Plt Kadiskes Imbau TP PKK Desa/Kelurahan dan Kecamatan Bantu Puskesmas Tekan AKI dan AKB

Plt Kadinkes Inhil, dr Saut Pakpahan
Plt Kadinkes Inhil, dr Saut Pakpahan

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Ketua dan jajaran pengurus Tim Penggerak (TP) PKK tingkat desa/kelurahan dan kecamatan diimbau untuk turut bersama membantu dan mendukung upaya UPT Puskesmas dalam menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Imbauan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil, dr Saut Pakpahan terkait dengan masih tingginya AKI dan AKB, serta kasus gizi buruk yang ditemukan di Negeri Seribu Parit.

Dikatakan Saut, saat ini Kabupaten Inhil masih menempati posisi teratas pada kasus kematian ibu dan bayi. Oleh karena itu, perlu adanya langkah pencegahan dan antisipasi sejak dini dari seluruh pihak terkait.

“Selain kematian ibu dan bayi, persoalan lainnya di bidang kesehatan yang juga harus menjadi perhatian serius dan prioritas utama untuk segera dituntaskan adalah kasus gizi buruk,” tutur Saut saat ditemui detikriau.org di ruang kerjanya, Selasa (8/9/2015).

Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menekan AKI dan AKB ini, diantaranya dengan melakukan program kemitraan antara bidan dan dukun beranak, serta mendata ibu hamil, pemeriksaan dan perencanaan kelahiran.

“Jadi kita anjurkan, sebaiknya proses persalinan atau kelahiran dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), guna mencegah dan mengantisipasi sejak dini terjadinya berbagai hal yang tidak diinginkan,” tambah dokter spesialis penyakit dalam ini.

Berdasarkan data yang ada di Diskes, dari Bulan Januari hingga Juni 2015 ini, di Kabupaten Inhil telah ditemukan kasus AKI sebanyak 18 jiwa dan AKB sebanyak 86 jiwa. Dimana, daerah terbanyak ditemukan kasus-kasus tersebut adalah di Guntung dan Pulau Kijang.

“Penyebab yang terbanyak pada kasus kematian ibu, yakni pendarahan dan eklamsi atau darah tinggi. Sedangkan untuk kematian bayi, paling banyak penyebabnya dikarenakan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), asfiksia dan infeksi,” imbuhnya. (adi/adv)




Diskes Imbau Pedagang Takjil Tak Gunakan Bahan Berbahaya

Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK), dr Saut Pakpahan
Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK), dr Saut Pakpahan

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mengimbau kepada seluruh masyarakat terutama para pedagang takjil, untuk tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya ke dalam makanan dan minuman yang akan dijualnya.

Imbauan tersebut disampaikan Kepala Diskes Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie melalui Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK), dr Saut Pakpahan saat berbincang dengan detikriau.org di kantornya, kemarin.

Dikatakan Saut, memasuki Bulan Suci Ramadhan 1436 H ini, biasanya akan banyak bermunculan para pedagang takjil dadakan, baik yang berasal dari dalam daerah maupun luar daerah.

Untuk itu, momentum ini jangan dijadikan oleh para pedagang sebagai kesempatan untuk berbuat curang terhadap konsumen, seperti dengan mencampurkan zat-zat berbahaya ke dalam bahan makanan dan minuman.

“Kami harapkan pedagang tidak menggunakan bahan yang berbahaya untuk dagangannya, seperti pewarna yang tidak diizinkan, formalin, boraks dan lain sebagainya, karena bisa membahayakan kesehatan konsumen,” tutur Saut.

Dijelaskan Saut, penggunaan bahan berbahaya untuk pembuatan makanan dan minuman ini, bisa mengakibatkan orang-orang yang mengkonsumsinya terkena berbagai penyakit.

“Meski efeknya tidak langsung dirasakan, namun dalam waktu lama bisa menyebabkan kerusakan organ-organ dalam tubuh, seperti pada pencernaan, ginjal dan hati,” terangnya.

Oleh karena itu, Saut meminta kepada seluruh pedagang agar menggunakan bahan-bahan yang aman dan layak dikonsumsi saat pembuatan barang dagangannya.(adi/adv)