PENJUALAN DIATAS HET, PERINDAG AKAN TINDAKLANJUTI

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Hasil pantauan yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bersama Komisi II DPRD Inhil di dua Kecamatan (Concong dan Kuindra .red), didapati penjualan BBM jenis solar dilakukan jauh diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. Untuk ini, Kadisperindag janji akan menindaklanjuti.

 

“Benar, dari hasil pantauan kita bersama komisi II DPRD Inhil baru-baru ini, kita temukan penjualan minyak solar yang dilakukan pangkalan jauh diatas HET yang ditentukan. Kita akan coba pelajari dimana letak salahnya. HET-nya yang tidak relevan lagi dengan kondisi dilapangan atau memang ada permainan dari pangkalan-pangkalan itu sendiri” Sebut Rudiansyah ketika dimintai komfirmasi diruang kerjanya, Rabu (23/5)

 

Secara aturan, dijelaskan oleh mantan Staff Ahli Bupati bidang Ekonomi dan Keuangan ini, pangkalan hanya dibenarkan melakukan stok minyak maksimal 6000 liter, kalau lebih dari itu, ijinnya Gubernur yang berikan.

Mungkin saja menurut Rudiansyah lagi, karena jarak yang mereka tempuh cukup jauh ke APMS, menyebabkan biaya tranportasi besar dan terpaksa menaikan harga jual kepada masyarakat. “Yang jelas, kita punya daftar di APMS mana mereka mengambil, kita akan hitung jarak tempuh mereka untuk mengetahui biaya tranportasi sebenarnya yang dibutuhkan dan kita akan pelajari dimana titik persoalannya,”papar  Rudiansyah.

 

Ketika dipertanyakan detikriau.org mengenai pernyataan dari salah seorang pemilik pangkalan di Kecamatan Concong luar yang menyebutkan bahwa pembelian mereka pada APMS memang sudah diatas HET dan bahkan sejak dulu menurutnya disperindag juga mengetahui ditambah masyarakatpun tidak keberatan, Rudiansyah sempat terkejut dan untuk itu ia menyatakan akan mempertanyakan kebenaran pernyataan pengusaha pangkalan ini.

 

”Masyarakat keberatan atau tidak saya rasa bukan itu persoalannya. HET itu merupakan hak masyarakat untuk mendapat jaminan harga tidak dipermainkan seenaknya. Kita akan pertanyakan pernyataan mereka ini, apa benar seperti itu. Sedangkan apabila disebut disperindag mengetahui mereka menjual diatas HET, saya bantah hal ini. Secara pribadi saya tidak tau karena saya memang baru beberapa bulan ini duduk sebagai kadisperindag.” Pungkas Rudiansyah.(fsl)




TEKAN KENAIKAN HARGA SOLAR, PERINDAG AKAN RELOKASI APMS.

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Indragiri Hilir (Kab. Inhil) nyatakan akan melakukan penataan kembali letak Agen Premium Minyak Solar (APMS). Penataan ini dimaksudkan agar keberadaan APMS mudah dijangkau oleh masyarakat.

Dijelaskan Kadisperindag Inhil, H. Rudiansyah, dari 20 Kecamatan se Kab. Inhil saat ini hanya terdapat 10 AMPS dan letaknya tidak proporsional.” Dari 10 AMPS, 4 berada di Kecamatan Tembilahan. Bahkan seperti APMS Tanjung Raja Perkasa, APMS yang berada di Kecamatan Kateman ini juga mengakomodir kebutuhan solar di 5 Kecamatan (Kateman, Pelangiran, Teluk Belengkong, Pulau Burung dan Mandah. Red). Akibatnya, tentu akan berpengaruh kepada harga jual dikarenakan adanya tambahan biaya tranportasi yang cukup besar.”Ujar Rudiansyah saat dimintai komfirmasi diruang kerjanya, Rabu (23/5)

Menurut Rudiansyah lagi, sesuai ketentuan, APMS diharuskan juga untuk melakukan penjualan secara eceran kepada masyarakat. Suplay BBM langsung diantarkan pertamina sampai ke APMS.”ini yang menjadi dasar kita untuk menata kembali letak keberadaan APMS-APMS agar lebih proporsional dalam mensuplai kebutuhan solar disemua kecamatan di Inhil.”Selama ini kita melakukan perhitungan Harga Eceran Tertinggi (HET) dengan titik awal di Tembilahan, artinya, penambahan jarak tertentu akan dibebankan juga tambahan biaya dalam rupiah tertentu. Perhitungan seperti ini tentunya akan berakibat penambahan biaya akan semakin besar untuk daerah-daerah yang jauh dari Tembilahan. Dengan pertamina melakukan suplay solar sampai di APMS, tentunya untuk menghitung penambahan biaya penentuan HET cukup kita hitung dari titik dimana APMS itu berada. Kalau letak APMS tidak terlalu jauh, tentunya HET yang akan kita tetapkan juga tidak akan berbeda jauh dengan harga resmi yang ditetapkan pertamina. Artinya, masyarakat akan mendapatkan kebutuhan solar dengan harga yang wajar.”Terang Rudiansyah.

Untuk merelokasi APMS tentu tidaklah mudah. Memindahkan letak usaha berarti diperlukan penambahan investasi baru. Makanya ditambahkan Rudiansyah rencana ini akan coba dilakukan secara bertahap.(fsl)




PERASAAN RINDU PADA SIBUAH HATI JADIKAN PENCIPTA BATIK INDRAGIRI.

Badri bangga berfose dilatarbelakangi beberapa motif batik buah karyanya.

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Rasa rindu yang begitu mendalam terhadap sibuah hati membuat pria paruh baya kelahiran Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur ini melangkahkan kaki ke sebuah Kabupaten yang begitu jauh dari kampung halamannya. Dirinya sama sekali tidak pernah menduga, rasa rindu itu akhirnya merubah jalan hidupnya. Dari seorang tenaga pengajar disebuah pesantren, kini Badri (54)  bergelut di dunia konveksi yang belakangan lebih fokus pada batik yang dikenal sebagai Batik Indragiri.

Tahun 2006, Badri meninggalkan tanah kelahiran, Tuban menuju kota Guntung Kecamatan Kateman untuk menemui dua orang anaknya yang bekerja disebuah perusahaan perkebunan. Setelah bertemu, Badri merasa tidak ingin lagi terpisah jauh, ia bertekad tinggal di Kabupaten Inhil dan membuka usaha. Dengan modal keahlian dibidang konveksi, ia menilai kota guntung bukan tempat yang tepat “Saat itu ada 2 pilihan, di jambi atau di Tembilahan. “Nama kota Tembilahan terasa asing ditelinga saya dan justru saat itu hati saya jadi tertarik dan memutuskan untuk meninjau sendiri,”Ujar Badri.

Tampak beberapa pekerja sedang sibuk menyelesaikan pesanan pakaian batik.

tanggal 14 maret 2006 sekira jam 11.00 Wib ia tiba di ibukota kabupaten, Tembilahan. Karena memang tidak ada sanak family, ia mengaku sempat terkatung-katung selama 3 hari dan akhirnya ditolong seorang TNI yang memberinya  tempat berteduh.

Melanjutkan niat, setelah beberapa usaha, langkah kaki Badri dituntun untuk mendatangi Dinas perindustrian dan perdagangan Inhil.  dikantor ini ia bertemu dengan pak Masdjuri Hasan.”waktu itu Pak Masdjuri menjabat kepala dinas. pengalaman dan keahlian saya dibidang konveksi ternyata mendapat penilaian positif dan diberi kesempatan untuk menjadi tenaga pengajar di Balai latihan Kerja serta diberikan tempat tinggal.”Ucapnya.

Beberapa bulan bertempat tinggal di BLK dan setelah istri ikut menyusulnya ke Tembilahan, ia pindah ke jalan Padupai dan memulai membuka usaha konveksi.”Tapi  dipadupai saya hanya sanggup bertahan selama 1,5 tahun karena biaya sewa diluar kemampuan keuangan. dari sisa uang yang ada, saya membeli sebidang tanah di jalan tanjung harapan dan mendirikan pondok tempat tinggal sekaligus sebagai tempat usaha.

CIPTAKAN 12 MOTIF BATIK KHAS INDRAGIRI

Ditempat usaha baru yang diberinama Citra Batik Tulis dan Printing “ANUGRAH MANDIRI”  ia mulai menekuni pakaian Batik. Dibidang konveksi, Badri pernah dua kali menerima penghargaan. Pertama ia berhasil meraih peringkat ke-2 piagam Adikarya Sandang di tingkat Kabupaten  dan kedua mendapat nominasi harapan I di tingkat Provinsi Riau.”Masuk nominasi, saya diundang oleh Ibu Gubernur ke Pekanbaru. Saat itu kepada Ibu Gubernur saya pernah berjanji untuk membuatkan motif batik khas Inhil dan akhirnya janji itu saya penuhi.”Ceritanya dengan logat jawa yang masih kental.

Badri mengaku sudah menciptakan 12 motif Batik khas Inhil. Motif-motif batik itu dinamainya, Mayang terurai, Pakis Bertalut, Buah Pidada, Ratapan Daun Bakau, Umbut Kelapa dan Kiambang yang terbagi lagi dalam beberapa nama. Salah satunya, Kiambang Bergelombang menurut Badri dinamai sendiri oleh Istri Bupati Inhil.”Sekarang saya banyak mengerjakan pakaian seragam batik untuk sekolahan. Kualitas saya jamin bagus dengan harga bersaing. Untuk bahan batiknya saya patok  harga dikisaran 23 – 27 ribuan. Tapi kalau dalam partai besar cukup dengan harga Rp. 18 ribu perpotongnya. Untuk yang sudah jadi, pakaian batik anak setingkat SD saya jual seharga Rp. 40 ribu dan setingkat SMP dengan harga jual Rp. 55 ribu. baju batik lengan pendek maupun panjang harganya sama saja.”Jelas Badri sambil berpromosi.

Badri mengaku ia juga pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah Kabupaten Inhil, dari Dinas Perindag ia mendapatkan bantuan peralatan konveksi dan kemudian dari Dinas Sosial ia mendapatkan satu set peralatan apdruk plus 1 set komputer. Kini anak-anaknya semua diboyongnya ke Tembilahan. Putri tertua, Novi Sulistiani ikut membantu usahanya bersama 17 orang tenaga kerja lainnya, putranya kini menjadi tenaga honorer di Dekranasda dan sibungsu masih bersekolah di Madrasyah Tsanawiyah. (fsl)