Lapas Tembilahan Kekurangan Sumber Air Bersih

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Tembilahan, Jalan Prof M Yamin kekurangan sumber air. Pernyataan tersebut diungkapkan Kepala Lapas Kelas II A Tembilahan, Tommy pada acara penyerahan remisi umum dan dasawarsa warga binaannya di ruang serba guna Lapas Tembilahan, Senin (17/8/2015) kemaren.

“Kami di sini masih kekurangan sumber air meski beberapa waktu lalu kita telah menerima bantuan satu sumber air sumur bor dari Pemkab Inhil,” katanya.

Dengan demikian, ia kembali berharap ada bantuan lagi dari Pemkab Inhil untuk membantu memfasilitiasi sumber air, minimal satu sumur bor lagi. Sebab katanya, kebutuhan air di dalam Lapas tersebut sangat banyak. Kini jumlah warga binaan Lapas itu lebih dari 600 orang.

Dalam hal itu, Bupati Inhil HM Wardan menanggapi akan kembali mengupayakan penyaluran bantuan sesuai kebutuhan Lapas Kelas II A Tembilahan. Namun katanya harus sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

“Prosedur kita harus melalui Musrenbang dan pokok-pokok pikiran dari anggota DPRD Kabupaten Inhil yang kemudian akan dibahas secara bersama,” ungkap Wardan saat menghadiri acara tersebut.

Lebih lanjut ia mengatakan, setelah dapat hasilnya, barulah masuk dalam penyusunan anggaran 2016 mendatang. (mirwan)




Pasarkan Buah Karya Bengkel Kerja Bangkit, Lapas Butuhkan Kerjasama

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)  Kelas II A Tembilahan membutuhkan kerjasama dengan pihak ketiga. Kerjasama ini diperlukan dalam rangka melakukan pemasaran hasil produksi narapidana (napi) bengkel kerja bangkit.

“kita memiliki beberapa produk yang kita rasa siap untuk dipasarkan baik dari bentuk dan kualitasnya. Hanya saja kita belum punya rekanan untuk memasarkan produk tersebut,” jelas Tommy, rabu (3/10).

Saat ini lapas tembilahan telah memiliki beberapa produk hasil sendiri berupa paving blok, Terali Besi dan miniatur Kapal Pesiar serta puluhan tenaga kerja siapa pakai yang terus melakukan produktivitas didalam lapas.

“Kini hasil karya napi ada yang kita gunakan untuk bangunan lapas kita sendiri,” ujar Kalapas.

Kalapas berharap ada pihak ketiga yang bersedia menjalin kerja sama untuk memasarkan produk buah karya napi, hal ini dinilai pantas karena kualitas produk yang dihasilkan diyakini dapat bersaing dengan produk-produk yang ada dipasaran. (dro/*0)




PETUGAS JAGA LAPAS TEMBILAHAN GAGALKAN USAHA PELARIAN NAPI

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Seorang Nara Pidana Lembaga Permasyarakatan (Napi Lapas) Tembilahan kemaren malam (7/8) mencoba melarikan diri. Beruntung aksi ini dipergoki penjaga yang bertugas jaga pada malam tersebut dan berhasil menggagalkan niat pelaku.

Berdasarkan keterangan Kelapas kelas II A Tembilahan, Tommy, usaha percobaan melarikan diri napi ini terjadi saat penghuni lapas sedang mengerjakan sholat berjamaah. Kesunyiaan ini dimanfaatkan pelaku untuk mencoba melarikan diri.

“Kejadiannya sekira pukul 19.30, ada seorang napi yang mencoba melarikan diri. Beruntung petugas jaga sempat memergoki pelaku yang berusaha memanjat tembok lapas. Tapi petugas jaga berhasil menggagalkan usaha pelaku dan kembali menggiringnya keruang tahanan,” Jelas Kalapas saat dikomfirmasi wartwan melalui sambungan telepon selularnya, rabu (8/8)

Kejadian seperti ini ditambahkan Kalapas bisa disebabkan oleh salah satunya seperti kurang memadainya infrastruktur bangunan sehingga membuat sebahagian penghuni lapas berpikir untuk mencoba melarikan diri.

“Iya kita akui mungkin dengan kondisi bangunan kita yang kurang layak ini memudahkan niat para napi yang ingin melarikan diri, seperti yang kita lihat bangunan lapas ini kurang tinggi dan mudah untuk dilewati,” Jelas Kalapas.

Tommy berharap kejadian tersebut bisa membuat pemerintah kabupaten Inhil untuk sedikit peduli dengan permasalahan tersebut, dengan membantu memperbaiki kekurangan-kekurangan infrastruktur bangunan lapas sendiri.

Saat ini upaya yang dilakukan pihak lapas untuk meredam aksi kabur tersebut hanya dengan memberikan pengarahan kepada para napi baik dari sisi mental dan psikologi yang diharapkan dapat membuat para napi bisa menghabiskan masa kurungan dan nantinya setelah bebas bisa menjadi manusia yang lebih berguna dan memiliki keahlian sebagai bekal untuk mencari bekal hidup mereka.(*)