Inilah Kriteria Yang Memenuhi Prosedur Fogging

hindari-peserta-pon-dari-serangan-dbd-diskes-inhil-lakukan-foggingTEMBILAHAN (detikriau.org) – Fogging adalah upaya pemberantasan nyamuk dan bukan upaya pencegahan, sehingga fogging baru akan dilaksanakan apabila tedapat hal-hal yang telah memenuhi kriteria fogging.

Oleh karena itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie mengajak seluruh masyarakat, untuk mengetahui dan memahami apa-apa saja yang menjadi kriteria fogging tersebut.

Adapun beberapa kriteria yang memenuhi prosedur fogging, yakni adanya laporan atau ditemukan kasus dan penderita DBD.

Kemudian, ditindaklanjuti oleh UPT Puskesmas terdekat, dengan melakukan pelacakan kasus / pencarian penderita DBD lainnya (Penyelidikan Epidemiologi) ke lokasi diduga terjadi penularan DBD dan pemeriksaan jentik dengue (DBD) pada rumah atau bangunan lainnya, dengan areal radius 100 meter dari tempat tinggal penderita DBD.

Jika ditemukan 1 atau lebih penderita DBD dan atau lebih dari 3 orang tersangka DBD lainnya, serta ditemukan jentik dengue sebanyak lebih atau sama di 5 dari rumah yang diperiksa, maka dilakukan gotong royong warga untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) DBD, pemberian bubuk Abate, penyuluhan dan fogging dalam radius 100 meter.

Apabila tidak ditemukan penderita lainnya, tetapi ditemukan adanya jentik dengue, maka dilakukan gotong royong PSN DBD, pemberian bubuk Abate dan penyuluhan.

“Jika tidak ditemukan penderita lainnya dan tidak ditemukan jentik dengue, maka hanya akan dilakukan penyuluhan kepada masyarakat,” kata Alvi.

Selanjutnya, mantan Kepala Bappeda Inhil ini juga mengimbau kepada seluruh masyarakat, untuk terus menggalakkan pola hidup bersih dan sehat.

“Caranya, dengan selalu membersihkan lingkungan rumah dan sekitar,” pesannya.(adi/adv)




Cegah Penyakit Dari Gigitan Nyamuk, Masyarakat Diimbau Gunakan Kelambu Saat Tidur

kelambuTEMBILAHAN (detikriau.org) – Mencegah penyebaran berbagai penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk, salah satu upayanya bisa dilakukan dengan mempergunakan kelambu saat tidur.

Imbauan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie. upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran penyakit yang biasanya muncul saat peralihan musim seperti sekarang ini.

Upaya lainnya agar tidak mudah tertular berbagai penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk, diantaranya adalah dengan menggunakan obat nyamuk atau memakai obat oles anti nyamuk.

“Namun, cara yang paling efektif dan sangat mudah untuk dilakukan adalah dengan menggunakan kelambu saat tidur, serta menjalankan pola hidup sehat dan bersih,” tutur Alvi kepada detikriau.org, belum lama ini.

Dijelaskan Alvi, kondisi cuaca saat ini merupakan saat-saat yang sangat tepat untuk meningkatkan pola hidup sehat dan bersih, dalam upaya mencegah perindukan vektor penyakit, serta penularan dan penyebaran penyakit tular vektor.

“Kita harapkan kerjasama dan peran aktif seluruh masyarakat, khususnya dalam mengendalikan berbagai penyakit tular vektor, seperti Malaria, Demam Berdarah Dengue (DBD), Filariasis, Chikungunya, Japanese Encepahlitis dan Pes,” terangnya.

Selain itu, lanjut mantan Kepala Bappeda Inhil ini, salah satu upaya konkrit di lapangan, terutama untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit tular vektor dapat dilakukan dengan pemberantasan sarang-sarang nyamuk, serta selalu menjaga kebersihan rumah dan lingkungan masing-masing.

“Kita juga mengimbau masyarakat agar mendisiplinkan diri dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya, dengan melakukan 3M, yakni menguras bak mandi, menutup rapat tempat-tempat penampungan air dan mengubur kaleng-kaleng bekas, dalam upaya mengantisipasi perkembangbiakan nyamuk,” imbuhnya.(Adi)




Musim Penghujan, Masyarakat Dihimbau Waspadai DBD

16-POSTER-ANAK-02-DBDTembilahan (detikriau.org) – Memasuki musim penghujan, Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir menghimbau masyarakat untuk mewaspadai timbulnya penyakit Demam Berdarah Dangue (DBD). Sebagaimana biasanya, dimusim penghujan berpotensi mengingkatkan populasi nyamuk.

‘’DBD memang mudah datang saat musim penghujan. Karena itu seluruh warga kita himbau untuk mewaspadainya,’’ Ujar Kadiskes Inhil, Dr Alvi Furwanti Alwie melalui sambungan selularnya, Kamis (4/12)

Untuk mengantisipasi berkembangnya nyamuk, ia juga menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk terus melakukan gerakan menjaga kebersihan lingkungan. Dengan menjaga lingkungan tetap bersih, akan meminimalisir berkembangnya jentik nyamuk dan penyebab imbulnya penyakit lainnya.

Lebih jauh diterangkannya beberapa kondisi yang sering menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya jentik nyamuk seperti penampungan air, halaman tergenang dalam jangka waktu lama, talang air, vas bunga dan bak mandi. ‘’Jika malas membersihkan tempat-tempat timbulnya jentik maka nyamuk akan berkembang biak dengan cepat,’’ terang Alvi.

Karena itu ia mantan Kepala Bappeda Inhil ini menyarankan seluruh warga seharusnya lebih giat melakukan gerakan kebersihan lingkungan terutama membersihkan selokan dan tempat-tempat tergenangnya air.

Tindakan penting dilakukan, katanya adalah memutuskan mata rantai tumbuh-kembang nyamuk. ‘’Kalau tempat bertelur sudah kita bersihkan, berarti memutus mata rantai agar tidak ada jentik nyamuk yang tumbuh menjadi nyamuk dewasa,’’ terangnya.

Untuk pencegahan timbul DBD pada tahun ini Diskes menurut Alvi tetap memberikan himbauan dan sosialisasi tentang bahaya dan pencegahan DBD ini terutama dengan sasaran di Posyandu, sekolah, dan tempat-tempat umum lainnya.(dro/adv pemkab inhil)




Oktober 2012 Kasus DBD Inhil Meningkat Drastis

TEMBILAHAN (www.detikriau.org)- Jumlah kasus Demam Berdarah (DBD) di Tembilahan meningkat. Dari data sepajang Oktober 2012, Untuk RSUD Puri Husada di Tembilahan saja mencatat sebanyak 37 Rujukan kasus DBD. Hal ini sangat jauh meningkat jika dibandingkan dengan data pada Oktober tahun 2011 yang hanya mencatat 10 rujukan kasus.

Seperti yang disampaikan oleh Direktur RSUD Puri Husada Tembilahan  dr. Irianto melalui Staf Pelayanan Medis dan Pencegahan, Aan. Dia menyampaikan, angka tersebut dapat diartikan sebagai meningkatnya kasus DBD dan juga bisa diartikan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk membawa diri ke rumah sakit dalam memeriksakan kesehatannya.

“Memang angka tersebut hanya jumlah rujukan dan temuan yang kita dapati di RSUD saja, namun untuk keseluruhan kita tidak bisa pastikan tetapi dengan data tersebut kita bisa lihat memang ada peningkatan yang drastis dalam kasus DBD ini,” jelasnya (2/11).

Aan menambahkan, hal ini dapat diperparah dengan kondisi cuaca yang terjadi saat ini. Jika tidak dilakukan pencegahan secara menyeluruh dikhwatirkan jumlah kasus DBD dapat terus bertambah.

“Dengan cuaca yang sering berganti-ganti hujan panas seperti saat ini juga membuat jenis nyamuk yang menularkan penyakit ini dapat berkembang biak dengan cepat,” jelasnya.

Kondisi tersebut langsung mendapat respon oleh salah seorang anggota DPRD Inhil, H Adriyanto. Baginya ini menjadi preseden buruk terhadap pemerintah dalam menangani masalah kesehatan khususnya masalah DBD.

“Indikasinya jika masyarakat sehat berarti pemerintah berhasil dalam mengurus kesehatan masyarakat, namun jika banyak yang sakit berarti ada yang salah di negeri ini,” jelasnya.

Adriyanto juga menjelasakan, kondisi ini sudah seharusnya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah setempat. Dengan adanya kasus endemic ini, Pemerintah dapat memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pencegahan kasus DBD tersebut. menurutnya, salah satu sarang nyamuk tersebut adalah drainase yang mampet dan banyak terdapat di dalam kota Tembilahan.

“Ya kita meminta pemerintah dapat serius memerhatikan permasalahan ini. Mungkin kita bisa lihat bagaimana buruknya drainase di Tembilahan ini, di tengah perkotaan saja airnya tidak mengalir apa lagi yang terdapat di gang-gang yang padat dihuni oleh penduduk. Artinya ini perlu kerjasama serius antar instansi terkait, kalau perlu adakan jumat bersih untuk membersihkan drainase tersebut,” jelasnya, (dro/*0)

Pengutipan berita dan gambar harus mencantumkan detikriau.org atau kami akan tuntut sesuai ketentuan UU yang berlaku




Hingga Akhir Agustus 2012, 6 Terserang DBD, 1 Meninggal

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Sampai akhir agustus 2012 kemaren, terdata sebanyak 6 orang warga Kabupaten Indragiri Hilir terserang penyakit Deman Berdarah Dengue (DBD) dan satu orang meninggal dunia.

Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur RSUD Puri Husada Tembilahan, Dr. Irianto kepada wartawan kemaren. Dua dari pasien itu yakni,M Tayib (14) dan Siti Aisyah (6) yang merupakan anak dari pasangan suami istri, Mukti (50) dan Siti Rohai (44), warga Jalan Grilya Parit 8, Gang Cendana, Tembilahan. “Ke dua pasien kakak dan adik yang kini ditangani secara medis di RSUD PH Tembilahan ini memang sudah positif DBD. Kita terus melakukan perawatan intensif kepada pasien,” tegas Dr. Irianto

Ditambahkan Dr. Irianto, secara tupoksi, penanganan kemunculan DBD merupakan tugas dari Dinas Kesehatan dan pihak RSUD hanya menanganan perawatan dan pengobatan terhadap pasien.”Masa inkubasi DBD 3 hingga 15 hari. orang yang tertular penyakit ini bisa dikelompokkan diantaranya,  bentuk abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun, dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 – 7 hari, nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit. Kemudian,  dengue haemorrhagic fever (Demam berdarah dengue/DBD) gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari hidung, mulut, dubur, dan terakhir adalah dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok atau presyok pada bentuk ini sering terjadi kematian,” jelasnya.

Untuk menghindari dari serangan penyakit DBD, Dr. Irianto menyarankan diantaranya adalah dengan menggunakan lotion anti nyamuk dan menghindari tempat-tempat yang berkemungkinan banyak terdapat nyamuk. Menimbun sampah yang cenderung menampung air, menaburkan bubuk abate pada tempat-tempat genangan dan penampungan air serta selalu menyemprot tempat-tempat yang menjadi tempat bersarangnya nyamuk dengan obat semprot nyamuk.

“pencegahan secara massal di lingkungan setempat bisa dilakukan dengan bekerja sama dengan RT/RW, Kelurahan bersama Puskesmas setempat dengan melakukan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN), fogging, atau memutuskan mata rantai pembiakan Aedes aegypti dengan  Abatisasi,” pungkasnya.(fsl/ek)