Kamu Boleh Tak Percaya, Tapi 10 Ritual Unik dan Menyeramkan Ini Nyata. Semoga Kuat Bacanya!

potongan kepala sebagai emas perkawinan
 

Suku Naulu di Maluku membawa kepala manusia sebagai mas kawin

 

detikriau.org – Dunia ini dihuni oleh suku-suku yang berbeda budaya. Masing-masing suku punya tradisi dan ritual yang belum tentu bisa dipahami oleh suku lain. sebagaimana sepuluh ritual yang dipaparkan berikut ini mungkinterkesan tidak masuk akal.Ada yang menyeramkan, ada yang menjijikkan. Namun apapun itu, ritual ini memang benar-benar ada dan pernah dilakukan sebagai bagian dari tradisi.

Kalau kamu sudah menyiapkan nyali, yuk langsung kita mulai!

1. Memenggal kepala musuh demi menjauhkan roh jahat. Ritual Kayau Ini Biasa Dilakukan Oleh Suku Dayak

Mengayau artinya mencari atau berburu kepala manusia. Duh, sampai di sini saja sudah seram abis. Ritual ini biasanya dilakukan dalam pertikaian dua kelompok untuk mempertahankan wilayahnya. Selain untuk mempertahankan wilayah, Kayau atau mengayau adalah sebuah ritual yang mensyaratkan seorang pria menjadi dewasa. Ritual ini katanya menempa keberanian, mensejahterakan anggota kelompok dan memperluas wilayah. Proses mengayau dilakukan dengan mandau, sebuah senjata khas suku dayak. Salah satu suku Dayak yang masih melakukan ritual ini adalah Suku Dayak Iban.

2. Orang Papua memotong telinga dan jari tangan untuk menunjukkan duka. Ritual Ikipalin dan Nasu Palek dilakukan saat kehilangan anggota keluarga

Kamu yang suka menonton film bertema Yakuza, pasti tahu bahwa kelompok mafia Jepang itu punya tradisi memotong jari tangan bila gagal menjalankan tugas. Suku Dani di Papua punya tradisi yang sama. Bedanya suku Dani melakukan ritual Ikipalin ini ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Jadi, berapa jari yang terpotong menandakan berapa banyak keluarga yang sudah meninggal. Selain Ikipalin, Suku Dani juga melakukan Ritual Nasu Palek, yaitu potong telinga. Makda keduanya adalah sama, yaitu untuk menunjukkan rasa duka setelah ditinggalkan sanak keluarga. Selain menunjukkan duka, potong jari dan potong telinga ini katanya juga bisa membuang kesialan.

Duh, kok serem sih…

3. Kamu pernah membayangkan mayat yang sudah dikubur, digali dan didandani kemudian diajak jalan-jalan? Suku Toraja biasa melakukannya di Ritual Ma Nene. Kamu yang penakut pasti nggak kuat

Tana Toraja nggak hanya terkenal dengan kopi dan pemandangannya yang indah, tapi juga berbagai tradisi budaya yang terkenal mistis. Salah satunya adalah Ritual Ma’ Nene yang biasa dilakukan di bulan Agustus. Masyarakat Toraja percaya bahwa roh leluhur nggak pernah meninggalkan keluarganya dan selalu membantu keluarganya. Ritual Ma’ nene adalah suatu cara untuk menghormati leluhur dengan cara menggalinya dari kubur, dan mengganti pakaian dan mendandaninya, kemudian membawanya pulang ke rumah. Ritual ini selain sebagai bentuk penghormatan juga sebagai obat rasa kangen kepada keluarga yang sudah meninggal. Konon katanya, dengan ilmu-ilmu yang dimiliki, mayat leluhur ini bisa berjalan dan datang ke rumahnya sendiri. Sekarang coba bayangkan, ada mayat yang berjalan di depanmu.

4. Mencambuki diri dengan rantai besi dan pisau belati umum dilakukan Kaum Islam Syiah sebagai bentuk penyesalan dan penebusan dosa

Kaum Islam Syiah memiliki cara sendiri untuk menyambut Bulan Suci Muharram. Di momen ini, untuk mengenang cucu nabi Muhammad yaitu Imam Hussein yang tewas dalam pertempuran Karbala di abad ke-17. Dalam ritual ini, orang akan mencambuki dirinya sendiri dengan rantai besi dan pisau belati tipis sampai tubuhnya berdarah-darah. Makna dari ritual ini adalah penyesalan karena nggak hadir dalam pertempuran dan nggak ikut berperang ataupun menyelamatkan Hussein. Ritual yang dikenal dengan nama Ritual Ashura ini konon bisa membebaskan diri dari dosa dengan menyesali dan menyakiti dirinya sendiri. Kalau kamu pernah nonton film PK, kamu pasti ngeri melihat Aamir Khan mencambuki dirinya sendiri untuk menemukan Tuhan.

5. Dancing with the dead bukan hanya soal zombie. Penduduk asli Madagaskar menggali mayat yang sudah meninggal dan mengajaknya menari dalam sebuah ritual festival

Sekilas, ritual ini mirip dengan ritual Ma’ nene di Tana Toraja. Yaitu sanak keluarga yang sudah meninggal digali dari kuburnya dan diajak kembali ke dunia hidup. Dalam tradisi orang Madagaskar, ritual ini disebut dengan Famadihana. Setiap tujuh tahun sekali, leluhur yang sudah meninggal digali dari kubur dan diganti pakaiannya. Setelah diganti, keluarga akan mengajak sang mayat untuk menari dengan live musik. Hewan-hewan dikurbankan dan dibagi-bagikan kepada tamu yang datang. Sementara tetua-tetua akan menjelaskan bagaimana pentingnya sosok leluhur yang sedang diajak menari. Kalau film zombie isinya cuma seram-seram, di tradisi Famadihana ini menari dengan mayat penuh kebahagiaan.

6. Suku Naulu di Maluku membawa kepala manusia sebagai mas kawin. Percaya atau nggak, ini benar adanya

Pada umumnya mas kawin berupa seperangkat alat sholat, cincin, dan beberapa hal sederhana lainnya. Namun dalam tradisi suku Naulu yang terletak di pulai Seram Maluku ini, mas kawin terbaik adalah kepala manusia. Ini serius. Ritual ini memiliki banyak maksud. Konon katanya memenggal kepala orang dan menjadikannya persembahan kan menjaga dan menguatkan rumah adatnya. Selain itu, ritual memenggal orang ini juga merupakan ritual penandaan seorang pria sudah dewasa. Saat pria sudah dewasa, dia diharuskan untuk memakai ikat kepala merah. Tapi untuk mendapatkan ikat kepala merah ini nggak bisa via beli ditoko, mereka harus terlebih dahulu memenggal kepala seseorang. Karena bertentangan dengan hukum Indonesia, ritual ini akhirnya dihentikan, dan terakhir kali dilakukan pada tahun 2005.

7. Suku Aghori Babas di India memakan mayat orang yang sudah meninggal, sebagai bentuk perlawanan atas rasa takut pada kematian

Dalam tradisi Hindu, ada beberapa tipe orang yang ketika sudah meninggal, jasadnya tidak bisa dikremasi. Beberapa yang termasuk golongan ini misalnya: orang suci, anak-anak, perempuan hamil dan tidak menikah, serta orang yang meninggal akibat gigitan ular. Jasad mereka akan dihanyutkan di sungai Gangga, yang dianggap sebagai sungai suci masyarakat India, khususnya yang beragama Hindu. Suku Aghori Babas akan mengambil jasad yang dihanyutkan ini dan memakannya secara ritual. Konon, ritual ini dilakukan sebagai wujud perlawanan atas rasa takut. Bagi orang Aghori babas, ketakutan terbesar makhluk hidup adalah kematian. Karenanya, memakan jasad orang yang sudah meninggal adalah satu cara untuk mengatasinya.

8. Setelah dikremasi, biasanya tulang belulang jenazah di simpan atau dibuang ke laut. Tapi dalam Ritual Yanomami, tulang abu jenazah harus diseduh dan diminum

Yanomami merupakan salah satu suku Indian yang cukup terkenal. Mereka hidup di pedalaman amazon, di dalam hutan hujan tropis dengan tradisi primitif yang masih sangat terpelihara. Mereka meyakini bahwa jiwa orang yang sudah meninggal harus dijaga dengan cara meminum abu tulang-tulangnya. Yanomami memandang kematian bukan sebagai peristiwa natural, melainkan sebagai serangan dari suku lain. Untuk memutus sekarang ini, mereka harus melenyapkan tubuh yang sudah meninggal. Karena itu, mereka memilih proses pembakaran, karena penguburan membutuhkan waktu lama untuk menghancurkan jasad. Sementara abu yang diminum, dipercayai akan membuat jiwa orang tersebut akan tersimpan dalam diri mereka. Duh, kayak apa ya rasanya seduhan tulang belulang?

9. Nggak hanya di India, Kanibalisme juga terjadi di dalam tradisi suku Fore, Papua Nugini. Jasad keluarga yang sudah meninggal dibagikan dan dimakan beramai-ramai oleh keluarga yang masih hidup.

Suku Fore di Papua Nugini juga memiliki tradisi Kanilabisme yang nggak kalah menyeramkan dengan yang suku Aghori Babas di India. Bedanya suku Fore hanya memakan mayat anggota suku. Ketika ada anggota suku yang meninggal, mayatnya akan dimasak dan dibagi-bagikan untuk dimakan bersama dengan harapan bahwa arwah orang yang meninggal itu tetap dekat dengan keluarga dan orang suku lainnya. Iyuh! Konon katanya, karena tradisi ini, ada penyakit yang mewabah sejak tahun 50an, dengan gejala tremor, tertawa tanpa henti, dan bicara yang mendadak cadel. Penyakit ini disebabkan oleh protein prion yang berbahahaya terletak di otak. Hii!

10. Suku Ifugao di Filipina menyiapkan Kursi Kematian untuk kerabat yang sudah meninggal. Bukannya segera dikuburkan, jenazah dibiarkan duduk tenang di depan rumah selama 8 hari

Umumnya ketika ada keluarga yang meninggal, keluarga dibantu tetangga-tetangga, akan menyiapkan segala ritual pemakaman ataupun kremasi untuk umat Hindu. Namun dalam tradisi suku Ifugao ini sangat jauh berbeda. Ketika ada yang meninggal, sanak keluarga akan mendudukkan jenazah di kursi yang diletakkan di depan rumah. Supaya jenazah tetap tegak, tubuhnya diikat. Sehingga yang terlihat, jenazah itu seperti sedang duduk santai di depan rumah, sementara kedua matanya ditutup karena orang yang meninggal nggak perlu melihat aktivitas orang-orang hidup. Ritual ini berlangsung selama delapan hari. Selama itu, sanak keluarga dan tetangga berdatangan untuk memberikan penghormatan terhadap jenazah. Hmm…kebayang nggak bagaimana wujud dan aroma jenazah selama delapan hari itu?

Walaupun kesannya seram dan sadis, setiap ritual itu memiliki makna dan filosofi yang nggak main-main bagi suku yang menjalani. Ya, walaupun beberapa nggak sesuai dengan kemanusiaan, percaya atau nggak ritual-ritual itu dulu (dan beberapa hingga sekarang) menjadi hal yang biasa dan diyakini kebenarannya./*

baca sumber: UC News

 

 




Militer Filipina Baku Tembak dengan Milisi Abu Sayyaf, 15 Tentara Tewas

Militer Fhilipina
Tentara Fhilipina

MANILA – Sebanyak 15 prajurit Filipina telah tewas minggu ini dan 12 lainnya terluka dalam kontak tembak dengan kelompok militan Abu Sayyaf.

Laporan ini dirilis Dinas Penerangan Militer Filipina, Selasa (30/8/2016).

Seperti diketahui, perang melawan teroris Abu Sayyaf masih terus dilancarkan pemerintah Filipina.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah bersumpah akan mengerahkan lebih banyak lagi pasukannya ke benteng kelompok Abu Sayyaf di Selatan.

Juru bicara presiden Rodrigo Duterte mengatakan Selasa (30/8/2016) bahwa tewasnya beberapa pasukan hanya akan memperkuat tekad Pemerintah untuk menghancurkan Abu Sayyaf.

Dia katakan Abu Sayyaf, yang didirikan pada awal 1990-an untuk berjuang mendirikan negara Islam yang independen di Filipina Selatan.

Tapi dalam beberapa tahun terakhir telah berubah menjadi sebuah geng penculik untuk minta tebusan dan yang dikenal untuk memenggal kepala tawanan.

“Presiden menegaskan ancamannya agar Abu Sayyaf segera dihentikan secepat mungkin,” kata juru bicara Ernesto Abella, dan menambahkan bahwa Duterte terus memantau perkembangan penumpasan kelompok ini.

Dia mengatakan Presiden telah menyetujui pengerahan sekitar 2.500 lebih tentara, atau lima batalion pasukan ke Jolo untuk menambah kekuatan militer disana. (NYTimes)

baca sumber




Kapal Indonesia Dibajak di Malaysia, 4 WNI Diculik

gambar ilustrasi
gambar ilustrasi

Jakarta – Pembajakan 2 kapal berbendera Indonesia kembali terjadi di perairan perbatasan Malaysia-Filipina. Dilaporkan 4 orang warga negara Indonesia (WNI) diculik.

“Kapal membawa 10 orang ABK WNI. Dalam peristiwa tersebut 1 orang ABK tertembak, 5 orang selamat dan 4 orang diculik,” demikian bunyi siaran pers resmi dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI yang disusun Direktur Perlindungan WNI Lalu M Iqbal, seperti yang diterima detikcom, Sabtu (16/4/2016).

Pembajakan 2 kapal itu terjadi pada pukul 18.31 waktu setempat, Jumat (15/6/2016). Dua kapal yang dibajak yaitu Kapal Tunda TB Henry dan Kapal Tongkang Cristi. Kapal tersebut dalam perjalanan kembali dari Cebu, Filipina, menuju Tarakan.

Namun tidak disebutkan secara jelas siapa pihak yang menculik serta melukai WNI dalam kapan tersebut.

Sebelumnya, 10 WNI diculik oleh kelompok Abu Sayyaf. Militer Filipina pun sempat menyerbu kelompok itu namun 10 WNI masih belum terselamatkan.

Kabar terkini yang didapat adalah kondisi kesepuluh WNI dalam keadaan sehat. Kini pemerintah RI masih terus melakukan komunikasi secara intensif ke semua jaringan terkait.(detikcom)




18 Prajurit Filipina Tewas, Apa Reaksi TNI ?

pasukan Sat-81 Kopassus TNI AD
pasukan Sat-81 Kopassus TNI AD

JAKARTA – Pertempuran angkatan bersenjata Filipina melawan kelompok pemberontak Abu Sayyaf terkait pembebasan sandera, telah menelan korban jiwa. Dalam pertempuran sembilan jam itu, 18 prajurit Filipina gugur. 

Tapi, itu tak menyurutkan upaya Tentara Nasional Indonesia membebaskan sepuluh WNI. Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Tatang Sulaiman menegaskan, sejauh ini belum ada permintaan keterlibatan pasukan TNI oleh Filipina.

“Ini untuk kesekian kalinya saya katakan bahwa TNI belum diminta terlibat (untuk operasi militer di Filipina),” ujar Tatang saat dihubungi JPNN, Senin (11/4) pagi.

Mantan Kepala Staf Kodam XVII/Cenderawasih itu menegaskan, ada konstitusi di Filipina yang menyatakan tidak memperbolehkan keterlibatan angkatan bersenjata lain dalam suatu pertempuran di negara mereka. Karenanya, ini menjadi salah satu alasan TNI belum dilibatkan dalam upaya pembebasan sandera tersebut. “Oleh karenanya kami belum kirim pasukan,” tegas Tatang.

Dia mengatakan, aturan di negara lain juga harus dihormati. Ia mencontohkan, ketika ada keributan di rumah seseorang, tentu tidak lantas orang lain bisa masuk seenaknya ke wilayah tersebut. Ada aturan yang mesti dihormati. Karenanya, kata dia, meskipun menyangkut pembebasan WNI, tentu TNI tidak bisa begitu saja masuk ke wilayah militer negara lain.

Yang pasti, Tatang melanjutkan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sangat menghargai niat baik pemerintah Filipina yang berjanji akan secepatnya menuntaskan pembebasan WNI itu. “Panglima TNI sangat menghargai niat baik militer Filipina,” kata Wadanpussenif Kodiklat TNI AD itu.

Namun demikian, Tatang menegaskan, antisipasi TNI selalu tinggi menyikapi persoalan ini. Perkembangan pembebasan WNI terus diikuti.

Ia mengatakan, diminta atau tidak TNI tetap siap. Terlebih kalau ada permintaan, tentu TNI sangat siap. Hanya saja, kata Tatang, konstitusi di negara lain juga harus dihormati. “Yang pasti TNI selalu mengikuti perkembangan,” tegas Tatang./jpnn




Militer Filipina Serbu Kelompok Abu Sayyaf, 23 Tewas

Pasukan elit Filipina
Pasukan elit Filipina

Manila – Militer Filipina melaporkan telah menyerbu kelompok Abu Sayyaf di Pulau Basilan yang berada di selatan negara itu. Bentrokan sengit antara 2 kubu itu pun terjadi.

“18 tentara tewas dalam pertempuran sengit dengan militan di selatan negara itu. 50 tentara lainnya terluka, dan 5 teroris tewas,” kata militer Filipina yang dikutip dari BBC, Minggu (10/4/2016).

Tentara Filipina dilaporkan menargetkan komandan Abu Sayyaf yang bersumpah setia pada kelompok ISIS. Pemerintah AS bahkan telah menawarkan hadiah sampai US$ 5 juta atau sekitar Rp 65 miliar untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Isnilon Hapilon.

Mengutip seorang juru bicara militer regional, didapati informasi bahwa empat tentara dipenggal kepalanya dalam bentrokan dengan sekitar 100 gerilyawan Abu Sayyaf.

“Kelompok kami sedang dalam perjalanan menyerang mereka. Dalam perjalanan, mereka disergap,” beber juru bicara satuan tentara yang terlibat dalam pertempuran, Kolonel Benedict Manquiquis, kepada stasiun radio DZRH.

“Musuh menguasai wilayah yang tinggi, jadi tidak peduli di mana tentara kami berlindung, mereka masih bisa melawan dengan senjata berat dan bom rakitan,” tutur Manquiquis.

“Pasukan pemerintah bergerak melawan kelompok Abu Sayyaf setelah serangkaian penculikan orang asing,” sambung juru bicara militer regional, Mayor Filemon Tan.

Sebelumnya pada Jumat 8 April, mantan pendeta Italia yang disandera oleh kelompok itu dibebaskan setelah enam bulan disandera kelompok Abu Sayyaf. Delapan belas sandera asing lainnya, termasuk dua warga Kanada dan Norwegia juga dilaporkan disandera di Filipina.

Hampir semua sandera yang diduga disandea kelompok Abu Sayyaf berada di perkemahan di Pulau Jolo, dekat pulau Basilan.

Kelompok Abu Sayyaf terbentuk pada awal 1990-an dengan sokongan dana dari militan Al Qaeda. Grup radikal tersebut juga disebut-sebut sebagai ‘otak’ sejumlah serangan bom mematikan di Filipina, termasuk dugaan menculik warga negara Indonesia (WNI), dengan meminta tebusan sekitar Rp 14,2 miliar. (liputan6.com)