LET’S SAVE PALESTINE

Blokade Israel atas Gaza yang telah berlangsung selama sekitar 11 tahun telah melumpuhkan hampir seluruh sendi kehidupan kota Gaza. Akses menuju dan keluar Gaza ditutup rapat-rapat. Isolasi masif tersebut sepenuhnya menutup mobilisasi warga Gaza untuk mengakses kesehatan, pendidikan, serta berniaga. Ketika agresi militer pecah pada 2014, krisis kemanusiaan di Gaza mencapai titik klimaksnya. Walaupun gencatan senjata telah disepakati, kondisi Gaza tak kunjung membaik. Sistem ekonomi dan infrastruktur masih lumpuh. Setidaknya 75 ribu pengungsi belum bisa kembali ke rumah mereka yang kini rusak parah dan terbengkalai.

Sementara itu, angka pengangguran dan kemiskinan terus menanjak. Pada Desember 2016 lalu, Jamal Alkhoudary, salah satu anggota parlemen Palestina mengungkapkan, 80% dari sekitar 2 juta penduduk Gaza hidup di bawah garis kemiskinan. Di sisi lain, 60% pemuda di sana terpaksa menganggur karena minimnya lahan pekerjaan. Dengan kondisi seperti ini, harga kebutuhan pokok kian tak terjangkau publik. Biro Pusat Statistik Palestina menyebutkan, 80% warga Gaza pra-sejahtera tersebut tak punya pilihan lain selain bergantung pada bantuan kemanusiaan. PBB dengan gamblang bahkan mengatakan, jika kondisi ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan Gaza akan lumpuh total pada 2020.

Bukan hanya Gaza, kawasan Tepi Barat Palestina mendapat pula diskriminasi yang tidak jauh berbeda. Tepi Barat dan Jalur Gaza bersama-sama merupakan Teritorial Pendudukan Palestina (OPT), yang telah berada di bawah pendudukan militer Israel sejak Juni 1967. Luas kawasan Tepi Barat sejak tahun 1967 terus menyusut akibat adanya pengusiran terhadap warga Palestina guna dijadikan pemukiman-pemukiman Yahudi. Pada tahun 2003, Israel mulai membuat Dinding Pemisahan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Sekitar 85 persen dari total panjang rute yang diproyeksikan terletak di dalam wilayah OPT.

Sejak tahun 2009, Aksi Cepat Tanggap mewakili bangsa Indonesia sudah hadir membersamai warga Palestina dengan berbagai aksi dan program. Berbagai program berkelanjutan ACT hasil kolaborasi dengan berbagai mitra, hingga saat ini alhamdulillah masih terus berjalan. Diantaranya adalah Mobile Water Tank dan Waterwell (sumur air) yang dibangun di Jabalia Utara. Kemudian pemberian generator listrik beserta bahan bakar solar dalam beberapa tahap untuk pemukiman, klinik kesehatan, dan sekolah. ACT juga telah mengembalikan penghidupan masyarakat Gaza melalui pembuatan peternakan ayam dan pembuatan kapal nelayan.

Dalam bidang kesehatan ACT setiap tahunnya secara bertahap menyalurkan amanah rakyat Indonesia dalam bentuk pembangunan klinik kesehatan, pemberian mobil ambulans, peralatan medis, kursi roda, hingga bantuan persalinan untuk kaum hawa di Gaza. Setiap tahunnya dalam beberapa periode ACT juga mengimplementasikan donasi dari Indonesia guna memenuhi kebutuhan dasar pangan masyarakat Palestina. Diantaranya merupakan pemberian paket pangan berisi sembako, pembagian daging qurban, distribusi tepung gandum, bingkisan lebaran, dan pembagian ifhtor siap saji pada bulan Ramadhan.

Penghujung April 2017 lalu, ACT melansir program Humanity Card. Kartu kecil seukuran KTP yang berisi saldo layaknya ATM guna dibelanjakan penerima manfaat pada beberapa minimarket mitra ACT. Secara berkala, para pengungsi palestina mendatangi dua minimarket di Gaza Tengah dan Khan Younis. Umumnya, mereka membeli kebutuhan pangan seperti minyak goreng, beras, gandum, gula, susu, sayur-mayur segar, dan sebagainya. Mereka tak lagi harus berjibaku dengan harga barang belanjaan. Cukup serahkan kartu mungil biru yang telah terisi saldo belanja kepada kasir minimarket, mereka dapat menebus sembako yang mereka beli.

Mari, bantu ringankan penderitaan saudara-saudara di Palestina dengan do’a tertulus dan bantuan terbaik kita. Salurkan donasi Anda melalui rekening berikut:
Bank Syariah Mandiri 101 000 5557
Bank Mandiri 128 000 4593 338
Bank Central Asia 676 030 0860
BNI Syariah 009 611 0239
Atas nama (Yayasan) Aksi Cepat Tanggap

Kunjungi website https://act.id/palestina/ untuk informasi selengkapnya.




Liga Arab Kutuk Aksi Brutal Tentara Israel di Gaza

Foto: AP/Ariel Schalit

KAIRO — Liga Arab mengutuk perlakuan butal Israel terhadap para pengunjuk rasa Palestina di tepi perbatasan Israel yang berlangsung Jumat (30/3). Itu setelah korban meninggal dari pengunjuk rasa Gaza akibat tembakan tentara Israel terus bertambah.

Setidaknya tercatat oleh Kementerian Kesehatan Gaza kini korban mencapai 15 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengutuk perlakuan brutal pasukan pendudukan Israel dalam demonstrasi yang meletus di Gaza hari ini. Padahal unjuk rasa dilakukan untuk menandai peringatan ke-42 Land Day. “Namun justru menyebabkan sejumlah kematian dan ratusan orang terluka di Jalur Gaza,” ujar Gheit sebagaiamana dilansir dalam kantor berita Emirates, WAM, Sabtu (31/3).

Aboul Gheit juga mengatakan Israel harus memikul tanggung jawab baik hukum, politik dan moral atas hilangnya nyawa-jiwa ini. Ia juga menyoroti agar intimidasi tidak akan mengarah pada penindasan terhadap Palestina. “Tetapi pada akhirnya akan berujung pada ledakan situasi tersebut, terjadi hari ini,” kata Gheit.

Para pengunjuk rasa diketahui berkumpul di beberapa titik di pagar perbatasan dengan Israel untuk berdemo. Namun demonstrasi berubah menjadi pertumpahan darah ketika militer Israel menggunakan peluru tajam dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.

Sekitar 17 ribu demonstran Palestina berkumpul di beberapa titik di pagar perbatasan dengan Israel. Kelompok militan Hamas, yang mengontrol Jalur Gaza, dan faksi-faksi Palestina lainnya telah menyerukan Pawai Kembali yang damai menandai pengambilalihan pemerintah Israel atas tanah milik Arab pada tahun 1976.

Truk-truk yang dipasang dengan pengeras suara telah mendesak warga Palestina dalam beberapa hari terakhir untuk menghadiri demonstrasi. Namun Israel memeringatkan tidak akan tinggal diam serta akan menggunakan amunisi untuk membubarkan pengunjuk rasa. IsrEl juga menyebarkan selebaran yang mengatakan bahwa siapa pun yang datang dalam jarak 300 meter dari pagar pembatasan akan berada dalam bahaya. Namun hal ini tidak dihiraukan oleh beberapa warga Gaza.

“Saya ingin ditembak, saya tidak menginginkan kehidupan ini.” kata salah satu pengunjuk rasa Yahya Abu Assar, 22 tahun.

Adapun demonstrasi simultan di beberapa tempat di sepanjang pagar perbatasan Israel telah menimbulkan kekhawatiran di Israel bahwa pagar bisa dilanggar. Dua kali dalam seminggu terakhir, militer Israel telah menangkap orang Palestina yang telah menembus pagar.

Sumber: republika.co.id




Mengapa Yerusalem Bukan Milik Israel

Foto: CNN Indonesia

YERUSALEM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru saja melemparkan bensin ke dalam api unggun konflik Israel-Palestina. Ia menyerukan pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem segera.

Trump juga menyebut Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Pernyataan yang dilontarkan pada Selasa itu langsung memicu reaksi keras dari berbagai penjuru dunia. Ada banyak alasan mengapa langkah ini berarti sangat signifikan tak hanya pada Israel-Palestina, tapi juga pada komunitas global. Ini bukan hanya pelecehan pada upaya damai kedua pihak, tapi juga mengancam keamanan global.

Dilansir di Aljazirah, Rabu (6/12), Israel menduduki Yerusalem Timur setelah perang enam hari tahun 1967. Bagian barat kota suci ini direbut Israel dalam perang Israel-Arab pada 1948.

Setelah kependudukan, Israel mengklaim seluruh wilayah Yerusalem Timur dalam wilayah kendalinya secara de-facto. Langkah ini tidak diakui oleh komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat, dulu.

Meski kecaman terus datang dari seluruh dunia, Israel tetap pada posisinya menduduki wilayah. Solusi dua negara kemudian muncul sebagai harapan untuk mengakhiri okupasi.

Status Yerusalem hingga kini menjadi salah satu poin paling alot dalam penyelesaian konflik. Di bawah UN Partition Plan 1947, Yerusalem memiliki status spesial dan hendak diambil kendali juga kedaulatannya oleh komunitas internasional.

Ini karena Yerusalem adalah situs suci tiga kepercayaan, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Pada perang 1948, Zionis Israel menekan untuk pengendalian bagian barat kota. Hingga akhirnya mereka berhasil mendeklarasikan wilayah tersebut sebagai bagian kekuasaan.

Pada 1967, saat wilayah timur dibawah kendali Yordania, Israel kembali menekan. Langkah itu dilanjutkan dengan memperpanjang hukum Israel hingga wilayah timur.

Pada 1980, Israel meloloskan Hukum Yerusalem yang menyebut kota suci tersebut sudah bersatu menjadi ibu kota Israel. Ini merupakan langkah formal mereka dalam menguasai Yerusalem Timur secara penuh.

Sebagai respons, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 478 di tahun yang sama. Dengan keras PBB mendeklarasikan klaim Israel batal demi hukum.

Komunitas internasional, termasuk AS dulu sepakat Yerusalem timur adalah wilayah jajahan. Tidak ada negara mana pun yang mengakui bagian Yerusalem mana pun adalah ibu kota Israel.

Inilah mengapa seluruh kedutaan besar negara mana pun berada di Tel Aviv. Pada Rabu, Trump memecahkan telur. Ia ingin AS jadi negara pertama yang memiliki Kedutaan Besar di Yerusalem.

Aneksasi ilegal Israel atas Yerusalem Timur merupakan pelanggaran menurut sejumlah prinsip hukum internasional. Okupasi tidak berarti berkuasa dan berdaulat.

Di Yerusalem Timur, orang Palestina tidak diberikan kewarganegaraan sehingga mereka tidak berhak atas segala fasilitas yang dibangun Israel di tanah okupasi. Ada sekitar 420 ribu orang yang bernasib demikian.

Mereka memiliki paspor Yordania tanpa nomor identitas nasional. Ini berarti mereka bukan sepenuhnya jadi penduduk Yordania.

Mereka butuh izin untuk bisa bekerja di sana dan tidak punya akses pada layanan pemerintahan. Tidak ada keuntungan yang diperoleh seperti penurunan biaya pendidikan.

Dengan kata lain, orang Palestina di Yerusalem ini tidak berkewarganegaraan. Mereka tidak diakui Israel, bukan pula warga negara Yordania atau Palestna.

Padahal seharusnya, Israel sebagai pemegang kendali de factomenjamin hak-hak mereka. Dalam kenyataan, Israel memperlakukan mereka seperti imigran asing yang ‘numpang tinggal’.

Mereka harus memenuhi sejumlah persyaratan demi tetap bisa tinggal di Yerusalem Timur. Orang Palestina yang tinggal di luar, baik di Tepi Barat maupun negara lain berisiko kehilangan hak mereka atas tanah Yerusalem.

Israel mengklaim mereka yang tidak hidup di Yerusalem atau bermata pencaharian di sana tidak berhak atas kewarganegaraan meski mereka lahir di Yerusalem.

Orang Palestina ini harus menyerahkan puluhan dokumen termasuk perjanjian, kontrak sewa tempat tinggal hingga slip gaji agar tetap bisa tinggal di sana. Meminta status kewarganegaraan ke negara lain juga artinya mereka kehilangan status di Yerusalem.

Sebaliknya, orang Yahudi dimana pun juga di seluruh dunia punya hak tinggal di Israel. Mereka bisa datang kapan pun dan langsung mendapatkan kewarganegaraan Israel, berdasarkan Law of Return. Menurut kelompok HAM B’Tselem, Israel telah menghapus status 14 ribu orang Palestina sejak 1967.

Segala proyek kependudukan dan permukiman Israel di Yerusalem Timur, termasuk ilegal menurut hukum internasional. Kependudukan berarti kendali Israel baik secara hukum maupun de facto.

PBB telah memastikan dalam beberapa resolusi proyek kependudukan Israel di wilayah okupasi bertentangan langsung dengan Konvensi Genewa keempat. Isinya melarang penjajah mentransfer populasi penduduknya ke area yang dijajah.

Ada beberapa alasan dibalik keputusan ini, termasuk diantaranya agar okupasi berlangsung sementara dan untuk mencegah negara pengokupasi mendirikan kekuatan militer demi memperpanjang keberadaan di sana.

Selain itu, untuk melindungi warga sipil, pencurian sumber daya, mencegah apartheid, dan perubahan demografi karena campur aduk di wilayah okupasi. Israel sejak 1967 malah membangun puluhan perumahan khusus Yahudi.

Beberapa diantaranya dibangun sangat berdekatan dengan lingkungan perumahan warga Palestina. Sekarang, sekitar 200 ribu warga Israel tinggal di Yerusalem timur.

Mereka dilindungi tentara dan polisi di segala sisi. Permukiman terbesar dihuni oleh 44 ribu orang. Pembangunannya sering kali mengorbankan rumah orang Palestina.

Rumah-rumah lama dirobohkan dengan alasan tidak memiliki izin. Sementara untuk mendapatkan izin, orang Palestina harus ‘jungkir balik’. Itupun sering kali tidak lolos.

Orang Palestina terkungkung, dicabut kebebasan bergeraknya, privasinya dan keamanannya. Sementara orang Palestina hidup dalam kondisi tak diakui, warga Israel menikmati kehidupan dan garansi pemenuhan hak meski bukan di tanah mereka.

Sumber: http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/17/12/07/p0kxkh366-mengapa-yerusalem-bukan-milik-israel




Media massa “Israel”: Sampai saat ini biaya serangan “Israel” ke Gaza melebihi 294 juta dolar

jet-israelGAZA – Laporan-laporan “Israel” menyatakan biaya yang dihabiskan oleh pasukan “Israel” dalam menyerang Jalur Gaza sampai saat ini telah melampaui angka 1 miliar shekel, atau setara dengan US $ 294 juta. Angka itu belum terhitung kerugian-kerugian secara langsung dan tidak langsung yang berjumlah jutaan dolar, dikutip oleh Al-Jazeera pada Rabu (16/7/2014).

Selain membahas besarnya anggaran langsung yang dihabiskan oleh pasukan “Israel” dan peralatan perangnya, media-media massa “Israel” mengkaji kerugian-kerugian lainnya yang terkonsentrasikan pada sektor wisata dan ekonomi kelas bawah, yang belum diungkap sampai saat ini.
Koran Yedioth Ahronot mengatakan biaya yang dihabiskan pasukan “Israel” untuk peperangan dalam sehari adalah sekitar 150 juta shekel, atau sekitar 1 miliar shekel sejak hari pertama serangan “Israel” ke jalur Gaza.

Laporan Yedioth Ahronot menyebutkan kerugian terbesar dialami oleh hotel-hotel, tempat-tempat peristirahatan dan obyek-obyek wisata. Laporan itu menyebutkan angka penjualan mengalami penurunan drastis pada pusat-pusat perdagangan di kawasan “Israel” selatan. Adapun sektor produksi dan industri mengalami perlambatan serius.

Biaya “Iron Dome”

Koran Yedioth Ahronot menjelaskan bahwa biaya setiap rudal dalam sistem pertahanan anti rudal “Iron Dome” yang dibiayai Amerika Serikat adalah 50.000 dolar. Koran itu mengisyaratkan “Israel” telah menembakkan sekitar 200 rudal untuk mencegat roket-roket pejuang Palestina. Selain itu “Israel” menembakkan rudal Patriot yang biaya per satuannya mencapai 2 juta dolar.

Koran itu melaporkan bahwa sampai hari Selasa (15/7/2014) sebanyak 662 klaim asuransi telah diajukan kepada pemerintah “Israel” akibat serangan roket kelompok pejuang Palestina. Ratusan klaim lainnya menunggu untuk diproses terkait kerugian di kawasan pemukiman Yahudi yang berdekatan dengan Gaza.

Koran itu memperkirakan kerugiaan sektor pertanian “Israel” mencapai puluhan juta shekel, dan kerugian sektor pariwisata “Israel” mencapai setengah juta shekel.

Koran utama “Israel” lainnya Haaretz melaporkan bahwa militer dan Departemen Pertahanan “Israel” sebelum melancarkan serangan ke Jalur Gaza telah meminta tambahan anggaran militer sebesar 5 milyar shekel, atau sekitar US $ 1,5 milyar, untuk tahun anggaran 2015. Haaretz memperkirakan Departemen Pertahanan akan meminta tambahan anggaran jika serangan militer kali ini berlangsung lebih lama.

Haaretz mencatat biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan terbang sebuah pesawat drone selama satu jam di udara adalah sekitar 1500 dolar, pengoperasian helikopter tempur selama satu jam di udara adalah sekitar 5000 dolar, dan pengoperasian pesawat tempur selama satu jam di udara adalah sekitar 15.000 dolar.

Haaretz juga mencatat biaya yang diperlukan untuk setiap orang tentara cadangan selama satu hari bertugas adalah sekitar 130 dolar.
Lebih lanjut Haaretz menyebutkan bahwa kerugiaan jutaan shekel menimpa stasiun-stasiun kereta di Al-Quds menyusul demonstrasi-demonstrasi penduduk muslim Palestina menentang pembunuhan dan pembakaran seorang pemuda muslim Palestina oleh penduduk Yahudi.

– See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/07/17/media-massa-israel-sampai-saat-ini-biaya-serangan-israel-ke-gaza-melebihi-294-juta-dolar.html#sthash.k4o8hSKA.dpuf

 




Brigade Al-Qassam kembali tembakkan 102 roket pada hari Sabtu

GAZA (detikriau.org) – Kemampuan roket dan tempur Brigade Asy-Syahid Izzuddin Al-Qassam, sayap militer kelompok pejuang Hamas, benar-benar mengejutkan penjajah zionis Yahudi. Pada hari kelima pertempuran, Sabtu (12/7/2014), roket-roket Brigade Al-Qassam kembali menghantam Tel Aviv, Bat Yam, Demona di wilayah reaktor nuklir gurun Negev, bandara internasional, jip militer dan tank “Israel”.

Situs resmi Brigade Al-Qassam melaporkan pada hari Sabtu Brigade Al-Qassam telah menembakkan sepuluh roket jenis Ja’bari 80 (J 80) yang dilengkapi dengan teknologi canggih ke Tel Aviv. Brigade Al-Qassam menegaskan teknologi terbaru pada kedua roket tersebut sama sekali belum mampu diungkap dan tidak mampu ditangkal oleh sistem pertahanan anti roket “Iron Dome” zionis sehingga kedua roket tersebut sukses menghantam targetnya di Tel Aviv.

Dalam pernyataan yang dirilis oleh situs resminya, Brigade Al-Qassam menjelaskan roket J 80 ditembakkan ke wilayat Tel Aviv pada hari Sabtu pukul 21.00 malam. Sistem pertahanan anti roket “Iron Dome” tak mampu berbuat apa-apa untuk mendeteksi, apalagi menembak jatuh, roket-roket tersebut. Ini adalah prestasi dan kemampuan roket Brigade Al-Qassam yang tidak dimampui oleh kekuatan militer negara-negara Arab sejak penjajahan Yahudi pada 1948.

Brigade Al-Qassam pada hari Sabtu juga sukses menghantam sebuab jip militer dan sebuah tank pasukan penjajah zionis Yahudi di utara wilayah Gaza dengan roket anti tank jenis Coronet.

Total pada hari Sabtu Brigade Al-Qassam kembali menembakkan 102 roket ke wilayah penjajah zionis Yahudi. Diantaranya adalah 10 roket jenis J 80 ke Tel Aviv dan Bat Yam, dan 7 roket jenis M 75 ke kota Al-Quds, Demona [reaktor nuklir di gurun Negev] dan bandara internasional Ben Gurion. Dua roket jenis Coronet juga ditembakkan terhadap sebuah jip militer dan tank pasukan zionis.

Adapun dari hari pertama sampai hari kelima pertempuran “Peperangan daun-daun yang dimakan ulat”, Selasa (7/7/2014) sampai Sabtu (12/7/2014), Brigade Al-Qassam secara keseluruhan telah menembakkan 571 roket.

Rinciannya adalah empat buah roket jenis R 160, 12 roket jenis J 80, 44 roket jenis yang terkenal M 75, 13 roket jenis terbaru Sajil 55, dan sebuah roket jenis Fajr 5. Sisanya adalah roket-roket dari jenis Grad, Al-Qassam, dan 107. Ditambah roket jenis Coronet yang menghantam jip militer dan tank militer.

Ini adalah pertama kalinya Brigade Al-Qassam memberikan pernyataan rinci terkait roket-roket yang telah mereka tembakkan ke wilayah penjajah zionis Yahudi selama lima hari pertempuran yang telah berjalan.

– See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/07/13/brigade-al-qassam-kembali-tembakkan-102-roket-pada-hari-sabtu.html#sthash.RnFuIWO7.dpuf




Pemerintah RI kecam agresi milter Israel ke Gaza

Marty-NatalegawaJAKARTA– Pemerintah Republik Indonesia mengecam agresi militer Israel ke Jalur Gaza yang menewaskan puluhan orang, termasuk anak-anak. Menurut pemerintah RI, tindakan Israel ini adalah satu lagi hambatan bagi proses perdamaian dengan Palestina.

“Indonesia mengecam aksi militer Israel di Gaza; suatu tindakan yang telah menimbulkan banyak korban sipil yang tidak berdosa di kalangan Palestina dan menciptakan hambatan baru bagi kondisi yang kondusif terhadap proses perdamaian Palestina-Israel,” ujar Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa dalam pernyataannya, Kamis 10 Juli 2014, tulis vivanews.

Sedikitnya 61 orang meninggal dunia dalam serangan brutal roket Israel ke Gaza sejak awal pekan ini. Di antara korban syahid adalah 13 anak-anak yang termuda berusia 18 bulan. Banyak bangunan rumah warga sipil hancur lebur dihajar roket Israel.

“Tindakan Israel ini perlu ditentang. Suatu aksi militer yang semakin menambah penderitaan yang dialami rakyat Palestina di Gaza dan Tepi Barat selama ini sebagai akibat pengepungan oleh Israel yang tiada lain merupakan suatu “collective punishment” terhadap rakyat Palestina,” kata Marty.

Marty melanjutkan bahwa inti permasalahan adalah pendudukan Palestina oleh Israel yang harus segera diakhiri melalui proses perundingan. Di antara solusi yang harus diambil adalah mencapai visi dua negara yang hidup berdampingan (two states solution).

Dalam kaitan ini, kata Marty, melalui Perutap RI di PBB, Indonesia akan bekerja sama dengan Palestina, sesama negara GNB, OKI dan negara-negara lainnya dalam mendorong kepedulian internasional mengenai perkembangan di Gaza.

“Menghadapi sikap Israel ini, Dewan Keamanan-PBB, PBB pada umumnya dan masyarakat internasional secara keseluruhan perlu menekan Israel untuk segera menghentikan aksi kekerasan terhadap warga sipil Palestina di Gaza. Lingkaran kekerasan di kawasan perlu diakhiri,” kata Menlu RI. (*)
– See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/07/10/pemerintah-ri-kecam-agresi-milter-israel-ke-gaza.html#sthash.5vpJTJuW.dpuf