perusahaan iklan yang mengkhususkan diri dalam mewakili para penulis blog populer dan pengguna media sosial. Setelah mereka diwakili,  seorang manajer bekerja untuk menengahi kolaborasi dan kesepakatan antara pengiklan dan pengguna media sosial dalam pembahasan komisi.

Dari media sosial yang ada, Instagram muncul sebagai pilihan teratas di antara para pengiklan korporat, berkat tampilan foto yang dimilikinya.

Menampilkan foto berukuran kecil yang sudah disesuaikan ukuran file-nya, Instagram membuat para penggunanya mengakses dan mengunggah foto dengan mudah. Dengan aplikasi penyuntingan foto yang dimilikinya, para pengguna juga bisa mempermak foto yang akan diunggah supaya lebih banyak disukai pengguna lainnya.

Mereka yang menggunakan Instagram untuk keuntungan finansial juga harus menemukan cara untuk memasarkan produk dan pengalaman mereka secara kreatif. Sembari menampilkan produk sebagai fokus utama dari selfie atau foto yang mungkin menggambarkan sebuah rute, hal ini juga dapat dianggap sebagai upaya untuk ‘menjual’.

Sementara selfie dapat ditampilkan dalam kemasan yang bukan sebenarnya, dengan fokus pada ‘saya’ dan ‘sekarang’, fenomena ini juga tentang orang-orang biasa yang mencoba untuk menceritakan kisah mereka sendiri. Selfie menampilkan keaslian dan keintiman, dan memiliki potensi ekonomi. (tribunnews)