Usai Ditangkap, Harimau Bonita Dievakuasi ke Dharmasaraya

PEKANBARU — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menyatakan Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) bernama Bonita  telah berhasil ditembak bius dan ditangkap tim gabungan. Jumat (20/4) malam ini, Bonita langsung di evakuasi ke Dharmasaraya, Sumatra Barat.

“Malam ini langsung menuju pusat rehabilitasi harimau di Dharmasaraya Sumatra Barat,” kata Kepala BBSKDA Riau, Suharyono di Pekanbaru, Jumat.

Suharyono mengatakan, tim gabungan terdiri dari TNI, Polri dan BBKSDA Riau membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengevakuasi Bonita karena medan yang ditempuh cukup sulit. Tim harus beberapa kali menyeberang sungai dari lokasi penangkapan di Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir hingga akhirnya sampai ke Kota Rengat, Indragiri Hulu, Riau.

“Malam ini saya langsung meluncur ke lapangan untuk memantau evakuasi harimau,” ucapnya.

Setiba di Rengat, Bonita yang setelah ditembak bius dan ditempatkan di dalam kerangkeng besi tersebut langsung dibawa ke Sumatra Barat melalui jalur darat. Dia mengatakan, belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut terkait penangkapan tersebut malam ini. Namun, Suharyono mengatakan pihaknya akan memberikan keterangan resmi bersama dengan Dirjen KSDAE Ir Wiratno, Sabtu pagi (21/4) besok.

Sebelumnya, diberitakan tim gabungan BBKSDA Riau, TNI dan Polres Indragiri Hilir berhasil menembak bius Bonita. Satwa dilindungi itu ditembak bius dan ditangkap pada Jumat pagi tadi sekitar pukul 06.50 WIB.

Kapolres Indragiri Hilir, AKBP Christian Roni Putra mengatakan, Bonita ditangkap di Kecamatan Pelangiran, tepatnya areal perkebunan PT Tabung Haji Indo Plantation. Lokasi itu yang selama ini menjadi areal jelajah satwa dilindungi tersebut dan menerkam dua warga, termasuk salah satu di antaranya karyawan perusahaan asal Malaysia itu hingga tewas Januari 2018 lalu.

Bonita, diperkirakan berusia 4 tahun dalam empat bulan terakhir berkeliaran di areal permukiman warga dan perkebunan sawit PT THIP. Jumiati, menjadi korban pertama yang meninggal pada awal Januari 2018. Perempuan berusia 33 tahun tersebut diserang Bonita saat bekerja di KCB 76 Blok 10 Afdeling IV Eboni State, Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Indragiri Hilir.

Terakhir, Yusri Efendi (34) meregang nyawa di desa yang sama, namun berjarak sekitar 15 kilometer dari lokasi tewasnya Jumiati. Dua kejadian tersebut berakibat pada kemarahan warga.

sumber: Antara/republika




Beredar Kabar Burung, Harimau “Bonita” Ngamuk Berlatarbelakang Kematian Anak

Tembilahan, detikriau.org – Mengamuknya “Bonita” harimau pemangsa manusia di Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir munculkan berbagai cerita.

Kabar dari mulut kemulut yang tidak jelas sumbernya menceritakan, ikhwal mengamuknya si raja rimba berlatarbelakang perlakuan manusia yang menyebabkan kematian anak bonita. Anak harimau itu katanya tertangkap warga dan dimasak untuk dikonsumsi.

Kisahnya, si anak harimau tanpa sengaja tertimpa kayu saat seorang warga asal luar daerah Kecamatan pelangiran menebang pohon. Kemudian dimasak dan dikonsumsi.

“kabarnya memang seperti itu bang. Makanya korban bonita, keduanya bukan warga asli pelangiran. Semua warga pendatang. Sepertinya bonita membalas sakit hati atas kematian anaknya,” cerita salah seorang warga Ibukota Kabupaten Indragiri Hilir, Tembilahan yang mengaku mendapat cerita itu dari salah seorang warga Pelangiran dalam sebuah perbincangan dengan detikriau.org, (15/3/2018)

Lainnya, disebuah akun facebook, kabar burung kematian anak harimau itu pun dipaparkan. Ditulis pemilik akun yang mengaku warga yang tinggal di PT THIP yang berjarak sekitar 9 KM dari estate, sebelum kematian korban pertama, ada beberapa orang yang memasak seekor anak harimau. Namun dalam cerita ini, anak harimau tertangkap karena tidak sengaja terjerat, bukan tertimpa pohon.

“Saya tinggal di PT THIP dan jarak dari estate sekitar 9 KM dari tempat kejadian. Semoga Allah memberikan keselamatan bagi kita semua yang tinggal di seputaran THIP. Menurut korban yang selamat ketika terjadi penyerangan pertama (alm ibu Jumiati) memang benar, ada beberapa orang yang memasak harimau yang tak sengaja terjerat. Dan dilihat dari habitatnya pun sekarang sudah alih fungsi dari hutan menjadi kawasan perkebunan sawit sehingga kawasan hutan semakin sempit, ekosistem dan rantai makanan pun terganggu.”

Terkait isu itu, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono dikutip melalui detikcom, mengaku jika cerita dari mulut-kemulut itu menyebar di tengah masyarakat.

“Kabar-kabar seperti itu memang menyebar di tengah masyarakat. Tapi kami juga tidak bisa memastikan hal itu,” kata Suharyono, Jumat (16/3/2018)./ red