Waspada, Ini Dampak Kabut Asap Bagi Kesehatan

DSC_5409 copyTEMBILAHAN (detikriau.org) – Secara umum, kabut asap dapat mengganggu kesehatan semua orang, baik yang dalam kondisi sehat maupun sakit. Karena itu, dampak akibat gangguan kabut asap ini harus diantisipasi sejak dini oleh masyarakat.

Hal itu disampaikan PLT Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) melalui Kepala Seksi (Kasi) Promosi Kesehatan (Promkes), Fitri Astuti kepada detikriau.org di ruang kerjanya, kemarin.

Dijelaskan, pada kondisi kesehatan tertentu, orang akan menjadi lebih mudah mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap dibandingkan orang lain.

“Seperti pada orang dengan gangguan paru, jantung, lanjut usia (lansia) dan anak-anak,” kata Fitri.

Adapun dampak akibat gangguan kabut asap bagi kesehatan yang harus diantisipasi sejak dini, diantaranya :

  1. Iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan serta menyebabkan reaksi alergi, peradangan dan mungkin juga infeksi.
  2. Kabut asap dapat memperburuk penyakit asma dan paru kronis lain, seperti bronkitis kronik, PPOK dan sebagainya.
  3. Kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan seseorang mudah lelah dan mengalami kesulitan bernafas.
  4. Bagi mereka yang lansia dan anak-anak maupun yang mempunyai penyakit kronik, dengan kondisi daya tahan tubuh yang rendah akan lebih rentan untuk mendapat gangguan kesehatan.
  5. Kemampuan dalam mengatasi infeksi paru dan saluran pernafasan menjadi berkurang, sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi.
  6. Berbagai penyakit kronik juga dapat memburuk.
  7. Bahan polutan pada asap kebakaran hutan dapat menjadi sumber polutan di sarana air bersih dan makanan yang tidak terlindungi.
  8. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) jadi lebih mudah terjadi, terutama karena ketidakseimbangan daya tahan tubuh (host), pola bakteri/virus penyebab penyakit (agent) serta buruknya lingkungan ( environment). (adi/adv)



Libur Kabut Asap, Anak-anak Justru Manfaatkan Dengan Bermain Tanpa Menggunakan Masker

“Seharusnya orang tua lebih teliti mengawasi anaknya demi kesehatan bersama,”

foto diambil di depan SDN 003 Sungai Luar
foto diambil di depan SDN 003 Sungai Luar

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Pelajar setingkat SD dan SMP di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diliburkan sejak tanggal 3 September kemarin. Kebijakan itu merupakan kebijakan insidensial melihat kondisi asap semakin pekat. Namun berdasarkan pantauan lapangan, para pelajar itu bukannya berada di rumah, akan tetapi dikesempatan libur ini dimanfaatkannya untuk bermain di luar tanpa masker.

Padahal tujuan pemerintah dari libur tersebut supaya para pelajar bisa menghindari secara total pekatnya asap di udara Kabupaten Inhil. Dimana, dalam sepekan terakhir bahkan lebih, Inhil penuh diselimuti asap akibat kebakaran hutan lahan di sejumlah daerah.

“Sangat disayangkan kalau pelajar kita di Inhil hanya memanfaatkan hari libur dengan bermain. Seharusnya orang tua lebih teliti mengawasi anaknya demi kesehatan bersama,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Inhil, Helmi D, Jum’at (4/9/2015).

Kendati demikian, Helmi tetap menghimbau kepada seluruh orang tua pelajar untuk lebih ketat mengawasi anak-anaknya untuk tidak banyak bermain di luar rumah, terlebih jika bermain tanpa masker.

“Kami meliburkan sekolah itu demi menghindari bahaya kabut asap, bukan untuk bermain bebas,” pungkasnya. (mirwan)




Ridwan: Awalnya, Si Penderita Gizi Buruk Ini Disembunyikan

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Kepala Puskesmas Pembantu (Pustu) Harapan Tani Kecamatan Kempas Kabupaten Indragiri Hilir (Inhi), M Ridwan menyampaikan, si penderita gizi buruk Siti Saliah aawalnya disembunyikan oleh orang tuanya sendiri, yakni pasangan suami istri Saparudin dan Karinah.

“Waktu kami kesana beberapa waktu lalu, entah kenapa orang tuanya tampak sangat enggan memperlihatkan anaknya yang sedang menderita gizi buruk,” ujar Ridwan ketika dijumpai sejumlah awak media di RSUD Puri Husada Tembilahan, Senin (24/8/2015).

Ia menyebutkan, pertama kali yang menemukan anak yang baru berusia 2 tahun 4 bulan itu adalah Kader Pustu Harapan Tani bersama beberapa peserta KKN salah satu Universitas di Provinsi Riau pada hari Rabu (19/8) kemaren. Dari penemu adanya penderita gizi buruk itulah ia mengaku menerima laporan dari kadernya sendiri bahwa salah satu keluarga di desa itu sedang memerlukan bantuan.

Adapun bantuan yang dilakukan, diantaranya membantu menguruskan secara administrasi yang sangat penting dalam proses perawatan d RSUD. Sebab kala itu, pasangan suami istri tersebut belum memiliki Kartu Keluarga (KK), terlebih Kartu Tanda Penduduk (KTP).

“Selama ini, si penderita gizi buruk itu hanya diberi orang tuanya susu saset, meski pernah diberi ASI tetapi putus karena ibunya tengah mengandung anak ketujuh namun keguguran,” jelasnya dan juga menyampaikan bahwa kini ibu Siti kembali tengah mengandung anak dengan umur kandungan 8 Bulan.

Pada akhirnya, Siti pun kini dirujuk ke RSUD Puri Husada Tembilahan guna dilakukan mendapatkan perobatan secara intensive. Sedangkan biaya pengobatan, dikatakan Ridwan telah ditanggung oleh Jamkesda. (mirwan)




Penyembuhan ODGJ Butuh Dukungan Keluarga dan Lingkungan

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Selain dengan memberikan obat, proses penyembuhan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) juga membutuhkan faktor-faktor penunjang lainnya, seperti dukungan penuh dari pihak keluarga dan lingkungan.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), DR Hj Alvi Furwanti Alwie melalui Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Khusus, Devi Natalia saat berkunjung ke salah satu rumah pasien ODGJ di Kecamatan Tembilahan Hulu, belum lama ini.

Dikatakan Devi, meskipun tenaga kesehatan terus melakukan pemantauan secara langsung ke rumah dan memberikan obat, namun itu saja tidak cukup untuk proses penyembuhan pasien ODGJ, karena yang lebih penting adalah support dari orang-orang di sekitarnya.

“Jadi, dukungan keluarga dan lingkungan sangat berperan besar dalam proses penyembuhan pasien ODGJ,” tutur Devi.

Oleh karena itu, lanjut Devi, keberadaan pasien ODGJ ini harus bisa diterima dengan baik oleh pihak keluarga dan masyarakat di lingkungan sekitarnya, sehingga yang bersangkutan tidak merasa terbuang dan disisihkan.

“Mereka (Pasien ODGJ, red) jangan dikucilkan dan jangan lagi ada yang dipasung, sebab akan memperlambat proses penyembuhannya. Jadi, mari sama-sama kita obati dan sembuhkan mereka, supaya bisa kembali beraktifitas di tengah-tengah masyarakat,” pesan Devi.

Untuk diketahui, hingga saat ini jumlah pasien ODGJ di Kabupaten Inhil sudah tercatat mencapai 97 orang, dimana 48 pasien diantaranya dinyatakan mulai membaik dan ada pula yang telah membaur bersama masyarakat. (adi/adv)




Polisi Angkut 6 Pelaku Judi Qiu dan 1 Orang Pemilik Tempat Judi

gbr Ilustrasi
gbr Ilustrasi

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Polres Indragiri Hilir (Inhil) kembali mengamankan sejumlah pelaku judi, kali ini, 6 orang pelaku judi jenis QiuQiu di Jalan Gerilya RT 01 RW 15 parit 9 Tembilahan Hulu, Sabtu (11/7/2015) dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB.

Tak hanya itu, pihak kepolisian bahkan juga mengamankan satu orang lainnya yang diduga sebagai penyedia tempat perjudian serta mengamankan sejumlah barang bukti berupa 4 kotak kartu kabuki bekas pakai, 4 kotak kartu kabuki baru dan uang tunai sejumlah Rp 179.000.

Kapolres Inhil AKBP Hadi Wicaksono Sik melalui PAUR Humas Polres, Iptu Warno Akman, Minggu (12/7/2015) menerangkan pada waktu itu sekira pukul 01.00 WIB petugasnya mendapat informasi dari masyarakat tentang adanya dugaan tindak pidana perjudian, berdasarkan informasi tersebut diresponnya dengan baik dan langsung digerebek.

“Usai terima informasi, beberapa menit kemudian para personil piket sat Reskrim Polres Inhil, Piket Sat Intelkam Polres Inhil serta anggota unit opsnal Polres Inhil langsung meluncur ke sebuah warung Bilyard dan memang ada tindak pidana perjudian di sana,” kata Warno.

Saat itulah ditemukan petugas ada 6 orang yang sedang melakukan permainan judi jenis QQ itu dan selanjutnya atas penemuan tersebut langsung dilakukan penangkapan.

Adapun ketujuh orang yang diamankan itu yakni HE (30), JA (23), MI (31), SP (28), SU (50), AS (28) dan terakhir PU (32). Sedangkan pekerjaan para pelaku ini berpariasi, ada sebagai nelayan, wiraswata, buruh bahkan ada juga salah satu dari mereka sebagai ABK Kapal yang datang dari Banten. (mirwan)




Dinsos Diminta Lakukan Pendataan Fakir Miskin dan Orang Terlantar

anak terlantar. Foto; net
anak terlantar. Foto; net

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diminta untuk melakukan pendataan terhadap keberadaan fakir miskin dan orang terlantar di Negeri Seribu Parit.

Permintaan tersebut disampaikan Sekretaris Komisi IV DPRD Inhil, Herwanissitas terkait dengan adanya penemuan jenazah orang terlantar di Kota Tembilahan, belum lama ini.

Dikatakan pria yang akrab disapa Sitas ini, fakir miskin dan orang terlantar wajib diperhatikan dan dipelihara oleh negara. Karena itu, jangan sampai keberadaan mereka dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian serius dari Pemkab Inhil.

“Ke depan, kita minta hal ini tidak terjadi lagi. Kalau masih ditemukan, Pemda harus bertanggung jawab karena telah mengabaikan dan melakukan pembiaran terhadap masyarakat,” tutur Sitas.

Dijelaskan politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Inhil ini, Dinsos harus menyadari serta memahami dengan baik apa yang menjadi peran dan fungsinya di tengah-tengah masyarakat.

Apalagi, sebagai salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Inhil tentunya Dinsos memiliki tanggung jawab penuh dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat serta turut bersama-sama mendukung dan mensukseskan program pemerintah.

Oleh karena itu lanjut Sitas, diharapkan kepada Kepala Dinsos dan jajarannya agar bisa melakukan pendataan fakir miskin dan orang terlantar ini secara tepat dan akurat sesuai dengan fakta yang ada di lapangan guna memudahkan pemerintah dalam penyediaan pelayanan.

“Kemudian yang juga tak kalah pentingnya, Dinsos harus menjalin kerjasama dan koordinasi yang baik dengan pihak terkait lainnya seperti Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB), dalam upaya memudahkan pelaksanaan berbagai program pemerintah,” imbuhnya.(adi/adv)