Akhir Kisah Si Namrud yang Angkuh di Tangan Nyamuk

Ilustrasi: Net

detikriau.org – Ribuan tahun sebelum Masehi, wilayah bumi dari Timur hingga Barat, dikuasai empat orang saja dengan daerah kekuasaan masing-masing. Mereka terdiri atas dua orang mukmin yang percaya kepada Allah SWT.

Sedangkan, dua penguasa lainnya berasal dari kalangan nonmukmin yang ingkar terhadap risalah keesaan-Nya. Dua pemimpin mukmin adalah Sulaiman bin Dawud dan Zulkarnain. Sementara, pemimpin yang tak beriman ialah Bakhtanshar dan Namrud bin Kan’an.

Nama pemimpin nonmukmin yang terakhir dikenal diktator, otoriter, dan zalim. Bahkan, Namrud pun disebut-sebut sebagai tiran berdarah dingin dan tak segan menghukum siapa pun yang menolak tunduk terhadap perintahnya. Ia sosok yang ingin dipuja hingga ia memproklamasikan diri menjadi tuhan yang wajib disembah rakyatnya.

Suatu saat, Nabi Ibrahim AS tengah datang menghadiri jamuan makan yang digelar Namrud. Para tamu undangan memilih berbagai menu yang terjamu di meja makan. Namrud bercengkerama dan bertanya pada tiap tamunya tentang siapakah tuhan mereka. Hampir tiap hadirin yang ia tanya menjawab, Namrudlah tuhan mereka.

Tiba giliran Ibrahim mendapat pertanyaan serupa. Terjadilah perdebatan singkat antara kedua tokoh tersebut. Betapa kagetnya Namrud mendapat jawaban yang tak biasa. “Tuhanku yang menghidupkan dan mematikan,” kata ayahanda Ismail itu menimpali pertanyaan Namrud.

Merasa dipermalukan, Namrud pun tidak mau kalah. Ia membantah argumentasi Ibrahim dan tetap bersikeras bahwa dirinya juga bisa menghidupkan makhluk atau mematikannya tanpa menyadari bahwa keistimewan itu hanya dimiliki oleh Allah Sang Khalik semata.
Reaksi ingkar Namrud pun sudah dapat dibaca dengan baik oleh Ibrahim. Ia pun bergegas mengutarakan argumentasi berikutnya tentang keberadaan Allah sebagai Tuhan semesta alam.

Ibrahim menyatakan bahwa Tuhan yang ia sembah mampu mendatangkan matahari dari ufuk timur lalu menenggelamkannya di belahan bumi bagian barat. “Bisakah engkau wahai Namrud melakukan itu?” katanya mendebat Namrud.

Kisah itu terekam jelas dalam surah al-Baqarah ayat 258, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Sang Diktator pun tak bisa berkutik dan kehabisan akal untuk kembali menyanggah pernyataan Ibrahim. Ia terdiam seribu bahasa. Merasa kalah, ia lantas memerintahkan untuk mengambil makanan yang telah diambil Ibrahim. Sosok bergelar khalilullah itu pun diusir dan lantas kembali tanpa merasakan kelezatan hidangan sang raja.

Ibrahim pulang ke rumah dengan tangan hampa di tengah perjalanan ia pun mengambil sekantong pasir lembut dan berdoa agar Allah memberikan rezeki kepada keluarganya. Sesampainya di rumah, Ibrahim beristirahat, perbekalan yang ia bawa, termasuk pasir dalam kantongnya ia taruh di sampingnya begitu saja.

Sewaktu tidur itulah, istrinya membuka perbekalannya dan ia mendapati ragam menu makanan yang nikmat. Ketika Ibrahim bangun, istrinya bertanya dari manakah suaminya itu mendapat makanan lezat begitu banyaknya. Ibrahim sadar, Allah telah memberikan rezeki kepada segenap keluarganya.

Kisah Namrud, tak terhenti pada kegelisahannya. Allah mengutus seorang malaikat untuk menemui Namrud dan mengajaknya beriman. Sekali, dua kali, ajakan tersebut ditolak. “Memangnya ada tuhan selain aku,” kata Namrud sesumbar.

Di kali yang ketiga, ajakan malaikat itu pun mendapat respons tak sedap. Akhirnya, malaikat meminta agar Namrud mengumpulkan sejumlah warganya di pelataran istana. Permintaan itu dikabulkan.

Pada hari yang telah ditentukan Allah mengirim ribuan nyamuk atau sejenis serangga ganas menyerang mereka yang telah berkumpul di sana. Serangga itu memakan habis mereka dan hanya menyisakan tulang belulang. Si malaikat masih berdiri tegak, tak tersentuh serangan mematikan serangga-serangga itu.

Namrud mencoba meloloskan diri dan sembunyi di ruang khususnya. Serangga-serangga itu mengejar. Di persembunyiannya, ia berusaha mengusir nyamuk itu sekuat tenaga dengan memukul-mukulkan papan ke kepalanya.

Kondisi itu bertahan hingga 400 tahun lamanya. Ia pun meninggal dalam kondisi mengenaskan, bukan karena serangan tombak atau hujaman anak panah, melainkan sang diktator itu tewas akibat serangga kecil.

Kisah ini mengisyaratkan tentang kebesaran Tuhan. Allah berkuasa membalas keangkuhan manusia yang congkak dan menumbangkannya dengan perkara sepele, seperti kisah makar dan konspirasi Abrahah dengan pasukan gajahnya yang hendak menghancurkan Ka’bah.

Kedigdayaan pasukan gajahnya ditumpulkan dengan pasukan kecil berupa gerombolan burung ababil ataupun kisah tentang kematian Fir’aun yang mengaku tuhan. Penguasa Mesir itu meninggal tenggelam di Laut Merah.

Sumber : Islam Digest Republika




Kisah Sang Pembaca Basmalah yang Membuat Hati Tergugah

basmalahBasmalah merupakan kata pembukaan Bismillah yang artinya ‘Dengan nama Allah’, lengkapnya adalah Bismillahirrahmanirrahim yang artinya ‘Dengan menyebuat nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’.

Di dalam melakukan segala sesuatu, kita hendaknya mengucapkan basmalah. Karena segala sesuatu itu harus diawali dengan do’a. Dengan diawali basmalah, insyaAllah apa yang akan kita kerjakan akan dimudahkan oleh Allah Ta’ala.

Berikut ini ada kisah seorang istri yang selalu mengucapkan basmalah ketika akan melakukan segala aktivitasnya. Namun sayangnya, ia memiliki suami yang fasiq dan durhaka, sehingga sang suami tak suka jika istrinya selalu mengucap basmalah.

Baca Kisah Selengkapnya …….




Drama “King Sulaiman” Hanya Fiksi. Bukanlah Kisah Tentang Nabi Sulaiman

141225140830-368Tembilahan (detikriau.org) – Tayangan drama King Sulaiman , sebuah drama yang terinspirasi dari sejarah yang berlatar belakang kerajaan Ottoman. Meski terinpirasi dari sejarah, drama ini murni hanya sebatas kisah fiksi.

Menurut Coorporate Communications Manager ANTV, Nugroho Agung Prasetyo sebagaimana dilansir ROL, Kamis (25/12), Ia ingin menegaskan kepada masyarakat, kalau tokoh utama dalam drama fiksi King Suleiman bukanlah kisah tentang Nabi Sulaiman.

Pernyataan ini menurutnya sangat perlu untuk disampaikan karena banyak masyarakat yang salah kaprah. Tokoh King Suleiman yang berada dalam drama ini dikatakan terinspirasi dari sosok Sultan Sulaiman yang berkuasa pada masa kerajaan Turki Usmani.

“Di bagian awal drama selalu ada keterangan yang menyatakan kalau tayangan King Suleiman merupakan fiksi. Selain itu, kisah drama tersebut lebih berfokus pada romantika dan intrik.”Jelas Agung.(dro)

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/12/25/nh4zwo-ini-penjelasan-antv-soal-emking-suleimanem