Polisi Israel Tembak Mati Warga Palestina Berkebutuhan Khusus
Ilustrasi konflik Palestina dan Israel. (AFP PHOTO / JAAFAR ASHTIYEH)
ARBindonesia.com — Polisi Israel di Yerusalem timur menembak mati seorang warga Palestina berkebutuhan khusus karena mengira dia membawa sebuah pistol, Sabtu (30/5).
Insiden ini terjadi di jalan kecil Kota Tua yang merupakan jalan utama bagi warga Palestina di wilayah yang dicaplok Israel ini.
“Unit polisi yang sedang berpatroli di sana melihat seorang yang diduga membawa barang yang dicurigai pistol,” bunyi pernyataan tertulis polisi Israel yang dikutip AFP.
“Mereka meminta tersangka berhenti dan mengejarnya. Saat pengejaran, para petugas melepas tembakan ke arah tersangka sehingga dilumpuhkan.
“Tidak ditemukan senjata di sekitar lokasi,” kata pernyataan itu.
Kantor berita resmi Palestina Wafa mengidentifikasikan korban sebagai Eyad Hallak, seorang warga berkebutuhan khusus yang tinggal di permukiman Wadi Joz, Jerusalem timur.
Beberapa hari belakangan terjadi peningkatan kekerasan di Jerusalem timur dan Tepi Barat yang diduduki, meski belum separah yang terjadi pada 2015-2016 ketika pasukan keamanan Israel kesulitan menghentikan gelombang serangan lone wolf yang tidak berkaitan dengan kelompok tertentu.
Pada Jumat (29/5) seorang warga Palestina mencoba menabrakkan kendaraan ke arah sejumlah tentara Israel di kota Ramallah, Tepi Barat, namun dia ditembak mati oleh para tentara.
Sebelumnya pada Senin (25/5) polisi Israel menembak dan melukai seorang pria yang mencoba menusuk seorang petugas di Yerusalem timur.
Muncul kekhawatiran rencana Israel mengambil keuntungan dari lampu hijau yang dikeluarkan Presiden AS Donald Trump untuk mencaplok wilayah Tepi Barat akan memicu kekerasan lebih besar lagi. (AFP)
Sumber CNNindonesia.com
Liga Arab Kutuk Aksi Brutal Tentara Israel di Gaza
Foto: AP/Ariel Schalit
KAIRO — Liga Arab mengutuk perlakuan butal Israel terhadap para pengunjuk rasa Palestina di tepi perbatasan Israel yang berlangsung Jumat (30/3). Itu setelah korban meninggal dari pengunjuk rasa Gaza akibat tembakan tentara Israel terus bertambah.
Setidaknya tercatat oleh Kementerian Kesehatan Gaza kini korban mencapai 15 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengutuk perlakuan brutal pasukan pendudukan Israel dalam demonstrasi yang meletus di Gaza hari ini. Padahal unjuk rasa dilakukan untuk menandai peringatan ke-42 Land Day. “Namun justru menyebabkan sejumlah kematian dan ratusan orang terluka di Jalur Gaza,” ujar Gheit sebagaiamana dilansir dalam kantor berita Emirates, WAM, Sabtu (31/3).
Aboul Gheit juga mengatakan Israel harus memikul tanggung jawab baik hukum, politik dan moral atas hilangnya nyawa-jiwa ini. Ia juga menyoroti agar intimidasi tidak akan mengarah pada penindasan terhadap Palestina. “Tetapi pada akhirnya akan berujung pada ledakan situasi tersebut, terjadi hari ini,” kata Gheit.
Para pengunjuk rasa diketahui berkumpul di beberapa titik di pagar perbatasan dengan Israel untuk berdemo. Namun demonstrasi berubah menjadi pertumpahan darah ketika militer Israel menggunakan peluru tajam dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.
Sekitar 17 ribu demonstran Palestina berkumpul di beberapa titik di pagar perbatasan dengan Israel. Kelompok militan Hamas, yang mengontrol Jalur Gaza, dan faksi-faksi Palestina lainnya telah menyerukan Pawai Kembali yang damai menandai pengambilalihan pemerintah Israel atas tanah milik Arab pada tahun 1976.
Truk-truk yang dipasang dengan pengeras suara telah mendesak warga Palestina dalam beberapa hari terakhir untuk menghadiri demonstrasi. Namun Israel memeringatkan tidak akan tinggal diam serta akan menggunakan amunisi untuk membubarkan pengunjuk rasa. IsrEl juga menyebarkan selebaran yang mengatakan bahwa siapa pun yang datang dalam jarak 300 meter dari pagar pembatasan akan berada dalam bahaya. Namun hal ini tidak dihiraukan oleh beberapa warga Gaza.
“Saya ingin ditembak, saya tidak menginginkan kehidupan ini.” kata salah satu pengunjuk rasa Yahya Abu Assar, 22 tahun.
Adapun demonstrasi simultan di beberapa tempat di sepanjang pagar perbatasan Israel telah menimbulkan kekhawatiran di Israel bahwa pagar bisa dilanggar. Dua kali dalam seminggu terakhir, militer Israel telah menangkap orang Palestina yang telah menembus pagar.
YERUSALEM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru saja melemparkan bensin ke dalam api unggun konflik Israel-Palestina. Ia menyerukan pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem segera.
Trump juga menyebut Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Pernyataan yang dilontarkan pada Selasa itu langsung memicu reaksi keras dari berbagai penjuru dunia. Ada banyak alasan mengapa langkah ini berarti sangat signifikan tak hanya pada Israel-Palestina, tapi juga pada komunitas global. Ini bukan hanya pelecehan pada upaya damai kedua pihak, tapi juga mengancam keamanan global.
Dilansir di Aljazirah, Rabu (6/12), Israel menduduki Yerusalem Timur setelah perang enam hari tahun 1967. Bagian barat kota suci ini direbut Israel dalam perang Israel-Arab pada 1948.
Setelah kependudukan, Israel mengklaim seluruh wilayah Yerusalem Timur dalam wilayah kendalinya secara de-facto. Langkah ini tidak diakui oleh komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat, dulu.
Meski kecaman terus datang dari seluruh dunia, Israel tetap pada posisinya menduduki wilayah. Solusi dua negara kemudian muncul sebagai harapan untuk mengakhiri okupasi.
Status Yerusalem hingga kini menjadi salah satu poin paling alot dalam penyelesaian konflik. Di bawah UN Partition Plan 1947, Yerusalem memiliki status spesial dan hendak diambil kendali juga kedaulatannya oleh komunitas internasional.
Ini karena Yerusalem adalah situs suci tiga kepercayaan, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Pada perang 1948, Zionis Israel menekan untuk pengendalian bagian barat kota. Hingga akhirnya mereka berhasil mendeklarasikan wilayah tersebut sebagai bagian kekuasaan.
Pada 1967, saat wilayah timur dibawah kendali Yordania, Israel kembali menekan. Langkah itu dilanjutkan dengan memperpanjang hukum Israel hingga wilayah timur.
Pada 1980, Israel meloloskan Hukum Yerusalem yang menyebut kota suci tersebut sudah bersatu menjadi ibu kota Israel. Ini merupakan langkah formal mereka dalam menguasai Yerusalem Timur secara penuh.
Sebagai respons, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 478 di tahun yang sama. Dengan keras PBB mendeklarasikan klaim Israel batal demi hukum.
Komunitas internasional, termasuk AS dulu sepakat Yerusalem timur adalah wilayah jajahan. Tidak ada negara mana pun yang mengakui bagian Yerusalem mana pun adalah ibu kota Israel.
Inilah mengapa seluruh kedutaan besar negara mana pun berada di Tel Aviv. Pada Rabu, Trump memecahkan telur. Ia ingin AS jadi negara pertama yang memiliki Kedutaan Besar di Yerusalem.
Aneksasi ilegal Israel atas Yerusalem Timur merupakan pelanggaran menurut sejumlah prinsip hukum internasional. Okupasi tidak berarti berkuasa dan berdaulat.
Di Yerusalem Timur, orang Palestina tidak diberikan kewarganegaraan sehingga mereka tidak berhak atas segala fasilitas yang dibangun Israel di tanah okupasi. Ada sekitar 420 ribu orang yang bernasib demikian.
Mereka memiliki paspor Yordania tanpa nomor identitas nasional. Ini berarti mereka bukan sepenuhnya jadi penduduk Yordania.
Mereka butuh izin untuk bisa bekerja di sana dan tidak punya akses pada layanan pemerintahan. Tidak ada keuntungan yang diperoleh seperti penurunan biaya pendidikan.
Dengan kata lain, orang Palestina di Yerusalem ini tidak berkewarganegaraan. Mereka tidak diakui Israel, bukan pula warga negara Yordania atau Palestna.
Padahal seharusnya, Israel sebagai pemegang kendali de factomenjamin hak-hak mereka. Dalam kenyataan, Israel memperlakukan mereka seperti imigran asing yang ‘numpang tinggal’.
Mereka harus memenuhi sejumlah persyaratan demi tetap bisa tinggal di Yerusalem Timur. Orang Palestina yang tinggal di luar, baik di Tepi Barat maupun negara lain berisiko kehilangan hak mereka atas tanah Yerusalem.
Israel mengklaim mereka yang tidak hidup di Yerusalem atau bermata pencaharian di sana tidak berhak atas kewarganegaraan meski mereka lahir di Yerusalem.
Orang Palestina ini harus menyerahkan puluhan dokumen termasuk perjanjian, kontrak sewa tempat tinggal hingga slip gaji agar tetap bisa tinggal di sana. Meminta status kewarganegaraan ke negara lain juga artinya mereka kehilangan status di Yerusalem.
Sebaliknya, orang Yahudi dimana pun juga di seluruh dunia punya hak tinggal di Israel. Mereka bisa datang kapan pun dan langsung mendapatkan kewarganegaraan Israel, berdasarkan Law of Return. Menurut kelompok HAM B’Tselem, Israel telah menghapus status 14 ribu orang Palestina sejak 1967.
Segala proyek kependudukan dan permukiman Israel di Yerusalem Timur, termasuk ilegal menurut hukum internasional. Kependudukan berarti kendali Israel baik secara hukum maupun de facto.
PBB telah memastikan dalam beberapa resolusi proyek kependudukan Israel di wilayah okupasi bertentangan langsung dengan Konvensi Genewa keempat. Isinya melarang penjajah mentransfer populasi penduduknya ke area yang dijajah.
Ada beberapa alasan dibalik keputusan ini, termasuk diantaranya agar okupasi berlangsung sementara dan untuk mencegah negara pengokupasi mendirikan kekuatan militer demi memperpanjang keberadaan di sana.
Selain itu, untuk melindungi warga sipil, pencurian sumber daya, mencegah apartheid, dan perubahan demografi karena campur aduk di wilayah okupasi. Israel sejak 1967 malah membangun puluhan perumahan khusus Yahudi.
Beberapa diantaranya dibangun sangat berdekatan dengan lingkungan perumahan warga Palestina. Sekarang, sekitar 200 ribu warga Israel tinggal di Yerusalem timur.
Mereka dilindungi tentara dan polisi di segala sisi. Permukiman terbesar dihuni oleh 44 ribu orang. Pembangunannya sering kali mengorbankan rumah orang Palestina.
Rumah-rumah lama dirobohkan dengan alasan tidak memiliki izin. Sementara untuk mendapatkan izin, orang Palestina harus ‘jungkir balik’. Itupun sering kali tidak lolos.
Orang Palestina terkungkung, dicabut kebebasan bergeraknya, privasinya dan keamanannya. Sementara orang Palestina hidup dalam kondisi tak diakui, warga Israel menikmati kehidupan dan garansi pemenuhan hak meski bukan di tanah mereka.
Wikileaks Rilis Kolaborasi Rahasia Sekjend PBB dengan Israel dan Amerika
Ban Ki Moon
detikriau.org – Wikileaks merilis bahwa Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-Moon berkolaborasi secara rahasia dengan rezim “Israel” dan Amerika Serikat untuk melemahkan efek laporan Dewan Penyelidikan yang menuduh “Israel” melanggaran hak asasi manusia di Gaza pada Desember 2008-Januari 2009.
Dokumen pada hari Jumat (8/8/2014) yang mengungkapkan bahwa Ban menulis surat pada Dewan Keamanan PBB untuk meminta anggotanya tidak memperdulikan rekomendasi Dewan Penyelidikan PBB terkait pengeboman militer zionis “Israel” di Gaza.
Laporan itu menunjukkan bahwa militer zionis (IDF) memiliki peran langsung dalam tujuh dari sembilan serangan terhadap gedung PBB di Jalur Gaza, serta menuduh “Israel” telah menghancurkan gedung-gedung PBB yang semestinya kebal dan tak boleh diganggu.
Menurut Wikileaks, Susan Rice, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, berbicara setidaknya empat kali dengan Ban Ki Moon “untuk mendiskusikan kekuatiran terhadap laporan Dewan Penyelidikan mengenai insiden di lokasi PBB pada bulan Desember 2008 dan Januari 2009”.
Rekomendasi dari laporan ini mencakup kebutuhan untuk penyelidikan lebih mendalam dan tidak memihak pada “insiden” baru-baru ini, dan terkait dengan pengeboman fasilitas PBB.
Menurut Wikileaks, Rice pertama-tama meminta Ban untuk tidak menyertakan rekomendasi dalam ringkasan laporan akhir ini, yang seharusnya dikirim ke Dewan Keamanan PBB pada 5 Mei.
Ban menjawab bahwa “ia dibatasi dalam apa yang bisa dilakukan karena Dewan Penyelidikan bersifat independen; itu adalah laporan dan rekomendasi mereka dan ia tidak dapat menahannya”.
Dalam percakapan kedua, “Rice mendesak Sekretaris Jenderal itu untuk menjelaskan dalam surat pengantarnya saat ia mengirimkan ringkasan itu kepada Dewan Keamanan bahwa rekomendasi tersebut melampaui cakupan dari kerangka acuan dan tidak diperlukan tindakan lebih lanjut.”
Ban kemudian menjawab bahwa “stafnya bekerja dengan delegasi ‘Israel’ untuk teks surat pengantar itu”.
Ia menegaskan dalam percakapan telepon terakhirnya bahwa “secarik surat pengantar yang memuaskan” telah dirampungkan. (*)
Warga Gaza Rayakan Keberhasilan Penyanderaan Tentara Israel
sayap bersenjata Hamas mengklaim penangkapan prajurit Israel, Shaul Aaron pada hari Minggu 20 Juli 2014 Sementara itu, militer Israel mengkonfirmasi telah mendapatkan klaim ini dan sedang menyelidiki laporan tersebut. (Palestina Pers News Agency)
Gaza, (detikriau.org) – warga Gaza merayakan keberhasilan al Qassam, sayap militer gerakan perlawanan Islam Hamas yang menangkap seorang tentara Israel bernama Shaul Aaron identifikasi nomor 6092065, Minggu (20/7) di bagian timur Kota Gaza.
Orang-orang dari Gaza yang sedang berduka dengan banyak korban akibat serangan pendudukan Israel, langsung lega dengan pengumuman, Miraj Islam News Agency (MINA) ‘s koresponden melaporkan dari Gaza, Senin.
Suara takbir menggema di seluruh Jalur Gaza, seolah-olah saat Idul Fitri datang lebih awal di Gaza. Mereka berada di jalan-jalan kota Gaza untuk merayakan berita penyanderaan ini.
Orang-orang di rumah sakit al Shifa, Kota Gaza, di mana banyak pengungsi berkumpul juga berteriak takbir. Dalam perang yang mereka sebut “Ashful Ma’kul”, al Qassam menciptakan kejutan dengan menangkap tentara Israel. Mereka juga berhasil membuat kejutan dengan peluncuran roket terbaru tipe R160 yang mencapai target sejauh Haifa sekitar 150 km sebelah utara dari Jalur Gaza untuk pertama kalinya serta peluncuran pesawat tak berawak mereka.
Al Qassam telah mencapai prestasi yang baik dalam perang ini, media Israel bahkan mengklaim bahwa Al Qassam telah melakukan apa yang pernah dilakukan oleh tentara Arab. Al Qassam berhasil mengguncang hampir seluruh orang Israel dengan serangan roket tak terduga.
Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Sabtu malam itu dengan memindahkan operasi darat ke wilayah Israel adalah “perkembangan penting” dalam konflik.
Juru bicara Hamas, Fawzy Barhoum, mengatakan dalam sebuah pernyataan singkat dikutip Anadolu Agency Turki bahwa taktik ini telah mengejutkan musuh Israel. “Israel telah membatalkan rencananya,” tegasnya. “Kami bingung perhitungannya,” kata Fawzy seperti dikutip MEMO.
Sayap militer Hamas, Brigade Ezzedine Al-Qassam, juga mengumumkan pada hari Sabtu malam pembunuhan 11 tentara Israel dalam dua operasi di dalam wilayah Israel. Seorang pejuang Al-Qassam tewas dalam salah satu operasi.
Israel belum menanggapi klaim Hamas. Namun, mereka mengumumkan kematian dua tentaranya, termasuk seorang perwira senior.
Sementara itu, ahli militer strategis Mesir Safwat El-General Zayat mengatakan keputusan pendudukan militer Israel untuk memulai operasi darat adalah bukti nyata kegagalan untuk menekan perlawanan Palestina melalui operasi udara dilancarkan terhadap wilayah kantung itu selama hampir dua minggu.
Dalam wawancara dengan Al-Jazeera Mubasher Misr, El-Zayat menunjukkan bahwa tentara pendudukan Israel sedang mencoba untuk menciptakan daerah aman di pinggiran Gaza karena takut sistem rudal anti-tank yang dimiliki oleh tentara perlawanan Palestina.(dro)
Pasukan Zionis Israel Sedikitnya Bantai 73 Orang di Kamp Shujaiyah
Foto: shehaiya-masacre, net
Gaza City- (detikriau.org) – Kurang dari empat jam pendudukan militer Israel, Minggu (20/7) pasukan zionis israel sedikitnya membantai 73 orang yang berada di kamp Shujaiyah, sebelah timur dari Jalur Gaza di tanah terbaru mereka ofensif di daerah kantong yang diblokade.
“Banyak dari mereka yang tewas adalah anak-anak dan perempuan, di mana 400 orang terluka dalam pembantaian yang mirip dengan Shabra Shatilla pembantaian di Lebanon tahun yang lalu,” sebagaiman dikutip detikriau.org dari Mi’raj Islam News Agency (MINA) koresponden dari Gaza.
Penduduk mengatakan, serangan itu dimulai di pagi hari dengan tank pendudukan Israel mendekati pinggir kamp. Pada saat itu, kondisi terlalu berbahaya bagi ambulans dan tim medis untuk bisa mendekati daerah komplik.
Media lokal melaporkan bahwa bantuan tim kemanusiaan dari Palang Merah Internasional meminta tiga jam gencatan senjata untuk memberikan bantuan kepada orang-orang di kamp, tetapi Zionis Israel menolak.
“Ada banyak yang tewas dan terluka di jalan-jalan, tapi tidak ada yang bisa membantu mereka,” kata warga setempat, Ahmed Rabia, seperti dikutip Press TV.
Pejabat kesehatan setempat mengatakan, putra dan putri mertua dan dua cucu kecil seorang pemimpin senior Hamas, termasuk di antara para korban yang meninggal.
Menurut sumber-sumber lokal lainnya, seorang sopir ambulans dan seorang juru kamera Palestina juga tewas dalam serangan itu.
Jumlah korban diperkirakan akan meningkat. Masih ada beberapa mayat di bawah reruntuhan rumah yang hancur di lingkungan Shujaiyah.
Puluhan orang terluka dilarikan ke Rumah Sakit As-Shifa di Kota Gaza.
Penembakan Heavy telah menyebabkan ratusan warga mengungsi ke pusat kota Gaza City, dan sejauh ini belum menemukan adanya tempat penampungan yang aman untuk dihuni menyusul serangan udara Israel yang membuat Gaza menjadi lokasi yang tidak aman.
Beberapa orang mencoba untuk mencari perlindungan di keluarga mereka, sementara yang lain menuju sekolah PBB yang telah menjadi tempat penampungan sementara sejak awal agresi pendudukan Israel terhadap Jalur Gaza selama dua minggu terakhir.
Sementara itu, Ezzedeen Al-Qassam, sayap militer gerakan perlawanan Hamas, mengatakan para pejuangnya bentrok dengan tentara pendudukan Israel di Shujaiyah dan sekitarnya.
Lebih dari 357 orang telah tewas sejak rezim pendudukan Israel melakukan serangan terhadap Gaza dan lebih dari 2.700 lainnya terluka. (dro)