Meski Cair, Tapi Masih Ada Madrasah di Inhil Belum Terima Dana BOS

TEMBILAHAN (detikriau.org)  – Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) H Azhari mengaku menerima laporan dari sejumlah Madrasah dibawah naungannya bahwa masih ada yang belum terima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Padahal, daana BOS itu telah dikucurkan pihak Provinsi beberapa waktu lalu langsung ke rekening Madrasah yang bersangkutan mulai jenjang MI, MTs hingga MA.

“Ada beberapa Madrasah, hingga hari ini jumlahnya hampir 10 Madrasah, baik dari jenjang MI MTs dan MA yang telah melaporkan kalau anggaran BOS belum masuk rekening mereka,” ungkapnya melalui Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Inhil, H Jisman Arif kepada awak media di ruang kerjanya, Jum’at (7/8/2015).

Menurutnya, itu bagi yang telah melapor, dikabarkan masih ada katanya beberapa Madrasah yang belum datang melapor terkait belum diterimanya BOS tersebut. Ia menyebutkan ada beberapa penyebab gagalnya masuk anggaran tersebut, diantaranya seperti keterlambatan mengirim RKA ke Kanwil Provinsi oleh Madrasah yang bersangkutan, kedua juga bisa disebabkan karena kesalahan dalam penyusunan rekap pencairan, atau bisa juga karena penyebab lainnya.

Atas adanya hal tersebut, pihaknya akan mengupayakan kesuksesan pencairan, terlebih dahulu akan dilakukannya dengan menginventarisir madrasah-madrasah yang belum menerima. Setelah itu dikoordinasikannya ke Kanwil Provinsi Riau.

Dengan demikian ia meminta kepada seluruh lembaga pendidikan dibawah naungannya untuk mensegerakan melaporkan ke Kemenag Inhil agar secepatnya pekerjaan pencairan dilakukan.

“Bagi yang belum menerima, saya minta dalam seminggu kedepan sudah selesai mengurus. Sebab jika lambat bisa beresiko tidak cair sama sekali,” tandasnya.

Sekedar diketahui, penutupan pencairan anggaran oleh KPPN Pekanbaru pada tanggal 10 Desember 2015. Kata Jisman, proses pencairan itu memakan waktu yang cukup lama, sebab mengejar waktu sebelum penutupan anggaran itulah ia minta dikoordinasikan secepatnya.

Sementara itu, salah satu Kepala MI di Inhil yang belum menerima anggaran BOS, Pahrurrazi saat dikonfirmasi mengaku menyesalkan atas peristiwa ini, padahal katanya saat melakukan penyusunan rekap pencairan BOS itu tepat waktu, bahkan selalu berkoordinasi kepada pihak Kemenag Inhil. Hasil rekap, telah tidak diragukan lagi oleh Kemenag Inhil. “Tapi kok tak masuk ya dananya ke rekening Madrasah kami,” ujarnya. (mirwan)




384 CJH Inhil Sudah Ikuti Pemeriksaan Kesehatan Tahap Dua di Diskes

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Sebanyak 384 Calon Jema’ah Haji (CJH) asal Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), dinyatakan sudah mengikuti proses pemeriksaan kesehatan tahap dua.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie melalui Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Khusus, Devi Natalia saat ditemui detikriau.org di ruang kerjanya, Jum’at (7/8/2015).

Dikatan Devi, dari seluruh CJH asal Kabupaten Inhil yang masuk dalam porsi keberangkatan ke Tanah Suci tahun 1436 H, 384 diantaranya telah melakukan pemeriksaan kesehatan tahap dua, yang dipusatkan di Kantor Diskes, Jalan M Boya Tembilahan.

“Sampai hari ini, sudah 384 orang yang diperiksa, terdiri dari 377 CJH, 5 TKHI dan 2 TPHI,” tutur Devi didampingi stafnya, Sri Sebayang.

Dari hasil pemeriksaan sementara, lanjut Devi, memang ditemukan adanya CJH yang mengidap sejumlah penyakit, dan saat ini sudah ditangani oleh dokter terkait yang membidangi penyakit-penyakit tersebut.

“Nanti, berkemungkinan akan ada 1 CJH lagi yang akan menyusul dan melakukan pemeriksaan, karena saat ini masih diperjalanan,” tambahnya.

Untuk diketahui, berdasarkan hasil pemeriksaan tahap satu, yang sebelumnya telah dilakukan di Puskesmas yang ada di wilayah masing-masing, ditemukan 10 penyakit terbanyak pada CJH Kabupaten Inhil.

“Sepuluh urutan penyakit terbanyak itu, yakni Hypertensi, Hyperkolesterol, Senility, Rheumatoid, Non Insulin Diabetes Mellitus, Dyspepsia, Gastritis dan Duodenitis, Insulin Diabetes Mellitus, Haemorrhoids, serta Asthma,” imbuhnya. (adi/adv)




BPBD Inhil Buka Posko Siaga Karhutla. Inhil Terdata 7 Titik Api

Kepala BPBD Inhil, Yusfik (kiri)
Kepala BPBD Inhil, Yusfik (kiri)

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) buka posko siaga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di depan Kantor BPBD jalan Swarna Bumi Tembilahan.

Kepala BPBD Kabupaten Inhil, Yusfik saat dikonfirmasi, Rabu (29/7/2015) mengatakan, dibukanya siaga Karhutla ini berdasarkan hasil rapat bersama pihak Kepolisian, TNI, Basarnas dan pihak terkait lainnya beberapa waktu lalu. Hasilnya, semua pihak terkait dilibatkan dalam siaga Karhutla tersebut.

“Siaga ini terhitung dari tanggal 27 Juli kemaren dan ditargetkan berakhir hingga 2 bulan kedepan. Namun jika suasana pada pertengahan bulan berubah maka statusnya pun bisa dinaikkan menjadi darurat,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, dibukanya posko siaga tersebut karena baru-baru ini terjadi bencana Karhutla di kecamatan Kempas yang cukup luas sehingga diturunkan personil gabungan ke lokasi serta dibuka posko siaga tersebut 24 jam.

Sementara itu, Berdasarkan penyampaian dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Inhil,  titik api di Inhil saat ini tercatat tertanggal 27 Juli 2015 sebanyak 8 titik, yakni 7 titik di Desa Bayas Kecamatan Kempas dan 1 titik di Desa Sencalang Kecamat Keritang.

“Kita telah melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat terhadap bencana Karhuta tersebut,” sebut Kepala BLH Kabupaten Inhil melalui Kabid Kerusakan Lingkungan Ardi Yusuf. (mirwan)




Kader Kesehatan Diminta Berperan Bina Rumah Tangga Agar Ciptakan Rumah Bebas Jentik

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh kader kesehatan di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diminta, untuk turut berperan aktif dalam membina rumah tangga agar menciptakan rumah bebas jentik.

Permintaan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Inhil melalui Kepala Seksi (Kasi) Promosi Kesehatan (Promkes), Fitri Astuti kepada detikriau.org di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu.

Dikatakan, peran kader kesehatan ini dapat diwujudkan dengan berbagai cara, diantaranya :

  1. Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB), misalnya melalui penyuluhan kelompok di Posyandu, pertemuan kelompok Dasa Wisma, arisan, pengajian, pertemuan desa/kelurahan, kunjungan rumah dan melalui media cetak (poster, selebaran dan spanduk).
  2. Bersama pemerintah desa/kelurahan dan tokoh masyarakat setempat menggerakkan masyarakat untuk melakukan PSN dan PJB.
  3. Melakukan PJB secara teratur setiap minggu dan mencatat angka jentik yang ditemukan pada Kartu Jentik Rumah.
  4. Mengumpulkan data angka bebas jentik dari setiap rumah tangga yang ada di wilayah kerja dan melaporkan secara rutin kepada Puskesmas terdekat, untuk mendapat tindak lanjut penanganan bila terjadi masalah/kasus.
  5. Menginformasikan angka jentik yang ditemukan kepada setiap rumah tangga yang dikunjungi, sekaligus memberikan penyuluhan agar tetap melaksanakan PSN secara rutin dan menegur secara baik apabila masih terdapat jentik nyamuk. (adi/adv)



Tingkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat, Kadiskes Tekankan Pentingnya Terapkan Perilaku CTPS

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), DR Hj Alvi Furwanti Alwie menekankan kepada seluruh masyarakat tentang pentingnya menerapkan Perilaku Hidup Besih dan Sehat (PHBS), salah satunya dengan melakukan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).

Pernyataan tersebut disampaikan mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Inhil ini dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Negeri Seribu Parit.

Dikatakan, air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri penyebab penyakit. Bila digunakan, kuman akan berpindah ke tangan dan pada saat makan, kuman dengan cepat masuk ke dalam tubuh, sehingga bisa menimbulkan penyakit.

“Jadi, penggunaan sabun ketika mencuci tangan akan dapat membersihkan kotoran dan membunuh kuman, karena tanpa sabun kotoran dan kuman masih tertinggal di tangan,” tutur Kadiskes, beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, CPTS ini sebaiknya dilakukan setiap kali tangan kotor, seperti setelah memegang uang dan binatang, berkebun, buang air besar, menceboki bayi atau anak, serta sebelum makan dan menyuapi anak, memegang makanan dan menyusui bayi.

“Sedangkan cara mencuci tangan yang baik dan benar adalah dengan menggunakan air bersih yang mengalir dan memakai sabun, yang dimulai dari membersihkan telapak tangan, pergelangan tangan, sela-sela jari dan penggung tangan. Setelah itu, barulah dikeringkan dengan lap yang bersih,” terangnya.

Adapun manfaat CPTS, yakni membunuh kuman penyakit yang ada di tangan, mencegah penularan berbagai penyakit, serta tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman. (adi/adv)




Masyarakat Diajak Pilah dan Buang Sampah Pada Tempatnya

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diajak, untuk memilih dan memilah serta membuang sampah pada tempatnya.

Ajakan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie kepada detikriau.org di kantornya, Jalan M Boya Tembilahan, beberapa waktu lalu.

Dikatakan Alvi, sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia dan alam yang dapat menjadi sarang kuman dan bakteri penyakit serta tempat berkembangbiak serangga dan tikus.

Selain itu, sampah juga menjadi sumber polusi dan pencemaran tanah, air dan udara, serta dapat menimbulkan kecelakaan dan kebakaran.

“Jadi, membuang sampah pada tempatnya bisa menghindarkan tubuh kita dari penularan berbagai penyakit dan dapat menjaga kebersihan lingkungan sekitar,” tutur Alvi.

Selanjutnya, mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Inhil ini meminta kepada seluruh masyarakat, untuk lebih teliti dalam memilih dan memilah sampah-sampah yang akan dibuang, karena sampah ini tidak sama dan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu sampah anorganik/kering, sampah organik/basah dan sampah berbahaya.

Dijelaskan, sampah anorganik/kering adalah sampah yang tidak dapat mengalami pembusukan secara alami, seperti sampah logam, besi, kaleng, plastik, karet dan botol.

Sedangkan sampah organik/basah adalah sampah yang dapat mengalami pembusukan secara alami, yakni sampah dapur dan restoran, sisa sayuran, rempah-rempah dan sisa buah.

“Kalau sampah berbahaya, contohnya baterai, botol racun nyamuk dan jarum suntik bekas,” terangnya.

Inilah tiga jenis sampah yang perlu diketahui oleh masyarakat, sehingga diharapkan ketika akan membuangnya dapat dipilih dan dipilah terlebih dahulu, kemudian letakkan ditempat sampahnya masing-masing. (adi/adv)