Waduh, Setelah “Atan Bintang” dan “Bonita”, di Pelangiran Muncul Lagi Harimau Sumatra Lainnya

Laporan: Faisal

Ilustrasi: Net

Tembilahan, detikriau.org – Baru berselang dua pekan sejak berhasil ditangkap dan dievakuasinya Harimau Sumatra yang dinamai Atan Bintang, warga Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir kembali dicekam ketakutan.

Sejumlah warga mengaku menyaksikan kemunculan Harimau Sumatra lainnya dengan ukuran tubuh jauh lebih besar dari Atan Bintang.

“Benar. dua hari yang lalu saya dikabari warga. Mereka mengaku melihat kemunculan harimau lainya di Sungai Danai. ukurannya menurut mereka jauh lebih besar dari Atan Bintang,” Ujar Camat Pelangiran M Yusuf kepada detikriau.org di Tembilahan, senin (26/11)

Menghindari kejadian yang tidak diinginkan, Camat Pelangiran mengaku sudah menyampaikan himbauan kepada warganya untuk berhati-hati menjalankan aktifitas diluar rumah terutama disekitar lokasi kemunculan harimau.

Sebelumnya, sabtu (17/11) yang lalu, Harimau Sumatra yang dinamai Atan Bintang berhasil ditangkap dan dievakuasi oleh Tim BBKSDA Riau ke pusat konservasi Harimau Sumatra di Sumatra Barat.

Atan Bintang yang diperkirakan berusia sekitar tiga tahun dengan bobot badan mencapai 80 kilogram ini didapati memasuki pemukiman hingga akhirnya terjebak dan kemudian berhasil ditangkap dikolong ruko milik warga.

20 April 2018 yang lalu, Tim juga berhasil mengevakuasi seekor harimau sumatra yang dinamai Bonita di areal perkebunan PT Tabung Haji Indo Plantation juga di Kecamatan Pelangiran.

Harimau Sumatra berjenis kelamin betina ini sempat memancing kemarahan warga setelah aksinya menghilangkan nyawa dua orang warga, termasuk salahsatunya karyawan perusahaan asal negeri jiran, Malaysia itu, Jumiati (33) yang saat bekerja di KCB 76 Blok 10 Afdeling IV Eboni State, Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Indragiri Hilir dan meregang nyawa pada Januari 2018.

Korban lainnya adalah Yusri Efendi (34) juga harus kehilangan nyawa di desa yang sama, namun berjarak sekitar 15 kilometer dari lokasi tewasnya Jumiati.

Bonita, diperkirakan berusia 4 tahun dan saat itu banyak timbul kisah heroik dan mistis seputar hewan buas yang biasa dipanggil “datuk” oleh warga setempat itu.

Hasil pantauan BBKSDA, Harimau sumatra di Riau saat ini diperkirakan hanya berjumlah sekitar 53 ekor.




Jadi Bandar “Klotok”, Polsek Pelangiran Amanan Dua Warga Pasar Lubuk Kempas

Pelangiran, detikriau.org – Kepolisian Polsek Pelangiran amankan Sah (35) dan Her (38) warga Pasar Lubuk Kempas Desa Simpang Kateman Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir, sabtu (12/5/2018) sekira pukul 09.30 Wib.

Kedua pria ini diduga menjadi pelaku perjudian jenis dadu (klotok) di TKP Jalan Pelantar Pasar Lubuk Kempas.

Menurut Kapolres Indragiri Hilir AKBP Christian Rony, S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Pelangiran IPTU Muhammad Rafi, menerangkan bahwa penangkapan kedua tersangka berdasarkan informasi dari masyarakat akan adanya kegiatan perjudian klotok di TKP.

Berbekal info itu, Kapolsek lalu memerintahkan personelnya untuk melakukan penyelidikan. Setelah diketahui memang ada praktek dimaksud, Polisi kemudian mengamankan Az dan Har.

Dari mereka disita barang bukti berupa anak dadu, piring, tutup dadu, lapak dadu, terpal warna biru dan uang tunai sebesar Rp. 2.306.000, yang terdiri dari pecahan 100 ribu, 50 ribu, 20 ribu, 10 ribu, 5 ribu, 2 ribu dan seribu rupiah.

“Saat ini, kedua tersangka dan barang bukti sudah diamankan di Mapolsek Pelangiran, guna proses penyidikan lebih lanjut.” Akhiri Kapolsek./ Am




Usai Ditangkap, Harimau Bonita Dievakuasi ke Dharmasaraya

PEKANBARU — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menyatakan Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) bernama Bonita  telah berhasil ditembak bius dan ditangkap tim gabungan. Jumat (20/4) malam ini, Bonita langsung di evakuasi ke Dharmasaraya, Sumatra Barat.

“Malam ini langsung menuju pusat rehabilitasi harimau di Dharmasaraya Sumatra Barat,” kata Kepala BBSKDA Riau, Suharyono di Pekanbaru, Jumat.

Suharyono mengatakan, tim gabungan terdiri dari TNI, Polri dan BBKSDA Riau membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengevakuasi Bonita karena medan yang ditempuh cukup sulit. Tim harus beberapa kali menyeberang sungai dari lokasi penangkapan di Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir hingga akhirnya sampai ke Kota Rengat, Indragiri Hulu, Riau.

“Malam ini saya langsung meluncur ke lapangan untuk memantau evakuasi harimau,” ucapnya.

Setiba di Rengat, Bonita yang setelah ditembak bius dan ditempatkan di dalam kerangkeng besi tersebut langsung dibawa ke Sumatra Barat melalui jalur darat. Dia mengatakan, belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut terkait penangkapan tersebut malam ini. Namun, Suharyono mengatakan pihaknya akan memberikan keterangan resmi bersama dengan Dirjen KSDAE Ir Wiratno, Sabtu pagi (21/4) besok.

Sebelumnya, diberitakan tim gabungan BBKSDA Riau, TNI dan Polres Indragiri Hilir berhasil menembak bius Bonita. Satwa dilindungi itu ditembak bius dan ditangkap pada Jumat pagi tadi sekitar pukul 06.50 WIB.

Kapolres Indragiri Hilir, AKBP Christian Roni Putra mengatakan, Bonita ditangkap di Kecamatan Pelangiran, tepatnya areal perkebunan PT Tabung Haji Indo Plantation. Lokasi itu yang selama ini menjadi areal jelajah satwa dilindungi tersebut dan menerkam dua warga, termasuk salah satu di antaranya karyawan perusahaan asal Malaysia itu hingga tewas Januari 2018 lalu.

Bonita, diperkirakan berusia 4 tahun dalam empat bulan terakhir berkeliaran di areal permukiman warga dan perkebunan sawit PT THIP. Jumiati, menjadi korban pertama yang meninggal pada awal Januari 2018. Perempuan berusia 33 tahun tersebut diserang Bonita saat bekerja di KCB 76 Blok 10 Afdeling IV Eboni State, Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Indragiri Hilir.

Terakhir, Yusri Efendi (34) meregang nyawa di desa yang sama, namun berjarak sekitar 15 kilometer dari lokasi tewasnya Jumiati. Dua kejadian tersebut berakibat pada kemarahan warga.

sumber: Antara/republika




Kesal ditagih Hutang, Jun Bacok Ros Dengan Sebilah Parang

Pelangiran, detikriau.org –  Jun alias Kel (36) ditahan Kepolisian Polsek Pelangiran atas tuduhan melakukan penganiayaan terhadap Rusdalidi alias Ros (40) warga sekampungnya dengan menggunakan sebilah parang. Senin malam (19/3/2018)

Pelaku, warga Desa Tagagiri Tama Jaya Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir ini diringkus di Desa Wonosari Kecamatan Pelangiran saat mencoba akan melarikan diri.

Kapolres Indragiri Hilir AKBP Christian Rony, S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Pelangiran IPTU Muhammad Rafi menerangkan bahwa penganiayaan itu berawal dari perselisihan masalah hutang piutang.

Lebih jauh IPTU M.Rafi menjelaskan, malam Senin, sekira pukul 20.00 WIB, korban mendatangi tersangka yang sedang berada di sebuah warung kopi. Ros kemudian menagih hutang sebesar Rp. 150 ribu kepada pelaku. Namun permintaan tersebut diacuhkan tersangka. Karena Ros terus mendesak, Jun bangkit emosi dan beranjak meninggalkan warung kopi tersebut, kembali ke rumahnya.

Satu jam kemudian, Jun mendatangi rumah kediaman Ros. Tanpa banyak tanya, Jun langsung membacok korban sehingga mengakibatkan Ros menderita luka di bahagian paha dan punggung. Melihat korban sudah terkapar, tersangka lalu melarikan diri. Korban kemudian dievakuasi ke Puskesmas Pelangiran untuk perawatan atas luka yang dialaminya.

Polsek Pelangiran yang mendapat informasi tentang kejadian tersebut, mendatangi TKP dan melakukan pengejaran terhadap Jun.  Pelarian tersangka dapat dihentikan di Desa Wonosari Kecamatan Pelangiran tanpa perlawanan.

“Saat ini, tersangka bersama barang bukti sebilah parang panjang bergagang warna hitam sudah diamankan di Polsek Pelangiran untuk proses penyidikan lebih lanjut.”/ Diterangkan Kapolsek./ Ikhwan




Kisah Mistis dibalik Perburuan Harimau Pemangsa 2 Manusia di Pelangiran

“dikabarkan tak bisa ditembak dan ditunggangi makhluk halus seperti sosok laki-laki tua. Makhluk halus ini disebut mengenakan jubah dan kakinya diikat kain kuning yang melilit ke kaki belakang Bonita”

foto ilustrasi harimau: http://imagenes.4ever.eu

Tembilahan, detikriau.org – Perburuan harimau Bonita, pemangsa dua warga di Dusun Danau, Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau sempat diwarnai hal-hal yang tak masuk akal. Bonita tak bisa ditembak walaupun petugas sudah berada di jarak 3 meter. Begitu juga dengan peluru bius yang pernah ditembakkan, hanya terlontar sekitar 4 meter.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono membenarkan kejadian tersebut. Haryono juga menceritakan susahnya Bonita ditembak.

Kejadian pertama dialami Bulan Februari 2018. Saat itu, tim pencari jejak berhadapan langsung dengan Bonita dengan jarak kurang lebih 3 meter. Sempat 2 jam tim di lokasi harimau Bonita dengan posisi penyerang.

Kepanikan timbul, di mana seorang anggota yang memegang senjata api berpeluru tajam terpaksa menembak karena jarak harimau Bonita sudah mengancam.

“Senjata meletus, tapi anehnya tak mengeluarkan peluru. Aneh juga memang, seharusnya keluar peluru kalau ditembakkan,” terang Haryono.

Kejadian berikutnya pada Sabtu 10 Maret 2018 ketika warga bernama Yusri diterkam. Kala itu petugas sudah membidik harimau Bonita dengan jarak tembak terukur. Senjata bius diletuskan setelah Bonita terbidik. Namun, senjata bius hanya terlontar sekitar 4 meter saja.

“Padahal jarak tembakan itu bisa mencapai 20-30 meter,” sebut Haryono.

Haryono tak menampik ada kisah mistis yang menyelimuti harimau Bonita. Menurutnya, tersiar kabar bahwa harimau Bonita ditunggangi makhluk halus seperti laki-laki tua.

Makhluk halus ini disebut mengenakan jubah dan kakinya diikat kain kuning yang melilit ke kaki belakang Bonita. Meski demikian, Haryono tak mau percaya begitu saja.

“Saya dengar cerita itu dari masyarakat di sana,” kata Haryono saat dikonfirmasi wartawan di Pekanbaru, Jumat (16/3).

Hanya saja cerita mistis ini, sebut Haryono, punya kecocokan dengan ciri-ciri Bonita, di mana pada kakinya terdapat belang kuning melingkar.

“Harimau pada umumnya, tidak ada belang seperti itu. Belang harimau hanya garis-garis saja, tapi ini ada lingkaran di kakinya,” tutur Haryono.

Di sisi lain, Haryono menyebut harimau Bonita punya kebiasaan meminum air dan membasahkan kaki bagian depannya sebelum menyerang warga. Hal itu terlihat warga sebelum menyerang Yusri, tukang bangunan.

“Ada warga lihat, dia ke belakang rumah warga minum air, dan membasuh kaki kanannya,” ucap Haryono.

Di samping itu, Bonita ini merupakan hewan yang cerdas. Dia tahu kalau dirinya akan ditembak dan selalu mengelak ketika senjata dibidikkan ke arahnya.

Hal ini terjadi ketika Bonita sedang berbaring di tangga rumah seorang warga. Petugas sudah mengendap mengambil posisi tembak. Begitu pelatuk akan ditarik, Bonita berdiri dan langsung kabur.

“Masuk ke hutan lagi, diikuti petugas. Dia seolah mengajak petugas berputar-putar hingga menguras tenaga. Malamnya menampakkan diri lagi, tapi karena gelap, petugas memilih menghentikan pencarian,” terang Haryono.

BKSDA Riau akhirnya berhasil menembak bius Bonitad i sekitaran box trap atau perangkat harimau yang dipasang sekitaran perkebunan kelapa sawit. Di wilayah situ, merupakan habitat harimau yang berubah menjadi perkebunan sawit milik perusahaan swasta.

Sumber: Liputan6.com

 

 




Sempat Sempoyongan Setelah ditembak Bius, “Bonita” Kembali Berhasil Kabur dan Menghilang.

Tim masih melakukan upaya penyisiran untuk mencari keberadaan “bonita”

Pelangiran, detikriau.org – Harimau pemangsa manusia di Pelangiran “Bonita” berhasil ditembak bius di area Kebun Tembesu PT. THIP Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir sekira pukul 20.00 Wib, jum’at (16/3/2018). Namun hewan buas yang dilindungi ini kembali berhasil kabur dan menghilang. Hingga saat ini pencarian masih terus dilakukan.

“Tim Terpadu Penanganan Konflik dan Evakuasi Harimau Sumatera, masih terus bergerak melakukan penyisiran, mencari keberadaan Bonita, pasca penembakan bius,” Sampaikan Kapolres Indragiri Hilir AKBP. Christian Rony, S.I.K., M.H melalui Kapolsek Pelangiran, IPTU M Rafi, Sabtu, (17/3/2018)

Diterangkan IPTU M Rafi,  setelah penembakan bius, harimau betina itu masih terlihat bergerak sehingga tim tidak bisa langsung mendekat. Tak disangka, dibalut kegelapan malam, Bonita berhasil menghilang dari pandangan mata.

“Kami masih berada di lapangan melakukan penyisiran.  Hingga saat, Bonita belum berhasil ditemukan.” Akhiri M Rafi./ Am