Ratusan jam, tas dan ribuan perhiasaan triliunan rupiah disita dari rumah mantan PM Malaysia
Istri mantan PM Malaysia, Rosmah Mansor dan suaminya akan ditanyai terkait berbagai barang sitaan tersebut. foto: reuters
Polisi Malaysia menyita barang mewah dari tempat tinggal mantan perdana menteri Najib Razak senilai lebih US$270 juta atau Rp3,8 triliun.
Para pejabat menggambarkan operasi ini sebagai penyitaan terbesar dalam sejarah Malaysia.
Petugas menghabiskan waktu satu bulan untuk menghitung nilai berbagai barang tersebut. Polisi negara itu akan segera memanggil Najib dan istrinya Rosmah Mansor untuk ditanyai.
“Kami akan segera memanggil mereka (Najib dan Rosmah). Kami harus memastikan apakah ini hadiah dari orang lain, dan jika memang begitu, dari siapa hadiah ini berasal,” kata pejabat polisi kejahatan niaga Amar Singh seperti dilaporkan kantor berita Reuters.
Dalam daftar barang sitaan di antaranya terdapat lebih 400 jam, 567 tas tangan dan 12.000 perhiasaan termasuk sebuah kalung senilai lebih US$1.000.000 atau Rp14 miliar.
Lewat sebuah wawancara dengan Reuters, Najib mengatakan sebagian besar barang yang disita dari sejumlah rumahnya adalah hadiah yang diberikan kepada istri dan anak perempuannya, jadi tidak ada hubungannya dengan 1MDB.
Menantu laki-lakinya, Daniyar Nazarbayev, yang adalah keponakan Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev, juga menghadiahkan sejumlah tas kepada Rosmah.
Sementara uang kontan yang ditemukan di kediamannya adalah milik partai politiknya.
Lembaga 1MDB atau 1Malaysia Development Berhard, dibentuk oleh pemerintah pimpinan PM Najib Razak pada tahun 2009 dengan tujuan utama mendorong pertumbuhan ekonomi Malaysia.
Diduga Najib, keluarganya dan kroni-kroninya menyalahgunakan dana di badan ini.
Aparat penegak hukum di Amerika Serikat menduga dana senilai US$4,5 miliar, setara dengan Rp63,8 triliun dicuri dari 1MDB dan dikirim ke Amerika, antara lain untuk membiayai film Hollywood dan membeli karya-karya seni, termasuk lukisan Monet dan Van Gogh.
Diduga pula ada aliran dana sebesar US$681 juta, atau sekitar Rp9,6 triliun, ke rekening pribadi Najib Razak menjelang pemilihan umum tahun 2013 lalu.
Oposisi Malaysia Menang, Mahathir Jadi PM Tertua di Dunia
Photo : Reuters
detikriau.org – Gabungan oposisi Malaysia, yang dipimpin mantan perdana menteri Mahathir Mohamad, berhasil meraih kemenangan bersejarah dalam pemilihan umum Malaysia.
Sebagaimana dikutip dari laman BBC News Indonesia, Kamis 10 Mei 2018, hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum memperlihatkan aliansi gabungan oposisi Pakatan Harapan dan satu partai di negara bagian Sabah, meraih 115 kursi parlemen atau melewati ambang mayoritas 112 kursi.
Dengan demikian, oposisi yang akan membentuk pemerintahan dan Mahathir Mohamad akan menjadi perdana menteri tertua di dunia pada usia 92 tahun.
Kepada para wartawan Mahathir mengungkapkan, harapannya bahwa akan ada upacara pengambilan sumpah pada Kamis, dan akan mengumumkan hari libur nasional.
Dia berhasil mengalahkan Perdana Menteri Najib Razak, yang dibayang-bayangi dengan skandal keuangan badan investasi milik negara, 1MDB, walau Najib berulang kali membantahnya.
Hasil ini jelas menjadi sejarah dalam politik Malaysia, yang sekitar 60 tahun belakangan dikuasai oleh koalisi Barisan Nasional, yang sebelumnya merupakan kubu Mahathir Mohamad.
“Kami tidak mengupayakan balas dendam, kami ingin memulihkan penegakan hukum,” kata Mahathir kepada para wartawan, saat menyatakan kemenangannya.
Peran utama Mahathir
Kemenangan oposisi ini jelas, tidak bisa dilepaskan dari peran Mahathir Mohamad, seperti dijelaskan oleh Ibrahim Suffian dari lembaga jajak pendapat umum, Merdeka Centre.
“Dia memberikan keyakinan kepada pengundi (pemilih), di mana pengundi yang sebelum ini mungkin takut-takut dan juga dipengaruhi oleh identitas politik, namun kini berani melakukan perubahan dan terus memilih calon-calon Pakatan Harapan,” kata Ibrahim.
Masalahnya adalah Mahathir adalah tokoh masa lalu yang amat berperan dalam pembentukan koalisi pemerintah Barisan Nasional. Namun, Ibrahim menegaskan, pemerintahan hasil pemilu kali ini akan berbeda.
“Pada waktu ini, koalisi yang dipimpin Dr Mahathir adalah terdiri dari berbagai partai dan tidak ada yang memiliki mayoritas yang dominan, jadi mereka bergerak dalam satu partnership (kemitraan) yang lebih equal (seimbang).”
Sementara itu, sebelumnya Barisan Nasional praktis didominasi oleh UMNO.
Sebelum pemilihan umum ini, diperkirakan bahwa jika menang Mahathir Mohamad akan memerintah untuk sementara waktu, sebelum menyerahkan kekuasan kepada Anwar Ibrahim, yang kini masih dipenjara.
“Yang kita lihat bahwa terdapat persetujuan, di mana beliau mungkin akan memimpin selama dua tahun dan selepas itu akan diserahkan kepemimpinan kepada orang yang lain. Jadi, kita lihat ini merupakan suatu proses transisi yang akan berlaku.”
“Ini adalah suatu perkara yang baru, tidak pernah ditemui masyarakat Malaysia. Jadi, perubahan yang kira saksikan ini merupakan perkara yang begitu unprecedented (belum pernah ada sebelumnya),” tegas Ibrahim.
Dalam pemilu kali ini, Mahathir memang bergabung dengan mantan wakilnya, Anwar Ibrahim, yang dulu pernah ‘dipenjarakannya’ dengan tuduhan sodomi.
Anwar—yang sebelum kehadiran Mahathir merupakan tokoh oposisi utama—hingga kini masih dipenjara, karena dinyatakan terbukti bersalah dalam dakwaan sodomi yang kedua.
Yakin menang
Sebelum hasil akhir resmi dihitung, Mahathir sudah memperlihatkan keyakinan bahwa oposisi akan meraih kemenangan.
“Kami yakin bahwa berdasarkan penghitungan resmi kami, mereka tertinggal. Kemungkinan mereka tidak akan membentuk pemerintahan,” kata Mahathir kepada para wartawan.
Dikatakan oleh Mahathir bahwa berdasarkan pengumpulan data yang dilakukan Pakatan Harapan, koalisi oposisi itu seharusnya sudah dapat membentuk pemerintahan, tetapi Komisi Pemilihan menolak meneken formulir pengesahannya sebagai syarat pengumuman hasil penghitungan resmi.
Selain memilih anggota parlemen nasional, pemilihan umum Malaysia juga menentukan wakil-wakil rakyat di tingkat negara bagian. Partai atau gabungan partai yang menang untuk pemilihan negara bagian maka ia akan memerintah negara bagian itu.
Najib Razak menghadapi berbagai masalah, termasuk dugaan korupsi, keluhan warga atas kenaikan biaya hidup dan ketegangan antaretnik. Koalisi Barisan Nasional memerintah sejak tahun 1957 dan belum pernah kalah sejauh ini.
Pencoblosan pada umumnya berjalan lancar, meskipun muncul laporan-laporan tentang dugaan terjadinya penyimpangan.