UMUR

detikriau.org – Hamka mengisahkan dalam Tasawuf Modern, bahwa di Barat ada seorang sangat kaya raya bernama Rockefeller. Sebelum menjadi kaya, ia merindukan kebahagiaan yang dikiranya akan dapat diperoleh dengan kekayaan. Setelah harta benda yang berlimpah sudah berada dalam genggaman, dalam umur 97 tahun (1937), ia merasa semua itu tak punya arti. Menjelang ajal, ia merasa bahwa bahagia adalah ketika umurnya digenapkan 100 tahun. Namun takdir bicara lain. Di tahun itu juga ia meninggal dunia. Tak mampu ia membeli waktu tiga tahun dengan seluruh kekayaannya!

Sementara, di belahan bumi lain, di Surakarta, ada seorang nenek bernama Mbah Suro yang hidup mencapai umur 150 tahun, sedang ia sangat miskin. Acap kali ia merasakan kebosanan hidup oleh karena ketiadaan harta benda. Bila saja nasib dan umur bisa diatur sekehandak manusia, apa salahnya bila ia memberikan tiga tahun saja jatah hidupnya untuk Rockefeller. Jika memang bisa, agaknya si kaya raya bersedia menggantinya dengan separuh kekayaan yang ia miliki.

”Allah-lah yang telah menciptakan kamu, kemudian ia mewafatkan kamu. Di antara kamu ada yang di panjangkan umurnya sampai tua renta, sehingga menjadi tak tahu apa-apa sesudah dia mengetahui segala-galanya. Sesungguhnya Allah Mahatahu, Mahakuasa.” (an-Nahl: 70)

Umur setua mereka terbilang langka di zaman kita. Namun Rockefeller masih saja merasakan kekurangan, ingin minta tambahan.

“Umur umatku berkisar antara 60 sampai 70 tahun. Amat sedikit dari mereka yang lebih dari itu.” (Hr. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim. Dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 757).

Selesainya hidup di dunia, akan ada kehidupan berikutnya. Di sanalah semua kelakuan semasa di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya. Namun ada saja manusia yang tak percaya.

”Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).” (al-An’am: 2).

Hanya penyesalan hadiah terbaik mereka. Tiada kesempatan sezarah pun untuk mengulang. Tiada lorong untuk merangkak pergi.

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami keluarkan kami, niscaya kami akan mengerjakan amal shalih, berbeda dengan yang telah kami kerjakan.’ Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur kalian dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan datang kepada kalian pemberi peringatan? Maka rasakanlah, dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun.” (al-Fathir: 37)

Pembahasan umur tak bisa dipisahkan dengan masalah waktu. Allah swt berfirman,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati dalam mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati dalam menetapi kesabaran.” (al ‘Ashr: 1-3)

Tiada lain, umur ada hanya untuk iman dan kebajikan. al-Ghazali mengajak kita merenung,

“Aku tidak mempunyai barang dagangan kecuali umur. Apabila ia habis, maka habislah modalku, sehingga putuslah harapan untuk berniaga dan mencari keuntungan lagi. Allah telah memberiku tempo pada hari yang baru ini, memerpanjang usiaku dan memberi kenikmatan.” Dan mengajak kita agar setiap hari meluangkan waktu barang sesaat guna menetapkan syarat-syarat terhadap jiwa (musyarathah).

Syaikh Abdul Wahhab bin Ahmad asy-Sya’rani, Seorang sufi besar, dalam Bahrul Maurud, menulis, “Telah diambil perjanjian dari kita, apabila umur telah mencapai 40 tahun, hendaklah bersiap-siap melipat kasur dan selalu ingat pada setiap tarik nafas, bahwa kita sedang berjalan menuju akhirat, sampai tak merasa tenang lagi rasanya hidup di dunia ini.” Melipat kasur ia maksudkan dengan mengurangi tidur untuk menambah ibadah.

‘Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya, Abu Bakrah, mengatakan, ada orang bertanya kepada Rasulullah saw,

“Wahai Rasulullah, manusia mana yang dikatakan baik?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun baik amalnya.” “Lalu manusia mana yang dikatakan jelek?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun jelek amalnya.” (Hr. Tirmidzi no. 2330, shahih menurut al-Albani).

Panjang pendeknya umur bukanlah urusan kita. Manusia hanya menjalani kehendakNya saja. Jadi, yang perlu kita fikirkan ialah bagaimana umur bisa barakah. Rasulullah saw memberi jawabannya,

“Siapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung silaturahim.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama menafsiri panjang umur di sini adalah barakahnya umur.

“Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat…” (Hr. Bukhari dan Muslim).

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 261)

Itulah cara-cara menjadikan umur berbarakah.

Sebagai penutup, mari kita renungi hadist ini. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah saw bersabda,

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara. Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, saat luangmu sebelum datang saat sibukmu, masa hidupmu sebelum datang kematianmu.”
(Hr. Hakim dalam al-Mustadrak, shahih menurut al-Albani, dalam al-Jami’ ash-Shaghir). Wallahu a’lam.

baca sumber; panjimas.com




Pekerjaan Haram Ini Makin Ramai Peminat

gambar ilustrasi: net
gambar ilustrasi: net

detikriau.org – Mencari rezeki memang menjadi salah satu kewajiban bagi umat manusia agar mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Namun hal yang harus diingat adalah, dalam proses mencari tersebut harus menggunakan cara yang benar dan sesuai.

Akan tetapi, tidak semua orang mampu memenuhi apa yang sudah diperintahkan tersebut. Terlebih lagi saat ini, ketika perekonomian memburuk dan harga kebutuhan semakin melambung. Banyak orang yang kemudian memutar otak untuk bisa mendapatkan uang.

Tidak jarang di antara mereka yang justru terjerumus dalam pekerjaan haram yang menggiurkan banyak keuntungan. Bahkan, saat ini ada beberapa jenis pekerjaan yang makin ramai peminatnya. Pekerjaan apa sajakah yang dimaksud? Berikut informasi selengkapnya.

1. Pekerjaan yang Berkaitan dengan Perbuatan Syirik

Syirik merupakan perbuatan yang paling besar dosanya dalam ajaran Islam. Syirik diartikan sebagai perbuatan mempersekutukan Allah. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An Nisaa: 48)

Pada zaman sekarang masih banyak orang yang mencari pekerjaan dengan melakukan perbuatan berupa kesyirikan. Bentuk dari kesyirikan tersebut di antaranya sihir, perdukunan, paranormal, perama nasib dan masih banyak lainnya.

2. Pekerjaan yang Berupa Sarana untuk Melakukan Kesyirikan
Tidak hanya syirik, ternyata saat ini telah banyak orang yang melakukan pekerjaan yang menjadi sarana melakukan kesyirikan. Contohnya saja orang yang menjadi juru kunci makan, membuat patung berhala, melukis gambar makhluk yang bernyawa dan pekerjaan sejenis yang menjadi sarana manusia untuk berbuat syirik.

3. Memperjual Belikan Barang Haram
Berdagang memang menjadi salah satu cara untuk memperoleh rezeki. Namun, kini banyak orang yang justru memperjualbelikan barang-barang yang diharamkan oleh syariat. Barang tersebut di antaranya bangkai, babi, darah, anjing, patung, lukisan makhluk yang bernyawa, minuman keras, narkotika, dan masih banyak yang lainnya.

Padahal yang yang demikian ini merupaka perbuatan yang dilarang. Dari Abu Mas’ud al-Anshari ra bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang harta dari harga penjualan anjing, upah wanita pezinaan, dan upah seorang dukun.

Dari Abu Juhaifah ra ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang harta hasil penjualan darah, penjualan anjing, upah budak perempuan yang dipekerjakan untuk berzina (upah mucikari). Beliau melaknat perempuan yang membuat tato, perempuan yang meminta ditato, orang yang memakan harta riba, orang yang memberikan riba, dan orang yang membuat patung.”

Dari Jabir bin Abdillah ra bahwasanya ia telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda di Mekah pada tahun penaklukkan Mekah: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan penjualan khamer, bangkai, babi, dan patung.” Maka ada seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang menjual lemak bangkai, karena ia bisa digunakan untuk mengecat perahu, meminyaki kulit, dan orang-orang biasa mempergunakannya untuk minyak lampu penerangan?” Maka beliau menjawab: “Tidak boleh menjualnya, ia tetap haram.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lantas bersabda: “Semoga Allah memerangi kaum Yahudi. Ketika Allah mengharamkan atas mereka lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu menjualnya dan memakan harganya.”

Dari ‘Aisyah radiyalaahu ‘anhuma ia berkata: “Ketika diturunkan ayat-ayat di akhir-akhir surat Al-Baqarah tentang riba (ayat 275 dst) , Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar ke masjid dan membacakannya kepada masyarakat. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mengharamkan perdagangan khamer, minuman keras.

4. Memakan Harta Riba
Pekerjaan yang juga kian ramai peminatnya adalah yang berhubungan dengan riba. Riba ini menjadi salah satu perbuatan yang dilarang dalam Islam, namun masih banyak saja orang yang tergiur dengan keuntungan dari riba. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan tinggalkanlah riba yang masih ada pada diri kalian, jika kalian benar-benar beriman. Jika kalian tidak mau melakukannya, maka terimalah pengumuman perang dari Allah dan Rasul-Nya.” (QS Al-Baqarah [2] :278-279).

5. Menimbun Bahan-Bahan Perdagangan

Pekerjaan haram selanjutnya yang juga ramai peminatnya ialah menimbun bahan-bahan perdagangan ketika harganya murah dan dibutuhkan oleh masyarakat dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda ketika barang tersebut bernilai lebih tinggi di pasaran. Dari Ma’ mar bin Abdullah al-Anshari ra dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Barang siapa menimbun, ia telah berbuat salah.” Dalam lafal yang lain: Tidak ada orang yang melakukan penimbunan selain orang yang berbuat salah.”

Dari Umar bin Khathab ra , ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa menimbun bahan makanan yang dibutuhkan oleh kaum muslimin, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menimpakan penyakit lepra dan kebangkrutan kepadanya.”

6. Perjudian
Perjudian memang menjadi salah satu perbuatan yang sudah dilakukan umat banyak orang sejak zaman dahulu. Namun kini, pamor dari kegiatan ini semakin menanjak terlebih lagi bagi mereka yang gemar berhura-hura. Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamer (minuman keras), perjudian, berkurban untuk berhala-berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan, maka jauhilah oleh kalian perbuatan-perbuatan tersebut agar kalian mendapatkan keberuntungan”

“Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran meminum khamr dan melakukan perjudian dan menghalang-halangi (melalaikan) kalian dari dzikir kepada Allah dan dari shalat. Maka mengapa kalian tidak mau berhenti?” (QS Al-Maidah [5]: 90-91).

7. Memakan Harta Anak Yatim Secara Dzalim
Anak yatim menjadi salah satu golongan yang dicintai oleh Allah SWT. Maka dari itu kita diperintahkan untuk mencintai anak yatim. Namun, tidak semua orang bisa melakukannya, masih banyak di antara manusia yang melakukan pekerjaan haram yakni memakan harta anak yatim secara dzalim. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS An-Nisa’ [4): 10).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian.” (QS An-Nisa’ [4]: 29).

8. Mencuri, Mencopet, Menjambret, dan Merampok
Kesulitan ekonomi memang menjadi salah satu permasalahan semua orang. Terlebih lagi bagi mereka yang tidak memiliki gaji cukup untuk membiayai keluarga. Maka dari itu, akhirnya orang-orang memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang dengan cara yang tidak halal seperti mencuri, mencopet, menjambret dan merampok yang tidak hanya merugikan orang lain bahkan juga dapat menghilangkan nyawa korbannya. Allah SWT berfirman:

“Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan, maka potonglah (pergelangan) tangan-tangan mereka sebagai hukuman dari Allah atas kejahatan mereka. (QS Al-Maidah [5]: 38).

9. Mengurangi Timbangan dan Takaran

Mengurangi timbangan dan takaran dalam dagangan juga menjadi salah satu pekerjaan haram yang kerap dilakukan oleh umat manusia. Tujuan dari mengurangi timbangan tersebut itu tentu saja untuk mendapatkan keuntungan lebih. Allah SWT berfirman:

“Kecelakaan bagi orang-orang yang melakukan kecurangan dalam timbangan, yaitu kalau menakar milik orang lain untuk dirinya, ia meminta disempurnakan. Namun, apabila mereka menakar barang dagangan mereka untuk orang lain, ia merugikan orang lain (dengan mengurangi takaran).” (QS Al-Muthaffifin: 1-3).

10. Korupsi dan Penipuan Terhadap Rakyat
Pekerjaan selanjutnya yang juga kian banyak peminatnya yaitu korupsi. Korupsi menjadi salah satu permasalahan yang dapat menyebabkan banyak kerugian bagi negara dan rakyat. Padahal seharusnya, sebagai seorang pemimpin itu harus mampu menjaga amanat dari rakyatnya.

Dari Ma’qil bin Yasar ra ia berkata: Saya mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda: “Tidak ada seorang hamba pun yang diberi amanat oleh Allah untuk menjadi pemimpin sebuah masyarakat lalu ia tidak memimpin mereka dengan ketulusan (kejujuran), kecuali ia tidak akan mendapatkan bau surga.” Dalam lafal Muslim: “… kecuali Allah mengharamkan surga atasnya.“ 8)

11. Menunda-nunda Pembayaran Gaji Buruh dan Karyawan Atau Mengurangi Hak-Hak Mereka
Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa menunda-nunda pembayaran gaji karyawan adalah salah satu pekerjaan haram yang dilarang dalam Islam.

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ‘Ada tiga golongan yang Aku menjadi musuh mereka; orang yang memberikan sumpah setia dengan menyebut nama-Ku lalu ia mengkhianati, orang yang menjual orang merdeka lalu ia memakan hasil penjualannya, dan orang yang mempekerjakan seorang buruh lalu si buruh menuntaskan pekerjaannya sementara ia tidak mau membayarkan upahnya.”

Demikianlah informasi mengenai pekerjaan haram yang kian ramai diminati oleh umat manusia. Meskipun pekerjaan di atas tersebut memiliki keuntungan yang besar, namun sebisa mungkin kita harus menghindarinya agar tidak mendapatkan murka dari Allah SWT.

baca sumber; infoyunik.com

 




Stop Percaya Hari dan Angka Sial, Ini Alasannya

stop-percaya-hari-dan-angka-sial-ini-alasannyadetikriau.org  – Meski sudah hidup pada zaman modern, namun manusia tidak bisa lepas dari mitos dan takhayul. Ada saja hal-hal yang masih dianggap tabu dan dipercaya meski sudah hidup diera kecanggihan teknologi  yang maju. Salah satu yang masih dipercaya adalah tentang mitos hari dan angka yang dianggap sial.

Dua hal ini dihindari untuk menjauhkan diri dari keburukan yang dipercaya akan menimpa orang-orang yang menggunakan. Tidak heran jika banyak orang yang batal menggelar acara pada hari-hari tertentu dengan alasan bisa tertimpa sial.

Padahal sejatinya semua hari dan angka adalah baik. Rasulullah SAW juga menyatakan keharaman dari kebiasaan tersebut. Pasalnya bisa berdampak buruk jika tetap percaya hal tersebut. Berikut selengkapnya.

Sebagai contoh, masyarakat begitu takut menyelenggarakan acara pada bulan Muharram. Bulan yang di Indonesia akrab disebut bulan Suro ini memang terkenal angker. Sehingga jarang sekali digunakan untuk menyelenggarakan semisal pernikahan dan pesta lainnya. Konon, mereka yang tetap nekat menggelar kegiatan di bulan ini akan tertimpa sial.

Demikian dengan angka 13. Angka ini begitu ditakuti karena dianggap menjadi angka sial. Jika mengalami sesuatu karena mendapatkan angka itu, pasti akan disangkut pautkan terhadap mitos yang selama ini berkembang di masyarakat.

Perlu diketahui, kepercayaan terhadap hari, angka, tanggal dan hal lainnya yang dianggap membawa sial adalah kebiasaan masyarakat jahiliyah pada zaman dahulu. Islam datang dengan cahaya menghapus dan mengharamkan hal tersebut.

Namun kini, sepertinya banyak muslim yang justru kembali ke zaman itu. Dengan mempercayai adanya hari dan angka sial.

”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)

”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan ’Ya khoybah dahr’ [ungkapan mencela waktu, pen]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan ’Ya khoybah dahr’ (dalam rangka mencela waktu, pen). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya.”  (HR. Muslim no. 6001)

Dari hadist di atas dapat disimpulkan jika Allah SWT marah jika hamba-Nya mencela waktu. Pasalnya, Dia lah pengatur waktu dan yang berkuasa membolak balikkan itu.

Dalam hadist lain, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (menganggap sial dengan sesuatu), tidak ada kesialan dengan keberadaan burung hantu dan tidak ada pula kesialan bulan Shafar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita harus tahu, mencela waktu dan menganggap sial sesuatu dapat membuat manusia terjerumus ke lembah dosa. Celaan untuk kedua hal ini adalah termasuk dalam kategori syirik akbar (syirik yang mengekuarka pelakunya dari Islam).

Dengan celaan itu, kita menyandarkan berbagai kejadian pada selain Allah. Padahal siapa yang meyakini ada pencipta selain Allah, maka termasuk kafir.  Untuk itu, berhati-hatilah dalam berucap. Berhati-hatilah dalam melakukan sesuatu. Bukankah selalu ada malaikat yang melihat tindak tanduk kita.

sumber: infoyunik.com




Ngeri, Pria Ini Dapat Warisan Dosa Hingga Kiamat

gambar: net
gambar: net

Detikriau.org – Diantara kita pasti sering mendengar jika ada pahala yang tetap mengalir meski sudah meninggal. Ternyata tidak hanya pahala, dosa  pun ada yang demikian. Meski sudah meninggal, tak lantas urusan dengan dunia berakhir bergitu saja.

Perbuatan dosa yang pernah dilakukannya, menjadi warisan yang semakin memberatkan kehidupan alam barzah. Padahal, saat sudah meninggal, ruh manusia sangat membutuhkan penerangan dari pahala-pahala yang pernah dilakukan. Seperti yang dialami oleh pria berikut ini.

Sepanjang kematiannya, dosa-dosa akan terus mengalir dan tidak pernah berhenti hingga kiamat. Terlebih, jika ada manusia lain yang melakukan dosa seperti dirinya. Siapakah dia? Apa yang membuatnya mendapat warisan dosa sedemikian berat? Berikut ulasannya.

Pria ini sebenarnya sangat familiar, Ia merupakan pelopor untuk dosa membunuh sesama manusia. Adalah Qabil, salah satu putra dari Nabi Adam AS. Dosanya membunuh saudaranya habil akan terus mengalir hingga hari kiamat, bahkan akan terus bertambah jika ada manusia lainnya yang melakukan hal yang sama.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Barang siapa yang memulai perkara baik (yang disyariatkan) maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya sampai terjadinya hari kiamat. Dan barang siapa yang memulai perkara jelek maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya sampai terjadinya hari kiamat.” (HR. Muslim)

Kisah ini bermula setelah Allah SWT menurunkan Nabi Adam AS dan Siti Hawa ke bumi. Setelah bertahun-tahun terpisah, keduanya akhirnya dipersatukan kembali dan membangun keluarga. Tidaklah Hawa melahirkan kecuali selalu kembar laki-laki dan perempuan.

Dari riwayat Ibnu Ihasq diceritakan bahwa Hawa melahirkan 40 anak dengan 20 kali mengandung. Wallahu a’lam. Setelah anaknya dewasa, Allah SWT memerintahkan Nabi Adam untuk menikahkan salah satu dari pasangan kembar dengan salah satu dari pasangan kembar lainnya.

Sampailah pada pasangan kembar antara Qabil kembarannya Iqlimiya yang berwajah ayu, dengan Habil dan kembarannya Layudha berparas kurang menarik. Sehingga seharusnya Qabil dinikahkan dengan Layudha dan Habil dinikahkan dengan Iqlimiya.

Namun melihat calon istrinya Layudha yang kurang menarik Qabil protes dengan sang Ayah. Ia ingin dinikahkan dengan kembarannya sendiri, si Iqlimiya yang berparas lebih cantik dibanding Layudha.

Kemudian Allah SWT memberikan petunjuk dengan memerintahkan keduanya untuk berqurban. Siapa qurbannya yang diterima maka dialah yang berhak menikah dengan Iqlimiya.

Keduanya kemudian setuju. Qabil yang merupakan seorang petani akan mengurbankan hasil pertaniannya, sedangkan Habil peternak akan mengurbankan dombanya.

Karena merasa sombong dan yakin kurbannya akan diterima, Qabil pun tidak mempersiapkan kurbannya dengan matang. Ia asal saja memberikan persembahan tersebut kepada Tuhan, yakni dengan memilih gandum yang jelek dari tanamannya. Dia tidak peduli apakah kurbannya diterima atau tidak, karena rasa sombong dan dengki sudah menguasainya.

Namun tidak demikian dengan Habil. Setiap hari Ia memberi makan domba dengan makanan yang terbaik. Sehingga hasilnya, dombanya tumbuh dengan gemuk dan sehat.

Setelah kurban keduanya dipersembahkan, Allah Ta’ala menurunkan api berwarna putih dan dengan izin Allah api itu membawa kurban Habil (sebagai tanda bahwa kurbannya diterima) dan meninggalkan kurban Qabil.

Al-Qurthubi menukil dari Sa’id bin Jubair rahimahullah dan lainnya bahwa kambing itu diangkat ke surga dan hidup di sana hingga diturunkan lagi ke bumi untu dijadikan tebusan bagi Nabi Ismail ‘alaihissalam ketika hendak disembelih oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Wallahu a’lam

Mengalami kenyataan jika kurbannya tidak diterima, akhirnya Qabil sangat marah. Kemarahannya bahkan membuatnya mengancam Habil hingga akan dibunuh. Allah Ta’ala berfirman menceritakannya dalam Surat Al-Maidah ayat 27

“Ceirtakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satunya dan tidak diterima dari yang lainnya. Maka berkata yang tidak diterima kurbannya, ‘Sungguh aku akan membunuhmu.’ Dan berkata yang diteirma kurbannya, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertakwa.’

Namun bukannya melawan, Habil justru  menyerahkan dirinya dan tidak ada keinginan melawan. Hal ini dilakukan dia karena khawatir jika melawan akan punya keinginan seperti Qabil yakni membunuh lawannya.

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, sekali-kali aku tidak menggerakkan tanganku aku membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Robb sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa (pembunuhan ini) dan dosa kamu sendiri yang lain, maka kamu menjadi penghuni neraka, dan yang demkian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maidah: 28-29).

Diriwayatkan dalam beberapa kitab tafsir, Habil dibunuh saat tengah tidur lelap tiba-tiba Qabil melempar batu hingga pecah kepalanya. Adapula  riwayat lain menyatakan bahwa Habil dicekik dan digigit sebagaimama binatang buas ketika menyantap mangsanya, wallahu a’lam.

Ternyata kematian Habil tidak membawa rasa takut untuk Qabil. Tanpa belas kasihan Ia berniat untuk meninggalkannya. Mengingat ini adalah kematian pertama di muka bumi, Qabil pun tidak tahu harus berbuat apa. Dalam keadaan yang tersebut, Allah Ta’ala mendatangkan dua burung gagak yang sedang bertarung, salah satunya mati. Maka yang hidup mengais-ngais tanah dengan paruhnya membuat lubang untuk menanam burung gagak yang mati. Qabil mengambil pelajaran dari peristiwa itu tentang cara mengubur jenazah saudaranya.

Karena perbuatannya ini Qabil harus menanggung dosa  yang terus mengalir selama masa bumi. Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Tidaklah dibunuh suatu jiwa dengan zalim melainkan dosa pembunuhan itu akan ditanggungpula oleh anak Adam yang pertama (Qabil) karena dialah yang pertama memberi contoh pembunuhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

sumber:infoyunik




Doa Ust. Arifin Ilham Untuk 212: “Ya Allah, Hancurkanlah Mereka Yang Menghalangi JalanMu!

K. H. Muhammad Arifin Ilham
K. H. Muhammad Arifin Ilham

Detikriau.org – Assalaamu alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu.

Allahumma ya Allah, ampunilah seluruh dosa dosa kami…aamiin.

Allahumma ya Allah, berkahilah negeri kami dg ketaqwaan para pemimpinnya dan rakyatnya…aamiin.


Allahumma ya Allah, bimbinglah para pemimpin kami dg hidayahMu agar mereka jujur, amanah, teladan, dan mencintai kami karenaMu…aamiin.


Allahumma ya Allah, selamatkan negeri kami dari bala bencana karena murkaMu…aamiin.


Allahumma ya Allah, selamatkan seluruh kaum muslimin muslimat di dunia ini, terutama para mujahidin dan mustadhafiin di Palestina, Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, Mesir, Afrika Tengah, Uighur China, Kasmir India, Rohingya Myammar, Patani Thailand dan Moro Piliphina…aamiin.


Allahumma ya Allah, 
lindungilah, jagalah, satukanlah hati semua ulama dan habaib kami yg memperjuangkan SyariatMu dan Sunnah nabiMu…aamin.

Allhumma ya Allah, berkahi Aksi Super Damai jum’at 212, jagalah aksi ini dari provokasi kezholiman syetan jin dan manusia, dan jadikanlah aksi ini menyatukan hati dan harakah da’wah kami di NKRI tercinta ini….aamiin.


Allahumma ya Allah, hancurkanlah, cerai beraikanlah mereka yg memerangi kami, yg membuat banyak tipudaya dan fitnah untuk kami…aamiin.


Allahumma ya Allah, Al Haadi, Pemilik hidayah, Penguasa semua hati, berlah hidayah untuk bapak Basuki Tjahaya Purnama, karena kami yaqin beliau belum faham kebenaran dan kemuliaan Islam…aamiin.


Allahumma ya Allah, berkah aksi ini, berkah ulamanya, berkah umaranya, berkah tujuan aksinya, berkah harakah da’wahnya, berkah umat Islam sebagai umat teladan, dan berkah negeri Indonesia tercinta ini…aamiin.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar.

(K. H. Muhammad Arifin Ilham)/eramuslim.com




Undang Rezeki, Lakukan 4 Amalan Ini di Pagi Hari

REZEKI tentu tidak akan datang begitu saja, bukan? Ya, kita harus berusaha mengundangnya agar rezeki menghampiri kita. Meski Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatur setiap reseki seseorang, tetapi jika tidak diusahakan, rezeki itu tidak akan turun. Lalu, usaha seperti apa yang bisa mendatangkan rezeki?

Selain Anda harus bekerja, melakukan perkara duniawi, maka Anda pun perlu melakukan amalan-amalan pengundang rezeki. Salah satunya amalan-amalan yang bisa Anda lakukan di pagi hari. Apakah itu? Dilansir dalam infoyunik.com bahwa ada empat amalan yang harus Anda lakukan di pagi hari.

  1. Shalat Tahajud
    Amalan di pagi hari yang bisa mengundang rezeki yang pertama adalah dengan melaksanakan shalat tahajud. Shalat ini bisa dilakukan di seluruh bagian malam, baik itu di tengah malam maupun sepertiga malam yang terakhir dengan syarat yakni sudah tidur terlebih dahulu. Akan tetapi waktu yang paling efektif untuk mengundang rezeki adalah shalat tahajud yang dilakukan pada sepertiga malam terakhir. Untuk itu, shalat tahajud juga bisa dijadikan sarana bangun pagi.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketika kalian tidur, setan membuat tiga ikatan di tengkuk kalian. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, ‘Malam masih panjang, tidurlah!’ Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika ia berwudhu, lepas lagi satu ikatan berikutnya. Kemudian jika ia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, jiwanya jadi kotor dan malas,” (HR. Al-Bukhari).

Seperti hadis di atas, orang yang bangun bagi lalu berwudhu dan melaksanakan shalat tahajud maka pagi harinya akan menjadi lebih bersemangat dan bergembira. Dengan semangat tersebut makan akan berpengaruh terhadap peningkatan kreativitas dan motivasi kerja.

2 . Doa Di Pagi Hari
Setelah melaksanakan shalat tahajud, seorang muslim perlu memanfaatkan waktu sepertiga malamnya tersebut untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa merupakan senjata dari orang-orang yang beriman. Terlebih lagi doa yang dilakukan di sepertiga malam terakhir, InsyaAllah lebih mustajabah dan lebih didengar oleh Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

  1. Sedekah Pagi
    Seperti yang diketahui bahwa sedekah itu memiliki keutamaan yang sangat luar biasa apabila dilakukan dengan ikhlas. Sebenarnya sedekah dapat dilakukan kapan saja, namun akan lebih istimewa apabila sedekah tersebut dilakukan pada pagi hari. Sebab setiap pagi ada malaikat yang mendoakan orang yang bersedekah dan orang yang pelit.

“Tidaklah berlalu pagi di setiap hari kecuali ada dua malaikat yang turun dan berdoa, ‘Ya Allah berikanlah ganti pada yang berinfak.’ Sedangkan malaikat yang satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah’,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

  1. Shalat Dhuha
    Amalan terakhir yang dapat dilakukan untuk mengundang rezeki adalah dengan melaksanakan shalat dhuha. Waktu shalat dhuha ini dimulai sejak matahari sepenggelahan naik (kira-kira satu tombak) hingga menjelang ke tengah atas kepala (kira-kira 15 menit sebelum dzuhur).

Shalat dhuha ini bisa lakukan dua raka’at sampai dengan delapan raka’at. Bahkan ada juga yang mengatakan sampai 12 raka’at. Keutamaan shalat dhuha, dua raka’atnya senilai dengan 360 sedekah sebagai hak persendian dan barangsiapa yang menjalankannya empat raka’at maka Allah menjamin atas rezekinya.

“Di dalam tubuh manusia terdapat 360 sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan sedekahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah. Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu,” (HR. Abu Dawud).

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu,” (HR. Ahmad)./islampos.com

Baca sumber