Bolehkah Balita Minum Susu Kental Manis?

foto: detikHealth

 

Susu adalah salah satu minuman yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat dari segala usia. Rasa dan manfaat yang terkandung di dalam susu menjadikan minuman ini digemari oleh banyak kalangan.

Produk susu juga sangat variatif dan mudah ditemukan di pasaran mulai dari produk yang berbentuk susu murni, susu bubuk, hingga susu cair dalam kemasan. Namun, salah satu yang cukup digemari adalah susu kental manis.

Tidak sedikit orang tua menjadikan susu kental manis sebagai minuman wajib di rumah. Selain rasanya yang enak, susu kental manis juga dipercaya memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk tubuh. Karena alasan itu pula, tak jarang susu kental manis diberikan ke anak usia balita.

Susu kental manis mengandung tinggi gula

Muncul berbagai kabar di media yang memberitakan bahwa kandungan nutrisi susu kental manis tidaklah sebaik apa yang diasumsikan oleh mayoritas orang tua. Sebanyak 50 persen kandungan yang terdapat dalam susu kental manis adalah gula. Kandungan lainnya terdiri atas lemak susu sebesar minimal 8 persen, protein (Nx6,38) minimal sebesar 6,5 persen, dan tidak memiliki total padatan susu sesuai dengan tabel dari BPOM.

Komposisi ini membuat susu kental manis lebih banyak mengandung kalori ketimbang zat gizi dan nutrisi penting.Hal ini tentu akan membahayakan bagi balita Anda yang sedang dalam masa pertumbuhan. Selain itu, tingginya kandungan lemak juga akan memicu gangguan kesehatan, seperti obesitas dan memperbesar kemungkinan terjangkit diabetes sejak usia dini.

Tingginya gula dalam susu kental manis juga berpotensi menimbulkan gangguan dalam jangka pendek, seperti batuk pada saat tidur. Ini disebabkan tertinggalnya lendir di tenggorokan yang tentu akan mengganggu proses pernapasan anak. Karena alasan itulah, susu kental manis lebih tepat untuk digunakan sebagai penambah rasa manis di sajian makanan, bukan minuman yang rutin untuk dikonsumsi sehari-hari.

Di lain sisi, Kepala BPOM, Penny Lukito, seperti dikutip dari Liputan6.com, pernah menegaskan bahwa susu kental manis mengandung susu dan termasuk dalam kategori susu. Namun demikian, meski mengandung susu, susu kental manis bukanlah produk susu untuk pengganti kebutuhan gizi maupun pengganti air susu ibu (ASI). Oleh karena itu, susu ini tidak diperuntukkan untuk bayi dan balita di bawah 12 bulan.

Pilih susu jenis lain

Dalam menyikapi hal ini, orang tua tidak perlu khawatir berlebihan karena bagaimanapun susu yang benar akan memberikan banyak sekali manfaat bagi buah hati. Pilihlah susu yang tepat untuk diberikan kepada balita Anda dan mengandung nutrisi yang dibutuhkan. Misalnya, susu seperti pasteurisasi, UHT, susu steril, susu skim, hingga susu segar adalah beberapa pilihan yang bisa Anda berikan kepada anak.

Kandungan nutrisi pada susu yang tepat akan sangat membantu proses tumbuh kembang anak. Seperti menjaga kesehatan tulang, menguatkan gigi, memelihara kesehatan jantung, meringankan depresi hingga menjaga berat badan anak.

Jadilah orangtua yang bijak. Jangan berikan susu kental manis sebagai minuman utama untuk pemenuhan gizi balita Anda. Sebaiknya, Anda memilih susu jenis lain, seperti sus UHT dan susu bubuk lainnya. Pastikan pula untuk selalu membaca terlebih dahulu kandungan nutrisi yang ada pada setiap produk susu ataupun produk makanan dan minuman lain sebelum diberikan kepada balita Anda sebelum membeli.

Sumber: klikdokter.com

 




Jus Pahit Penurun Kadar Gula Darah

Ilustrasi pare (Pixabay/VitaminaMov)

Jakarta — Banyak orang menganggap bahwa jus tak baik jika dikonsumsi oleh pengidap diabetes. Bukannya menjadi penurun kadar gula darah, jus justru disebut bakal semakin memperparah kondisi.

Penderita diabetes diharuskan untuk menghindari minuman kaya gula, termasuk jus buah segar. Namun, cerita berbeda akan didapat jika Anda meracik jus dengan resep yang tepat.

Salah satu bahan umum yang ditemukan di sebagian besar resep jus untuk pengidap diabetes adalah pare.

Pare merupakan sayur atau buah unik yang kerap digunakan sebagai bahan obat-obatan herbal. Pare merupakan bagian dari tanaman Momorcadica charantia, yang merupakan pohon anggur dari keluarga Cucurbitaceae. Tanaman itu dianggap sebagai yang paling pahit di antara semua buah dan sayuran.

Baca Juga : Mengapa Seharusnya Anda Tidak Minum Kopi Instans?

Tanaman ini tumbuh di daerah tropis dan subtropis seperti Amerika Selatan, Asia, sebagian Afrika, dan Karibia. Di Indonesia, pare mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional.

Situs resmi diabetes.co.uk dilansir cnnindonesia.com menyebut, pare mengandung empat bahan penurun kadar gula darah.

Sejumlah penelitian ilmiah telah membuktikan khasiat pare untuk menurunkan kadar gula darah. Pusat medis NYU Langone, misalnya, menyebut bahwa jika dikombinasikan dengan pengobatan medis, pare bakal ampuh menurunkan kadar gula darah.

Baca Juga: Minyak Kelapa dan Manfaatnya untuk Kecantikan

Terakhir, penelitian yang dipublikasikan pada 2011 dalam Journal of Ethnopharmacologymenyebutkan, dosis pare 2 ribu miligram setiap hari secara signifikan mengurangi kadar gula darah di antara pasien diabetes tipe 2.

Selain ampuh mengobati diabetes, pare juga biasa digunakan untuk mengatasi sakit perut, demam, terbakar, batuk kronis, menstruasi yang menyakitkan, dan gangguan kondisi kulit.

Mengutip Juicing with G, Anda bisa membuat jus dari dua buah pare utuh. Namun, sebelumnya Anda harus siap dengan rasa pahit yang dihadirkan.

Baca Juga : Lezat untuk Lalapan, Kemangi Ternyata Juga Miliki Banyak Manfaat Bagi Kesehatan

Untuk sedikit ‘mematikan’ rasa pahit pare, Anda juga bisa mencampur 2 buah pare dengan 1 mentimun dan 1/2 buah lemon. Timun dan lemon dapat sedikit memberikan variasi dari rasa pare yang sangat pahit.

Terakhir, jika resep kedua tak juga cocok di lidah, Anda bisa mencoba resep penurun kadar gula darah lainnya. Sebanyak 2 buah pare dapat Anda campur bersama dengan 1 mentimun, 1/2 lemon, dan 1 apel hijau.

Namun, perlu dicatat, pengidap diabetes tipe-2 direkomendasikan untuk mengonsumsi resep pertama yang terbuat dari jus pare utuh.




5 Kondisi Kaki Ini Gambarkan Kesehatan Tubuh Anda

“Tahukah Anda bahwa kondisi kaki berhubungan dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan? Baca penjelasannya di sini”

lovemelovemypic/Shutterstock

detikriau.org –  Salah satu cara untuk memelihara kesehatan tubuh secara menyeluruh adalah dengan rutin melakukan cek kesehatan di rumah sakit. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa kondisi kesehatan tubuh ternyata juga bisa diperiksa dengan melihat kondisi kaki sendiri?

Ya, penyakit yang sedang menyerang tubuh bisa terdeteksi dari kondisi telapak, jari, kuku, dan punggung kaki Anda. Dilansir klikdokter dari Reader’s Digest, ini dia 5 kondisi kaki dan artinya bagi kesehatan tubuh Anda:

  1. Kaki kering dan bersisik

Kulit kaki yang kering dan bersisik sering diabaikan, karena dianggap bahwa keadaan itu hanya terjadi pada kaki. Apalagi, jika Anda termasuk orang yang sering beraktivitas di luar ruangan dan kerap menginjak area becek karena air deterjen tanpa menggunakan alas kaki.

Tapi, jika Anda sudah melakukan perbaikan dengan cara sering mengoleskan pelembap, melakukan pedikur, menggosok sel kulit mati, dan selalu menggunakan alas kaki saat berkegiatan, bisa jadi permasalahannya bukan pada kulit kaki Anda, melainkan pada kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid itu sendiri mengontrol laju metabolisme, tekanan darah, pertumbuhan jaringan, dan pengembangan sistem kerangka serta saraf.

Menurut spesialis kaki di Naperville, Illnois bernama Marlene Reid DPM, apabila ada yang kurang beres dari kelenjar tiroid, biasanya tubuh akan memunculkan gejala awal seperti kekeringan parah pada kulit, khususnya di bagian kaki.

“Ketika pelembap tidak membantu mengembalikan kondisi kulit kaki yang kering selama beberapa hari, kami biasanya akan merujuk pasien berobat ke dokter untuk memeriksakan kondisi tiroidnya,” tutur Marlene.

Selain kekeringan pada kulit kaki, kondisi kuku yang rapuh juga bisa mengindikasikan adanya gangguan pada tiroid.

  1. Bisu atau luka di kaki yang tak kunjung sembuh

Coba perhatikan, apakah ada bisul atau luka yang tak sembuh-sembuh di kaki Anda? Jika memang ada, cobalah obati. Apakah kondisinya tak menunjukan perubahan positif? Jika ya, Anda wajib waspada. Sebab, luka di kaki yang tak kunjung sembuh bisa menjadi pertanda dari adanya penyakit diabetes mellitus.

Faktanya, saat kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik, hal itu dapat merusak saraf dan menyebabkan sirkulasi yang buruk sehingga darah tidak mencapai ke kaki. Ketika darah tidak sampai ke luka yang ada di kaki Anda, waktu untuk sembuh pun akan sangat lama.

“Cukup banyak penderita diabetes yang didiagnosis sejak dini hanya dengan memperhatikan kondisi kakinya,” jelas Reid.

3. Kuku kaki mirip sendok

Kuku sendok memang bisa dimiliki oleh bayi dan biasanya akan normal kembali di beberapa tahun pertama kehidupan. Nah, ketika kondisi tersebut tidak membaik hingga dewasa, kemungkinan ada “sesuatu” terkait kesehatan yang sedang terjadi padanya.

Kondisi kuku sendok yang juga dikenal sebagai koilonychias bisa menunjukkan bahwa Anda kekurangan zat besi. Bentuk kuku yang demikian juga bisa menjadi tanda dari penyakit Raynaud atau kondisi yang memengaruhi pasokan darah ke jari tangan dan kaki.

Tak sekadar itu, ada juga yang mengatakan bahwa kuku sendok adalah tanda bahwa Anda terkena lupus atau penyakit autoimun yang menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh.

4. Ada garis veritikal pada kuku ibu jari kaki

Jika ada garis gelap dan vertikal di bawah kuku ibu jari kaki, bisa jadi itu adalah melanoma acral lentiginous atau melanoma tersembunyi. Hal tersebut bisa jadi tanda dari adanya gejala kanker kulit pada seseorang.

Kendati demikian, Anda harus memastikan terlebih dahulu bahwa itu bukanlah jamur kuku. Caranya adalah dengan memperhatikan apakah warnanya kuning kecokelatan dan bersporadis di seluruh kuku.

5. Ada garis merah di bawah kuku kaki

Bila ada garis-garis merah di bawah kuku, hal itu menandakan adanya pembuluh darah yang pecah. Keadaan itu mungkin berhubungan dengan rusaknya kapiler di bawah kuku akibat adanya infeksi pada lapisan dalam jantung (endokarditis).

Apakah ada salah satu kondisi kaki yang sedang Anda alami saat ini? Bila memang ada, jangan tunda lagi untuk berobat ke dokter. Dengan demikian, dokter dapat menentukan diagnosis yang tepat dan memberikan obat yang sesuai untuk mengatasinya. Semakin dini dideteksi dan diobati, kemungkinan penyakit untuk sembuh atau dikendalikan akan semakin besar.

 




Tak Hanya Mempercantik Halaman, Berkebun Ternyata Memiliki Manfaat Sehat Untuk Keluarga.

 

Ilustrasi Foto: vita-nurhayati.blogspot

detikriau.org — Berkebun dapat menjadi aktivitas fisik yang bisa Anda lakukan di waktu senggang bersama keluarga. Selain mudah, berkebun juga memberikan banyak manfaat bagi kesehatan Anda dan keluarga.

Aktivitas berkebun misalnya, menjadi lebih menyenangkan dengan mengajak buah hati Anda bagaimana cara merawat tanaman sejak usia dini. Dengan melakukan aktivitas berkebun, anak dapat belajar mengenai berbagai ragam tumbuhan, termasuk jenis-jenis pohon, bunga, buah, dan sayur.

Aktivitas rumahan tersebut juga membuat anak belajar lebih lanjut mengenai alam sekitarnya, termasuk dari mana asal makanan yang dikonsumsinya, bagaimana cara menyemai biji sayuran, dan lain-lain.

Diwartakan klikdokter.com, berikut beberapa manfaat berkebun yang dapat Anda petik bersama keluarga:

1. Penghilang stres

Tanpa disadari, ketika Anda berkebun di tengah udara segar sambil bermandikan cahaya matahari, mampu menghilangkan stres. Tidak hanya itu, bakteri baik dalam tanah memicu produksi senyawa serotonin dalam otak.

2. Baik untuk kesehatan tubuh

Selain bermanfaat sebagai penghilang stres, ternyata berkebun juga baik untuk kesehatan fisik. Ini disebabkan, berkebun termasuk dalam olahraga tingkat menengah.

Seperti yang disampaikan oleh dr. Nitish Basant Adnani dari KlikDokter, berkebun merupakan salah satu jenis aktivitas fisik aerobik yang baik bagi tubuh. Tanpa disadari, seseorang yang berkebun dengan durasi cukup lama dapat membakar kalori dalam jumlah yang relatif tinggi.

Sesuai dengan penjelasan yang telah disampaikan oleh dr. Nitish, berkebun memiliki efek yang sama dengan berolahraga. Hanya saja, berkebun tidak memerlukan tenaga yang relatif banyak seperti berlari atau bermain tennis.

3. Membangun keluarga harmonis

Berkebun bersama keluarga menciptakan adanya ikatan yang kuat dan kerja sama antar anggota keluarga. Setiap anggota keluarga dapat merasakan momen bahagia dengan melakukan kegiatan di luar ruangan. Kegiatan di luar ruangan sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang anak.

Selain itu, berkebun juga bermanfaat untuk menanamkan rasa tanggung jawab pada anak Anda. Dengan memberikan mereka kesempatan untuk menanam tanaman yang mereka suka, anak Anda akan merasa bertanggung jawab untuk merawat dan  menjaga tanamannya dengan baik.

4. Menumbuhkan pola makan sehat pada anak

Berkebun terbukti dapat menumbuhkan kebiasaan makan sayur-sayuran dan buah pada anak-anak. Jika Anda membiasakan anak Anda berkebun, mereka cenderung mau mencoba berbagai jenis sayuran dan buah.

Tidak hanya menumbuhkan nafsu makan sayuran dan buah pada anak-anak. Ternyata, berkebun juga membuat orang dewasa menyukai sayuran dan buah dibandingkan dengan yang tidak berkebun.

Setelah mengetahui rangkaian manfaat berkebun, kini saatnya Anda merealisasikan hal tersebut dengan langkah berikut:

Konsultasikan tanaman apa yang cocok

Anda dapat menanyakan pada tetangga Anda yang hobi berkebun atau petani lokal terkait tanaman yang cocok. Hal ini perlu Anda lakukan karena setiap wilayah memiliki perbedaan geografis.

Memulainya dengan menanam di pot

Berkebun dengan pot sesuai untuk halaman rumah yang sempit. Bagi Anda yang memiliki halaman rumah luas, menanam di pot juga bermanfaat untuk membiasakan anak-anak berkebun.

Memilih benih tanaman yang baik

Anda dapat melibatkan anak-anak dalam memilih benih tanaman. Misalnya dengan memilih benih tanaman dari sayuran atau buah yang anak Anda suka.

Jadi tunggu apa lagi? Siapkan media tanam, pot, lahan dan biji-biji tanaman yang hendak Anda tanam. Libatkan seluruh anggota keluarga untuk berkebun dan mendapatkan manfaatnya dari aktivitas yang menyehatkan fisik dan pikiran ini.

Editor: faisal




Mending Nge-Vape daripada Rokok, Setuju?

Ilustrasi rokok dan vape. Foto: Ilustrasi/thinkstock

Jakarta – Banyak yang beranggapan bahwa rokok elektrik atau vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Maka dari itu, tren tersebut pun mulai banyak digeluti oleh kalangan remaja.

Tidak jarang pula ada orang tua yang memperbolehkan anak-anaknya nge-vape karena katanya ‘nggak ada asapnya’ atau percaya dengan iming-iming ‘vape lebih aman’ dibandingkan rokokkonvensional.

Menurut dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), remaja lebih baik tidak mengonsumsi keduanya, baik rokok konvensional maupun vape.

“Dari awal remaja mesti sadar betul rokok elektrik sama bahayanya dengan rokok konvensional,” katanya seperti dilansir dari detikHealth.

Pernyataan bahwa rokok elektrik ‘less harmful’ itu menurut dr Agus pernyataan yang menyesatkan. Bahkan Organsisasi Dunia (WHO) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyatakan bahwa pernyataan tersebut tidak tepat.

“Tahu nggak artinya less harmful? Bukan berarti aman kan? Hanya lebih sedikit risikonya. Itu juga tidak benar, sama-sama berbahaya bagi kesehatan kok,” tegas dr Agus.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Dr dr Hasbullah Thabrany, MPH mengatakan bahwa ini merupakan tantangan pendidikan dan orang tua untuk menghalau vape ataupun rokok menyerang para remaja.

“Bagi orang tua lebih baik lihatnya adalah konsumsi itu mubazir apa nggak. Kalau mubazir, nggak ada manfaatnya buat diri kamu, nggak usah dikonsumsi. Soal dia berbahaya atau tidak berbahaya itu urusan kedua. Ini kan nggak ada manfaatnya dia konsumsi vape,” sarannya.

Bagaimana menurut kamu, setujukah bahwa vape lebih aman dari rokok? Tulis di komentar ya!




Madu Palsu Berbahaya untuk Kesehatan. Ini Cara untuk Mengetahuinya

detikriau.org – Madu memang menjadi salah satu bahan minuman alami yang paling banyak digunakan di masyarakat. Banjirnya pembeli pastinya menjanjikan keuntungan. Hal ini menjadi daya tarik oleh segelintir pedagang nakal untuk mencari keuntungan berlimpah dengan cara yang tidak benar. Madupun dipalsukan.

Mengkonsumsi madu palsu memberikan efek tidak baik bagi kesehatan.

Lantas bagaimana membedakan madu asli dan palsu? 

  1. Tes Madu dengan Air

Madu bahan murni dari olahan nektar yang tidak mengandung air. Sehingga Anda bisa melakukan beberapa tes sederhana ini. Tuangkan air mineral ke dalam sebuah gelas atau tempat yang terbuat dari kaca. Kemudian berikan satu sendok madu. Maka hasilnya:

  • Madu asli: madu tidak akan mudah bercampur dengan air, sehingga madu yang kental akan tenggelam di bagian bawah gelas. Bahkan setelah Anda mengaduknya maka bagian madu sulit bercampur dengan air.
  • Madu palsu: mudah bercampur dengan air, tandanya mudah dilihat karena madu tidak tenggelam dan justru bercampur dengan air serta tidak mengental.
  1. Tes Metode Kristalisasi

Pada tahap ketiga dari pengolahan madu maka semua air akan keluar dari madu dan hanya meninggalkan enzim khusus yang tidak akan pernah rusak saat disimpan. Anda bisa melihat proses kristalisasi dalam madu dengan menyimpam madu di botol kaca. Maka hasilnya adalah:

  • Madu asli: bagian madu yang terletak di bawah permukaan kaca akan terlihat mengental dan membentuk kristal. Proses ini masih berhubungan dengan enzim yang terkandung dalam madu dan tidak akan rusak meskipun disimpan.
  • Madu palsu: madu palsu sama sekali tidak akan membuat endapan kristal di bagian bawah. Bahkan madu terlihat sangat cair.
  1. Tes Kelengketan

Madu memang terlihat sangat lengket sehingga terkadang sulit dihapus dari bagian kulit. Namun madu palsu juga sering dicampur dengan gula. Cara pengetesan ini dengan menerapkan madu pada jari-jari tangan. Biarkan selama kurang lebih dua menit, maka hasilnya adalah:

  • Madu asli : madu meleleh perlahan namun sangat kuat sehingga terlihat tidak bisa dipisahkan dari sumbernya.
  • Madu palsu : madu sangat lengket dan jika Anda menempelkan dengan jari lain maka ada bagian madu yang terus melekat.
  1. Tes Madu dengan Kertas

Madu asli memang bisa terlihat dengan kandungan air yang sangat sedikit atau tidak sama sekali. Hal ini berbeda dengan jenis madu palsu yang ditambah dengan air dan gula. Untuk melihat komposisi air dalam madu maka Anda bisa menuangkan satu sendok teh madu ke dalam kertas. Pisahkan antara kertas untuk madu asli dan madu palsu. Setelah itu tunggu hingga tiga menit, maka hasilnya adalah:

  • Madu asli : karena kadar air yang sedikit atau tidak ada sama sekali maka bagian kertas yang ditetesi dengan madu tidak akan berlubang. Tidak ada bagian air yang menembus kertas.
  • Madu palsu : karena mengandung air maka bekas tetesan madu pada kertas akan meninggalkan bekas lubang atau sobekan.
  1. Tes dengan Pasir

Madu memiliki sifat ikatan yang sangat kuat karena itu tidak mungkin madu bisa berubah bentuk ketika diteteskan ke sebuah media. Anda bisa mencoba cara ini dengan , meneteskan madu ke pasir yang sudah diletakkan dalam piring atau mangkok. Tunggu hasilnya selama dua menit, maka hasilnya adalah:

  • Madu asli : tetesan madu asli pada pasir sama sekali tidak akan berubah atau menyebar ke bagian pasir yang lain. Hal ini disebabkan karena madu bersifat mengikat dan padat.
  • Madu palsu: madu akan menyebar ke bagian sekitarnya dari tempat penetesan madu atau bahkan terserap ke bagian dalam lapisan pasir. Hal ini disebabkan karena madu palsu cair dan mengandung banyak air sehingga mudah menyerap ke pasir.
  1. Tes Rasa Madu

Semua madu biasanya memiliki rasa manis dan aroma yang tergantung dari asal nektar yang dikumpulkan oleh lebah. Madu yang berasal dari hutan dan peliharaan tentu memiliki aroma nektar yang berbeda tergantung dari bunga yang dihisap oleh madu. Namun rasa madu asli umumnya sama yaitu manis dan  kuat. Perbedaan rasa yang paling menonjol adalah:

  • Madu asli : rasanya tidak akan hilang setelah tutup kemasan dibuka selama beberapa menit. Hanya saja rasanya yang kuat akan hilang jika dimasak dengan suhu yang terlalu panas.
  • Madu palsu : madu palsu yang sudah dicampur dengan gula atau pemanis rasanya akan hilang setelah bercampur dengan udara dan terkadang hanya menyisakan rasa gula dan aroma tambahan.
  1. Tes Api

Salah satu cara lain untuk menilai madu asli adalah dengan melihat kelembapan. Caranya adalah dengan mencelupkan batang korek api atau lilin yang sudah menyala ke dalam gelas berisi madu. Anda bisa melihat hasilnya adalah:

  • Madu asli : batang korek api akan tenggelam dan apinya seperti terhisap pelan ke dalam madu kemudian api mati. Hal ini disebabkan karena madu asli memiliki tingkat kelembapan yang sangat rendah.
  • Madu palsu: batang korek api akan tenggelam cepat kemudian api akan segera padam langsung tanpa terserap ke bagian dalam madu.
  1. Tes dengan Semut

Semut juga bisa menjadi salah satu indikator untuk mengetahui madu asli dan madu palsu. Caranya adalah dengan meletakkan beberapa sendok madu ke dalam piring. Setelah itu letakkan diatas meja selama beberapa saat. Maka hasilnya adalah:

Madu asli : semut tidak akan masuk ke bagian madu. Hal ini disebabkan karena madu asli mengandung enzim murni dengan aroma yang kuat sehingga tidak disukai oleh semut.

Madu palsu: semut akan masuk ke dalam madu dan piring kemudian mati. Hal ini terjadi karena madu mengandung gula dan racun yang terbentuk dari campuran madu dan gula.

  1. Tes Kejernihan

Madu asli : madu asli terkadang memiliki warna yang pekat dan mengandung sedikit kotoran seperti serbuk sari dan sisa bekas rumah lebah yang hancur dalam proses penyaringan. Kotoran alami ini tidak bisa hilang karena sangat lekat dengan madu.

Madu palsu : memiliki warna yang jauh lebih jernih dan cair sehingga semua kotoran dalam madu mudah disaring. Madu palsu akan terlihat sangat bersih dan menarik saat dalam kemasan botol kaca.

Bahaya Madu Palsu bagi Kesehatan.

  1. Madu palsu sering dicampur dengan gula sehingga rasanya sangat manis. Jika dikonsumsi terus menerus maka juga bisa meningkatkan beberapa resiko penyakit seperti diabetes dan bahaya obesitas.
  2. Madu palsu juga ditambahkan dengan beberapa bahan perasa dan pemanis buatan yang bisa meningkatkan resiko penyakit ginjal, diabetes dan kanker.
  3. Madu palsu sering diolah dengan proses yang tidak higienis atau rumahan sehingga bisa terkontaminasi berbagai bakteri dan penyakit yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual, muntah dan alergi.

sumber: halosehat.com