INHIL TERPANTAU DUA TITIK API

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Sampai saat ini masalah Karhutla di Kabupaten Inhil masih belum selesai, buktinya dari hasil pantauan satelit NOAA 18, yang sudah dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Indragiri Hilir, pada Rabu (25/7) kemarin, untuk di Kabupaten Inhil masih terpantau adanya 3 titik api (Hotspot).

Menurut Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Indragiri Hilir Drs.Darussalam MM, untuk jumlah titik api yang sudah terpantau oleh satelit, sesuai dengan data ada 2 titik api

Dari jumlah 2 Hotspot yang dimaksud Kepala BLH Inhil, terjadi untuk satu titik api terpantau di Desa Simpang Kateman Kecamatan Pelangiran, kemudian satu titik api lagi terpantau di Desa Pelanduk Kecamatan Mandah

“Dari hasil data pantauan satelit NOAA. Pada Rabu (25/7) kemarin, untukKabupaten Indragiri Hilir terpantau adanya 2 titik api, yang tersebar pada dua desa di dua Kecamatan. Yaitu Kecamatan Pelangiran dan Kecamatan Mandah” kata Drs.Darussalam MM

Lebih jauh dikatakan Kepala BLH   bahwa sampai sejauh ini, petugas BLH dilapangan masih turun kelokasi untuk mencari sumber titik api tersebut, jika memang nanti terdapat sumber api yang ditimbulkan secara sengaja oleh perusahaan misalnya, tentu akan diberikan sanksi yang tegas

“ Kita masih belum tahu asal sumber api, sebab petugas kita masih mendatangi lokasi, yang jelas jika memang api itu berasal dari lahan perusahaan dan sengaja dibakar tentu akan kita tindak tegas” ujarnya

Meskipun demikian pihaknya mengaku akan terus konsisten untuk melakukan pemantauan secara intensif, untuk menghindari jangan sampai ada kabut asap di Kota Tembilahan, seperti kejadian-kejadian sebelumnya

Pada kesempatan ini, Darussalam juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir, terutama yang mempunya lahan kebun untuk tidak melakukan secara sengaja melakukan pembakaran lahannya, yang nantinya bisa berakibat fatal dan menggganggu kesehatan lingkungan,  akibat kabut asap yang timbul adanya kebakaran seperti yang terjadi belum lama ini, pungkasnya. (Tn)




Tiga Tahun Rusak Parah, Jalan Desa Batang Tumu Ke Bantaian Tak Kunjung Diperbaiki

TEMBILAHAN(www.detikriau.org)  – Kondisi jalan yang menghubungkan antara dua desa yakni Desa Batang Tumu menuju Desa Bantaian Kecamatan Mandah saat ini mengalami kerusakan yang cukup parah. Padahal jalan tersebut merupakan akses jalan satu-satunya yang menghubungkan kedua desa yang bertetangga tersebut.
Dari informasi yang berhasil dirangkum, kerusakan yang terjadi pada ruas jalan tersebut sudah berlangsung hampir selama tiga tahun belakangan ini. Sayangnya sampai saat ini belum juga ada upaya perbaikan meskipun dalam setiap Musrenbang Desa yang dilaksanakan, selalu saja program perbaikan jalan tersebut dikatakan menjadi prioritas.

H.  Awandi salah seorang anggota DPRD dari Dapil tersebut mengatakan, warga sudah sering mengeluhkan kerusakan jalan yang terjadi. Makanya ia selaku wakil rakyat mengharapkan kepada Satker terkait agar dapat melakukan upaya perbaikan terhadap ruas jalan yang panjangnya sekitar 5 KM.

“Jalan tersebut merupakan akses jalan utama yang menghubungkan antara dua desa. Jadi kalau memang ada warga yang ingin pergi ke desa tetangga melalui jalan darat, pasti harus lewat jalan tersebut. Dengan kerusakan jalan yang terjadi, arus orang dan barang jadi sangat terhambat dan daya tempuhnya juga jadi sangat memakan waktu,” kata politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut. (suf)




Kondisi Jembatan Desa Bakau Aceh Memprihatinkan

gambar ilustrasi jembatan rusak

TEMBILAHAN(www.detikriau.org) – Kondisi jembatan beton yang ada di Desa Bakau Acek di Kecamatan Mandah setahun belakangan ini sangat memprihatinkan. Padahal keberadaan jembatan tersebut sangat penting, karena menjadi penghubung antara Desa Bakau Aceh  dengan Dusun Saba dan beberapa dusun lainnya.

 

Apalagi keberadaan jembatan dengan panjang 40×2 meter selain digunakan oleh masyarakat sebagai aktivitas sebagai sarana penghubung, juga ramai digunakan oleh sekolah. Sebab hanya di desa Bakau Aceh ada bangunan sekolah SMP dan SD bagi anak untuk menuntut ilmu di kawasan tersebut.

 

“Jadi siapapun yang ingin sekolah ke Desa Bakau Aceh baik SD dan juga SMP harus melewati jembatan tersebut. Tapi belakangan ini kondisi jembatan cukup memprihatinkan,” kata H Awandi A.Ma anggota DPRD Inhil dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari Dapil tersebut, baru-baru ini.

 

Oleh sebab itu,demi kelancaran dan keamanan terutama untuk anak sekolah, makanya warga sangat mengharapkan pembangunan jembatan baru dilokasi yang ada sekarang. Sebab jangan sampai, anak sekolah  jadi terhambat dalam menuntut ilmu, hanya karena persoalan jembatan rusak atau ambruk.

 

“Kita berharap kepada Pemkab Inhil dapat memprioritaskan pembangunan jembatan beton untuk desa Bakau Aceh Kecamatan mandah dalam rangka memudahkan aktivitas warga terutama untuk anak sekolah,” katanya lagi. (Suf)