Ini Contoh Pemanfaatan Sabut Kelapa yang Patut ditiru

“Hanya Bermodal  Rp 100.000, Sekarang Raup Penghasilan Ratusan Juta”

Tembilahan, detikriau.org – Sebagai daerah yang memiliki hamparan kelapa dalam terluas, lebih dari separo penduduk di Kabupaten Inhil menggantungkan hidup dari hasil produksinya. Selama ini, untuk mendapatkan penghasilan, masyarakat hanya memperoleh manfaat dari produksi daging buah. Sementara produk sampingan, seperti tempurung, sabut, lidi dan batang sebagian besar tidak termanfaatkan dan bahkan terbuang sebagai limbah.

Sabut kelapa, contohnya, disaat panen tiba, limbah ini melimpah. Kebanyakan petani baru memanfaatkannya untuk mengasapi daging buah dalam proses pembuatan kopra dan tidak sedikit pula produk limbah ini akhirnya hanya dibakar dan tidak termanfaatkan.

Padahal memberi nilai tambah pada limbah tak hanya punya dampak positif bagi kelestarian alam. Aktivitas mengolah sampah juga bisa meraup laba. Mahasim contohnya, pengusaha di Kebumen, Jateng menghasilkan puluhan juta rupiah dari kreasi sabut kelapa.

Dikutip kisah dari laman kompas.com, Bersama rekannya, Darda, Mahasim memulai usaha membuat kerajinan dari sabut kelapa dengan modal awal Rp 100.000. Produk awal berupa keset berbagai ukuran. Selanjutnya ia berkreasi membuat tas, topi, sandal, pot, coconet, hingga bantal, guling, dan kasur dari sabut kelapa. Selain itu, ia juga mengkombinasikan bahan dasar sabut dengan batok kelapa, kayu kelapa atau glugu dikreasi menjadi tas dan kursi. Kerangka kursi dari kayu kelapa sementara bagian dalam jok kursi dari sabut kelapa.

Selain itu, Mahasim juga membuat pot dari sabut kelapa, baik pot biasa maupun pot gantung. Salah satu keunggulan cocopot yaitu bisa menahan air sehingga menghemat penyiraman. Selain itu, kalau digunakan untuk menanam bibit cocopot punya keunggulan. Saat memindahkan bibit ke lahan cocopot bisa sekaligus ditanam. Dibandingkan polybag plastik, cocopot lebih ramah lingkungan.

Selain produk kerajinan, proses penggilingan butiran sabut menjadi serat sabut atau fiber juga mengeluarkan hasil sampingan berupa cocopeat. Cocopeat ini selanjutnya diolah menjadi pupuk organik. Setiap hari Hasim menggiling 3.000-4.000 butir sabut. Sepuluh butir sabut bisa menghasilkan 1 kg cocopeat. Sesudah diolah menjadi pupuk, Hasim menjualnya seharga Rp 450 per kg, di luar ongkos kirim.

“Pupuk organik itu dijual ke Kalimatan Timur, 10-20 ton sebulan. Waktu mau lebaran mereka pesan 60 ton per bulan. Jumlah sebanyak itu masih bisa kami layani. Mereka pernah minta sampai 400 ton per bulan, kami nggak sanggup,” ungkap Mahasim, warga desa Rantewringin, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen, Jateng.

Hasil produksi lain dari pengolahan sabut kelapa ini adalah sabutret atau serat sabut berkaret yang bisa menjadi isi dari kasur, bantal, guling, maupun jok kursi. Pengolahannya berbeda dengan keset atau coconet yang merupakan anyaman sabut fiber.

Sabutret merupakan sabut fiber yang diolah lebih lanjut. Sabut yang sudah digiling lalu dianyam jadi tali. Kemudian tali tersebut dioven. Selanjutnya tali itu diurai lagi supaya tidak keriting, lalu ditata di cetakan.

Sabut dalam cetakan itu kemudian disemprot lateks, dan dioven lagi. Jadilah lembaran sabutret yang kemudian dimasukkan ke dalam sarung guling, bantal, kasur, atau jok. Untuk kasur setebal 5 cm ia menjual seharga Rp 600.000. Sementara kasur setebal 15 cm harganya Rp 1,5 juta. Bantal dan guling harganya Rp 50.000.

Ia bercerita bahwa pernah ada permintaan kasur berisi sabut dari Amerika. Tidak tanggung-tanggung, buyerAmerika itu minta dikirim 3 kontainer per bulan. Tapi Hasim mengatakan tak sanggup karena skala usahanya belum bisa mencukupi. Meski saat ini bisnisnya terbilang cukup besar.

Selain mempekerjakan 15 orang yang menjadi karyawan tetap, ia juga punya mitra yang tersebar di lima kecamatan di Kebumen. Mitra paling banyak dari Kecamatan Buluspesantren dan Kliron. Mereka membuat barang jadi atau setengah jadi lalu dibawa ke AKAS (Aneka Kerajinan Anyaman Sabut Kelapa) untuk dipasarkan. Padahal, awalnya Mahasim hanya punya dua karyawan. Lalu, ia membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama AKAS.

Omzet ratusan juta

Salah satu produk yang memberi pemasukan besar adalah coconet. Setiap bulan Mahasim harus mengirim produk berupa jaring dari sabut kelapa itu ke Timika, Balikpapan, dan Medan. Untuk coconet tali kecil harganya Rp 8.000/m, sementara coconet tali besar dijual seharga Rp 13.000/m. “Masing-masing tempat itu dikirimi satu tronton. Satu tronton isinya 200 rol. Satu rol panjangnya 50 m,” papar Mahasim.

Jadi, kalau dihitung untuk produk coconet saja omzet yang diperoleh Rp 240 juta (Rp 8.000 x 50 m x 200 rol x 3). Itu baru pemasukan dari satu produk. Selain itu masih ada pemasukan dari keset kecil sebanyak 5.000 lembar dan keset besar 2.000 lembar. Masing-masing harganya Rp 5.000 dan Rp 35.000. Selain melayani pasar lokal Kebumen, Mahasim juga mengirim produk ke Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Pontianak, dan Medan.

Ada pula pengiriman pot gantung untuk eksportir yang selanjutnya akan mengirim ke Australia. Tiap bulan Mahasim mengirim pot gantung sebanyak 200-300 pot, harganya Rp 30.000/pot. Selain Australia, Mahasim juga melayani permintaan tali sabut ke Jepang sebanyak 2500 ikat. Satu ikat panjangnya 10 m dan tiap meter dijual seharga Rp 5.000.

Pohon kelapa merupakan tanaman yang begitu melimpah di Inhil dan bahkan komoditi perkebunan ini sudah menjadi tumpuan hidup masyarakat selama ratusan tahun.  Itu sebabnya, bisnis ini bisa diterapkan oleh masyarakat dengan dukungan ketersediaan bahan baku yang melimpah.

Pemerintah, dalam hal ini berbagai instansi terkait harusnya dapat menjadi motor penggerak. Misalnya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan pengolahan kerajinan dan mencari peluang pasar dari produk olahan limbah kelapa yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Dengannya, membumikan kelapa di Kabupaten yang bergelar Negri Sri Gemilang ini tidak hanya menjadi ajang seremonial belaka dan bahkan lebih mirisnya menjadi lahan proyek untuk meraup keuntungan pribadi dan kelompok semata./dro

 

 




Tak Ada Damkar, 1 Unit Rumah Warga Desa Pintasan Ludes Jadi Abu

GAUNG (detikriau.org) – 1 unit rumah milik Asnawati (42) RT 06 RW 02 di Parit Senang Hati Desa Pintasan Kecamatan Gaung ludes terbakar tanpa sisa, Rabu (7/9/2016) sekitar pukul 00.30 WIB.

Insiden tersebut disebabkan tidak tersedianya alat pemadam kebakaran. Padahal, korban sudah mengetahui sejak api mulai membesar.

Kapolres Indragiri Hilir (Inhil) AKBP Dolifar Manurung melalui Paur Humas, Ipda Heriman Putra menjelaskan, pada saat itu si korban sedang senditian. Awal diketahuinya ketika ia bangun dari tidur hendak buang air.

Disaat keluar dari kamar, korban langsung melihat api pada bagian atap dapur. “Bangunan rumahnya itu terbuat dari kayu dan beratapkan daun nipah, itu juga salah satu sebab api dengan cepat membara,” kata Heriman Putra.

Selanjutnya, lanjut Paur Humas, korban keluar dari pintu depan rumahnya dan berteriak-teriak memanggil tetangganya untuk meminta bantuan.

Berselang beberapa saat kemudian, para saksi datang dan berupaya untuk memadamkan api namun kobaran tersebut tetap melalap dengan cepat menghanguskan bangunan.

Hasil penyelidikan kepolisian, api diduga berasal dari anglo atau tungku tanah yang dipergunakan korban untuk memasak. Sebab korban menyadari bahwa alat memasak itu belum dimatikan secara maksimal.

“Akibatnya, korban mengalami kerugian diperkirakan kurang lebih Rp 50 juta,” tutupnya./Mirwan




Sadis, Leher Wanita di Pelangiran Ini Nyaris Putus Ditebas Ponakan

Pelangiran (detikriau.org) – Ros (35) tewas secara sadis, Rabu (7/9/2016). Pasalnya, leher warga Desa Rotan Semelur Kecamatan Pelangiran ini nyaris putus akibat tebasan sebilah parang panjang.

Pelaku Z (19) tak lain adalah keponakan korban sendiri yang bertempat tinggal hanya sekitar 7 meteran dari rumah korban.  

Berdasarkan keterangan dari kepolisian, saat itu si korban sedang membersihkan halaman rumahnya sekitar pukul 11.15 WIB.

Kala itu, si korban ini ditegur oleh salah seorang warga bernama Apar karena kayu bekas tebangan menutupi badan jalan, namun si korban tidak terima ditegur dan menggerutu atau mengoceh dengan nada tinggi secara terus-menerus.

Kemudian Apar meninggalkan korban dan masuk ke rumah pelaku. Meski ditinggalkan, korban tetap terus menggerutu hingga didengar pelaku.

“Waktu itu pelaku terpancing emosi hingga akhirnya dia keluar rumah membawa sebilah parang. Sesampainya di luar, korban masih terus menggerutu sehingga emosi pelaku tak tertahan dan secara reflek mengayunkan parang ke arah korban dan mengenai di bagian leher sebelah kiri dengn kondisi hampir putus,” ungkap Kapolres Indragiri Hilir (Inhil) AKBP Dolifar Manurung melalui Paur Humas, Ipda Heriman Putra.

Waktu itu juga, lanjut Heriman Putra, korban meninggal dunia. Kemudian sejumlah warga berdatangan dan melaporkan insiden tersebut ke petugas Polsek setempat.

Dengan segera, kepolisian melakukan olah TKP dan mengejar pelaku. Sekitar pukul 13.30 WIB, keponakan korban itupun berhasil diamankan beserta barang buktinya.

“Pelaku dan barang bukti berupa parang yang digunakannya sudah diamankan di Mapolsek Pelangiran guna penyidikan lebih lanjut,” tutupnya./ Mirwan




Tim Temukan 1 Jenajah Korban Laka Laut di Perairan Sungai Beting

Tembilahan, detikriau.org – Tim evakuasi BPBD Inhil bersama Basarnas posko Tembilahan berhasil menemukan jenajah Rajib Gandi, satu dari dua korban hilang dalam peristiwa lakalaut antara speedboat bermesin 40 PK dan Perahu Motor di perairan sungai beting Kecamatan Kuindra senin malam kemaren.

Mayat pria yang diketahui sebagai penyewa speedboat ini ditemukan sekitar pukul 09.35 Wib rabu (7/9/2016) tidak jauh dari TKP tabrakan maut terjadi.

Menurut keterangan kepala BPBD Inhil H Yuspik, saat ditemukan jenajah tidak lagi dapat diindentifikasi secara kasad mata. Namun jenajah dikenali dengan sejumlah pakaian yang masih dikenakannya dengan celana jens, baju kaos putih serta mengenakan sebuah gelang tangan berbahan stainless.

“Pihak keluarga memastikan bahwa jenazah tersebut adalah Rajib gandi “ Sampai Yuspik

Ditambahkan Yuspik, setelah ditemukan jenazah langsung dievakuasi ke Tembilahan untuk dilakukan otopsi dan selanjutnya akan diserahkan kepada pihak keluarga untuk diurus sebagaimana mestinya.

Dikomfirmasi terpisah, Kapolres Inhil AKBP Dolifar Manurung Sik melalui Paur Humas Ipda Heriman Putra membenarkan telah ditemukannya 1 dari 2 orang korban hilang dalam laka laut dimaksud. Jenajah yang ditemukan itu dipastikan adalah Rajib Gandi (21) warga jalan Pangeran Hidayat Tembilahan.

“Pada saat ditemukan kodisi korban sudah tidak bernyawa. Penemuannya persis di sekitar TKP kecelakaan.” Sampaikan Heriman.

Hingga saat ini ditembahkan Heriman, petugas masih melakukan pencarian satu korban lainnya (pengemudi Speedboat atas nama Jamal. Red)

Sekedar mengingatkan, peristiwa laka laut itu terjadi pada senin (5/9/2016) sekira pukul 22.00 Wib. Akibat peristiwa itu, sopir speedboat, Jamal dan seorang penumpang Rajib hilang. Sementara 2 ABK speedboat ditemukan dalam kondisi masih bernyawa dengan sedikit mengalami shock./Mirwan

 

 




UNISI Terima Sumbangan Ratusan Buku Dari Keluarga Alm Syed Abdullah Ghazali

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Universitas Islam Indragiri (Unisi) menerima sebanyak kurang lebih 700 eks buku milik Alm Drs H Syed Abdulah Ghazali, mulai dari buku politik, ekonomi, budaya, agama dan lain sebagainya.

Ratusan buku tersebut diserahkan langsung oleh ahli waris, Aslamiyah dan diterima Kepala UPT Perpustakaan Unisi Zulkifli AM di Perpustakaan Unisi jalan HR Soebrantas Tembilahan, Selasa (6/9/2016).

“Atas nama Universitas, kami ucapkan terima kasih banyak atas sumbangan ini. Semoga dapat menambah amal ibadah almarhum beserta keluarga besarnya,” ucap Pilay, sapaan akrab Zulkifli.

Sementara itu, keluarga Almarhum, Aslamiyah menerangkan bahwa inisiatif sumbangan ini dari istri Alm yakni Syarifah Luk. Alasannya, Alm tersebut merupakan tokoh Provinsi Riau yang berasal dari Kabupaten Inhil.

Untuk diketahui, Alm itu lahir 9 September 1939 di Kecamatan Mandah. Kemudian pada usia 76 tahun, tepat pada tanggal 22 Desember 2015 ia meninggal dunia di Pekanbaru.

Semasa hidupnya, ia sempat menjadi calon Bupati Inhil beberapa periode terakhir dan pernah duduk menjadi anggota DPRD Provinsi Riau. Namun kecenderungan karirnya, ia lebih fokus kepada dunia pendidikan yakni berstatus sebagai dosen bahkan juga sempat menjabat sebagai Pembantu Rektor di Universitas Riau.

“Kata ummy (istri Alm, Syarifah Luk, red) semoga buku-buku ini bermanfaat bagi generasi muda Kabupaten Inhil dan menjadi amal ibadah bagi Almarhum,” imbuhnya./Mirwan




Laka Laut di Sungai Beting, 2 Orang dinyatakan Hilang

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Laka laut antara Speedboat bermesin 40 PK dengan perahu motor  jenis pompong bertonase 20 ton terjadi di perairan Sungai Beting Kecamatan Kuindra, Senin (5/9/2016) malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Akibat peristiwa ini, pengemudi speedboat beserta seorang penumpang dinyatakan hilang.

Speedboat yang dinahkodai oleh Jamal (25) bermuatan 3 orang penumpang. Dua diantaranya adalah Baharudin alias Undruk (35) warga parit 8 Gang Banjar Sei Guntung Kecamatan Kateman dan Ade Citra alias Ade (26) seorang Karyawan PT. SAMBU asal Pelabuhan EGA Kecamatan Kateman.

“Seorang penumbang berjenis kelamin laki-laki hilang. diketahui ia sebagai penyewa atau carter Speedboat tersebut dari PT SAMBU Kateman menuju Tembilahan dan satu laginya adalah pengemudi Speedboot, Jamal” kata Kapolres Inhil AKBP Dolifar Manurung melalui Paur Humas, Ipda Heriman Putra, Selasa (6/9/2016).

Kronologis peristiwa menurut Paur Humas terjadi ketika pompong melintas di TKP tanpa dilengkapi pencahayaan lampu. Akibatnya sopir speedboat tidak mampu mengelak untuk menghindari terjadinya tabrakan karena jarak sudah terlalu dekat.

Speedboat seketika itu menabrak dinding pada bagian belakang perahu motor yang mengakibatkan Speedboat terbalik dan seluruh penumpangnya terjun ke laut.

“Usai kejadian pengemudi perahu motor langsung melarikan diri. Sampai hari ini petugas belum mengetahui merek dan nomor lambungnya. Namun tetap akan diselidiki,” tandasnya./Mirwan