Mengapa Kita Perlu Berterima Kasih pada Aksi 212?

Oleh: Muhammad E Fuady, Pengajar Komunikasi Politik Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba/republika.co.id

foto; suaraislam.com

Selama tiga kali perhelatan, aksi ini telah teruji mengangkat reputasi Indonesia sebagai negara dengan Muslim terbanyak di dunia. Aksi ini betul-betul damai. Jutaan Muslim berkumpul, tak menimbulkan kekhawatiran teman-teman non-Muslim.

Sebagian malah turut hadir pada aksi ini. Kita masih mengingat indahnya peserta aksi “mengawal’ sepasang pengantin Katolik menuju Katedral untuk melangsungkan pernikahan.

Narasi buruk, fitnah intoleransi, labeling gerakan radikal, makar, mengganti sistem pemerintahan, terlalu sering dialamatkan pada peserta aksi 212. Bila ada rongrongan terhadap negara ini, justru merekalah yang siap menjadi martir.

Mencintai agama dan negara bukanlah sebuah kontradiksi. Tak ada benturan dan pertentangan di sana. Para pendahulu, pahlawan, telah memberikan teladan yang nyata.

Pada perhelatan 212 setiap tahun, tak ada sampah berserakan, rumput tak diinjak, tak ada peserta yang buang air sembarangan, merusak tanaman, apalagi berebut makanan hingga saling caci seperti pada aksi kebhinekaan. Publik hanya bisa geleng kepala dan mengelus dada melihat aksi politik tersebut.

Setiap tahun dalam aksi ini, Muslim berlomba menebar kebaikan. Mulai air minum kemasan, snack, roti, kurma, penganan, hingga nasi bungkus, secara sukarela peserta bagikan kepada peserta lainnya. Semuanya tertib.

Pada pagi berlangsungnya aksi 212, satu keluarga berjalan membawa keresek berisikan beberapa dus brownies. Sang ibu berkata pada suaminya, “Yah, kasih ke itu saja”, seraya menunjuk seorang kakek yang sedang duduk bersila mendengarkan tausiah.

Tanpa ba-bi-bu, anak laki-lakinya mengeluarkan satu dus brownies dari keresek dan memberikannya pada kakek itu. “Jazakallahu khairan katsiran“, ucap kakek berbaju coklat pudar tersebut.

Di sini tak ada orang yang alergi bendera putih dan hitam dengan kalimat Tauhid. Banyak peserta yang membawa bendera ini, tampak riang mengibarkannya, bersanding dengan bendera Merah Putih.

Mengenai penolakan segelintir orang terhadap reuni 212, seorang peserta aksi dari Bandung, menanggapi. “Reuni urang nya kumaha urang. Ibarat jelema sakola, alumni na reunian, nya biasa-biasa weh wajar. Kunaon sakola batur kudu ribut ningali reuni sakola urang, rek dihalang-halang sagala“, katanya dengan logat Sunda kental.

Maksudnya kurang lebih, aksi 212 ibarat sebuah sekolah, bila alumninya selenggarakan sebuah reuni itu adalah hak mereka. Tak perlu alumni sekolah lain permasalahkan apalagi menghalang-halangi penyelenggaraannya.

Beberapa peserta aksi asal Bogor di lokasi mengomentari pengerahan puluhan ribu TNI dan Polri untuk pengamanan reuni 212. “Rasanya sih nggak perlu TNI dan polisi sebanyak itu untuk pengamanan. Aksi kita setiap tahun sudah jelas damai. Kayaknya malah kita yang mengamankan mereka”, kata Agus, setengah guyon.

Kita patut berterimakasih pada aksi ini bukan hanya karena aksinya damai, tapi hitung perputaran ekonominya. Berapa ratus ribu karton air mineral dibeli, berapa ratus ribu orang membeli gamis, berapa juta tiket bis, kereta, pesawat yang terjual PP, makan dan minum di perjalanan/pusat transportasi, donasi hamba Allah pada tukang makanan, bahkan tukang dagang pun menggratiskan jualannya.

Bila dulu ada tuduhan peserta aksi dibayar 500 ribu rupiah, pada reuni ini malah tuduhannya downgrade sekali, kisaran 100 ribu. Tuduhan yang sangat garing. Beli tiket Bandung -Jakarta PP, plus makan minum per orang saja, mencapai setengah juta rupiah. Itu yang “lokal”.

Bayangkan berapa rupiah dihabiskan peserta dari luar Jawa untuk tiket dan penginapan. Bayangkan berapa puluh hingga ratus miliar bila di total perputaran ekonomi dari aksi ini.

Tak semua peserta aksi ini pernah minum di Starbucks. Usai aksi, gerai kopi di stasiun Gambir ini dipenuhi orang-orang berbaju putih. Di lantai atas pojok kafe ini, Hafid, seorang peserta asal Priok mengaku anaknya bekerja di Starbucks.

“Senang bisa ketemu anak saya yang kerja di sini sambil saya ikut reuni 212”, katanya. Meski anaknya bekerja di Starbucks, baru kali itu ia masuk dan minum kopi di sana.

Dan siapa yang paling senang bila roda perekonomian di negara ini berjalan dengan baik? Tentunya pemerintah. Itu mendorong ekonomi negara semakin membaik.

Selain pemerintah, siapa lagi yang senang dengan reuni 212? Tentunya tukang kalender di sekitar Monas. Di bulan Desember, jualan kalender selalu laku keras.

“Ini jajanan paling murah meriah, pak. Kalender dengan foto 212 harga lima ribu perak bisa untuk satu tahun”, selorohnya di depan pintu masuk Monas.

Reuni 212 memang layak diapresiasi. Reuni ini memadukan kesalehan ritual dan sosial. Saat dini hari, mereka shalat tahajud berjamaah dan doa bersama, dilanjut dengan shalat shubuh.

Pagi hingga siang hari mereka dapat mendengarkan tausiah dan saling berbagi kebaikan dengan sesama. Warga non muslim saja turut hadir melihat aksi ini dari dekat, jadi tak ada alasan bagi kita untuk alergi. Penyelenggaraan reuni 212 setiap tahun? Siapa takut.




Sumpah Reuni 212 ke Habib Rizieq: Agar Syariat Allah Berdaulat di RI

Peserta Reuni 212 (Ari Saputra)

Jakarta – Ketua Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath memimpin massa peserta Reuni 212 mengucapkan sumpah di bawah komando Imam Besar Habib Rizieq Syihab. Habib Rizieq dianggap telah memperjuangkan bangsa secara konstitusional.

dikabarkan detikcom, Al Khaththath mengajak mujahid 212 yang siap mengikuti komando Habib Rizieq untuk berdiri. Ia tidak mempermasalahkan apabila ada peserta yang menolak ajakan itu.

“Saya minta semua untuk sumpah berjuang kepada Habib Rizieq. Yang setuju, silakan berdiri. Para tokoh maju ke depan. Yang nggak mau berjuang bersama Habib Rizieq, nggak apa-apa. Mari ikhlaskan diri kita untuk berjuang bersama Habib Rizieq ikuti apa yang saya bacakan,” ujar Al Khaththath di depan massa di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Minggu (2/12/2018).

“Kami para mujahid 212 dengan spirit 212 kami bertekad untuk berjuang bersama komando ulama di bawah pimpinan imam besar umat Islam, Habib Muhammad Rizieq Syihab dalam memperjuangkan aspirasi dan hak-hak umat Islam secara konstitusional dan meninggikan kalimat tauhid demi kejayaan negara kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Para peserta mengikuti apa yang disampaikan Al Khaththath. Mereka siap mengerahkan tenaganya untuk berjuang.

“Untuk itu, kami para mujahid 212 siap berjuang mengerahkan segenap potensi yang kami miliki agar syariat Allah Yang Maha Kuasa berdaulat di NKRI. Semoga Allah SWT menjadi saksi dari apa yang kami ucapkan,” kata Al Khaththath diikuti mujahid 212.




HNW: Tidak Benar Reuni 212 Bahayakan NKRI, Justru Menguatkan

Hidayat Nur Wahid (Samsudhuha Wildansyah/detikcom)

Jakarta – Wakil Ketua MPR Hidayar Nur Wahid (HNW) hadir dalam aksi Reuni 212. Hidayat menegaskan Reuni 212 tidaklah membahayakan NKRI, tapi menguatkan.

“Tokoh-tokoh lintas agama bahkan difabel juga hadir. Mereka sekali lagi menegaskan bahwa di umat Islam itu bagian dari Indonesia tak terpisahkan dari Indonesia, jumlah mereka bisa sangat besar. Mereka memperjuangkan demokrasi, keadilan dengan cara cara dibenarkan, dan mereka tetap dengan NKRI,” tutur HNW di area Reuni 212, Monas, Jakarta Pusat, Minggu (2/12/2108) seperti dilansir dari detikcom.

“Oleh karenanya, tidak benar kalau ini membahayakan NKRI, ini justru menguatkan NKRI, menghormati Bhinneka Tunggal Ika dan terjadi di 212,” imbuhnya.

HNW juga menyinggung mengenai banyaknya umat Islam yang hadir di Reuni 212 namun datang dengan tertib dan damai.

“Mengedepankan prinsip-prinsip penghormatan terhadap sesama bahkan kali ini nonmuslim pun hadir dalam jumlah yang sangat memadai,” ujar HNW.

HNW: kawan-kawan 212 punya sikap politik, bebas dukung siap

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menyebut peserta Reuni 212 sudah punya sikap politik sendiri. Hanya saja dia tidak bisa memastikan siapa yang didukung massa 212 di Pilpres 2018.

“Pada hakekatnya memang kawan-kawan di 212 dari dulu mempunyai sikap politik. Dulu sikap politiknya mereka mendukung Pak Anies Baswedan, sekarang mereka punya sikap politik yang bebas mendukung siapa,” ujar HNW di area Reuni 212, Monas, Jakarta Pusat, Minggu (2/12/2108).

HNW menjelaskan, tak ada larangan apabila massa 212 ingin mendukung Prabowo selaku calon presiden. Begitu pun jika ingin mendukung yang lain. Wakil Ketua Majelis Syuro PKS ini menegaskan, kehadiran Prabowo di Reuni 212 bukan untuk meminta dukungan.

“Kalau mereka mendukung Pak Prabowo ya itu adalah hak mereka untuk memberikan dukungan. Yang jelas Pak Prabowo nggak kampanye dan tidak menyampaikan permintaan untuk didukung dan beliau hadir karena diminta untuk memberikan sambutan, dan beliau datang karena diundang panitia,” jelasnya.

HNW berharap, Reuni 212 hari ini bisa berjalan lebih tertib dari tahun-tahun sebelumnya. Jangan sampai ada sesuatu masalah yang bisa ‘digoreng’ oleh pihak lain.

“Tertib, damai, bersih dan nggak ada masalah yang kemudian bisa menjadi sesuatu yang digoreng oleh siapapun,” tutur politisi PKS ini. Seperti diketahui, PKS merupakan salah satu parpol yang mendukung Prabowo untuk Pilpres 2019.

sumber: detikcom     Editor: Faisal




Habib Rizieq Serukan Amanat Perjuangan untuk Perubahan, Ini Isinya

Foto: Seruan Habib Rizieq Jelang Reuni 212 (Youtube Front TV)

Jakarta – Rekaman pidato Habib Rizieq diputar dari panggung Reuni 212. Dalam rekaman pidatonya, Habib Rizieq menyerukan amanat perjuangan di Pemilu 2019.

“Ini amanat perjuangan bukan kampanye. Ini amanat perjuangan bukan propaganda. Ini amanat perjuangan untuk perubahan, ini amanat perjuangan bukan politisasi reuni,” kata Habib Rizieq mengawali amanat perjuangannya seperti dilansir melalui detikcom, Minggu (2/12/2018).

Habib Rizieq lalu bicara soal amanat perjuangan untuk perubahan. Habib Rizieq meminta peserta Reuni 212 untuk fokus dan serius berjuang demi perubahan.

“Ayo di Pilpres dan Pileg 2019, kita wajib berjuang bersama untuk perubahan,” kata Habib Rizieq. Pernyataan itu diulang hingga tiga kali.

Habib Rizieq meminta amanat perjuangan untuk perubahan ini diserukan ke seluruh pelosok negeri, dari perkotaan hingga pedesaan. Di ujung pidatonya, Habib Rizieq menyerukan 2019 ganti presiden.




‘Perlawanan’ ala Anak Punk di Reuni Aksi 212

“Perlawanan dan kebebasan tanpa agama sama saja kayak binatang. Jadi, Punk Muslim itu perlawanan dan kebebasan didampingi dengan agama”

Reuni Aksi 212. (CNN Indonesia/Fachri Fachrudin).

Jakarta — Iip Kiswaryadi tampak bersemangat membagikan mie instan yang sudah matang kepada massa Aksi Reuni 212, meskipun waktu telah menunjukkan lebih dari pukul 00.00 WIB.

Dengan ramah, pria yang sebelumnya bergelut sebagai ‘anak punk’ sejak tahun 1996 itu asyik melayani massa yang sudah mengantre panjang.

Iip tak sendirian. Ada sepuluh orang ‘anak punk’ lainnya yang ikut Reuni Aksi 212. Mereka membantu kawan-kawan dari Gerak Bareng Community untuk membagikan makanan.

Dikabarkan CNN Indonesia, bagi pria yang kini menjabat sebagai koordinator Komunitas Punk Muslim, Reuni Aksi 212 menjadi ajang menambah pahala. Karena dirinya bisa ikut membantu memberikan bantuan, meskipun hanya lewat tenaga.

“Kami gabung dari teman-teman Gerak Bareng. Mereka sediakan logistik. Kalau teman-teman Punk Muslim, kami bantu tenaga,” ujar Iip di sela kesibukannya di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (2/12).

Iip mengatakan Punk Muslim dan Gerak Bareng Community memang sudah mempersiapkan hal ini sejak seminggu lalu. Bersama-sama, kedua komunitas ini menempati salah satu tenda yang ada di Monas.

Iip mengaku sudah tidak asing dengan kegiatan tersebut meski anggapan tentang dirinya sebagai anak punk dianggap negatif.

Tertarik Mendalami Agama

Iip mengaku mulai tertarik dengan agama sejak 2007. Kala itu, almarhum Budi Khoironi yang merupakan sahabatnya memiliki keinginan membawa Punk ke arah yang lebih baik. Walaupun berjiwa bebas dan memberontak, namun tidak jauh dari nilai-nilai agama.

Iip mengaku selalu diberikan pencerahan oleh Budi. Sampai kemudian dirinya pun merenungkan ajakan Budi dan memilih berhijrah tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai anak Punk.

“Setahun lah saya terus memikirkan dan ngikutin perkataan Budi, baru menyatakan gabung komunitas,” kata dia.

Di komunitas Punk Muslim, Iip mengatakan dirinya mendapatkan banyak pelajaran soal agama. Salah satu yang paling berharga, kata dia, adalah kesabaran dalam mendapatkan rezeki.

Iip menceritakan kala hidup di jalanan tiada hari tanpa emosi karena lingkungan yang keras memaksanya melawan dengan arogan.

Ketika mengamen, misalnya. Kata Iip, dirinya tak segan-segan mengumpat bahkan memukul warga yang tak memberinya uang. Tapi, kata Iip, itu dulu ketika dirinya belum mengenal agama.

Saat ini, meskipun situasinya semakin sulit terlebih bus kota mulai tergantikan dengan Transjakarta, Iip tidak takut rezekinya akan ikut mati juga.

Ia mengatakan dirinya masih bisa mengamen ke rumah-rumah warga atau pasar untuk mendapatkan rezeki.

Meskipun harus berjalan lebih jauh dibandingkan naik turun bus kota, namun kata Iip, dirinya merasa mendapatkan rezeki yang cukup.

“Enggak emosi lagi. Kita kan sudah dituangin (diajarin) agama sama ustaz kita. Jadi mengerti lah. Enggak usah takut rezeki seret, bergerak saja. Yang pentingnya kita berusaha saja,” ucap Iip.

Iip mengatakan, kini kesibukannya sehari-hari tak hanya mengamen. Sesekali ia menyambangi kawan-kawannya sesama anak jalanan di bilangan Tebet, Jakarta Selatan atau Depok, Jawa Barat. Di sana, Iip menyampaikan Dakwah.

Iip mengaku salah satu alasannya melakukan ini untuk meneruskan niat Budi, sang sahabat. Bagi Iip, Punk sedianya tak jauh dari agama.

“Perlawanan dan kebebasan tanpa agama sama saja kayak binatang. Jadi, Punk Muslim itu perlawanan dan kebebasan didampingi dengan agama,” kata Iip




Ribuan Warga dari Berbagai Penjuru Tanah Air Berdatangan ke Jakarta Hadiri Reuni Akbar 212

Detikriau.org – Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru kota di Tanah Air terus berdatangan ke Ibukota untuk menghadiri reuni akbar mujahid 212 di kawasan Monumen Nasional, Minggu (2/12).

Dari Soloraya, warga berangkat ke Jakarta menggunakan 45 bus.

Warga berangkat dari beberapa lokasi di antaranya titik Masjid Baitul Amin Cemani, Masjid Baitussalam Tipes, Laweyan juga Masjid Agung Karanganyar.

Humas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Endro Sudarsono mengatakan hampir seribu elemen umat Islam dari Soloraya berangkat dengan menggunakan bus ke Jakarta.

“Kami dari LUIS berangkat satu bus dari Masjib Baitusaalam. Sedangkan total bus dari Solo Raya yang berangkat ke Jakarta ada sekitar 45 bus. Sebagian lagi, sudah berangkat kemarin dengan menggunakan kereta dan mobil pribadi,” jelas Endro, sseperti dilansir dari RMOL.co, Sabtu (1/12).

Tujuan dari Reuni Aksi 212 ini, ungkap Endro sebagai ajang silaturahmi sekaligus konsolidasi nasional umat Islam untuk perlawanan terhadap penista agama dan pembelaan terhadap tauhid. Tidak ada kaitannya dengan kepentingan apapun termasuk kepentingan politik.

“Harapannya pemerintah harus mendengar dan menangkap aspirasi umat Islam terkait isu sensitif di masyarakat khususnya terkait SARA,” tegas Endro.

Di samping itu ratusan umat Islam Karanganyar yang tergabung dalam Aliansi Ummat Islam Karanganyar (AUIK) juga dipastikan hadir di Reuni 212. Rombongan berangkat dari halaman Masjid Agung Karanganyar dengan menggunakan sembilan bus. Rombongan sebelumnya berkumpul di Solo untuk selanjutnya menuju ke Jakarta bersama-sama.

Koordinator lapangan, Fadlun Ali berpesan kepada seluruh rombongan untuk tertib, Dalam satu komando. Peserta dilarang membawa senjata tajam dan diminta tidak terprovokasi.

“Semuanya jangan terprovokasi, tetap satu komando dan jangan membawa senjata tajam. Ingatlah untuk menjaga nama baik Karanganyar,” pesannya

Dari Pulau Sumatra, rmol.co juga mengabarkan sekitar seribu warga dari Lampung telah berangkat ke DKI Jakarta untuk menghadiri Reuni Akbar Mujahid 212

Namun, dalam perjalanannya banyak peserta yang terpaksa berdiri lantaran bus yang sebelumnya disewa tiba-tiba membatalkan keberangkatan.

“Karena kurangnya bus akibat pembatalan mendadak dari pihak bus,” kata Ustaz Luthfi dari Yayasan Dewan Dakwah yang ikut rombongan kepada Kantor Berita RMOLLampung., Sabtu (1/12).

Para peserta dari berbagai kabupaten, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia.

Salah seorang di antaranya Slamet Riyadi (76), terpaksa tidak berangkat menggunakan bus.

Sebagian peserta kemudian memutuskan naik kendaraan pribadi dan pesawat. Rombongan berangkat pukul 14.30 WIB.

“Saat ini, kami sudah berada di Dermaga Bakauheni,” ujar Ustad Luthfi pada pukul 19.00 WIB. Dia perkirakan tiba di Jakarta, tengah malam

Bakrun Satia Darma, seorang warga yang dihubungi RMOLSumsel warga Lahat menyampaikan yang pasti ikut dalam reuni mencapai 850-an orang. Seluruhnya datang secara bergelombang ke Jakarta.

“Ada yang menggunakan bus, mobil pribadi, dan ada pakai pesawat,” tulisnya melalui pesan singkat Whatsapp, Sabtu (1/12).

Menurut Bakrun, berangkat secara bergelombang dan terpisah untuk hindari kemungkinan ada razia di jalan.

Bakrun menegaskan, keikutsertaan warga Lahat pada reuni 212 ini murni ukhuwah, tak ada politisasi dan semua biaya pribadi.

Kawasan Monas Mulai Ramai

Sejak pukul 19.00 WIB, Sabtu (1/12), menjelang dimulainya acara Reuni 212 pada Minggu 2 Desember 2018 pukul 03.00 dini hari nanti, kawasan Monumen Nasional (Monas) mulai dipadati oleh peserta reuni.

Massa mulai memasuki kawasan Monas melalui pintu gerbang timur. Saat ini hanya satu pintu yang dibuka.

Teriakan takbir.. Allahuakbar saling sahut menyahut. Para pedagang di kawasan Monas mulai menyambut kedatangan peserta dengan cara menawarkan aneka barang daganganya. Mulai dari sajadah, kopiah hingga terlihat laris dibeli peserta.

Menurut rencana, acara Reuni 212 akan diawali shalat subuh berjamaah. Selanjutnya dilanjutkan dengan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sumber: rmol.co    Editor: faisal