Peneliti: Ternyata, Penyebab Kanker adalah Nasib Buruk

ilustrasi-kanker-paru-_130428202536-233detikriau.org WASHINGTON — Selama ini para ahli kesehatan menyatakan, kanker dan tumor disebabkan oleh pola makan tidak sehat hingga gen turunan. Namun, penelitian terbaru justru menemukan, penyebab kanker adalah nasib buruk.

Telegraph melansir, para peneliti fakultas kedokteran Universitas John Hopkins di Amerika Serikat (AS) menemukan, penyebab utama kanker bukan pola hidup tidak sehat atau ketidaksempurnaan DNA, melainkan nasib buruk.

Para peneliti memberi pernyataan tersebut karena dua per tiga kasus kanker disebabkan oleh kesalahan tak sengaja yang terjadi di pada proses pembelahan sel dalam tubuh. Kesalahan ini murni terjadi di luar kendali.

Para peneliti juga menemukan, semakin sering suatu sel membelah diri untuk menjaga kesehatannya, tambah besar pula kemungkinan kanker untuk tumbuh. Ini menjadi kali pertama para peneliti dapat memberikan penjelasan kenapa beberapa jenis kanker lebih umum dibanding jenis yang lainnya.

Sebagai contoh, kanker usus besar lebih umum dibandingkan dengan kanker usus kecil. Karena sel-sel di usus besar membelah diri dua kali lebih cepat dibandingkan dengan sel di usus bagian atas.

Dari 31 kasus kanker yang diteliti oleh para peneliti Universitas John Hopkins, hanya sembilan yang terkait dengan pola hidup maupun kesalahan genetik. Sementara 22 kasus kanker lainnya lebih disebabkan pada “nasib buruk” dari pembelahan sel.

Pembelahan sel hal yang penting bagi tubuh untuk memperbarui dan memperbaiki kerusakan dalam tubuh. Tetapi, terkadang satu susunan dalam DNA tidak tergandakan dengan baik saat proses replikasi berlangsung. Hal inilah yang kemudian menghasilkan sel kanker.

Namun, para pakar kesehatan menilai penelitian ini menunjukkan bahwa penting bagi seseorang untuk menurunkan risiko kanker. Hal ini dapat dilakukan dengan mengkonsumsi asupan sehat, olahraga serta berhenti merokok.

Meskipun penyebab kanker adalah nasib buruk, mereka menyatakan risiko kanker tetap terkait dengan kombinasi gen, lingkungan serta aspek lain yang sebenarnya dapat dikontrol oleh seseorang.(rol)




Mau Punya Anak Cerdas? Ajarkan Dua Bahasa

foto netdetikriau.org – Penelitian terbaru mengungkapkan balita yang terbiasa dengan komunikasi dua bahasa memiliki IQ yang lebih tinggi.

Maka jika ingin anak cerdas, ajarkan mereka sejak dini sedikitnya dua bahasa.

dikutip dari inilah.com, Penelitian oleh Departemen Psikologi Universitas Nasional Singapura Fakultas Seni dan Ilmu Sosial merupakan penelitian jangka panjang yang melibatkan ibu-ibu di Singapura dan balita. Terbagi dua kelompok, satu bahasa dan du satu bahasa.

Peneliti memperlihatkan gambar berwarna kepada bayi, gambar beruang atau serigala.

Hasilnya, bayi berusia enam bulan yang mendapat praktek dua bahasa lebih cepat akrab dengan gambar ketimbang balita hanya bicara dengan dua bahasa.

Bayi yang terbiasa dengan dua bahasa menjadi lebih cepat bosan ketimbang bayi satu bahasa.

Bayi yang terbiasa dua bahasa memandang lebih lama setiap gambar yang diperlihatkan. Itu tidak terjadi dengan bayi terbiasa satu bahasa.

Melansir dailymail, Jumat (5/9/2014) penelitian ini terpublikasi online dalam edisi terbaru jurnal ilmiah Child Development.

Sementara studi terdahulu, bayi yang cepat menjadi bosan dan selalu mencari yang baru merupakan indikator umum usia prasekolah dan menunjukkan adanya perkembangan baik.

Itu erat kaitan dengan kemampuan kinerja yang baik akan konsep, kognisi nonverbal, bahasa ekspresif dan reseptif dan tes IQ.

Bayi yang cepat bosan menunjukkan kinerja yang lebih tinggi akan kemampuan kognitif dan bahasa ketika kelak besar. Sedangkan menatap lama gambar menunjukkan bahwa mereka selalu mencari hal-hal yang baru.

“Pembiasaan visual bekerja luar biasa karena hanya membutuhkan waktu beberapa menit dan mengkapitalisasi pada bayi yang melakukannya secara alami, cepat menjadi tertarik pada sesuatu yang baru dan kemudian dengan cepat beralih ke sesuatu yang lain,” kata Professor Leher Singh, pemimpin penelitian.