Diskes Gelar Pelatihan Pemantauan Pertumbuhan Bayi dan Balita

imageTEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menggelar pelatihan pemantauan pertumbuhan pada bayi dan balita, yang dipusatkan di aula Hotel Grand Tembilahan.

Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 27-29 Agustus 2015 ini, diikuti sebanyak 54 peserta, yang merupakan bidan desa se-Kabupaten Inhil.

Kepala Diskes Inhil melalui Kasi KIA, KB dan Gizi, Siti Munziarni mengatakan, masa bayi dan balita bahkan sejak dalam kandungan adalah periode emas, karenanya jika pada masa tersebut pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita tidak dipantau dengan baik dan mengalami gangguan, maka tidak akan dapat diperbaiki pada periode selanjutnya.

image-1Oleh karena itu, perlu dilakukan pemantauan pada bayi dan balita agar bisa terdeteksi apabila ada penyimpangan pertumbuhan dan dapat dilakukan penanggulangan sedini mungkin, sehingga tidak terjadi gangguan pada proses tumbuh kembangnya.

“Salah satu tempat pemantauan pertumbuhan bayi dan balita adalah di Posyandu,” tutur Imun, begitu ia akrab disapa.

Dijelaskan Imun, pemantauan pertumbuhan merupakan salah satu kegiatan utama program perbaikan gizi, yang menitikberatkan pada upaya pencegahan dan peningkatan keadaan gizi anak.

“Pemantauan pertumbuhan adalah rangkaian kegiatan, yang terdiri dari penilaian pertumbuhan anak secara teratur melalui penimbangan setiap bulan, pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS) dan penilaian status pertumbuhan berdasarkan kenaikan berat badan,” terangnya.

Untuk melakukan penilaian status gizi pada bayi dan balita, lanjut Imun, Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) di Puskesmas perlu dilatih, sehingga memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menentukan status gizi pada bayi dan balita secara dini dan dapat melakukan tindakan dini untuk mengatasi gangguan tersebut.

“Saya harapkan para pesera dapat mengikuti kegiatan ini dengan sebaik-baiknya, untuk kemudian diterapkan di wilayah kerjanya masing-masinh,” imbuhnya. (adi/adv)




Agar Masyarakat Mau Menimbang Balita Setiap Bulan di Posyandu, Langkah Ini Yang Harus Dilakukan Kader

Manajemen-PosyanduTEMBILAHAN (detikriau.org) – Keberadaan dan peran para Kader Posyandu sangat menentukan, khususnya dalam memberikan pelayanan serta pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan balita.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie terkait dengan ditemukannya sejumlah kasus balita gizi buruk di Kabupaten Inhil.

Dikatakan Alvi, selain memberikan pelayanan dan pemahaman akan pentingnya kesehatan kepada masyarakat, para Kader Posyandu harus mengerti betul apa yang menjadi peran dan tanggung jawabnya, seperti mengintensifkan pendataan terhadap kasus gizi buruk, khususnya bagi para bayi dan balita di wilayah kerjanya masing-masing.

“Karena itu, dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, maka para Kader Posyandu harus terus melakukan pengontrolan terhadap kesehatan masyarakat secara langsung di lapangan,” kata mantan Kepala Bappeda Inhil ini.

Adapun peran Kader Posyandu agar masyarakat mau menimbang balita setiap bulan di Posyandu, yaitu :

1. Mendata jumlah seluruh balita yang ada di wilayah kerjanya.
2. Memantau jumlah kunjungan ibu yang datang untuk menimbang balitanya di Posyandu.
3. Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan, untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya penimbangan balita, misalnya melalui penyuluhan kelompok di Posyandu, arisan, pengajian, kunjungan rumah dan penyuluhan massa (pengeras suara di masjid, pengumuman di desa/kelurahan, poster, spanduk, selebaran dan lain-lain.
4. Melakukan kunjungan rumah kepada ibu yang tidak datang membawa balitanya ke Posyandu dan menganjurkan agar rutin menimbang balitanya di Posyandu.
5. Mengadakan kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian dan mendorong masyarakat, seperti lomba balita sehat, lomba memasak makanan balita sehat, kegiatan makan bersama untuk balita dan lain sebagainya.
(adi/adv)




Mau Punya Anak Cerdas? Ajarkan Dua Bahasa

foto netdetikriau.org – Penelitian terbaru mengungkapkan balita yang terbiasa dengan komunikasi dua bahasa memiliki IQ yang lebih tinggi.

Maka jika ingin anak cerdas, ajarkan mereka sejak dini sedikitnya dua bahasa.

dikutip dari inilah.com, Penelitian oleh Departemen Psikologi Universitas Nasional Singapura Fakultas Seni dan Ilmu Sosial merupakan penelitian jangka panjang yang melibatkan ibu-ibu di Singapura dan balita. Terbagi dua kelompok, satu bahasa dan du satu bahasa.

Peneliti memperlihatkan gambar berwarna kepada bayi, gambar beruang atau serigala.

Hasilnya, bayi berusia enam bulan yang mendapat praktek dua bahasa lebih cepat akrab dengan gambar ketimbang balita hanya bicara dengan dua bahasa.

Bayi yang terbiasa dengan dua bahasa menjadi lebih cepat bosan ketimbang bayi satu bahasa.

Bayi yang terbiasa dua bahasa memandang lebih lama setiap gambar yang diperlihatkan. Itu tidak terjadi dengan bayi terbiasa satu bahasa.

Melansir dailymail, Jumat (5/9/2014) penelitian ini terpublikasi online dalam edisi terbaru jurnal ilmiah Child Development.

Sementara studi terdahulu, bayi yang cepat menjadi bosan dan selalu mencari yang baru merupakan indikator umum usia prasekolah dan menunjukkan adanya perkembangan baik.

Itu erat kaitan dengan kemampuan kinerja yang baik akan konsep, kognisi nonverbal, bahasa ekspresif dan reseptif dan tes IQ.

Bayi yang cepat bosan menunjukkan kinerja yang lebih tinggi akan kemampuan kognitif dan bahasa ketika kelak besar. Sedangkan menatap lama gambar menunjukkan bahwa mereka selalu mencari hal-hal yang baru.

“Pembiasaan visual bekerja luar biasa karena hanya membutuhkan waktu beberapa menit dan mengkapitalisasi pada bayi yang melakukannya secara alami, cepat menjadi tertarik pada sesuatu yang baru dan kemudian dengan cepat beralih ke sesuatu yang lain,” kata Professor Leher Singh, pemimpin penelitian.