HIV/AIDS, 11 MENINGGAL DUNIA, 4 MASIH BERUSIA BALITA

TEMBILAHAN (www.detikriau.org)  – Penularan penyakit mematikan HIV/AIDS sudah semakin mengkhawatirkan, dari 47 penderita yang terdata, sampai akhir Agustus 2011 sudah 11 orang yang meninggal dunia. Dari jumlah itu, 4 orang penderita masih berusia balita.

‘Penderita tersebar di beberapa Kecamatan di Kabupaten Indragiri Hilir. Mereka semua sudah dinyatakan positif mengidap penyakit mematikan itu.”Ungkap Direktur RSUD Puri Husada, Dr. Irianto kepada wartawan kemaren.

Ditambahkan Dr. Irianto, penyebaran penyakit ini sebahagian besar ditularkan melalui hubungan sex dan sebahagian dari factor kelahiran yang didapatkan dari kedua porang tuanya. Oleh karena itu, ia menghimbau kepada masyarakat untuk tidak takut memeriksakan kesehatan mengingat setiap penderita yang terjangkit HIV/AIDS tidak bisa langsung terlihat gejalanya, namun baru akan diketahui setelah 3 hingga 4 tahun kemudian.

“Saya berharap masyarakat mau memeriksakan kesehatannya, jangan takut dan malu, karena siapa tahu kita sudah terjangkit penyakit tersebut. Makanya pada hari ini kita sudah mulai melakukan pemeriksaan, baik terhadap karyawan di RSUD Puri Husada Tembilahan ataupun instansi-instansi lainnya yang ada di Kabupaten Inhil,” pungkasnya. (fsl/ek)




MPA AJAK MASYARAKAT DAN PEMERINTAH AKTIF PERANGI HIV/AIDS

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Data yang terungkap dalam pertemuan kalangan Masyarakat Peduli Aids (MPA) membuktikan penyebaran penyakit mematikan ini sudah merambah kelingkungan masyarakat berisiko rendah. Untuk mengatasi persoalan ini, mereka mengajak semua lapisan masyarakat termasuk pemerintah untuk berperan secara aktif.

Berdasarkan penjelasan Priyo Anggoro dari yayasan SIKLUS Pekanbaru, fokus program terkait HIV/AIDS yang mereka lakukan selama ini terbatas pada kelompok masyarakat berisiko tinggi, seperti kalangan pekerja sek, kaum gay, dan pengguna narkotika jarum suntik. Sedangkan untuk kelompok masyarakat berisiko rendah seperti, Ibu Rumah Tangga, Pelajar, Mahasiswa belum ada terjamah. Berdasarkan data yang mereka miliki, untuk kasus Riau, kurang lebih 25 persen positif AIDS adalah kaum Ibu Rumah Tangga (IRT).

“Makanya kita mencoba untuk mengajak semua pihak khususnya masyarakat untuk ikut mensosialisasikan agar hal ini dapat menjadi perhatian serius untuk menghindari cepatnya penularan.” Ujar Priyo.

 

Berdasrakan data dari LSM Bangun Desa Payung Negeri (BDPN) Inhil mitra kerja yayasan Siklus Pekanbaru, untuk Inhil sendiri sudah ditemukan 46 kasus AIDS. Dari jumlah itu, 4 penderita adalah Anak Usia Balita.

 

Berbicara masalah AIDS ditambahkan Priyo ibarat penomena gunung es. Apa yang dtemukan hanya puncaknya saja. Dari perhitungan Internasional, dari 46 kasus yang ditemukan diindikasikan sebanyak 4.600 masyarakat lainnya sudah terjangkiti virus mematikan ini.

 

“Ini yang sangat menjadi kekhawatiran kami. Saat ini kami memang masih disuport pendanaan dari luar. Hanya saja tentunya support pendanaan ini tidak ada jaminan untuk terus menerus. Makanya sejak sekarang kita sudah mulai mempersiapakan suatu kekuatan yang kedepannya kita harapkan menjadi potensi yang lebih besar untuk memerangi HIV/AIDS yakni dari masyarakat sendiri dengan dukungan pemerintah setempat. Gerakan pemberantasan ini kedepannya diharapkan akan menjadi dalam suatu gerakan bersama dan terstruktur. ”Harapnya.

Kepedulian Pemkab Inhil Memerangi HIV/AIDS dinilai Sangat Lemah

 

Priyo Anggoro, Aktifis Masyarakat Pemerhati HIV/AIDS ini menilai Sosialisasi dan pencegahan HIV/AIDS di Indragiri Hilir belum mendapatkan support maksimal dari Pemkab. Padahal, angka penderita penyakit mematikan ini di Inhil cukup tinggi.

“Saya nilai pemerintah tidak ada kepedulian. Seharusnya, dengan ketersedian berbagai sumberdaya, upaya sosialiasi akan sangat mudah untuk dilakukan,” Kritik Priyo ketika sempat dikomfrimasi disela-sela kegiatan pertemuan  antara Masyarakat Peduli AIDS (MPA) yang difasilitasi LSM Bangun Desa Payung Negeri (BDPN) Inhil dengan Yayasan SIKLUS Pekanbaru bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan stakeholder terkait, Jum’at (6/7) di salah satu rumah makan di kota Tembilahan

Ditambahkannya, dengan potensi sumberdaya yang dimiliki pemkab yang cukup besar, Misalnya Dinas kesehatan yang punya jejaring sampai ketingkat desa termasuk Dinas Pendidikan dapat digerakkan untuk melakukan sosialisasi bahaya HIV/AIDS ini.

“Namun dari hasil analisa kita, sampai hari ini belum ada arahan dari SKPD terkait untuk melakukan hal itu. Padahalkan tidak perlu dialokasikan secara khusus, cukup dengan peran nyata dalam bentuk kepedulian.” Ujarnya menyampaikan kekesalan. (fsl)




DISKES INHIL SOSIALISASIKAN DAMPAK HIV/AIDS

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Guna mengantisipasi meningkatnya penderita HIV/AIDS, Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS melaksanakan sosialisasi akan dampak penyakit ini yang diikuti oleh 20 orang peserta, Minggu, (4/6), di ibu kota Kecamatan Kateman Guntung.

 

Kegiatan ini melibatkan Stakeholder instansi pemerintah hingga ke tingkat Kecamatan dan dihadiri oleh ketua KPA Kabupaten Inhil H Rosman Malomo SH.MH, dalam hal ini diwakili oleh Sekretaris H Umar Pulungan.

 

“Melalui sosialisasi ini, kami harap  masyarakat tidak mendekati hal-hal yang dapat memicu penularan virus HIV. Di antaranya, seks bebas dan penggunaan narkoba, khususnya jarum suntik,” kata Umar Pulungan

 

Masih menurutnya , saat ini ditemukan penderita HIV/AIDS ditengah masyarakat terus mengalami peningkatan, namun persentasenya masih relative kecil. Walau diakuinya bahwa satu tahun terakhir ada kecenderungan peningkatan “kelas” dari HIV menjadi AIDS.

Jika seseorang berstatus penderita AIDS, artinya ketahanan tubuhnya semakin menurun, butuh perawatan dan pengobatan lebih intensif.

Ia mengingatkan bahwa pihaknya bakal terus menggencarkan sosialisasi bahaya HIV/AIDS ke masyarakat, khususnya kepada pengguna jarum suntik.

 

Untuk mengurangi ketergantungan pada narkoba, KPA menganjurkan pengguna jarum suntik menggunakan terapi metadon. “Metadon,  adalah zat yang bisa mengurangi keinginan untuk memakai narkoba” Sebutnya.(suf)