Tiga Kasus Kaki Gajah Kembali Ditemukan

kaki gajahTEMBILAHAN (www.detikriau.org)– Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) kembali menemukan tiga kasus penyakit kaki gajah di Kecamatan Enok. Dengan demikian secara total terdapat 69 penderita kaki gajah yang tersebar di berbagai daerah di Inhil.

Kepala Dinas kesehatan Inhil Rasul Alim, menyebutkan sejauh ini untuk mengetahui seberapa banyak kasus kaki gajah di Inhil, pihaknya terus melakukan sweeping ke rumah-rumah masyarakat. Inhil sendiri kata mantan Direktur RSUD Puri Husada Tembilahan merupakan daerah endemis penyakit kaki gajah.

“Saat ini program pemberian obat missal filariasi masih terus berlanjut. Satu persatu rumah warga kami datangi untuk menemukan kasus ini,”sebut Rasul, Rabu (27/2).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Inhil, penyakit kaki gajah ini tersebar di delapan kecamatan di Inhil. Diantaranya adalah Kecamatan Batang Tuaka, Mandah, Pelanggiran, Kemuning, Tempuling, Gaung Anak Serka (GAS), Kuala Indragiri (Kuindra), Pulau Burung dan terahir Kecamatan Enok.

“Sebelumnya hanya delapan kecamatan yang kita temukan kasus ini, tapi setelah dilakukan pemberian obat massal filariasis ditemukan lagi tiga kasus serupa yakni di Kecamatan Enok,”katanya. Dia yakin masih ada kasus demikian diberbagai daerah di Inhil, hanya saja belum ditemukan.

Ia juga berpesan jika ditemukan penyakit yang menyerupai dengan penyakit kaki gajah, masyarakat diminta untuk segera melaporkanya kepada petugas kesehatan terdekat. Karena keterlibatan dan peran serta masyarakat tidak bisa ditinggalkan dalam menjaga kesehatan dan lingkungan,”imbuhnya.(dro/*1)




Warga Berhak Dapatkan Pelayanan Kesehatan

Bupati Inhil, Dr H Indra Muchlis Adnan bersama Sekda dan Ketua TP PKK menghadiri kegiatan festival seni tradisional di Gedung Engku Kelana Tembilahan, beberapa waktu laluTEMBILAHAN(www.detikriau.org)–  Seluruh warga berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Erat kaitannya dengan hal tersebut, Bupati Indragiri Hilir menegaskan kepada semua tenaga medis supaya memberikan pelayanan yang baik.

Dr H Indra Muchlis Adnan meminta agar pelayanan yang diberikan maksimal. Utamanya untuk warga pedesaan yang jauh dari pusat keramaian. Tenaga kesehatan setempat selayaknya memenuhi harapan warga.

Pustu dan Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan diminta selalu siap sedia memberikan pelayanan yang dibutuhkan warga. Keluhan yang disampaikan warga, menurut Bupati harus disikapi secara baik. “Kita ingin seluruh warga kita mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Karena itu sudah menjadi hak masyarakat” tegas Bupati.

Jika pada awal masa kepemimpinannya, masih terjadi kasus KLB malaria. Saat ini, dengan makin majunya ilmu pengetahuan. Indra Muchlis Adnan berharap tidak lagi terjadi hal demikian. Sehubungan dengan hal itu, orang nomor satu di Bumi Sri Gemilang tersebut meminta semua tenaga kesehatan giat melakukan sosialisasi perlunya pengobatan medis.

Manakala ada warga yang masih mengutamakan pengobatan medis dalam mengobati penyakitnya. Disarankan kepada tenaga kesehatan terdekat melakukan pendekatan supaya warga sadar perlunya pengobatan medis. “Sudah menjadi kewajiban kita semua, supaya seluruh warga Inhil dapat sehat dan menikmati hidup yang berkualitas”ujar Bupati.

Indra Muchlis Adnan juga meminta warga selekasnya mengonsumsi obat anti filariasis yang telah disebarkan tenaga medis. Obat dimaksud ditegaskan harus dimakan satu kali dalam setahun, selama lima tahun berturut-turut. Tujuannya supaya kelak warga Inhil tidak ada lagi yang mengidap penyakit kaki gajah.(dro/**)




Diskes Beri Obat Massal Pencegahan Filariasis

TEMBILAHAN (www.detikriau.org)– Sebagai komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) memberikan obat massal pencegahan filariasis di Kecamatan Gaung.

 

Kepala Dinas Kesehatan Inhil, H Rasul Alim, menyatakan bahwa Inhil, ditetapkan kabupaten daerah Endemis filariasis atau yang sering disebut penyakit kaki gajah. Sehingga perlu dilakukan pemberian obat secara msssal. Maka dari itu, momen MTQ tingkat kabupaten tahun ini bisa dijadikan sebagai ajang sosialisasi dan pencanangan pemberian obat massal filariasi untuk tingkat Kecamatan Gaung.

 

“Dari dua puluh kecamatan di Inhil, Gaung merupakan kecamatan pertama yang kita lakukan pemberian obat massal dan sosialisasi filariasis,” jelas Rasul, kemarin.

 

Setelah kecamatan Gaung baru dilanjutkan kepada kecamatan berikutnya secara bertahap sesuai program yang sudah ditetapkan.

 

“Sasaran pemberian obat filariasis ini diberikan bagi seluruh penduduk sejak usia dua tahun sampai dengan 60 tahun. Sedangkan penduduk yang berusai dibawah dua tahun, ibu menyusui, ibu hamil dan mereka yang sakit pemberiannya ditunda,” pungkas mantan Direktur RSUD Puri Husada Tembilahan ini.

 

Saat ditanya mengenai target pemberian obat massal dan sosialisasi filariasis di Inhil, Rasul menyebutkan tidak ada target yang mengikat. Namun pihaknya memiliki program demi suksenya pencegahan filariasis di Negeri Serbu Jembatan. “yang pasti program yang sudah kita agendakan untuk pemberian obat massal kita mulai sejak 12 November  hingga 12 Desember 2012 mendatang,” Tutupnya.(dro/*1)




Masyarakat Inhil dibawah Ancaman Serangan Filariasis

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) — Berdasarkan data Direktorat pengendalian penyakit bersumber binatang Direktur Jendral (Ditjen) pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan Kementrian Kesehatan (kemenkes) Republik Indonesia (RI), Kabupaten Indragiri Hilir masuk sebagai daerah endemis dari 334 Kab/Kota se Indonesia tempat berkembang biaknya semua jenis nyamuk yang dapat menyebabkan penyakit kaki gajah.

Dalam rapat Koordinasi Lintas Sektor di Kab. Inhil dalam rangka Advokasi dan Sosialisasi Program Eleminasi Filariasis (penyakit Kaki Gajah), Kamis (1/11) di Aula gedung Kantor Bupati Inhil, Seluruh penduduk di Kab. Inhil mulai usia 2 hingga 65 tahun diwajibkan untuk meminum obat anti filariasis secara massal. Obat ini sebagai obat untuk membunuh cacing filaria yang terdapat didalam tubuh manusia yang disebarkan melalui gigitan nyamuk.

di kabupaten indragiri hilir, berdasarkan data ditjen pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan kemenkes RI, sejak tahun 2010 lalu, sebanyak 120 orang telah terkena wabah filariasis/ penyakit kaki gajah.

“Tadi kita sudah menandatangani kesepakatan antara pemerintah dan DPRD Inhil untuk mendukung kegiatan ini. Saat ini jumlah penderita sudah menunjukkan angka yang cukup fantastis, sudah ratusan. Apa yang kita jalankan saat ini tidak sekedar melakukan sosialisasi  tetapi langsung melakukan upaya pencegahan dan pengobatan penyakit filariasis ini terhadap masyarakat,” Tegas Bupati Inhil, Indra M Adnan ketika dimintai komfirmasi usai kegiatan, kamis (1/11)

Menurut Bupati, saat ini yang menjadi masalah bukannya penderita filariasisnya tetapi masyarakat lainnya yang belum terjangkit. Dikhawatirkan, dari data yang ada, penyakit ini cukup menjadi ancaman bagi masyarakat Inhil. makanya perlu memberikan dukungan penuh untuk kegiatan ini dan ini juga menjadi tugas wartawan untuk mensosialisasikannya agar mendapat respon dan dukungan penuh dari masyarakat.” Tegas Bupati.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (diskes) di Kabupaten Indragiri Hilir, penderita filiariasis terdapat di  Kecamatan batang Tuaka, Desa Sungai Piring 2, Tasik Raya 2, Gemilang Jaya 1, Sialang Jaya 7, Sungai Dusun 8, Sungai Luar 11, Sungai Rawa 5, Sungai Junjangan 9, dan Kuala Sebatu 9.

Kecamatan Mandah, Desa Khairah Mandah 1, Bente 3, dan Batang Tumu 4. Kecamatan Pelangiran Desa Pelangiran 1, Kecamatan Kemuning, Desa Kemuning Muda 3, Kecamatan Tempuling, Desa Sungai Salak 2, Mumpa 1. Kecamatan GAS desa Teluk Pinang 1, Kecamatan Kuindra desa Sapat 1 dan Kecamatan Pulau Burung Desa Pulau Burung 1. Total 66 penderita.

“terjadinya perbedaan data kita sebanyak 66 penderita dengan data ditjen pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan kemenkes RI sebanyak 120 penderita disebabkan data mereka merupakan data tahun 2010 yang lalu. Kita data terbaru tahun 2012. Selisih data itu, penderitanya sudah meninggal dunia,” Ujar Kadiskes Inhil Rasul Alim. (dro/*0)

Pengutipan berita dan gambar harus mencantumkan detikriau.org atau kami akan tuntut sesuai ketentuan UU yang berlaku