BI Pekanbaru Sosialisasikan Uang NKRI di UNISI

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Universitas Islam Indragiri (UNISI) kedatangan Tim Bank Indonesia (BI) cabang Pekanbaru dalam agenda mensosialisasikan Uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Tahun Edaran 2016 di Ruangan Fakultas Hukum UNISI Jalan HR Soebrantas, Kamis (19/1/2017).

Dikesempatan itu juga dilakukan peresmian BI Corner yang diresmikan langsung oleh Kepala BI Cabang Pekanbaru, Ismet Inono dan dihadiri Rektor UNISI DR R Sri Handayani berserta seluruh civitas akademika UNISI.

“Mensosialisasikan uang NKRI ini agar masyarakat dan mahasiswa tahu bahwa kita sudah menerbitkan uang baru dengan seri pahlawan,” kata Ismet Inono.

Sementara itu, Rektor UNISI menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak BI Cabang Pekanbaru yang telah sudi hadir di UNISI. Bahkan, ia juga cukup berbangga hati atas bantuan peresmian BI Corner yang akan membawa dampak untuk kemajuan UNISI, baik di bidang pustaka maupun lainnya.

“Kami juga berharap selanjutnya bisa mendapatkan beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu, diawali dengan adanya penandatanganan MoU dan kerjasama baik bantuan secara material maupun tunai uang,” imbuhnya./mirwan




Waktu Tepat Berhenti Beri Uang pada Anak

Setiap orang tua pasti selalu ingin memberi hal terbaik bagi anaknya. Salah satunya adalah dukungan keuangan.

Namun seiring berjalannya waktu, anak pun akan terus tumbuh menjadi pribadi dewasa yang nantinya dapat menyokong kehidupannya sendiri.

Akan tetapi banyak orang tua yang masih terus memberi dukungan keuangan pada anak hingga dewasa. Hal ini justru dapat berampak buruk bagi kemampuan finansialnya nanti.

Lalu kapan waktu yang tepat bagi orang tua untuk berhenti memberi uang pada anak?. Berikut penjelasannya mengutip Business Insider, Senin (22/2/2016):

  1. Ketika kondisi finansial tidak stabil

Jika kondisi finansial di keluarga sedang tidak stabil maka baik bagi Anda untuk berhenti menyokong keuangan anak terlebih dahulu. Hal ini bisa dicermati ketika Anda sulit untuk membayar tagihan-tagihan penting di luar kebutuhan si anak.

  1. Anak punya pekerjaan tetap

Jika anak Anda sudah memiliki pekerjaan tetap yang dapat menyokong kehidupan pribadinya, maka ini saat yang tepat untuk mulai mengurangi suntikan keuangan kepada mereka.

  1. Selalu membantu anak di setiap kondisi

Ada kalanya anak dihadapkan pada kondisi keuangan yang harus mampu mereka selesaikan. Banyak dari mereka yang akhirnya memilih untuk meminta bantuan dari orang tua agar mampu mendapat jalan keluar yang cepat. Padahal, hal ini bisa menjadi stimulus buruk bagi perkembangan mereka.

Tidak ada salahnya untuk membantu anak apabila mereka memiliki masalah keuangan. Namun, Anda tetap harus jeli melihat kondisi.

Cobalah untuk menempatkan diri di situasi yang benar-benar penting dan memerlukan bantuan. Sehingga nantinya sang anak dapat mencoba untuk memecahkan permasalahannya sendiri.

  1. Kemampuan finansial anak buruk

Terus menerus menyokong keuangan anak akhirnya dapat berdampak buruk. Salah satunya adalah sang anak yang akhirnya sulit untuk mengatur keuangan yang dimiliki.

Ajarkan anak perbedaan antara “perlu” dan “ingin”. Jika dia masih bisa menggantikan barang yang dia mau dengan yang lebih murah, atau dengan yang serupa, maka dia tidak perlu membeli barang tersebut. Ini merupakan satu pelajaran keuangan yang penting.

Sumber: liputan6

 




MPI Desak Disdik Inhil Larang Sekolah Pungut uang UN dan UAS

Oyonk Maldini
Oyonk Maldini

Tembilahan (detikriau.org) – Masyarakat Peduli Inhil (MPI) mendesak Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir melalui Dinas Pendidikan untuk tidak lagi membenarkan seluruh sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SLTA untuk memungut uang Ujian Negara dan Uang Ujian Sekolah kepada siswa atau orang tua murid. Disdik juga diminta untuk mempersiapkan sanksi tegas bagi lembaga pendidikan yang masih membandel.

Permintaan ini disampaikan oleh MPI melalui salah seorang jurubicaranya, oyonk Maldini melalui pesan BlackBerrynya, ahad (15/2). Menurut Oyonk, permintaan ini mereka sampaikan dengan dasar pertimbangan permendiknas No 44/122 tentang larangan pungutan dilembaga pendidikan serta adanya kenaikan anggaran dana Bantuan IOperasional Sekolah (BOS).

Ditambahkan Oyonk, berdasarkan informasi yang diterimanya, mulai tahun 2015, dana BOS untuk Sekolah setingkat SD yang semula hanya sebesar Rp 580 ribu/siswa/tahun, mulai tahun 2015 naik menjadi Rp 800 ribu. Sedangkan untuk sekolah setingkat SMP naik dari Rp 700 ribu menjadi Rp 1 juta persiswa dan Setingkat SMA dari Rp 1 Juta naik menjadi Rp. 1,5 juta.

“Jadi rasanya tidak ada lagi alasan sekolah untuk melakukan pungutan apa pun dari siswa/wali murid,” sampaikan oyonk

Masih menurut Oyonk, ia sudah menerima danya laporan dari orangtua siswa sudah ada sekolah yang mulai kembali akan melakukan pungutan, salah satunya SD di Kecamatan kempas sebesar Rp 130 ribu. “ Untuk hal ini saya sudah sampaikan kepada Kadisdik Inhil, UPTD Disdik dan Pengawas sekolah. Kita berharap ada tidakan nyata untuk segera membatalkannya.” Tegas oyonk.

Meski ada yang memungut. Oyonk juga mengakui ada mendapat informasi di SD 08 Kecamatan Tembilahan yang sama sekali tidak membebani lagi siswa atau orang tua siswa dengan membebaskan seluruh biaya, mulai dari pembuatan pas foto hingga dana perpisahan.

“menurut Kepseknya, seluruh biaya diambil dari dana BOS. Jika mereka bisa kenapa sekolah lainnya tidak bisa?.” pertanyakan Oyonk.

Sekali lagi oyonk meminta agar Disdik inhil secepatnya mengeluarkan peraturan larangan sekolah melakukan pungutan kepada wali murid dalam bentuk atau alasan apa pun juga, meskipun dengan dalih dan bertopeng dengan “hasil kesepakatan wali murid atau “rapat komite”

“Jangan sampai terulang lagi seperti tahun kemarin, setelah terjadi pungutan di sekolah-sekolah baru disdik inhil mengeluarkan himbauan! Sedangkan saat ini sudah ada laporan ke kita dari masyarakat yang mengatakan di suatu sekolah dasar sudah melakukan pungutan uang perpisahan.” Tandasnya. (*)




Naas, Tarwini Tertipu Depan Kantor Polisi. Puluhan Juta Raib

penipuTEMBILAHAN (detikriau.org) – Warga Tembilahan diminta untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dari pelaku kriminal. Aksi nekad pelaku kejahatan kini sepertinya sudah tak pandang tempat dan waktu. Sebagaimana yang dialami tarwini (26). Warga Kecamatan Tembilahan Hulu ini harus rela kehilangan uang puluhan juta. Nasib naas ini bahkan terjadi dihalaman kantor Mapolres Inhil. Sabtu (22/11/2014) sekira pukul 09.45 Wib

Berdasarkan keterangan Kapolres Inhil melalui Paur Humas, Ipda Warno, Nasib naas tarwini bermula ketika korban mendatangi ATM yang berada dihalaman depan kantor Mapolres Inhil Jalan Gadjah Mada Tembilahan untuk melakukan transfer sejumlah uang pembelian tiket pesawat ke nomor rekening yang sudah ada. Setelah proses transfer selesai. Korban kembali mendapat telpon dari seorang perempuan yang mengaku dari salah satu maskapai.

Ketika itu pelaku menyebutkan proses transfer awal yang dilakukan korban dipending karena gangguan jaringan. Saat itu korban diminta melakukan tranafer ulang. Sekitar pukul 19.34 Wib korban kembali mendatangi ATM dan mentransfer uang dengan arahan pelaku.

“Pertama korban mentransfer uang sebesar Rp 750 ribu. Sedangkan transfer ke dua sebesar Rp 18, 9 juta. Setelah itu baru korban sadar bahwa dirinya telah menjadi korban penipuan,”ujar Paur Humas Ipda Warno, Ahad (23/11).

Akubat kejadian tersebut korban menderita kerugian hingga lebih kurang Rp 19, 7 juta. Hingga saat ini petugas masih melakukan penyelidikan (lidik) terhadap kasus dugaan penipuan dengan modus jual beli tiket pesawat.

“Korban melaporkan masalah ini kepada petugas dengan didampingi Efrin. Menurut korban ia ditipu seseorang yang mengatas namakan Efrin, warga Jalan Harapan Tembilahan,” papar Paur Humas menambahkan.

Disampaikanya, Efrin saat ini telah dimintai keterangan oleh penyidik sebagai saksi dari kasus tindak pidana penipuan. Saat ini petugas tengah mendalami kasus ini dengan cara melacak keberadaan pelaku.

“Ada beberapa alat bukti yang kami pegang, diantaranya nomor rekening dan nomor telpon yang digunakan pelaku untuk melakukan penipuan,” imbuhnya. (dro/*1)