Proyek Belum Berjalan, Kontraktor Lokal Sebut Ekonomi Masyarakat Melemah

“Minta Bupati Intruksikan SKPD Segera Lelang Proyek”

kontraktorRengat, detikriau.org – Putaran roda Ekonomi Masyarakat khususnya  kabupaten Inhu saat ini melemah, hal ini selain harga sawit dan karet yang masih dirasa Rendah , juga disebabkan faktor belum berjalannya kegiatan Proyek di Pemkab Inhu. dua faktor ini dinilai sebagai Barometer stabilitas Ekonomi Masyarakat khususnya di Kabupaten Inhu.

” Saat ini Ekonomi Masyarakat kabupaten Inhu kian Melemah, kondisi ini ditandai dengan sepinya jual-beli baik  di pasar – pasar Desa maupun pasar perkotaan  ” ujar Suharmaini SP  yang juga berprovesi sebagai Direktur Perusahaan yang bergerak Bidang Kontraktor, Kamis (25/2) di kantor Pekerjaan Umum (PU)Pematang Reba.

Dikatakannya, dua faktor ini jadi  penentu   melemahnya ekonomi masyarakat.  Ia juga   berharap agar Bupati Inhu H Yopi Arianto, SE dapat mengambil  Sikap dan mengambil langkah langkah guna pemulihan ekonomi Masyarakat agar tidak semakin terpuruk.

Masih menurutnya, jika  Bupati Inhu bisa Segera  menerbitkan Surat Keputusan (SK) kepada Satuan Kerja Pemerintahan Daerah (SKPD) untuk  melakukan proses pelelangan Proyek  Anggaran tahun 2016, diyakini akan dapat memulihkan ekonomi masyarakat. dengan  kegiatan Proyek   berjalan,  maka Sirkulasi putaran uang bisa menormalisasikan Ekonomi.

” Sebelum Proyek  dilelang perekonomian masyarakat disemua lini akan melemah,seperti yang dirasakan oleh masyarakat sekarang ini” tambahnya.

lanjut Suharmaini,  bagi masyarakat yang berprofesi sebagai Kontraktor yang menjadi rekanan dengan pemerintah karena tidak ada putaran keuangan dari APBD, jelas  kebutuhan ekonomi masyarakat tidak stabil.

“Mudah mudahan pemimpin nomor satu di Inhu, H Yopi Arianto SE tergugah hatinya terhadap keluh kesah  yang dirasakan oleh masyarakat yang keseharian berprofesi sebagai Kontraktor ” harapnya. (Zal)




Menhub: Kenaikan tarif Angkutan Umum Maksimal 10 Persen

spbu-bbm-non-subsididetikriau.org – Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengumumkan penyesuaian tarif angkutan umum. Untuk angkutan umum , kenaikan maksimal 10% dari tarif sebelum kenaikan harga BBM.

“Untuk kereta api, kenaikannya tidak banyak, bervariasi. Ada yang Rp2.000, ada yang Rp13.000 untuk jarak jauh. Untuk kapal laut kelas ekonomi, tidak akan ada kenaikan tarif,” kata Jonan sebagaimana dilansir BBC, Selasa (18/11).

Polemik kenaikan harga BBM dan korelasinya terhadap tarif angkutan umum mendapat sorotan dari Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, I Kadek Dian Sutrisna Artha.

Menurutnya, pemerintah semestinya memberi subsidi kepada angkutan umum mengingat transportasi akan berdampak langsung kepada harga-harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat.

“Dengan memberi fasilitas yang lebih layak untuk angkutan dan segala subsidi yang berkaitan dengan transportasi umum, itu tentunya akan dapat meredam dampak langsung kenaikan harga BBM serta meningkatkan daya beli masyarakat,” kata Kadek. (dro)




Kerusakan mangrove sebabkan kerugian miliaran dolar

DSC_0064Athena – Kerusakan mangrove berlangsung tiga sampai lima kali lebih cepat dibandingkan rata-rata kerusakan hutan dan menyebabkan kerugian hingga miliaran dolar Amerika Serikat (AS) menurut Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Environment Programme/UNEP).

Laporan UNEP yang berjudul The Importance of Mangroves: A Call to Action yang diluncurkan pada Senin (29/9) menyebutkan emisi akibat berkurangnya lahan mangrove menyumbang hampir seperlima emisi global dari deforestasi dan menyebabkan kerugian ekonomi antara enam miliar dolar AS sampai 42 miliar dolas AS setiap tahun.

Menurut laporan itu, mangrove juga terancam perubahan iklim, yang bisa menyebabkan kerusakan mangrove lebih lanjut sampai 10-15 persen pada 2100.

Mangrove ditemukan di 123 negara dan mencakup area 152.000 kilometer persegi. Lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia hidup dalam 10 kilometer hutan mangrove dan mendapat beragam manfaat dari produk kehutanan dan perikanan, air bersih dan perlindungan terhadap erosi dan cuaca ekstrim.

“Mangrove memberikan layanan ekosistem dengan nilai 33 sampai 57.000 dolar AS per hektare per tahun,” kata Direktur Eksekutif UNEP Achim Steiner seperti dilansir laman UNEP.

“Ditambah kemampuan superior mereka untuk menyimpan karbon yang jika tidak akan dilepaskan ke atmosfer, menjadi jelas bahwa kerusakan mangrove berlanjut akan berdampak pada ekologi dan ekonomi,” katanya.

“Namun peningkatan kerusakan dan degradasi mangrove – yang dipicu oleh konversi lahan untuk pertanian dan perikanan, pembangunan daerah pantai dan polusi – terjadi pada tingkat yang mesti diwaspadai, dengan lebih dari seperempat mangrove yang menutupi Bumi sekarang telah hilang.”

Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap keragaman hayati, keamanan pangan dan kehidupan komunitas-komunitas pesisir yang paling terpinggirkan di negara-negara berkembang tempat lebih dari 90 persen mangrove ditemukan.

“Dengan mengukur nilai ekonomi ekosistem mangrove dan peran kritis mereka dalam pengaturan iklim global, laporan itu ditujukan untuk mendorong pembuat kebijakan menggunakan perangkat dan panduan yang lebih baik untuk memastikan konservasi dan pengelolaan mangrove berkelanjutan,” kata Steiner.

Laporan itu juga menjelaskan mekanisme pembiayaan dan insentif untuk mendorong konservasi mangrove seperti REDD+, investasi sektor swasta dan pembentukan Aksi Mitigasi Nasional di negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Perlindungan penyimpan karbon dalam jangka panjang dan mencegah mereka melepaskan emisi ke atmosfer, menurut laporan itu, merupakan tindakan masuk akal dan hemat yang bisa dilakukan untuk membantu mitigasi perubahan iklim. (ANTARA News)